Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Memupus harapan


__ADS_3

Setelah saling membantu perihal pekerjaan rumah tanpa adanya kendala, Kevin menyantap menu sarapan paginya bersama dengan Khaira.


Tak ada yang membuka suara, dikarenakan saat makan Khaira selalu melarangnya untuk berbicara. Dan itu sudah menjadi kebiasaan Kevin kini, ia merasa banyak sekali perbedaan antara sebelum dan sesudah Khaira tinggal bersamanya.


Beralih duduk di ruang tengah, Kevin meminta Khaira untuk duduk, ia menatap Khaira dengan seksama. Untuk yang kesekian kalinya, Kevin memeriksa dan membantu untuk mengganti perban putih yang membalut luka jahitan di pergelangan tangan istrinya. Memastikan bahwa luka jahitan itu benar-benar sudah mengering.


"My Delf, kamu yakin mau berangkat kerja?"


Kevin menatap wajah istrinya, tidak seperti kebanyakan wanita yang ditemuinya. Istrinya ini tidak terlihat memakai make-up, bahkan nampak sangat natural. Hanya sedikit perona bibir agar terlihat segar. Tapi mengapa dengan menatap wajah natural dan bibir itu, seolah sudah menjadi candu, bahkan belum sampai hitungan jarinya ia bisa menciumnya.


"Tentu." sahut Khaira, ia masih heran dan tidak mengerti, apa istimewanya panggilan yang terdengar aneh itu. Apakah hanya karena alasan Kevin menyukai cokelat Delfi almond? Atau adakah hal lainnya. Hemm entahlah. "kamu sudah menanyakan hal yang sama padaku Mas, tenanglah aku baik-baik saja. Aku bisa bekerja dengan sangat baik." Khaira lantas berdiri dari sofa ruang tengah.


Kevin masih menyangsikan ucapan Khaira yang menjawab semangat, ia menatap sofa kosong, lalu mengalihkan atensinya, menadahkan wajahnya menatap sang istri yang sudah berdiri.


"Kan, kamu belum sembuh total? Kemarin aja kamu baru cek up dua kali, dokter yang menangani mu bilang, minimal tiga kali cek up?"


Khaira menghela nafas panjang, ia sedikit membungkuk dan memegang kedua pipi Kevin. Ditatapnya mata Kevin lekat-lekat sembari berkata dengan nada suara super halus. Namun, bukan sehalus sutra tentunya.


"Mas Kevin, lukaku sembuh dengan seiring berjalannya waktu. Ini sudah hari kelima aku nggak masuk kerja, aku kan butuh uang untuk mencukupi kebutuhan hidup ku."


Kevin mendelik menatap Khaira. "Kebutuhan hidup? Memangnya kamu nggak merasa sudah mempunyai suami? Come on baby, kamu bisa meminta uang padaku untuk memenuhi hidupmu,"


Khaira kembali berdiri, senyum di bibirnya melebar.


"Iya aku tahu kamu suamiku, aku masih ingat itu. Waktu sudah membawa kita hampir ke dua bulan ini. Mana mungkin aku melupakan peranku sebagai istri mu."


Kevin langsung berdiri mendengar kata dua bulan. Ternyata waktu berlalu begitu cepat. Apa karena ia merasa bahagia telah tinggal bersama dengan seorang wanita yang menemani hari-hari kesepiannya. Sampai waktu saja tidak lambat seperti biasanya, sebelum adanya Khaira masuk dalam kehidupannya.


"Benarkah sudah hampir dua bulan?" Kevin memegang kedua bahu Khaira.


"Ya salam... jangan bilang kalau kamu juga lupa nama-nama hari?" Khaira melepaskan tangan Kevin yang bertumpu di kedua bahunya.


Kevin termangu, sungguh ia tak pernah menyangka telah melewatkan waktu secepat ini.


Khaira berjalan mengambil helm, lalu kembali lagi dimana Kevin masih nampak bengong melompong.


"Sudah bengong nya, sekarang Mas Kevin mau antar aku kerja apa enggak? Kalau enggak ya aku bisa berangkat sendiri pakai angkutan." Khaira menyadarkan lamunan Kevin.


"Baiklah." Kevin mengalah. Lalu mengambil helm dari tangan Khaira, lantas memakai helm untuk dirinya sendiri, dan mengambil helm satu lagi, untuk ia pakaikan di mahkota, wanita, yang tertutupi hijab. Kali ini tidak ada protes yang diajukan Khaira. Wanita ini diam saja.


"Yuk jalan," Khaira mengalungkan lengannya di lengan Kevin.


