
Seminggu telah berlalu....
Kehidupan yang misterius karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kehidupan yang tak hanya berisi kegembiraan namun juga kesedihan dan air mata, kehidupan yang tak selalu lurus namun penuh liku serta pengharapan.
Bukan hanya kehidupan yang misterius. Jodoh pun misterius, seringkali dalam menjalani hubungan pacaran atau pernikahan selama apapun sampai bertahun-tahun. Jika tidak bisa saling menjaga dan tidak saling terbuka, jujur, dan saling percaya.
Maka hanya akan menjadi kiasan dasar dari cerita yang tidak ada manfaatnya.
Khaira duduk termangu memandangi taman kecil depan rumah Kevin. Ia sedang berpikir, jika hubungannya dengan Kevin tidak ia bicarakan pada Abah. Mau diapakan hubungan pernikahan yang sudah berjalan selama dua bulan ini?
Agaknya memang, ia juga sudah memantapkan hati. Setelah beberapa kali sholat istikharah, dalam meminta petunjuk untuk lebih di mantapkan hatinya. Dan beberapa kali juga, ia memimpikan seseorang yang sama, yaitu Kevin Abimana.
Dari dalam rumah Kevin melihat Khaira sedang duduk di teras rumah, ia menyadari sesuatu. Lalu menghampiri istrinya.
"Ikut aku." Kevin mengajak Khaira tanpa memberitahu kemana ia akan mengajak istrinya.
Pandangan Khaira teralihkan dari menatap bunga mawar biru yang baru kuncup, kini melihat Kevin. "Kemana?"
"Ada pokoknya." Kevin mengulurkan tangannya, disambut hangat oleh Khaira.
"Tapi aku masih pakai baju rumahan?" Khaira menghentikan langkah Kevin yang sudah sampai bagasi hendak mengambil motor.
Kevin melihat, Khaira saat ini sedang memakai stelan celana training panjang warna hitam, dipadukan kaos warna biru tua, dan hijab instan. "Nggak pa-pa, kamu mau pakai apapun tetap cantik."
Khaira mengulum senyumnya. Lalu mengikuti langkah Kevin, dan menerima helm.
~
Setelah menyusuri jalanan kota, Kevin sampai di tempat counter ponsel milik temannya yang bernama Fengying seorang pria keturunan Tionghoa.
Khaira mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan mata memandang. Tak bertanya, tak memberi tanggapan. Ia juga tidak tahu, untuk apa Kevin mengajaknya ke sini.
Bisa dikatakan Khaira manut saja, Kevin menggandeng tangannya. Berjalan mengikuti langkah Kevin, sampai memasuki toko ponsel yang bernama Feng Counter.
Khaira duduk di kursi stainless yang telah disediakan. Ia melihat Kevin menyapa seorang pria bermata sipit.
"Hallo Feng." sapa Kevin kepada temannya yang bermata sipit.
"Eh lo Vin, sudah lama lo kagak kemali. Lo mau ganti hape balu yah?" kata Fengying.
"Ah tau aja lo." jawab Kevin, sembari menjabat tangan Fengying.
"Gimana lo mau hape yang model apa?" tawar Fengying mulai mengeluarkan handphone keluaran terbaru dengan dibantu karyawannya. Ia tahu kenapa yang terbaru, karena memang selera Kevin, cukup tinggi. "Silahkan ya lo pilih aja Vin, semua hape yang telbalu."
Kevin manggut-manggut. "Oke Feng."
Fengying melihat seorang wanita berhijab yang datang bersama dengan Kevin. "Pacal balu kamu ya Vin? Pelasaan gue, beda banget sama yang dulu?"
Khaira merasa dirinya sedang ditatap oleh seorang engkoh-engkoh muda. Ia tersenyum kecil, sebagai sapaan.
Kevin melihat Khaira, lalu melihat Fengying. "Dia bukan pacar gue."
Khaira menghela nafas panjang, ia menatap Kevin malas.
"Lah telus kalau dia bukan pacal lo, kenapa dia dateng baleng lo?" kata Fengying bertanya.
"Dia istri gue, Feng. Namanya, Khaira." jawab Kevin seraya mengedipkan matanya pada Khaira.
Mendengar pengakuan Kevin, membuat hati Khaira serasa digelitiki. Ia tersenyum tipis.
Sama halnya dengan yang lainnya, seorang Kevin Abimana tiba-tiba mengakui sudah mempunyai istri. Fengying juga terkejut. "Kapan lo nikah?"
"Ceritanya panjang, Feng." jawab Kevin singkat, ia tidak mau ditanya ini dan itu. Kevin melihat wajah Fengying yang masih menunjukkan mimik wajah terkejut. Ia lalu mengibaskan tangannya di hadapan pemilik counter. "Heh, Feng udah bengong nya, gue pilih handphone ini."
Fengying langsung tersadar dari lamunannya. "Memang handphone balu ini buat siapa si?"
"Buat istri gue." jawab Kevin spontan, seraya menunjuk Khaira dengan dagunya.
Khaira membelalakkan matanya, tidak mengira, tidak dinyana. OMG?
~~
Sorot cahaya jingga di langit senja, menambah kesan romantisme. Setelah mengajak Khaira membeli handphone baru, karena tidak tega melihat handphone lama Khaira yang memang sudah retak. Kini Kevin sengaja mengajak Khaira untuk menikmati senja di pantai kepulauan seribu, aroma laut, deburan ombak yang tenang, serta burung camar yang berterbangan membuat Khaira terlihat lebih rileks.
"Makasih ya Mas Kevin atas ponsel barunya, aku nggak nyaka kamu pria yang peka." Khaira melihat dan mengamati handphone baru yang dibelikan Kevin dua jam lalu. Lalu meletakkan handphone baru di atas tas selempang di sampingnya duduk.
