Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Cendol dawet


__ADS_3

Hidup di pedesaan tentunya masih dapat mendengar perpaduan suara-suara binatang malam. Mereka semua seperti suara orkestra, jangkrik, kodok dan hewan malam lainnya.


Rumah tinggal yang lepas dari kesan mewah nan wah. Khaira menyajikan menu makan malam. Seperti Ikan lele, lalapan timun dan daun kemangi, serta sambal khas pecak lele. Menjadi menu pertama Kevin berada di rumah mertuanya.


"Maaf ya Mas Kevin, aku cuma masak ini aja. Ikan lele yang ada di empang belakang rumah." ucap Khaira seraya mengambil piring.


"Makanan apapun kalau kamu yang masak pasti enak dan lezat." balas Kevin tersenyum lebar.


Mendengar celotehan Kevin, membuat Abah merasa geli. Beliau mengulum senyum, "Apapun? Kalau buaya di panggang kamu mau Vin?"


Kevin langsung menatap Abah dan menggeleng. "Itu menunya sudah masuk golongan primitif, Bah."


Abah dan Khaira sontak saja tertawa renyah.


Setelah mengambil nasi dan memberikan pada Abah dan Kevin. Khaira juga mengambil nasi uduk dirinya sendiri.


Kini ketiganya menyantap makan malam dengan penuh rasa syukur, terutama Abah. Berharap agar putrinya menikah, kini sudah terlaksana. Doa Abah, semoga keharmonisan rumah tangga yang dijalani Khaira dan Kevin tidak akan berakhir seperti rumah tangganya. Amin.


Malam semakin larut, setelah selesai makan malam. Kevin berkeinginan menyambangi keramaian di Kota asal istrinya. Dengan meminta izin ke Abah, Kevin dan Khaira kini tengah menikmati alun-alun di tengah Kota.


Beberapa kali Kevin mengambil foto dari kamera ponselnya.


"Mas Kevin." panggil Khaira yang sudah duduk atas rerumputan sintetis alun-alun.


"Kenapa?" sahut Kevin, yang tengah mengedarkan pandangannya, melihat keramaian alun-alun. Ia mengalihkan pandangannya, menatap Khaira. Lalu mengambil foto secara acak, sampai menangkap gambar istrinya yang sedang mangap. Kevin tersenyum geli melihat hasil fotonya.


"Gimana kabar Clara sama Anto, apa mereka hidup rukun. Mengingat sikap dan perangai Clara yang arogan?"


"Ya palingan Anto di cambuk." sahut Kevin.


Khaira mengerutkan dahinya. "Masa begitu si Mas? Kan sifat orang bisa berubah lebih baik lagi."


Kevin mencolek hidung istrinya, yang menampakkan mimik wajah sedang manyun. "Sifat seseorang nggak akan bisa merubah kalau diri mereka sendiri nggak berniat merubahnya. Kalau belum merasa baik ya belajar untuk menjadi baik, kalau sudah baik ya jangan sok baik dan jangan kembali ke sifat buruk kalau kebaikan itu sendiri nggak di hargai orang lain."


Khaira manggut-manggut menyelaraskan pemahamannya terhadap apa yang di ucapkan Kevin.


"Yah, aku rasa apa yang di ucapkan Mas Kevin benar."


"Lebih benar lagi dengan adanya aku menikahi mu, karena sebelum ini aku menjalani kehidupan ku seperti nggak punya tujuan." Kevin mengecup kening Khaira.


Khaira menggeplak dada Kevin, ditatapnya wajah Kevin yang sedang tersenyum ja'im. "Mas Kevin selalu bisa mencuri kesempatan."


"Selalu bisa, karena kamu adalah istriku." balas Kevin mencolek dagu Khaira.

__ADS_1


Dibawah bulan sinar purnama, bermandikan cahaya samar-samar, Khaira dapat melihat ketulusan dari sorot mata Kevin yang berkilauan dari pantulan lampu-lampu yang terdapat di setiap sudut alun-alun.


"Sejak kapan Mas Kevin bucin?" Khaira menyandarkan kepalanya di pundak Kevin.


"Sejak aku mengenalmu." sahut Kevin mencium pucuk kepala istrinya yang tertutupi hijab instan berwarna merah marun.


"Benarkah?" Khaira menarik diri duduk dengan tegak, bersitatap dengan netra Kevin.


"Of course!" sahut Kevin lagi.


Khaira hanya tersenyum geli mendapati suaminya kini semakin di budakan oleh cinta, ia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Kevin. Dan mulai berpikir tentang Rezki, yang beberapa hari lalu mengatakan bahwa biaya rumah sakit sudah di lunasi Kevin tanpa sepengetahuannya.


"Mas Kevin, makasih ya." ucap Khaira.


Kevin menatap Khaira dari samping, ia tersenyum geli mendengar kata makasih dari istrinya. "Makasih karena aku sudah bucin padamu?"


"Makasih karena sudah melunasi biaya rumah sakit saat tanganku terluka." Khaira menarik dirinya, lalu diambilnya tangan Kevin dan menggenggamnya erat.


"Apa Rezki yang sudah memberitahu mu?" Kevin melihat Khaira intens. "kirain ucapan terimakasih mu karena bucinnya aku?" sambungnya lagi, lalu mengedarkan pandangannya.


"Lah, memangnya kenapa aku harus berterimakasih soal bucinnya Mas Kevin. Aku kan nggak minta Mas Kevin buat jadi bucin?"


"Walah, walah... Seharusnya istri tuh seneng kalau pasangannya jadi bucin, apalagi kalau bucinnya setengah mati."


"Nggak!" Khaira menggeleng tidak menyetujui pendapat Kevin.


