
Keesokan harinya..
Setelah mengantarkan Khaira ke tempat kerja. Kevin kembali melajukan motornya membaur dengan pengendara lainnya. Namun, pandangannya menjurus pada sebuah mobil yang nampak tidak asing. Ia berpendapat bahwa mobil berwarna merah tidak jauh darinya berada adalah mobil Clara.
Kevin secara diam-diam membuntuti mobil, yang di duga adalah mobil Clara. Sampai pada arah jalannya yang membawanya menjahui pusat kota. Kevin melihat mobil yang diduga adalah Clara berhenti di depan sebuah rumah kosong. Terlihat dengan sangat jelas, rumah yang ditumbuhi berbagai macam semak belukar.
Posisinya saat ini lumayan jauh dari mobil merah, mesin motornya juga sudah ia matikan. Dan benar saja, wanita yang keluar dari dalam mobil merah itu adalah Clara.
Untuk apa dia ke sini, apa Clara mau merencanakan rencana buruk lagi?
Kevin mengedarkan pandangannya, nampak sangat sepi. Tidak mungkin seorang Clara datang ke kawasan yang jauh dari pusat kota. Jika tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk.
Menembus keramaian kota, memasuki jalanan sepi kompleks perumahan yang sudah tak berpenghuni. Clara menghentikan laju mobilnya, di halaman sebuah rumah yang nampak angker.
Rasa penasarannya tergugah, Kevin akhirnya memutuskan untuk berjalan mengendap-endap menutupi wajahnya dengan masker hitam dan tudung Hoodie yang menutupi kepalanya.
Terus berjalan sambil celingukan. Sampai pada di luar tembok mengelilingi rumah kosong setinggi dua meter. Hal ini merupakan mudah saja baginya. Kevin seperti Spiderman, ia merambat tembok dan melompatinya.
Kevin masih mengendap, sampai di bawah jendela luar rumah. Ia mendengar suara Clara sedang berbincang didalam rumah kosong, terdengar juga seorang pria.
"Pokoknya gue kagak mau tau, Lo harus culik wanita yang bernama Khaira. Ini fotonya, malam ini juga gue pengen kerjaan yang gue kasih ke lo beres!"
"Siapa Nona, tenang. Tapi bayaran ini masih sedikit dari apa yang Nona janjikan tempo lalu."
"Kalau tugas kalian beres, gue kasih sisanya. Malam ini, gue bakal pancing Khaira buat keluar rumah setelah Kevin berangkat kerja."
"Siap, beres Nona!"
Kevin sangat geram mendengar rencana Clara, ia memberanikan diri untuk mengintip dan melihat punggung Clara, sedang di depan wanita itu tiga pria berbadan kekar.
"Gue nggak nyangka lo merencanakan penculikan terhadap Khaira. Awas aja lo, sebelum lo dapat menculik istri gue, gue bakal menghancurkan rencana lo, dan bakal ngebales perbuatan lo ini Cla!" gumam Kevin, meremass tangannya yang terkepal.
Kevin berjalan keluar dari kawasan rumah itu, setelah sedikit menjauh. Ia menghubungi pihak kepolisian. Kevin tau, tiga pria itu merupakan sindikat penjahat yang sedang dalam pencarian pihak kepolisian.
Kevin tersenyum miring.
"Gue bakal menggagalkan rencana lo Cla, tanpa harus gue capek-capek berkelahi."
Sekitar sepuluh menit Kevin menunggu. Akhirnya datang juga sebuah mobil hitam Avanza, tentunya ia menelpon polisi yang sudah ia kenal. Lima orang polisi turun dari mobil, tentunya dengan mobil yang jauh terparkir dari kawasan rumah kosong.
Salah seorang polisi bernama Didi melihat Kevin yang sedang bersembunyi di balik pohon. Ia memberikan isyarat, agar sama-sama ikut melakukan penggrebekan.
Lima ditambah Kevin. Enam orang pria memasuki halaman rumah dari depan pagar. Masing-masing mengambil perannya sendiri-sendiri dalam berpencar, sambil menyiapkan senjata api jenis Glock dan HS.
BRAK!!!
Pintu di dobrak.
"Kalian sudah di kepung!" teriak seorang anggota polisi menggelegar.
Sontak saja tiga pria kekar yang akan melakukan penculikan nanti malam tidak bisa berkutik. Ketiganya mengangkat tangan keatas kepala.
Clara panik, ia mengedarkan pandangannya melihat kelima orang polisi yang sudah mengepung rumah kosong ini. Lalu matanya terbelalak kala melihat pria yang dicintainya juga ikut melakukan penggrebekan ini.
"Kevin?" gumam Clara, serasa jantungnya berhenti berdetak.
Mendadak suara tembakan melesat ke arah seorang anggota polisi. Beruntung polisi yang akan menjadi sasaran tembakan seorang preman itu meleset dan mengenai tembok yang berlumut.
Seketika itu pula, terjadi baku tembak. Clara berhamburan keluar dari rumah kosong melalui pintu belakang.
__ADS_1
"Vin berlindung Vin!" teriak Bagas, karena seorang anggota polisi yang mengenal Kevin tidak membawa senjata api.
