Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Apakah cinta datang terlambat?


__ADS_3

“Ka-kamu mau ngapain?!” hardik Khaira tergagap, seraya mencoba memberontak, namun tenaga Kevin tak sebanding dengan tenaganya. Apalagi tinggi tubuh Khaira hanya setinggi leher Kevin. Meskipun ia pernah belajar silat tapi juga tidak mampu ia gunakan dalam posisi Kevin yang mengungkunginya.



“Kalau lo mau jadi istri gue, ya berarti siap melayani gue!” Kevin bersuara dengan nada serak, seperti menahan hasrat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Khaira, hampir saja bisa mencium bibir wanita yang sekian lalu menjadi istrinya.



Namun Kevin cukup terkejut, Ia melihat gadis dihadapannya memalingkan wajah ke samping kanan. Ternyata Khaira benar-benar menolaknya. Bahkan Kevin bisa merasakan tubuh Khaira gemetar hebat.



Khaira segera memalingkan wajahnya ke samping, nafasnya serasa memburu. Detak jantungnya bertalu-talu. Ia merasa takut dan menjadi semakin ngilu.



Melihat penolakan Khaira membuat nyali Kevin semakin tertantang. Seberapa kah gadis ini bisa menahan. Kevin tersenyum devil dan semakin membuatnya menjadi-jadi, tatapannya beralih menjurus leher Khaira yang masih tertutupi hijab.



Ya, rangsangan titik lemah bagi seorang wanita salah satunya di bagian leher. Kevin lantas mendengus leher Khaira.



Khaira tidak menyerah begitu saja. Ia meronta sekuat tenaga melawan Kevin. Perasaannya sangat gusar karena Kevin mencoba mencari titik lemahnya. Ada sensasi geli, darahnya serasa berdesir seperti ada rasa sensasi hasrat yang menjalari sekujur tubuhnya.



Kevin merasa senang, ia bertambah semangat, sepertinya Khaira sudah masuk ke dalam jeratan hasratnya.



“*Oh Khaira, cepatlah sadar*!” hardik Khaira pada dirinya sendiri di dalam hati. Secepatnya menyadarkan diri agar tidak terlena dalam permainan hasrat yang Kevin lakukan.



“Jangan pernah menyentuhku, tanpa seizin dariku!” sentak Khaira dengan gigi dikeratkan.



Masih dengan posisi yang sama, tubuhnya didorong dan ditahan ke dinding, serta kedua lutut yang di kungkung oleh kedua lutut Kevin, tangannya terkunci ke atas kepala oleh kepalan tangan Kevin. Benar-benar posisi yang membuat Khaira merasa tidak memiliki kehormatan sebagai wanita yang selama ini sangat menjaga harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita agar tidak mudah terjamah oleh pria manapun. “Aku mohon!” kali ini suaranya bergetar, ia menahan tangisnya.



Mendengar peringatan Khaira serta permohonan dengan suara gemetar seperti tangis yang tertahan. Membuat Kevin merasa ialah yang sudah terperdaya oleh gadis itu.



Kevin lantas melepaskan cekalan tangannya, dan pergi meninggalkan Khaira begitu saja, tanpa sepatah kata, tanpa memperdulikan gadis yang sudah menjadi istrinya.



Khaira beringsut terduduk di lantai sambil memeluk dirinya sendiri, si tuan arogan dingin itu benar-benar membuatnya merasa tidak punya harga diri. Khaira merasa sangat tertekan akan hal ini. Kevin pergi begitu saja tanpa memberitahukannya akan tidur dimana, semua ini terasa sangat asing.



Sebulir kristal hangat keluar dari matanya, “Abah, tolongin Ning Bah, Ning benar-benar takut. Ning ingin pulang. Ning merindukan Abah. Semua orang di kota ini sangatlah menyebalkan!” bisiknya lirih.



Tak ingin menangis tapi air mata tak mau berhenti, ingin teriak tapi suaranya seolah tercekat di tenggorokan.


__ADS_1


Ponsel yang sejak tadi mendiami tas selempang di depan samping kirinya pun berdering lirih. Khaira menadahkan wajahnya yang sembab, ia merogoh tas selempangnya dan melihat nama dari si penelepon di layar monitor ponsel.



(Asep)



Yah, pria letoy itu memang sejak tapi pagi berusaha menghubunginya. Akan tetapi karena masih banyaknya orang-orang, Khaira tidak dapat mengangkat telepon dari Asep.



Sebelum Khaira menggeser tombol warna hijau, ia terlebih dahulu menekan pita suara agar tidak terdengar sedang menangis. Sesudahnya merasa baikan, ia menghubungkan percakapan.



“Halo,” sapa Khaira lirih.



Terdengar ditelinga, Asep menjawab dengan antuasias.



📱“Ra kamu kemana aja dari pagi sampai sekarang ini? Kenapa kamu nggak mengangkat telepon ku, atau bahkan kamu nggak telepon balik. Kamu baik-baik aja kan Ra?”



