
Rasa kejut Khaira seperti halnya ia mengikuti challenge. Yaitu terjun dari ketinggian dengan hanya seutas benang. Khaira langsung melompat turun dari ranjang milik Mita.
Khaira mengerjap-ngerjapkan mata, serta menguceknya kali ini lebih dalam. Siapa tahu, ia sedang berhalusinasi, tapi nyatanya? Zonk!
Khaira menatap Mita, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, "Mit, sopo iki, Mit? [siapa itu, Mit]” Ia menghampiri Mita yang masih menganga bak gua.
"Mana gue tau, lah gimana ceritanya, nih orang bisa masuk?” Mita malah balik bertanya pada sepupunya.
Khaira bingung sekaligus keheranan, ia hanya menggidik pundaknya.
Kegaduhan ini pun menimbulkan tanda tanya sebagian orang-orang yang sedang melakukan kegiatan siskamling yang berjumlah tiga orang. Lantas mencari tahu apa yang membuat kamar kosan Mita gaduh.
“Mit-Mita! Ribut-ribut apa Mit?” tiga warga siskamling pun langsung berlarian menghampiri kamar Mita yang pintunya terbuka lebar.
"Alamak, Ra!” Mita dan Khaira saling bersitatap takut.
“Mit, memangnya akan ada masalah apa Mit?!” Khaira cemas, melihat mimik wajah Mita yang menggambarkan tekanan.
Mita kelabakan untuk menjawab pertanyaan dari warga siskamling itu, “Nge-a-nge-anu Pak,” gagapnya bingung.
“Ada apa Mita? Apa ada maling? Kenapa kalian ini teriak?” Pak Ramli bertanya pada Mita.
Mita bingung harus menjelaskannya apa? Ia hanya bisa menatap sepupunya itu dengan perasaan was-was.
Karena sikap diamnya Mita yang terlihat menyembunyikan sesuatu, membuat Pak Ramli, Sondi dan Coki yang sedang melakukan kegiatan siskamling curiga. Tanpa sadar senter yang di bawa oleh Sondi menyoroti kasur. Sondi membelalakkan matanya, terlihat ada seorang pria yang sedang berbaring di atas kasur kosan Mita.
“Siapa laki-laki itu Mit?” tanya Pak Ramli kepada Mita.
“Apa dia suamimu?”Pak Ramli bertanya kepada gadis yang berdiri di samping Mita.
Khaira dengan polosnya menggeleng karena ia pun tidak tahu darimana datangnya pria itu.
Mita cemas melihat Khaira, dikarenakan hukum yang berlaku di daerah tempatnya ngekos sangatlah memalukan. Terakhir kali terjadi sudah dua tahun lalu.
__ADS_1
Namun Mita juga tidak tahu darimana datangnya pria itu, dan benar atau tidaknya Khaira masih polos, ia juga tidak bisa memastikannya sendiri. Karena sudah ada tiga orang yang kadung melihat ada seorang pria dikamar kosnya.“Sa-saya nggak tau Pak, saya baru saja pulang kerja. Ta-tapi sepupu saya bisa jelaskan. Se-sebelum saya pulang, sepupu saya yang ada di kamar,”gagapnya menjelaskan.
Khaira bingung dengan situasi dan kondisi yang tengah terjadi, mengapa Mita dan ketiga warga itu nampak tegang dan garang.
Ketiga warga itupun sontak saja melihat sepupu Mita.
“Sudah Pak Ramli! Nggak perlu berlama-lama nanti mereka malahan kabur! Langsung bawa aja nih cewek sama si cowoknya yang berbuat maksiat ke balai pendopo!”ujar Coki menunjuk sepupu Mita.
Khaira tercengang dengan tuduhan yang dialamatkan padanya, “Ma-ma-maksiat?” tergagap Khaira atas tuduhan itu. Ia mengalihkan tatapan dari ketiga warga yang tidak dikenalnya, sepintas melihat pria di atas kasur dan kini melihat Mita.
"Sumpah Mit, aku gak tau, kan kamu tau. Aku baru pertama kali dateng ke Kota ini. Jadi, otomatis, aku gak kenal siapapun disini, kecuali kamu, Mita!” Khaira menjelaskan bahwa ia tidak tahu siapa pria itu dengan jujur.
Mita melihat raut wajah Khaira yang terlihat memelas dan beralih melihat pria yang masih tak bergerak di atas tempat tidurnya. Entah harus dengan cara apa agar Khaira tidak di bawa ke balai pendopo [tempat persidangan untuk seorang pelaku maksiat].
“Alah sumpah-sumpah! Seperti yang sudah-sudah. Setelah mereka ketahuan bermaksiat mereka pasti mengelak!” Sondi bersuara menggelegar.