Kevin merasa nyawanya dalam bahaya ia segera meloncat keluar dari jendela.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan menggema di dalam rumah kosong yang semula sepi, yang dijadikan tempat persembunyian tiga preman yang telah dalam pencarian pihak kepolisian.
Saat Kevin akan mengejar Clara, wanita itu ternyata sudah melajukan mobilnya.
"Sial! Awas lo Clara, lo kagak bakal bisa lolos." kata Kevin berang.
~~
Bagaikan gemuruh petir menggelegar dalam hati dan pikirannya. Tak menyangka rencana yang baru ia susun sudah lebih dahulu diketahui oleh Kevin. Mengapa demikian Kevin mempertahankan wanita kampungan itu.
Sekarang rencana apalagi untuk bisa menjauhkan wanita kampungan itu dari Kevin? Apa lagi?.
"Ah brengsek! Kenapa bisa Kevin tau rencana gue!" pekik Clara emosi.
Satu jam lebih, Clara akhirnya tiba di kediaman orangtuanya yang mewah nan megah. Ia lantas turun dan membanting pintu mobil sangat keras, hingga seorang satpam terperanjat.
Clara langsung berlari menuju pintu besar, dibukanya lebar-lebar. Seterusnya ia pun masuk kedalam rumah, kakinya belum mencapai anak tangga. Clara sudah di panggil oleh sang Papa.
"Clara!" Erik berdiri tidak jauh dari keberadaan ruang tamu yang mewah.
Menoleh dan mendapati Papa Erik berdiri dibelakangnya berjarak lima meter, "Papa.." ia lantas berbalik badan, menghampiri Papa.
Clara tertegun.
"Bagaimana Papa bisa bilang seperti itu? Papa tahu aku sedang mengandung anak Kevin," Clara utarakan dengan nada sedikit marah, "apa Papa akan membiarkan anakku lahir tanpa seorang Ayah?"
"Papa tahu bukan Kevin yang telah menghamili mu," Erik berkata tegas, ia telah mengetahui informasi ini sejak beberapa hari lalu. Bahkan penolakannya terhadap Anto memanglah salah.
Clara lagi-lagi dibuat terperangah.
"Nggak Pa! Papa kenapa sekarang lebih membela Kevin daripada aku! Mana janji Papa yang akan menikahkan ku dengan Kevin, mana juga Om Basuki?" kata Clara bersuara parau, tidak mau menyerah begitu saja.
"Hati nurani Papa tertegun melihat kamu seperti ini Nak, kenapa kamu sangat terobsesi sampai harus menjebak, menculik dan bahkan memfitnah Kevin, bukankah bayi yang kamu kandung merupakan perbuatan dari Anto, security diskotek Papa?" Erik geram atas tindakan dan perilaku Clara yang jelas salah dalam hal ini.
Tak cukup membuat Clara terperangah, lagi dan lagi. Kini tipuannya berbalik kearahnya sendiri, "Tapi Clara nggak salah Pa, Clara juga di jebak."
Erik menggelengkan kepalanya, sifat keras kepala Clara memanglah menurun dari dirinya. Rasa cinta dan manja merawat Clara dengan penuh rasa kasih sayang, menuruti semua kemauan putri semata wayangnya.
Berharap agar Clara tidak merasa kesepian tanpa kehadiran seorang Ibu disisinya. Namun, rasa sayangnya itulah yang membuat Clara menjadi semakin besar kepala. Erik mengakui bahwa dirinya salah telah mendidik Clara dengan cara seperti itu.
"Papa..." rintih Clara, matanya mulai mengabur menatap pria yang telah membesarkannya, dalam benaknya berkata, "Papa tau darimana kalau bayi sialan ini ulah si brengsek Anto?"
"Cla, Papa ingatkan lagi sama kamu, bahwa apapun yang kamu lakukan hanya akan membuat Kevin semakin membenci kamu, sadarlah Clara. Kamu bahkan merencanakan untuk menculik istri Kevin." Erik berkata penuh dengan peringatan.
"Pa, Clara dijebak sama Anto Pa. Clara nggak cinta sama dia. Hanya Kevin Pa, hanya Kevin. Bukan bajingan seperti Anto, nggak mungkin Clara menikah dengan pria yang nggak Clara cintai!" Clara mulai terisak-isak, tak tertahankan lagi rasa yang semakin berat seperti bongkahan batu besar menghantam palung hatinya. "Papa, Clara beriat menculik istri siri Kevin, karena dia hanya jadi penghalang."
"Tapi apa yang kamu lakukan salah Nak," kata Erik, begitu kacau melihat putrinya seperti itu. "maafkan Papa Clara, Papa telah salah dengan memanjakan mu selama ini, hingga membuatmu jadi seperti ini."
Clara duduk bersimpuh, merasa kakinya sudah tidak kuat lagi untuk menopang kehidupan yang terasa teramat keras, rasa kesepian tak mampu ia tahan, bagaikan berjalan diantara tepian jurang.
