Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sungguh senang


__ADS_3

Seharian ini, Khaira dan karyawan lain, bekerja sangat keras, sampai waktu makan dan sholat pun seperti ia lakukan bak kereta super cepat milik negara Jepang.


Tapi tak lupa ia menyempatkan untuk menghubungi Abah. Khaira bersyukur Abahnya sehat dan ia juga cukup senang karena Paman Bengek itu tidak lagi mencarinya.


Saat Paman Bonar tahu Khaira pergi, si tua-tua keladi itu sempat datang ke rumah dan menanyakan kepada Abah tentang dimanakah Khaira berada. Namun Abah enggan memberi jawaban.


Tak lupa juga Khaira bertukar kabar dengan Asep. Ia cukup senang, akhirnya Asep bisa masuk ke universitas kedokteran. Seperti yang diharapkan pria letoy itu.


Meskipun lelah, namun Khaira cukup senang, seperti ia sedang terbang menggunakan layang-layang, melintasi hamparan samudera yang membentang.


Ia mendapatkan tip khusus dari seorang pelanggan restoran, meskipun hanya dua puluh ribu. Tapi baginya uang dua puluh ribu sangatlah lumayan untuk menambah uang jajan.


Sekarang yang Khaira pikirkan hanyalah bagaimana ia mencari tempat tinggal dan bekerja lebih giat lagi, ia merasa tidak enak hati numpang tidur secara gratis di rumah Kevin.


Khaira melamun sambil mengelap meja, tapi sepintas ia mengingat Kevin, dan menghela nafas.


“Untuk apa dia memberiku uang. Hahh, semestinya aku senang, bukan malah menganggapnya bagaikan beban! Kenapa sih aku ini, dia kan udah coba bersikap baik padaku, kenapa aku malah menyepelekan kebaikannya. Dia juga melewati hidup yang sulit, setelah ditinggal pergi oleh Ibu dan adiknya, Papanya juga udah memiliki hidup sendiri, tapi kenapa Bang Andi nggak tinggal aja sama Mas Kevin?” monolog Khaira dalam hati.


Khaira tersenyum kala Kevin berbaring di pangkuannya sembari menceritakan kisah hidup yang dialami pria itu, ia jadi lebih tahu seperti apa keluarga Kevin yang sempat dianggapnya keluarga misterius.


Sampai seseorang menyadarkan Khaira yang sedang terjun bebas ke dalam lamunannya.


"Hey, Khaira, sini kamu, ngapain senyum-senyum sendiri?” seru pemilik restauran.


Lamunan Khaira yang sedang membayangkan wajah Kevin semalam pun sirna, dan langsung melihat seorang pria yang memanggilnya, “Iya Bos.”


Sang Bos pun menghampiri Khaira, “Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Nanti kalau para pelanggan melihat kamu senyum begitu, ntar dikira saya mempekerjakan seorang idiot lagi!”


Khaira langsung melihat ke kanan dan kiri, melihat beberapa pelanggan yang sedang menikmati jamuan di atas meja. Ia kembali menghadap bosnya, tanpa berani melihat mata dari si Bos yang masih terlihat muda, ia sekilas membungkuk. “Maaf Bos, saya janji, saya nggak akan lagi-lagi senyum-senyum seperti itu. Dan saya akan lebih rajin lagi kerjanya, jadi Bos Rezki jangan pecat saya,”


Rezki nampak tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya tipis-tipis, ia tidak menyangka tegurannya bisa membuat karyawati baru.nya berpikir terlalu jauh, sampai-sampai gadis yang masih terlihat muda itu membicarakan soal (pecat).


“Saya bukan lagi marahin kamu, saya cuma ngingetin,” ucap Rezki lembut, “sama satu lagi, cara bicara Kamu, saya nggak suka, karena terlalu formal. Tinggal bicara aja kayak temen sendiri, oke?” Rezki membulat jarinya, tanda ia memberi kebebasan para pekerjanya yang sebagian besar adalah wanita untuk bersikap santai padanya.


“Baik Bos, sa- eh aku akan bicara santai.” jawab Khaira masih belum berani menatap mata Bos-nya yang bernama Rezki Mananta.


“Ya, yang penting jangan senyum nggak jelas di depan para pelanggan resto.” titah Rezki penuh dengan peringatan.


“Oke.” sahut Khaira sambil melingkarkan jari membentuk huruf O. Namun, secepatnya ia menarik tangannya sendiri.

__ADS_1


~~


Malam hari pukul 21:00 wib, saatnya semua karyawan pun pulang, melepas penat seharian kerja setelah berjuang, dan merebahkan diri di ranjang.


Khaira baru saja membuka pesan suaranya via wawa, dan Kevin mengatakan bahwa pria itu tidak bisa menjemputnya, karena ada pekerjaan mendadak.


Khaira menghela nafas dan kebetulan dilihat oleh Mita yang baru saja keluar dari dalam resto, Mita pun menghampiri sepupunya yang tengah duduk di teras restauran.


“Kenapa lo Ra?”Mita ikut duduk di samping Khaira.


“Aku boleh nginap di kosan mu nggak Mit?”tanya Khaira, ia menatap lurus kearah jalan raya.


