Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Bukan mimpi


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, melintasi batas waktu, membuka lembaran baru.


Kevin memilih jalan damai, ia mencabut laporan yang dialamatkan pada Clara. Bukan karena bujukan dari Khaira, akan tetapi memang niatnya.


Setelah mengunjungi rumah sakit tempat Erik di rawat, ia turut prihatin akan kondisi yang menimpa pria paruh baya itu, mengalami stroke dan beruntungnya saja masih stroke ringan, hanya tangan kiri Erik yang tidak berfungsi, kata Dokter dengan menjalani kemoterapi tidak membutuhkan waktu sampai satu tahun untuk Erik bisa segera pulih.


Dan Kevin sudah menganggap Erik seperti Papa Basuki, dan ia tidak tega jika tidak menuruti permintaan seorang ayah.


"Aku bangga padamu Mas." kata Khaira sembari menyelipkan jemarinya ke jemari Kevin.


Kevin menghentikan langkahnya, lalu menghadap Khaira. Sejenak menatap gedung kepolisian yang ada di belakangnya, dan kembali bersitatap dengan manik mata hitam istrinya.


"Kamu nggak marah kan, kalau aku cabut laporan ku pada Clara?"


Khaira mengerutkan keningnya, detik berikutnya tersenyum lebar membersamai dengan menggelengkan kepalanya. "Enggak sama sekali, aku senang kita bisa berdamai dengan orang-orang yang mengecewakan kita. Dan hal itu hanya dilakukan oleh orang yang mempunyai hati dan jiwa yang besar, karena maaf dan memberi maaf itu lebih baik dari pada kita harus menyimpan dendam."


Kevin manggut-manggut lalu merangkul pinggang istrinya. "Jadi kamu sudah memaafkan Ibumu?"


Khaira tercenung mendengar pertanyaan Kevin. "Aku nggak membenci Ibuku, hanya saja aku ingin tahu apa alasannya dia meninggalkan ku dan Abah."


"Benarkah?" Kevin bertanya memastikan.


"He'em.." Khaira mengangguk singkat.


"Kalau seandainya Bu Purwasih tiba-tiba datang, bagaimana reaksi mu?" ucap Kevin, tanpa sepengetahuan Khaira. Ia mencari tahu keberadaan wanita bernama Purwasih karena ia cukup mengenal orang-orang yang bekerja sebagai intelijen, meskipun sampai detik ini belum ada hasilnya.


Khaira bingung mengapa suaminya ini tiba-tiba saja mempertanyakan hal tentang Ibunya. "Apa ada yang sedang Mas Kevin rencanakan?"


Terpekur kala istrinya ini cukup bisa mengendus rencananya. Kevin kembali melangkahkan kakinya, membersamai langkah Khaira yang mengikuti langkahnya. "Aku hanya ingin tahu seperti apa reaksi seorang anak yang sudah lima belas tahun nggak bertemu dengan Ibunya?"


Khaira melihat wajah Kevin dari samping. "Lalu bagaimana dengan Mas Kevin?"


Kevin bersitatap dengan sorot mata Istrinya. "Maksud kamu?"

__ADS_1


"Aku juga ingin melihat reaksi seorang anak yang sudah lama nggak berjumpa dengan ayahnya?" kata Khaira membalikkan pertanyaan.


"Ku rasa Papa Basuki nggak akan pulang ke Indonesia dengan alasan fobia menaiki pesawat. Karena dulu seringkali aku membujuk Papa agar pulang ke Indonesia, sampai pada akhirnya aku menyerah dan tinggal sendirian setelah Bang Andi menikah." Kevin berkata santai, lalu mengambil helm dan memasangkan helm di kepala istrinya yang saat ini dibalut hijab pashmina warna navy.


Khaira menghela nafas panjang, merasa kasihan melihat hidup yang dijalani Kevin selama ini. "Hampir sama, seperti ditinggalkan, hanya saja Papa Basuki punya alasan, sedangkan aku enggak."


Kevin menepuk pelan pundak istrinya. "Bukankah perpisahan memang selalu lebih berat bagi yang ditinggalkan? Ada rasa sesak seperti gelembung-gelembung asam yang memenuhi ruang-ruang di dadamu. Akan lebih baik, jika kita menerimanya saja, dari pada terus meratapi."


"Mas Kevin benar." Khaira melihat Kevin sudah standby di atas motor, ia pun bersiap membonceng.


"Kehidupan ini seperti kita menarik gas, pelan tapi pasti. Kita akan sampai di tempat yang kita tuju." ucap Kevin seraya memasukkan gigi lalu menarik kopling dan pelan-pelan gas motornya. Motornya pun meninggalkan halaman luas kantor polisi.


Khaira membenarkan ucapan Kevin dalam hati, ia tak lagi risih untuk memeluk pinggang suaminya.


