
Khaira tidaklah mengerti apa maksud dari wanita yang namanya saja sudah ia lupakan, "Maksud Mbaknya apa? aku belum lama tinggal di kota ini, mana mungkin aku mempunyai musuh?"
Mendadak Clara menarik lengan Khaira yang tertutupi piyama panjang, sontak saja mendengar Khaira mengerang dan meringis seperti menahan sakit.
"Aaarhhh..." erang Khaira menahan rasa sakit yang teramat sangat sakit disebabkan lukanya yang ditarik paksa bahkan di remass oleh wanita berpakaian modis di depannya.
"Apa yang kamu lakukan? Aku nggak kenal sama kamu?" Khaira memegangi tangan Clara yang semakin kuat saja mencengkram lengannya yang terluka semakin kasar.
Melihat wajah Khaira yang terlihat kesakitan, membuat Clara semakin senang, "Sakit bukan? Begitulah keadaan hati gue yang dicampakkan Kevin!"
Khaira membulatkan matanya mendengar pengakuan wanita didepannya, "Aku nggak ngerti apa maksud kamu?"
Clara semakin menarik lengan Khaira, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Khaira, "Lo masih ingat nama gue, hah?"
"Lepaskan aku! Aku nggak kenal sama kamu, aku bahkan nggak ingat siapa nama mu?" sergah Khaira, masih menahan rasa sakit yang kian menjalari sekujur tubuhnya, bahkan hatinya serasa ngilu.
Clara melihat tangannya yang mencengkram kuat lengan Khaira berlumuran darah. Membuatnya semakin puas hati.
"Biar gue ingatankan lagi!" ucap Clara, membisikkan pelan ke telinga Khaira yang tertutupi hijab, "Gue Clara dan gue dateng kesini, cuma mau kasih tau ke elo. Lo harus hati-hati sama Kevin dan jauhi dia, karena dia hanya milik gue seorang!" lanjut Clara menyebut namanya, dan memperingati Khaira, lalu memberikan amplop berwarna cokelat pada Khaira.
Semakin tidak tahan dengan rasa sakit dipergelangan tangannya yang masih dicengkeram kuat oleh wanita bernama Clara, Khaira mendorong tubuh Clara, hingga wanita itu terjatuh ke lantai teras.
"Aaarhhh!" erang Clara lantang, menahan perutnya yang serasa kram.
"Dengarkan aku Mbak, entah siapapun namamu, aku nggak perduli. Ada hubungan apapun kamu sama Mas Kevin silahkan datang saja saat Mas Kevin berada di rumah!" seru Khaira lantang, ia melihat wanita bernama Clara bangkit.
"Gue bakal datang lagi, sampai lo kapok dan menjauhi Kevin!" kata Clara penuh dengan peringatan keras terhadap Khaira.
Khaira melihat Clara pergi, ia menunduk dan melihat piyamanya telah basah oleh darah. Khaira meringis menahan sakit yang teramat sangat mendalam, lalu memegang lukanya yang dijahit tertutupi piyama berlengan panjang.
Pada saat Khaira akan masuk kedalam rumah, ia kembali mendengar seseorang memanggilnya.
"Khaira!" seru seorang wanita di depan pagar.
Khaira terhenyak, ia menghela nafas panjang membersamai dengan memejamkan matanya, "Sebenarnya apa mau kamu!" bentaknya tanpa melihat seseorang yang memanggilnya.
Mita terkejut, baru datang langsung dimarahi sepupunya yang masih memunggungi halaman rumah. Ia melihat Khaira akan masuk serta menutup pintu membuat Mita kembali memanggil sepupunya, "Ra ini gue Mita!"
Untuk kedua kalinya Khaira tercengang, di dengarnya panggilan sepupunya, Khaira segera membuka pintu rumah dan melihat Mita yang berdiri di depan pagar bersama dengan seorang ojol berjaket hijau yang standby di atas motor.