Mita mengerutkan keningnya, “Kenapa lo berantem sama suami lo itu?”


Khaira menggeleng, “Dia ada kerjaan mendadak, jadi dia nggak bisa jemput aku. Aku bingung mau pulang ke rumah Mas Kevin pakai apa? Pakai taksi, angkutan, apa ojek, aku juga belum hafal betul alamat rumah Mas Kevin?”


Mita manggut-manggut, “Ya udah lo nginap aja di kosan gue, gue yakin warga di sana kagak bakal nanyain lo yang aneh-aneh,”


Mendengar Mita membolehkannya menginap di kosan Mita, Khaira merasa sungguh senang amat senang.


Khaira menatap Mita berbinar-binar, “Makasih Mita makasih. Aku bukannya takut ditanya ini itu sama warga di sekitar kamu ngekost Mit,”


Mita melihat Khaira dari samping, “Ya terus, lo kenapa? Lo nggak betah tinggal di rumah suami lo, yang namanya siapa Ke-kevin yah. Apa si Kevin itu galak sama lo atau gimana? Cerita aja ke gue,”


Mita nampak terkejut, “Hah, kenapa lo ngerasa sampai kesepian, emang kemana setiap malam si Kevin?”


Khaira kembali menurunkan wajahnya, dan menatap Mita, ia menggeleng, “Nggak tau, dia cuma bilang, kalau dia kerja,”


Mita semakin terkejut, “Hahh! Kerja apa malam-malam? Kalau sif malam sih bisa jadi,”


Khaira lagi-lagi menggeleng pelan, “Aku juga nggak tau, rasanya masih terlalu cepat kalau aku tanya Mas Kevin kerja apa? Karena aku bukan istri sungguhan,”


Mita turut prihatin atas apa yang terjadi pada sepupunya kini, “Sabar ya Ra, gue yakin lo bisa mengakhiri ini secara baik-baik. Dan gue yakin kalau Paman nggak bakal marah ke elo, kalaupun Paman dengar berita tentang lo yang harus terpaksa nikah siri di kota,”


Khaira manggut-manggut, ia merasa lega akhirnya bisa meluapkan perasaannya kini pada Mita, “Ayo Mit ke kosan kamu, aku udah ngantuk,”


Mita langsung saja berdiri, “Yuk, gue juga udah ngantuk.” ia mengulurkan tangannya kehadapan Khaira.


Khaira tersenyum sumringah, ia menyambut tangan Mita.

__ADS_1


Klakson mobil memekikkan telinga kedua gadis yang akan pulang, bersamaan pintu kaca bagian kemudi yang terbuka.


“Mita! Khaira! Kalian belum pulang?” seru si Bos, tak lain tak bukan adalah Rezki.


Mita dan Khaira saling tatap dan beralih menatap Bos mereka.


“Ini baru mau pulang, Bos,” jawab Khaira.


“Ya udah, ayok gue anterin pulang,”tawar Rezki melihat Khaira dan berganti melihat Mita.


Khaira cukup senang, karena mendapatkan tumpangan untuk pulang, karena dirasa badan sudah pegal-pegal.


Namun berbeda dengan Mita, Mita nampak enggan menanggapi tawaran Bos-nya


Pada saat Khaira akan menjawab (iya), nampaknya tak sependapat dengan Mita yang sudah lebih dulu menjawab (Nggak!)


Khaira langsung menatap Mita, “Kenapa Mit?”


“Males!” jawab Mita spontan, dan melenggang pergi mendahului Khaira.


Khaira bingung mengapa Mita menolak ajakan Bos-nya. Ia melihat Rezki dan beralih melihat punggung Mita yang sudah mulai menjauh, ia pun menyusul Mita.


Rezki pun melajukan mobilnya mengiringi kedua karyawati nya, “Hey kalian kenapa? Ayo gue anterin gue ikhlas. Lagian kan bahaya kalau sampai terjadi sesuatu hal yang nggak diinginkan!”


Khaira bingung dengan situasi semacam ini, mengapa Mita begitu dingin pada sikap baik Bos-nya, “Mita ayo Mit, inikan udah malem memang kamu nggak pengen banget pulang dan tidur, memang kamu nggak pegal, memang kamu nggak takut kalau sampai ada orang jahat di jalan, apalagi ini kan kota besar, Mita ayolah Mit, nggak ba-” ocehan Khaira harus terhenti kala Mita berseru untuk memintanya diam.


“Diam! Jangan berisik!” Mita menghentikan langkahnya dan diikuti oleh Khaira.


Begitu juga Rezki, ia pun ikut berhenti di samping kedua karyawati nya.


Mita melihat Khaira, ia cukup kasihan melihat sepupunya. Mita pun akhirnya membuka pintu jok belakang kemudi, “Lo masuk duluan Ra,”


Khaira pun bingung, namun ia tetap menuruti perkataan Mita.


Dan di susul Mita yang duduk bersebelahan dengan Khaira.


Rezki tersenyum simpul melihat Mita dari kaca yang terdapat di atas kemudi, ia lantas melajukan mobilnya.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2