"Ya enggak! Aku nggak setuju. Justru akan membuat persoalan sepele jadi runyam." sangka Khaira.


"Kenapa bisa runyam?" tanya Kevin lagi, masih tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya.


"Ya iya. Kemana-mana selalu di curigai dan dicemburui." tutur Khaira, ia merasa pasangan yang terlalu overprotektif akan selalu mencurigai pasangannya.


"Ya perginya kemana dulu, gimana nggak curiga! Kalau bilangnya mau pergi sama temen, eh taunya pergi sama selingkuhan." kata Kevin sembari mengamati ketiga orang yang sedang bersitegang dan bertengkar tak jauh darinya berada, karena seperti ketahuan jalan bersama selingkuhan.


Khaira terperangah, kala mendapati si Wanita menyiramkan air yang berwarna kuning seperti jus jeruk kepada seorang wanita. "Alamak! ngeri kali." pekik Khaira.


"Dasar Cewek nggak tau diri! Berani-beraninya kamu ganggu suami orang!" hardik Wanita yang menyiramkan air ke wajah si wanita selingkuhan suaminya. Bukan hanya menyiramnya, akan tetapi juga memaki tak perduli ini di tempat umum.


"Adu, duh, sakit sayang!" kata seorang pria yang mendapati telinganya di jewer.


"Biarin! Lebih sakit hatiku. Ketimbang telingamu yang sakitnya nggak seberapa ini. Jangan sebut aku sayang! Kalau kamu masih berani selingkuh!" oceh si Wanita pada si pria.


Kevin dan juga Khaira beranjak dari duduknya, keduanya memilih menjauhi ketiga orang yang sedang bersitegang.

__ADS_1


"Marak perselingkuhan." desis Khaira berjalan beriringan dengan Kevin.


"Godaan dalam rumah tangga itu banyak sayang. Bukan hanya perselingkuhan, bisa jadi ekonomi, pihak dari keluarga, dan lain-lain macam, kalau pasangan suami-isteri sudah nggak merasa cocok lagi juga kebanyakan berpisah." ujar Kevin, seraya menyelipkan jemari tangannya ke jemari Khaira.


"Bukankah lebih baik kalau bisa memperbaiki daripada berpisah. Kan kalau yang sudah punya anak, kasihan anaknya. Bisa jadi korban keegoisan orang tua karena masalah sepele?" ujar Khaira melihat Kevin dari samping.


Kevin menggendikkan pundaknya. "Entahlah 1001 cara manusia dalam menjalani kehidupannya, apalagi dalam menyelamatkan pernikahan yang retak, bukan hanya memperbaiki akan tetapi juga membubuhkan rasa cinta kembali."


"Kalau sampai kita seperti itu, apa yang akan kita lakukan?" Khaira berjalan sampai pada langkah kakinya harus terhenti kala Kevin menariknya masuk dalam pelukan.


"Adab dalam sebuah pernikahan adalah lebih banyak mendengarkan, jika salah satu dari pasangan sedang bermuram durja yang seharusnya dilakukan adalah diam, lalu setelah di rasa tenang. Maka kita bisa menyelesaikan persoalan dengan baik." tutur Kevin sembari terus memeluk erat Khaira.


Khaira mengulum senyumnya mendengar rangkaian perkataan Kevin. Ia mendongakkan kepalanya menatap wajah Kevin. "Kita pulang sekarang, sudah malam."


"Ayuk." Kevin mengurai pelukannya, dan menggandeng tangan Khaira sampai menuju ke parkiran.


~~


Di sisi lain kehidupan. Pasangan yang belum lama ini menikah sedang terjadi perdebatan kecil. Kala sang istri merajuk dan meminta sesuatu hal yang aneh kala ngidam sebagai alasan. Agar permintaannya di turuti.


"Pokoknya gue nggak mau tau! Cariin penjual es dawet yang manisnya nggak berlebihan dan nggak terlalu anyep!" seru Clara merajuk di jam dua belas malam.


"Clara, sayangku, my honey bunny sweetie. Mana ada es dawet di jam dua belas malam, es dawet ya adanya siang," jawab Anto membujuk, rasa kantuknya kian sirna, kala Clara keluar dari kamar dan malah duduk di atas permadani. Clara mengambil gelas yang ada di atas meja, seketika itu juga terdengar bunyi gelas pecah berserakan di lantai.


PRANG!!!


Anto tergelak memandangi wanitanya yang arogan seperti itu. "Wah gawat, singa betina ngamuk."


"Cepetan Anto, gue mau es cendol. Lo mau bayi ini ileran. Gue pengen banget Anto." lagi Clara merajuk dan merengek seperti anak kecil.


"Tadi es dawet! Sekarang es cendol!" Anto menggerutu seraya menggaruk kepalanya yang gatal.


"Bukannya sama!" pekik Clara.


"Bukankah beda?" balas Anto, menganggap es dawet dan es cendol adalah es yang berbeda.


Clara menjadi semakin kesal mendengar gerutu Anto. "Kok Lo malah bahas sesuatu yang nggak penting! Pokoknya beliin!" pinta Clara mulai menangis seperti anak kecil.


Erik mendengar suara Clara dan suara gelas pecah langsung naik ke lantai atas, ia melihat Clara sedang merengek seperti anak kecil lalu melihat Anto yang terlihat sedang membujuk.


"Belikan saja Anto, lagi pula saya tidak mau cucu saya nanti ileran." Erik berjalan mendekati Clara, lalu membantunya untuk beranjak.


Anto menghela nafas panjang. Alhasil, mau tidak mau, niat tidak niat. Anto akhirnya berangkat mencari es cendol atau es dawet pada jam satu malam.

__ADS_1


...~~...


Bersambung...


__ADS_2