Mengalah dan membiarkan istrinya bekerja bukan karena Kevin tidak ingin mencegahnya. Akan tetapi menurutnya, Khaira masih memerlukan waktu untuk berhenti dari pekerjaannya. Kevin berjalan menuju luar rumah dengan Khaira yang masih mengalungkan tangan di lengannya.


"Tunggu sebentar.." Kevin mengunci pintu rumah.


~~


Motornya pun melaju pelan, kali ini Kevin tidak ingin sengaja ngebut, hanya untuk membuat Khaira memeluk pinggangnya. Kevin merasa, semakin ia menekan wanita yang kini duduk dibelakangnya, malah akan semakin membuat Khaira menjauh.


Perlahan tapi pasti, Khaira mulai sedikit memegangi ujung jaket yang di kenakannya, seulas senyuman mengembang di kedua sudut bibir Kevin. "Nah kan, dia memang aneh, dipaksa kagak mau pegangan, kagak dipaksa dia pegangan, persis saja sama kayak anak kecil umur lima tahun yang lagi ngeyel-ngeyelnya kalau dibilangin."


Sesampainya di pelataran restauran, Khaira segera turun dari jok belakang, dan di susul Kevin.


Seperti halnya pada saat pagi tadi, Kevin lantas membukakan pengait helm, dan melepas helm dengan perlahan, agar tampilan hijab yang Khaira kenakan tidak berantakan. Semua itu, Kevin lakukan secara perlahan dan anti brutal.


Kan kalau dipaksa si tengil ini kagak mau.


Khaira sedikit membungkukkan badannya, tanda memberi hormat kepada Kevin, tak hanya itu, ia juga memasang senyuman.


"Kan-kan, Mas Kevin jadi salah tingkah... Hahay, dia kan suka maksa, nah kalau aku sedikit lentur maka dia bakal bersemu merah kayak gitu.. hemm.." seloroh Khaira dalam hati seraya menahan tawa geli, melihat raut wajah Kevin yang laksana jambu air merah.


"Haduh nih cewek tengil, bikin gue salah tingkah kan jadinya. Berasa kayak Bapak-bapak nganterin anak sekolah." Kevin membatin memandangi wajah Khaira yang sedang tersenyum terlihat sedap dipandang mata.


"Kenapa kamu pakai acara membungkuk? Memangnya aku ini Bapakmu?" Kevin bertanya heran atas apa yang dilakukan Khaira.


"Hehehe..." Khaira terkekeh geli, ia melayangkan tinjunya ke lengan Kevin, "ya beda, Mas Kevin sama Abah. Eh tapi makasih lho Mas, udah mau mengantarku kerja,”

__ADS_1


"Ya ya ya... anggap aja nganterin kamu kerja merupakan tugas baruku, walaupun aku ini lebih terlihat kek tukang ojek daripada terlihat sebagai suamimu,"


"Kalau begitu dah Kang ojek, makasih udah mau ngangerin aku kerja,"


"Ya! Jangan sebut aku kang ojek juga keles," protes Kevin.


"Salim?" Khaira mengulurkan tangannya kehadapan Kevin.


Kevin menyambut tangan Khaira, "Nanti kalau tanganmu masih berasa sakit, jangan di paksain,"


"Siap kang ojek." balas Khaira memberi hormat, ia lantas melenggang pergi dari hadapan Kevin.


Melihat kepergian dan melihat tingkah laku Khaira yang jenaka, membuatnya geleng-geleng kepala, detik berikutnya Kevin melihat Khaira berhenti dan membalikkan badan lalu melambaikan tangan. Dibalas olehnya hanya dengan mengangguk kecil serta seulas senyuman.


"Pulanglah." kata Khaira bersuara kecil. Lantas kembali berjalan menuju dapur restoran.


Saat Khaira sudah tidak terlihat, Kevin mengeluarkan ponselnya, dan mencari kontak seseorang.


"Hallo Rezki..." sapa Kevin setelah sambungan telepon diangkat oleh seseorang yang tertera di layar monitor ponselnya.


"Gue mau ketemu sama lo di cafe Brian, sekarang!" ucapnya tanpa basa-basi, lalu memutuskan panggilan sepihak, dan kembali mengantungi ponselnya di saku hoodie.


"Ada sesuatu yang bengkok dan nampaknya memang harus gue diluruskan. Gue kagak mau ini berlarut-larut." Kevin kembali melajukan motornya membaur dengan pengendara lain menuju cafe Been. Cafe yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Cafe yang masih satu area dengan diskotek Boleros.