"Mita!" serunya memanggil Mita, ia lantas menghampiri sepupunya dan membuka pintu, untuk sejenak melupakan rasa sakitnya.
"Siapa Ra?” Mita bertanya, tentang wanita yang barusan berpapasan dengannya.
"Siapa apanya?" tanya Khaira.
__ADS_1
"Gue tadi papasan ama cewek yang baru keluar dari halaman rumah?" tanya Mita, lalu mengikuti langkah Khaira masuk ke halaman rumah dan berdiri di teras.
Khaira berpikir mungkin maksud Mita adalah wanita bernama Clara, ia menyembunyikan lengannya yang terluka sebisa mungkin ia menahan rasa pegal dan sakitnya agar Mita tidak khawatir.
Melihat Khaira hanya diam, Mita membuyarkan lamunan sepupunya, "Ra, lo kok bengong ditanya? Siapa wanita tadi?" tanyanya sambil mengamati wajah Khaira yang pucat, "Luka lo masih berasa sakit banget Ra, sampai wajah lo pucat?"
Khaira terperanjat, ia kembali menatap Mita, dan menggeleng, "A-aku baik Mita, iya aku baik. Aku juga nggak kenal sama wanita tadi, tapi dia bilang dia sakit hati karena dicampakkan Mas Kevin," jawabnya karena Khaira juga tidak mengenal tentang siapa wanita yang mengaku bernama Clara.
Mita terkejut mendengar penjelasan Khaira, "Wanita yang dicampakkan Kevin?"
Khaira mengangguk.
"Seberapa sering wanita itu datang ke sini? Terus si Kevin tau?" tanya Mita selidik.
Lagi-lagi Khaira menggeleng. Ia menahan rasa sakit yang semakin teras ngilu dipergelangan tangan yang membuat pandangan mengabur, sekuat mungkin Khaira menahannya.
"Baru kali ini wanita misterius itu datang, kalaupun sering datang ke sini, pasti Mas Kevin tahu siapa wanita itu," jawab Khaira.
Mita manggut-manggut.
"Masuk yuk Mit.." tawar Khaira.
Mita menggelengkan.
"Makasih, tapi gue capek banget, tuh tukang ojol juga lagi nungguin, ini dari Bos Rezki, kemarin dia kerumah sakit, tapi lo udah pulang, si Bos juga berpikir kita satu kost bareng," kata Mita, dan menunjuk tukang ojol di depan rumah Kevin, serta memberikan sekantong plastik berisi bungkusan seperti makanan.
"Alah apaan sih, kan lo sepupu gue. Jadi wajar aja kalau gue harus repot. Lo juga harus istirahat Ra, supaya lo segera sembuh," tukas Mita.
"Padahal dirumah, aku cuma sendiri. Kan asik kalau kamu mau nginep di dini," keluh Khaira, yang merasakan kesepian setiap malam, selama tinggal di rumah Kevin.
Mita mengerutkan keningnya,
"Lho, emang suami lo kemana saban malam, keluyuran kemana tu si Kevin?"
"Kerja," sahut Khaira.
"Kerja?" ucap Mita mengulangi kalimat 'kerja. Dan mendapati Khaira mengangguk, mengiyakan ucapan Mita.
"Kerja apaan? Malam-malam baru berangkat?" tanya Mita penasaran.
"Nggak tau," sahut Khaira, yang memang tidak tahu, dan tidak diberi tahu Kevin, bahwa Kevin bekerja sebagai apa?
"Lah, gimana? Lo jadi istrinya bisa kagak tau, suami lo kerja apaan. Sebulan Ra, lo udah tinggal di rumah Kevin sebulan dan sampai kagak tau Kevin kerja apaan. Wah parah lho..." jawab Mita, keheranan dengan sepupunya yang tidak tahu menahu, tentang pekerjaan Kevin.
Khaira hanya mengangkat bahunya tak acuh.