“Tapi memang saya benar-benar nggak tau dia siapa?” Khaira mencoba menjelaskan, namun agaknya memang tidak didengarkan.
“Sudah ayo bawa saja pasangan mesum ini ke balai pendopo, biar nggak lagi-lagi ada kemaksiatan dikampung kita ini!” seru Coki semangat.
Pak Ramli menengahi agar tidak menimbulkan fitnah, “Baiklah nak Mita, coba minta sepupu kamu untuk membangunkan pria itu,”
Mita melihat Khaira, namun Khaira hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
Sondi tak sabaran, ia menganggap sepupu Mita hanya bersandiwara, “Alah! Udahlah biar gue aja!” Sondi pun berjalan dengan langkah cepat dan membangunkan si pria asing.
“Coki tolong panggil semua penghuni kosan milik Pak Wahyu.” ujar Pak Ramli kepada Coki, Coki dengan sigap menganggukkan kepala dan bergegas untuk memanggil semua penghuni kosan.
Mendadak kosan Mita yang hanya sepetak kamar, ramai oleh orang-orang yang terbangun di pagi buta, pukul 02:15 wib.
Dari para tetangga kosan Mita tidak ada satupun yang mengetahui siapa pria asing yang berada di kamar kosan Mita.
Khaira takut dan khawatir, tidak tahu. Nasib apakah yang membawanya kali ini? Akankah ia bisa lolos dan terbebas dari tuduhan dan fitnah? Ataukah ini akan membawanya ke pusaran kasus baru? Ataukah? Berbagai macam argumen-argumen yang membuat Khaira di ambang ketakutannya.
__ADS_1
Karena tidak adanya yang mengetahui pria tersebut. Alhasil dari mediasi Khaira dan pria asing itupun tetap harus di interogasi lebih lanjut. Karena Mita lebih tahu seperti apa hukum yang berlaku di sini. Maka sebisanya ia memohon kepada warga yang sudah kadung terprovokasi agar Khaira di bawa saja ke rumah sang pemilik kosan. Toh belum tentu masalah Khaira bersama dengan seorang pria yang bukan muhrimnya benar melakukan tindakan maksiat.
Saat ini, Khaira dan pria asing yang belum diketahui namanya sedang berada di rumah pemilik kos. Keduanya sedang di interogasi macam terdakwa, tak lain adalah rumah Pak Wahyu dan beberapa warga yang mulai terusik dengan keributan yang sudah menggemparkan kosan Pak Wahyu pun sudah mulai berdatangan.
Mita pun turut andil sebagai saksi, ia duduk di samping Khaira.
“Apa-apaan sih ini!” kesal si pria asing, sesaat setelah duduk berhadapan dengan wanita yang tidak ia kenal.
“Sudah diam saja kamu!” bentak warga kepada pria asing yang mencoba memberontak.
“Gue juga bingung kenapa gue bisa ada di sini? Memang ini di daerah mana?!” pria asing yang terlihat sedang kebingungan ini mengedarkan pandangannya melihat satu persatu orang-orang yang sedang mengerubunginya bak lalat mengerubungi bangkai.
Khaira pun sudah bersumpah serapah demi apapun, ia membela diri tidak pernah melakukan hubungan haram, bersama pria manapun dan siapapun apalagi orang yang tidak ia kenal. "Sumpah demi Abah, Saya tidak pernah melakukan tindakan di luar batas yang agama saya ajarkan!”
“Iya benar, Khaira nggak melakukan perbuatan yang tercela. Saya sendiri yang pertama kali memergoki Khaira dan cowok asing itu.” Mita mencoba membela Khaira berdasarkan apa yang dilihatnya juga ia tahu Khaira tidak mungkin melakukan perbuatan zina.
Tentunya reaksi warga tidak segampang menerima sumpah Khaira. Meskipun Mita sudah ikut andil membela sepupunya.
"Alah! Orang tadi rambut lo aja basah!” tuduhan Sondi jelas mengarah kepada Khaira yang telah melihat Khaira saat itu tidak memakai hijabnya.
Khaira memejamkan matanya dalam-dalam, ia mengutuki dirinya mengapa tak memakai hijab. Jika saja ia tetap memakai hijab walaupun rambutnya masih basah, pasti tuduhan maksiat tidak menguat.
"Huuu..., dasar mesum!” sorak warga lain ikut terprovokasi menyoraki kedua orang yang tertuduh telah melakukan mesum.
"Tenang, tenang, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kita selesaikan ini secara baik-baik. Saya yakin ada solusi menyangkut masalah ini!” kata Pak Wahyu mencoba menenangkan warga. Karena beliau tidak mencurigai Khaira berbuat zina.
~~
Bersambung..
~
Entah ada yang menunggu karya ini up atau tidak, saya akan tetap up.
__ADS_1
Terimakasih atas segala bentuk dukungan •_•