Lima belas menit dengan kecepatan 60-80 yang sebenarnya bila ditempuh dengan kecepatan sedang bisa setengah jam lamanya. Namun, bagi Kevin tak perlu mengulur waktu karena banyak hal yang harus ia kerjakan.


Meski suka dengan kecepatan tinggi saat melajukan motornya. Namun, Kevin masih mentaati rambu-rambu lalulintas.


Kevin sampai di parkiran cafe Been, cafe yang dibuka pada pagi dan menjelang malam. Kevin lantas memarkirkan motornya, setelah sampai di dalam cafe, ia lalu duduk di stand kursi yang telah disediakan dan memesan kopi hitam dengan kadar manis yang tidak terlalu berlebihan.


Setelah menunggu sekitar lima menit, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Ada apa? Lo mau ketemu sama gue, di jam pagi begini." Rezki berdiri di sebelah Kevin.


"Duduk dulu, gue mau ngomong sesuatu." pinta Kevin, menyuruh Rezki untuk duduk.


Seperti biasa, Kevin yang tidak suka basa-basi, ia langsung to the points, kepada intinya. Kevin menyodorkan lembaran kertas dan selembar struk rekening. Rezki melihat sekilas dan kembali menatap Kevin dengan raut wajah bingung.


"Apa ini?" tanya Rezki, tidak mengerti apa maksud teman sekaligus rekan bisnisnya.


"Gue lunasi semua pembayaran rumah sakit, saat Khaira di rawat, itu pakai uang Lo kan?" ucap Kevin, menunjuk kertas di atas meja dengan dagunya, dan kembali menyesap kopi hitam.


Rezki mendelik, ia menatap kertas yang disodorkan Kevin. "Gue ikhlas Vin, gue nggak pernah menganggap membiayai rumah sakit Khaira adalah hutang. Lagi pula sebenarnya ada hubungan apa lo sama Khaira?"


"Gue suaminya." sahut Kevin singkat, sesingkat ia meletakkan cangkir di meja bundar didepannya.


Kletek jueder!!!


Mendengar sebutan kata 'suami yang dilontarkan Kevin, membuat Rezki seperti mendengar gelegar petir.


"A-apa, su-suami?" Rezki tergagap, ia menatap wajah Kevin yang menampilkan mimik wajah santai.


"Lo nggak kepikiran buat suka sama istri gue kan?" Kevin bertanya secara spontan.


Rezki nampak diam, ia memang tidak tahu pasti perasaan apa yang menyelinap didalam hatinya terhadap Khaira. Tapi mengapa membuat hatinya cenat-cenut.


"Kalau Lo diam, berarti gue beranggapan lo nggak ada rasa sama istri gue." kata Kevin lagi, kala melihat Rezki hanya diam saja.


"Kapan lo menikahi Khaira?" Rezki melihat Kevin yang hendak berdiri.


Kevin mengurungkan niatnya untuk berdiri, ia duduk kembali. "Ceritanya panjang."


"Atas ketidaktahuan gue kalau Khaira ternyata istri lo, gimana kalau ternyata gue memang naksir dia?"


Kevin sudah menduganya, ia pun memasang wajah datar tapi tatapan matanya tajam menatap Rezki.


"Meskipun pada awalnya lo kagak tau kalau Khaira istri gue, tapi sekarang lo udah tau, jadi singkirkan perasaan lo. Untuk kali ini, gue bakal menjaga apa yang sudah jadi milik gue, nggak bakal gue membiarkan pengkhianatan kembali gue rasakan." pungkas Kevin tegas.

__ADS_1


"Gue enggak janji, soalnya perasaan gue kadung dalam sama Khaira." jawab Rezki.


Brak!!!


Kevin menggebrak meja sangat keras, hingga cangkir kopinya berdentang membersamai dengan kopi hitamnya berceceran di meja.


Rezki membelalakkan matanya melihat respon brutal Kevin.


Kevin pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Ia rasa peringatannya tadi sudah dimengerti oleh duda dua kali itu.


Rezki masih melihat Kevin, sampai temannya itu keluar dari cafe. Ia duduk termenung.


Brian melihat teman masa SMA nya dulu, ia melihat Rezki sepertinya sedang melamun. Benar saja Rezki sedang termenung dengan adanya Rezki terkejut kala ia memanggilnya. "Rezki...!"


Rezki tergelak refleks menoleh kearah sumber suara, ternyata pemilik cafe ini, Brian.


