Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Rumah sakit


__ADS_3

Rumah sakit.


Diluar ruangan operasi bedah, seorang lelaki tengah mondar-mandir. Tak lain adalah Rezki pemilik resto Padang Bulan.


Setelah menyelesaikan registrasi kepada pelayanan customer servis yang berada loby sebelah kanan rumah sakit, Rezki tak sanggup untuk diam duduk dengan leha-leha.


Sesekali duduk dan kembali berdiri. Ia lakukan secara berulang-ulang. Waktu terasa hanya berjalan ditempat. Padahal ia sesekali melirik jam dipergelangan tangan kirinya, dan waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat sebelas menit.


Satu jam sudah pegawainya berada di ruang operasi bedah, mungkin agak berlebihan, jika harus membawa seorang pasien yang hanya mengalami luka goresan di pergelangan tangan keruang operasi bedah.


Namun, Dokter melihat keadaan Khaira yang begitu lemah, serta pucat pasi, denyut nadi yang menurut drastis.


Dokter jaga, yang bertugas untuk menangani pasien gawat darurat langsung menghubungi dokter bedah, untuk melakukan tindakan medis guna menjahit sayatan yang lumayan menganga di pergelangan tangan pasien yang baru datang.


Lagi-lagi dering ponsel yang berada didalam tas selempang Khaira berdering. Rezki tak mempunyai keberanian guna menggeledah isi tas hijau army pegawainya.


Dibiarkannya berdering sampai tiga panggilan.


~~


Kevin laksana kabut, ke sana kemari untuk mencari keberadaan istrinya yang baru dinikahinya satu bulan yang lalu. Dengan kecepatan tinggi, seperti layaknya angin tornado, akhirnya Kevin telah sampai didepan kosan sepupu istrinya.


Ketidaktahuannya atau memang ketidakpeduliannya guna meminta nomer ponsel Mita. Membuatnya payah, sampai jauh-jauh ke kampung Rawa Dengklok.


Kevin tidak berpikir sebelumnya untuk meminta nomor Mita kepada Khaira, tak terbersit dalam benaknya bahwasanya bisa saja suatu darurat seperti ini akan terjadi.


Lantas berjalan dengan sangat terburu-buru sampai helmnya terjatuh yang semula akan Kevin letakkan di atas tangki bensin.


Tak peduli dengan bunyi keras yang ditimbulkan helm yang terjatuh di atas pelataran kosan.


"Assalamualaikum, Mita!”seru Kevin dengan suara keras membersamai dengan suara ketukan pintu, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar kosan sepupu istrinya.


Ketukan keras di pintu yang Kevin lakukan membuat penghuni kosan di pintu bercat kuning keluar.


"Mita, lagi pulang kerumah orangtuanya Mas," jawab seorang wanita terlihat berusia kepala empat.


Kevin menoleh ke arah sumber suara disebelah kanannya. "Dari kapan ya Bu?"


"Sejak tadi sore," jawab wanita yang menempati kosan di sebelah kosan Mita.


"Tadi sore?" Kevin tertegun mengulangi kata (sore) dengan suara terkejut. Berarti Mita pulang lebih awal.


"Iya, memang kenapa?" jawab wanita yang berdiri di depan pintu berwarna kuning.

__ADS_1


Kevin menggeleng singkat


"Nggak, nggak papa Bu, makasih ya."


Wanita itupun mengangguk, lantas kembali masuk kedalam kamar kosnya.


Kevin sangat bimbang gundah gulana serta berpikir keras. "Lalu dimana Khaira sekarang?" gumamnya dan kepanikan.


Tak dapat berpikir jernih, sesalnya terhadap ulah Erik dan Clara membuatnya menjadi semakin lebih berpikiran buruk.


Kevin kembali mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans panjang hitamnya.


Mencoba menghubungi nomer Khaira, satu, dua panggilan tidak terjawab.


"Ayo dong Ra angkat teleponnya, kamu lagi dimana?" gumamnya sangat khawatir takut terjadi suatu keburukan pada gadis itu. Gadis yang sudah satu bulan ini menemani hari-hari yang sunyi menjadi lebih terang dan berbinar-binar.


Setelah hampir lamanya ia menghubungi, akhirnya keempatnya menghubungi ponsel Khaira, Kevin merasa lega, panggilan tersambung.


Akan tetapi, hanya sementara kelegaan itu, saat Kevin mendengar suara laki-laki dari seberang telepon yang menjawab panggilan sambungan teleponnya.


Dijauhkan ponsel dari telinga, Kevin takut jika ia sudah salah memanggil, namun nama yang tertarik (My Delfi) dan itu berarti ponsel Khaira.


Kevin merasakan sensasi degup jantungnya bertalu-talu. Mengiringi suara sapa dari seberang panggilan yang masih terhubung.


Kevin merasa tidak percaya, ia hanya diam saja. Sampai seseorang itu bersuara lagi dengan nada suara lebih keras.