Setelah menyusuri jalanan kota metropolitan, Kevin menghentikan laju motornya di depan jalanan rumahnya. Kevin melihat dua orang sedang berdiri menghadap pintu, detik berikutnya melihat Khaira yang sudah turun dari boncengan. Wajah istrinya ini tersenyum lebar dengan tatapan melihat teras rumah.


Kevin mengernyitkan dahinya, ia heran ada apakah gerangan sampai membuat Khaira tersenyum lebar. Kevin kembali melihat teras rumah, dan pada saat yang sama kedua orang yang semula dilihatnya dari belakang, kini nampaklah jelas bahwa kedua orang itu adalah Papa Basuki dan Mamah tirinya.


Kevin membelalakkan matanya dan bergumam lirih seolah lidahnya kaku untuk berkata. "Papa..."


Kevin tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia sampai menepuk pipinya sendiri, lalu mencubit pipi sang istri.


"Mas Kevin sakit." pekik Khaira sembari memegangi pipinya yang terkena cubitan dari Kevin.


"Bukan mimpi." gumam Kevin, kembali melihat teras rumah, maniknya berulang kali mengerjap-ngerjapkan matanya, bahwa apa yang dilihatnya ini bukan mimpi atau khayalan.


"Mari Mas, kita masuk. Nggak baik membuat orang tua kita menunggu di luar rumah terlalu lama, mereka pasti capek menghabiskan waktu di perjalanan jauh." ajak Khaira untuk masuk kedalam rumah.


Tentunya dengan kenyataan yang seperti mimpi. Kevin merasa bingung sampai mendorong motornya untuk memasuki halaman rumah pun seperti khayalannya saja.


Sampai pada Kevin berjalan mendekati pria paruh baya yang telah lama tidak berjumpa, Kevin masih melongo saja.


"Kamu tidak melupakan Papa mu ini kan Kevin?" kata Papa Basuki, ia merentangkan kedua tangannya hendak memeluk putra yang sudah lama tidak berjumpa. Namun, jawaban Kevin membuat Papa Basuki menurunkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Untuk apa Papa pulang? Bukankah kehidupan Papa di sana jauh lebih baik bersamanya?" sinis Kevin berkata dan hanya sekilas ia menatap seorang wanita yang telah menggantikan peranan Mama Lusiana. Dialah seorang wanita yang dikenalkan Papa Basuki bernama Julia.


Julia tergelak mendengar jawaban menohok Kevin. Namun, wanita berusia 34 tahun ini mengerti bahwa mungkin saja Kevin membencinya lebih dari apapun.


Khaira mengusap punggung Kevin, ia mengerti perasaan seorang anak yang ditinggalkan.


"Itukah sambutan mu kepada Papa mu, Vin?" ucap Papa Basuki melihat raut wajah Kevin yang tidak bersahabat.


Kevin bergeming, ia membuang tatapannya.


Khaira menghela nafas panjang, ia merasa pembicaraan ini sangat dingin dan kaku. Khaira menatap wajah pria paruh baya yang tengah berdiri bersama dengan seorang wanita berwajah bule, Khaira jadi berpikir. Wajah Kevin sama persis seperti Papa Basuki. Khaira mengulurkan tangannya kehadapan Papa Basuki.


"Apa kabar Om Basuki? Apa kabar Tante Julia?" kata Khaira kaku, ia tahu nama dari Ibu tiri Kevin, karena Kevin pernah mengatakannya. Meskipun ia sendiri bisa mendengar nada suaranya yang terkesan kaku, tapi setidaknya bisa sedikit mencairkan suasana yang tegang dan dingin ini.


Papa Basuki melihat seorang gadis yang mengulurkan tangan dihadapannya. "Apa dia ini istri mu Kevin?" tanyanya melihat Kevin yang sedang membuang tatapan.


Meskipun sedang membuang tatapannya, Kevin menjawab pertanyaan Papa Basuki. "Ya." ucapnya singkat.


Sorot mata Papa Basuki menilai dari atas sampai bawah, seorang gadis yang telah menjadi istri dari anaknya, "Sopan." pikirnya dari segi penampilan. Lalu menjabat tangan menantunya. "Kalau kamu istri Kevin, kenapa kamu memanggil kami dengan sebutan Om dan Tante. Seharusnya kamu memanggil Papa dan Mama."


Khaira tersenyum kecil membersamai dengan sekilas anggukan.


Kevin membuka pintu, dan langsung ngeluyur masuk tanpa mempersilahkan kedua orangtuanya masuk kedalam rumah.


Papa Basuki dan Mama Julia kecewa dan sedih melihat sikap Kevin yang tak perduli dengan kedatangannya.


Khaira menghela nafas panjang membersamai dengan gelengan kepala melihat sikap tak acuh Kevin. Ia melihat wajah Papa Basuki dan Mama Julia yang nampak kecewa.


Dengan perasaan kaku, risih dan belum terbiasa. Sampai degup jantungnya bertalu-talu kencang Khaira berkata. "Emm.. Papa Basuki, Mama Juli, mmmari silahkan masuk."



__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2