"Lo tumben, pagi-pagi udah ada di sini?" ucap Brian lalu duduk di kursi kosong berhadapan dengan Rekzi, matanya melihat cangkir putih yang miring sedang air kopi berwarna hitam pekat berceceran di meja. "Lo habis minum kopi, kenapa lo kayak bayi sampai berceceran kek gini?" Brian menunjuk cangkir di meja.


"Kevin.." sahut Rezki.


"Kevin?" Brian sedikit terkejut. "terus kemana tuh anak?" Brian bertanya, seraya celingukan, mencari keberadaan sahabat kecilnya.


"Udah cabut." jawab Rezki, masih dengan nada singkatnya.


Brian melihat wajah Rezki yang tertunduk lesuh, ia menyangka pasti terjadi sesuatu antara Rezki dan Kevin. "Apa terjadi sesuatu, antara lo sama Kevin?"


Rezki menatap Brian. "Kapan Kevin nikah?"


Brian tercenung mendengar jawaban Rezki, ia berpikir apa Kevin sudah mulai memberi tahu orang-orang tentang pernikahannya .


"Kevin, yang kasih tau lo?"


"Apa gue harus memupus harapan dan perasaan gue yang baru kuncup ini, Bin?" keluh Rezki dengan suara putus asa.


"Hah, gila lo!" hardik Brian, mendengar pengakuan perasaan Rezki. Brian berprasangka setelah Rezki gagal dengan pernikahannya yang kedua kali. Brian berspekulasi bahwa Rezki menyukai Kevin, alias LGBT, dan Rezki saat ini tengah kecewa mendengar Kevin yang sudah menikah.


Rezki nampak limbung mendengar Brian menghardiknya dengan sebutan 'gila. Brian memperhatikan dengan seksama penampilan Rezki dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Brian sangat heran, kenapa di pagi yang cerah ini, Rezki harus memakai celana panjang berwarna cream, berkemeja pink muda, gaya rambut berponi ala KPop Korea.


Khayalannya pun sudah melambung tinggi, ia berhalusinasi Rezki bergaya kemayu, dengan tangan kiri yang di taruh dibawah siku, serta tangan kanan yang gemulai, menggodanya bak seorang waria.


"Blegedez! Jijik banget gue Ki, kenapa sih lo bisa kayak gitu!" pekik Brian memaki Rezki seenak jidat.


"Lo kenapa Bin, lo sakit?" Rezki bertanya melihat wajah Brian yang mengeluarkan peluh di kening. Ia pun berniat memeriksa kening Brian dengan tangannya. Namun, segera di tangkis oleh tangan Brian.


"Gimana caranya hubungan lo sama sesama laki-laki, coba? Jangan-jangan pas lo hubungan, malah pedang-pedangan, nggak, nggak, gue kenal Kevin, dia kagak begitu!" Brian menggeleng, pikirannya semakin liar.


Rezki semakin tidak mengerti dibuatnya. Alias bingung banget.


"Ya hubungan gue sama sesama laki-laki fine, fine aja. Enjoy, tapi nggak main pedang-pedangan juga, emang gue mau perang?" jawab Rezki, yang masih belum ngeh, arah pembicaraan Brian.


"Oh my God Rezki! Gue saranin sama lo, mending lo buru pergi ke psikolog, atau ke psikiater dah, biar lo tau apa solusi masalah lo saat ini." kata Brian menyarankan agar Rezki memeriksakan kesehatan mentalnya.


Rezki berpikir ada benarnya juga, ia harus berkonsultasi, agar rasa di lubuk hatinya terhadap wanita yang sudah bersuami tidak semakin dalam, dan berujung keperihan.


"Lo bener juga Bin." jawab Rezki, pandangannya menerawang membayangkan sosok Khaira.


"Cerdas! Gue juga nggak mau kali, punya temen yang LGBT." kata Brian, seraya bergidik ngeri, kala pikirannya sudah mengajaknya traveling membayangkan bagaimana cara orang-orang LGBT melakukan itu, ituan, kepada sesama jenis.


Lagi dan lagi, untuk pagi harinya. Rezki dibuat tergelak. Tadi pengakuan Kevin yang sudah menikahi Khaira. Sekarang pangkuan Brian yang menyatakan bahwa ia gay.


"Hah, apa lo bilang, LGBT?" Rezki terkejut, tidak menyangka ternyata seorang Brian yang bijak dan merupakan seorang jaksa, bisa berpikiran bahwa ia adalah seorang penyuka sesama jenis, bukan hanya Brian yang bergidik ngeri, dirinya pun ikut merasakan kengerian itu.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2