__ADS_1
"Kalau seumpama, kerjaan Kevin itu, semacam, premanisme, mafia, terus pengedar narkoba, atau jangan-jangan dia itu gigolo bagaimana?" kata Mita menjabarkan pekerjaan yang sekiranya dilakukan oleh Kevin.
Khaira tercenung mendengar tuduhan yang Mita lontarkan.
"Nggak! Aku merasa Mas Kevin bukan orang semacam itu, ngaco kamu Mit!" sergah Khaira, menolak pemikiran Mita yang buruk.
Obrolan yang tidak penting diantara dua gadis ini pun berhenti, kala tukang ojol memanggil penumpangnya.
"Neng, jadi pesan lagi, apa nggak? Soalnya kalau nggak, saya mau narik lagi nih?" teriak tukang ojol yang ia tujukan kepada Mita.
Mita dan Khaira pun menoleh kearah tukang ojol.
"Iya Bang," sahut Mita.
"Ya udah Ra, gue pulang dulu, jangan lupa, nanti kalau Kevin udah pulang, tanyain kerjaan suami lo apa? Please deh Ra, jangan jadi cewek ambigu! Lo harus mempunyai hati yang respect sama suami lo, gue yakin lo bisa melupakan trauma lo tentang pernikahan," tutur Mita, menepuk pundak Khaira.
Khaira diam membisu tidak memberi tanggapan apapun atas apa yang diucapkan Mita.
"Dah, jangan diam bae lo Ra. Ntar kesambet, Gue balik dulu kasihan tu Kang ojol." kata Mita dan berlalu dari hadapan sepupunya.
Khaira melihat, Mita yang membonceng tukang ojol dengan melambaikan tangan, dan dibalas demikian olehnya, ia pun kembali berpikir, tentang apa yang katakan Mita.
"Aku nggak membenarkan tuduhan Mita mengenai profesi apa yang dikerjakan Mas Kevin, tapi aku juga penasaran, sebenarnya Mas Kevin itu kerja apa? Dan orang macam apa dia? Kenapa sampai bisa ada seorang wanita yang datang ke sini dan mengancamku?"
Khaira mendesis sakit, ia memegangi pergelangan tangannya, pada saat pandangannya menunduk, dilihatnya amplop cokelat yang tergeletak di lantai teras.
Keningnya mengerut heran, ada apakah gerangan di dalam amplop itu? Entah penting atau tidak pentingnya, ia membungkuk dan mengambil amplop cokelat yang ditinggalkan wanita bernama Clara.
Lantas masuk kedalam rumah, tak lupa ia mengunci pintu, dan mencabut kunci serta menaruhnya di meja ruang tamu.
Khaira berjalan menuju kamar, dan menggulung lengan piyamanya. Nampaklah perban putih yang berubah warna merah pekat. Ia merasa pandangannya mengabur, diambilnya obat penghilang rasa sakit lantas mengambil botol air minum di meja samping tempat tidur dan meminum obat pereda rasa sakit yang diberikan oleh rumah sakit.
"Ssshhhaahhh..." ******* panjang menguar begitu saja dari bibirnya. Rasa nikmat dari rasa sakit akibat dicengkeram kuat oleh wanita bernama Clara.
Lantas mengganti perban dan melihat jahitan yang merembeskan darah segar. Perlahan sekali Khaira membersihkan darah dengan menggunakan air dari infus, setelah dirasa darah tidak keluar lagi. Ia segera membalut perban ke lukanya yang dijahit.
Terpikir kembali siapa Clara?
"Siapa Clara? Dan apa maunya? Mengapa dia mengancamku untuk menjauhi Mas Kevin?" gumamnya lirih.
Dilihatnya amplop cokelat yang ia letakkan di atas tempat tidur. Rasa penasarannya tergugah, kala melihat amplop itu, apa maksud dan tujuan wanita bernama Clara.
__ADS_1
Bersambung