__ADS_1
Erik bisa merasakan bahwa putrinya teramat rapuh, kurangnya rasa kasih sayang sebagai tonggak dari seorang Ibu yang tak pernah mengasuh, karena wanita bernama Margaretha terlalu sibuk mengejar karir. Wanita itu seakan-akan perlahan membuang anaknya dan menganggap keluarga adalah benalu yang lumpuh. Pria setengah abad itupun ikut bersimpuh dan memeluk putri semata wayangnya.
"Cla, percayalah bahwa ada seseorang yang mencintaimu tanpa syarat, tanpa kamu harus berjuang seorang diri yang hanya akan membuat hatimu sekarat," Erik menguap kepala putrinya, ia tahu bagaimana merasakan cinta yang terabaikan, dicampakkan dan ditinggalkan. "Kevin bukanlah solusi untukmu,"
"Tapi Clara cinta sama Kevin Pa, hanya Kevin." Clara menangis meraung rintih. Membayangkan memiliki Kevin apakah hanya akan menjadi angan-angannya saja.
"Maafkan Papa, anakku. Papa tidak bisa lagi untuk terus mendukungmu. Beruntungnya Kevin tidak melaporkan kejahatan mu ke polisi," Erik mengurai pelukannya, ia mengusap pucuk kepala Clara.
"Jadi Papa akan membiarkan ku tetap melahirkan seorang anak tanpa Ayah?" Clara bersuara putus asa.
"Menikahlah dengan Anto, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, bukan Kevin. Kevin hanya jadi kambing hitam mu, dan sekarang Papa sadar, kenapa Kevin bersikeras tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dia lakukan." telak Erik tak ingin mendebat akan persoalan ini.
"Tapi Pa?" Clara mencoba untuk menolaknya.
"Keputusan Papa sudah bulat," lagi Erik berkata tegas.
~
Dari sudut ruang tamu. Beni lah si biang kerok yang telah mengadukan semua rencana dan rahasia Clara. Terbesit ingatan saat beberapa hari ini melakukan investigasi tersembunyi terhadap anak dari tuannya.
Flashback on
"Apa lo bilang? Nggak mungkin Clara melakukan hal rendahan seperti itu?" Erik murka mendengar Beni berkata tentang keburukan Clara.
"Terserah anda tuan, saya sudah mengabdi kepada anda selama kurang lebih 20 tahunan. Dan saya sudah menganggap Clara seperti anak saya sendiri, walaupun sampai sekarang saya belum menikah. Akan tetapi, jika anda terus membiarkan kejahatan dan kelicikan putri anda, maka dapat saya pastikan bahwa masa depan anak anda akan hancur."
Tanpa rasa takut, Beni mengatakan semua itu dengan penuh keyakinan bahwa penolakan dan angkara murka Erik bisa luluh.
"Dan hanya anda yang dapat menghentikan Clara, tuan. Hanya anda," Beni masih melihat keragu-raguan dari Erik.
"Kalau sampai ucapanmu semuanya salah..." Erik mengeluarkan senjata api dari laci meja kerjanya, lalu mengarahkan kepada sang ajudan kepercayaannya, "lima peluru ini akan merajam tubuhmu!" Erik berkata penuh dengan peringatan.
Sama sekali tak membuat gentar, Beni menghadapi segala ancaman Erik. Ia malah maju selangkah untuk mendekat ke meja kerja Erik, "Silahkan tuan, hidup dan mati saya sudah sepenuhnya milik tuan. Semenjak tuan membantu operasi Ibu saya sembilan belas tahun silam."
Erik tergelak, netra tuanya menatap Beni. Sang ajudan kepercayaan. Ia kembali menarik senjata apinya, lantas menaruhnya di atas meja.
Beni mencermati semua tindakan Erik, ia tahu bahwasanya. Erik merupakan seorang pria yang lembut hati, meskipun dari luar terlihat sangat tegas dan berwibawa.
Pintu terketuk, membersamai dengan seorang sekretaris yang memasuki ruang kerja Erik.
"Tuan Erik, anda ada pertemuan dengan seorang pebisnis club' bola." seorang sekretaris menyampaikan kepada atasannya.
Erik mengangguk singkat, dan melihat seorang sekretaris wanita itu keluar dari ruangannya. Ia kembali menatap Beni.
"Terus awasi Clara," Erik mulai berdiri dan berjalan meninggalkan kursi kerjanya, sebelum keluar ia kembali melihat Beni. "Hubungi Basuki, katakan padanya. Agar tidak bersusah payah pulang ke Indonesia."
Beni mengangguk, "Siap tuan."
Setelah mengatakan itu, Erik lantas keluar dari ruangan kerjanya.
Flashback off
"Clara, Anto tulus mencintaimu. Ia telah mengaku sepenuhnya salah dan khilafnya padamu, Anto adalah pria baik-baik. Dan dia merupakan keponakan ku. Untuk apa kamu menikah dengan seorang pria yang tidak mencintai mu, untuk apa kamu hidup dalam sangkar emas, tapi kamu sendiri menderita. Hidup bersama dengan Anto akan memberimu pelajaran yang berharga dalam hidup ini."
Beni terharu melihat Clara dan Erik, ia lantas keluar dari ruang tamu mewah rumah tuannya.
__ADS_1
Bersambung...