^^^πŸ“±"Halo!"^^^


Beberapa detik berlalu, Kevin masih termangu, ia akhirnya berpikir untuk memutuskan sambungan telepon. Sampai pada akhirnya, suara seorang pria dari seberang sambungan telepon pasrah dan mengatakan jikalau pemilik dari ponsel mengalami kecelakaan.


^^^πŸ“±"Orang yang punya ponsel ini sedang mengalami kecelakaan, jadi saya yang mengangkatnya."^^^


Deg! Kevin membelalakkan matanya, jantungnya pun serasa berhenti berdetak. Mendengar kabar bahwa Khaira kecelakaan, membuat stigma buruk ketika pertama kali mendengar suara seorang pria yang mengangkat sambungan telepon istrinya sempat hinggap kini rontok secara keseluruhan.


"Dimana dia sekarang?" tanya Kevin to the points.


Setelah mendengar alamat rumah sakit tempat Khaira mendapatkan perawatan medis. Kevin langsung tancap gas, lantas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Secepat mungkin, ia ingin segera sampai di rumah sakit tempat istrinya kini berada.


Kevin menyesali, seandainya saja ia tidak berurusan dengan Erik dan Clara, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Namun, lagi-lagi manusia, hanyalah manusia, yang bisa bergantung dari semua atas kehendak-Nya.


~~


Rezki tengah duduk di ruang tunggu, semula ia ragu untuk mengangkat ponsel Khaira yang terus berdering di dalam tas selempang yang terlihat sudah usang.

__ADS_1


Namun, Rezki beranggapan bahwa bisa saja yang menelepon Khaira sejak tadi merupakan sanak saudara dari karyawatinya.


Setelah berbicara dan mengatakan bahwa Khaira sedang mengalami kecelakaan juga menyebutkan alamat rumah sakit terdekat dari kawasan restaurannya.


Rezki mengembalikan ponsel ke dalam tas Khaira, diingatnya nama yang tertera di layar ponsel Khaira. (Tuan arogan).


Rezki terdiam seraya memandangi pintu berwarna putih. Ada kejanggalan nama dari si penelepon yang sudah enam panggilan tak terjawab di ponsel Khaira.


Jika memang anggota keluarga dari Khaira, mengapa menamainya dengan sebutan (tuan arogan). Rezki mengangkat bahunya tak acuh, toh itu bukan masalahnya. Ia berpikir cukup lega, telah mengatakan kepada seseorang yang Khaira kenal.


Bahwa gadis itu memang mengalami kecelakaan. Dan bisa saja seseorang yang bernama tuan arogan merupakan panggilan kesayangan. Tapi mengapa harus seorang pria?


Hem... ada rasa tercubit di relung hatinya. Mengapa ia merasa tertarik dengan Khaira. Karyawati yang baru sebulan bekerja di restaurannya.


Sekian menit dan sudah berganti jam. Sudah lebih dari satu jam setengah. Akhirnya seorang Dokter dan seorang perawat keluar dari dalam ruang operasi.


Dengan sigap, Rezki langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri seorang Dokter yang sudah dikenalnya, "Sakti, gimana keadaannya sekarang?" tanyanya khawatir.


Bukannya menjawab kekhawatiran yang jelas terlihat dari raut wajah teman SMA'nya itu. Dokter Sakti justru malah balik bertanya kepada Rezki, "Cewek baru lo Ki?"


Rezki tertegun mendengar tuduhan Sakti, ia merasa kesal, "Kebiasaan nih orang, kalau ditanya selalu membalikkan pertanyaan, bukannya dijawab dulu!”


Sakti menggidik pundaknya, dan tersenyum santai, "Ya habis, Lo keliatannya khawatir banget sama dia. Dan lo juga kan selalu punya banyak stok cewek-cewek,"


Rezki menjentikkan kerah baju yang dipakainya, "Yah maklum orang ganteng, banyak cewek-cewek ngantri,"


Dokter Sakti hanya berdecih melihat tingkah jenakanya Rezki, "Serah lo dah, Ki!"


"Yah dia itu pegawai restoran gue, ya jelas gue khawatir, kalau sampai terjadi apa-apa, kan itu juga jadi tanggung jawab gue, sebagai Bos.” tukas Rezki menjelaskan tentang Khaira.


Sakti manggut-manggut, "Emang kenapa sama pegawai lo? Kok bisa dia dapet luka sedalam itu, sampai hampir terlihat tulang keringnya?”


Rezki tercengang mendengar bahwa Khaira mendapatkan luka sedalam itu, "Hah, yang bener lo?”


"Iyah, makanya gue nanya? Dapet darimana luka itu?" tanya Sakti.


"Panjang ceritanya bro, kalau gue ceritain, bisa-bisa dua hari dua malem." jawab Rezki.


Obrolan Rezki dan Sakti terhenti manakala seorang datang dengan tergesa-gesa.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2