Khaira menahan tangis sesenggukan, ia ingin sekali bercerita kepada Asep, pria yang ia dambakan. Pria yang tidak pernah berlaku kasar bahkan tidak pernah berlaku tidak sopan dan pria lembut yang pernah Khaira harapkan, tapi ia tidak bisa. Khaira merasa tidak bisa menceritakan kondisinya saat ini kepada Asep.



Khaira menarik nafas dan membuangnya perlahan, “Aku nggak pa-pa Sep, aku ba-baik-baik aja. A-aku bahkan u-dah sampai di kosan Mita,” jawabnya menahan tangis sebisanya agar tidak diketahui oleh Asep bahwa ia sedang menangis.




Khaira menghapus jejak air matanya yang bercucuran tidak mau berhenti seolah Asep sedang melihatnya menangis. Khaira menghela nafas panjang, “Aku beneran nggak pa-pa Sep,”



Khaira menjauhkan ponsel dari telinganya, demi menahan tangis ia menggigit punggung tangannya sendiri, dan kembali mendengarkan suara Asep yang sedang berbicara.



📱“Kalau kamu ada apa-apa jangan sungkan buat cerita sama aku Ra, aku pasti ada waktu buat mendengar apa-pun yang mau kamu ceritakan,” ujar Asep yang terdengar bersungguh-sungguh di sambungan telepon.



Air mata kembali menetes, menganak sungai di pipi Khaira. Betapa ia merindukan pria letoy itu, betapa ia ingin bercerita, betapa ia menginginkan Asep. Khaira kembali menghela nafas panjang.



“Makasih Sep, nanti aku telpon lagi.” tanpa menunggu jawaban dari Asep, Khaira memutuskan panggilan sepihak.



Itulah yang sekiranya Khaira dapat ucapakan. Sangat bertolak belakang dari perasaannya yang sedang karut marut ingin di dengarkan. Betapa ia merasa sudah lelah untuk menyimpan segala kepedihan. Betapa ia merasa ingin sekali bercerita tanpa di anggap kelemahan.



Ia ingin meluapkan perasaannya, ia ingin sekali menangis bersandar di bahu seseorang yang rela mendengarkan keluh kesahnya. Selain Abah. Selain orang tua tunggalnya.

__ADS_1



Khaira meletakkan ponsel di lantai samping kirinya, ia kembali membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang di tekuk sampai ke depan dada. Abaya yang di pakainya pun seolah menjadi wadah bagi air matanya.



“Asep aku kangen kamu.” bisik Khaira lirih, sangat lirih.



~~



Di sisi lain, Asep sedang bersandar pada dinding putih ruang istirahatnya. Ia merasa sangat merindukan temannya itu. Bukan rindu sebagai teman, akan tetapi sebagai seorang wanita yang ia dambakan.



Asep membodohi dirinya sendiri, mengapa ia baru menyadari bahwa ia memiliki perasaan cinta kepada Khaira. Mengapa ia sangat bodoh, tidak menyadarinya dari awal, mengapa baru sekarang ia menyadari itu. Mengapa setelah Khaira pergi. Apakah cintanya datang terlambat?



Apakah memang, rasa cinta itu baru tersadar ketika orang yang disayangi terlebih dahulu pergi? Barulah tersadarkan diri rasa yang telah tumbuh dengan seiringnya waktu. Bahwasanya jarak memang diperlukan untuk mengerti, memahami. Seberapa besar rasa cinta dan rasa rindu yang membuncah kian menggebu dalam sanubari hati yang sebelumnya membeku.



Seperti hujan yang merindukan kehadiran pelangi.



Asep mengusap dadanya, ia merasa relung hatinya tercubit. Tergelitik oleh panah asmara yang menancap di sana. Ia akan mengungkapkan isi hatinya setelah bertemu dengan Khaira, ia ingin mengakui secara jantan. Seperti pria dewasa yang telah jatuh cinta.



Tiba-tiba saja Asep merasa takut. Bagaimana jika selama Khaira tinggal di kota. Ada seorang pria yang menyukai Khaira dan menyatakan perasaan suka, lalu Khaira menerima dan menjadikan pria kota itu sebagai kekasihnya?



Asep menggeleng, tidak! Khaira bukanlah gadis yang gampang jatuh cinta!



Seorang rekan kerja Asep sebagai perawat pria pun membuyarkan lamunan Asep.



“Sep, udah saatnya balik kerja,” ujar teman Asep yang bernama Raffi.



Asep hanya menoleh sekilas kearah Raffi, namun belum beranjak dari duduknya.



Raffi menghela nafas melihat tidak seperti biasanya Asep lusuh. Ia menepuk pundak rekan kerjanya itu, “Kamu kenapa Sep? Apa yang kamu khawatirkan? Bukankah tadi kamu dengar kalau si doi pasti baik-baik aja.”



Asep mengangguk pelan, namun berbeda dari hatinya. Ia merasa Khaira menyembunyikan sesuatu, terdengar lirih Khaira yang seperti menahan tangis. Ia lalu beranjak dari duduknya. Dan menyusul Raffi yang terlebih dulu berjalan.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2