"Sudah berapa kali kamu bilang makasih? Memangnya sebelum ini, kamu anggap aku nggak peka?"
"Bukan begitu, karena aku nggak tau, harus seperti apa membalas kebaikan-kebaikan yang kamu berikan padaku?"
__ADS_1
"Hemm... tenang saja. Cukup kamu menjadi istriku saja. Layani aku dengan baik."
"Begitu yah?" Khaira menyandarkan kepalanya di pundak Kevin, terasa nyaman, dan hangat yang ia rasakan, duduk berhadapan langsung dengan semburat jingga senja dan birunya lautan yang berkilauan, membuat ia seperti berada di alam Khayalan.
"Iya, kita memang harus mengakui pernikahan kita bukan hanya sekedar, Terpaksa Menikah Karena Jebakan." kata Kevin, menatap wajah Khaira dari samping.
"Apakah kita harus berterima kasih sama Clara?" tanya Khaira, ia menarik diri duduk dengan tegak.
Kevin menggidik pundaknya. "Terimakasih soal apa?"
"Karena dia sudah buat kita terjebak?" jawab Khaira spontan.
"Hahaha... kedengarannya lucu." Kevin terkekeh mendengar Khaira berbicara.
Khaira bingung melihat Kevin tertawa ia mengedarkan pandangannya menatap lautan dan kembali melihat Kevin, mencari sesuatu yang lucu yah membuat suaminya ini tertawa. "Mas Kevin kenapa tertawa?"
Kevin menggeleng singkat.
"Nanti saja kalau kita benar-benar sudah mengesahkan di kantor urusan agama." Kevin menatap Khaira intens. "Aku juga mendengar kabar, bahwa orang yang menghamili Clara itu Anto. Dan sebentar lagi mereka akan menikah." ungkap Kevin, mendengar kabar ini sudah tiga hari yang lalu.
"Benarkah?" Khaira terkejut, sampai membulatkan matanya.
"He'em." sahut Kevin, masih menatap Khaira intens.
"Berarti Mas Kevin bener masih polos? Masih suci? Masih tersegel?" ujar Khaira melihat kedua bola mata Kevin yang menatapnya mendalam.
Kevin terkekeh geli mendengar rentengan jawaban istrinya. "Kenapa, apa kamu mau coba membuka segelnya, ayok. Aku mah siap-siap aja."
Khaira mengerutkan dahinya. "Coba apa?"
Kevin menarik tengkuk leher istrinya, ia mencium sekilas bibir Khaira. Tak perduli ini di tempat umum. Istrinya ini sangat menggemaskan.
"Mas Kevin!" Khaira mendelikkan matanya menatap Kevin yang sama sekali tidak merasa malu telah menciumnya di tempat umum.
Kevin menggidik pundaknya, seolah menjawab omelan istrinya. "Sah-sah saja, kita suami istri. Kamu mau coba nggak?"
Khaira memundurkan tubuhnya, ia masih menutup bibirnya. Takut jika tindakan Kevin yang tidak dapat dibacanya akan terulang.
"Coba apa?" jawab Khaira di sebalik bibirnya yang tertutupi telapak tangan.
Kevin tersenyum kecil, ia menggigit bibir bawahnya. Lalu menarik lengan Khaira agar mendekatinya. Dan berbisik di telinga Khaira yang tertutupi hijab warna navy.
"Apa?" Khaira spontan menjauh Kevin seraya menjawab dengan nada terkejut. "masa olahraga di atas kasur, mana ada?"
Kevin menggeplak jidatnya, melihat orang-orang yang kini sedang sama-sama menikmati sunset melihatnya. "Haduh, jangan kenceng-kenceng ngomongnya."
"Ya habis Mas Kevin ngomongnya suka ngaco!" jawab Khaira masih tidak mengerti apa yang sedang diutarakan Kevin.
"Sssttt." Kevin menarik dan membekap bibir Khaira agar tidak membahas perihal keintiman suami istri.
Namun, tiba-tiba ponsel Khaira berdering, dan membuyarkan Kevin juga Khaira. Kevin segera memalingkan wajahnya, menatap luasnya hamparan lautan, bermandikan cahaya jingga bercermin pada permukaan air laut yang terlihat berkilauan.
Sementara Khaira, mengambil ponsel yang berdering di atas tas selempangnya, Khaira melihat panggilan video call yang tertera di layar monitor ponsel. 'Abah'.
"Assalamualaikum." sapa Khaira setelah menggeser tombol hijau, dan sedikit menjauh dari Kevin.
"Wa'alaikumussalam." jawab Abah.
"Abah, Abah sehat?" tanya Khaira, ia selalu menanyakan kesehatan Abahnya sebelum ia bertanya ke hal yang lain.
"Alhamdulillah Ning, Abah sehat. Kamu lagi dimana, kalau Abah nggak salah lihat kamu lagi di tepi laut yah?" tanya Abah, yang melihat dari video Khaira sekilas memperlihatkan birunya air langit dan mendengar gemuruh ombak.
"Iya Abah, Ning lagi di pantai." jawab Khaira.
"Sama siapa? Cempreng?" tanya Abah, dan menyangka Khaira bersama dengan Mita, dan sudah menjadi kebiasaannya menyebut Mita dengan sebutan 'Cempreng.
Tiba-tiba Kevin mendekat, dan memenuhi layar monitor ponsel Khaira. "Sama saya Abah." jawab Kevin santai.
Khaira terperanjat melihat kelakuan suaminya, sementara Abah tidak terlihat di panggilan video, hanya terlihat jendela dan kain bermotif bunga seperti hordeng yang di sibakkan.
"Akh, Mas Kevin!" hardik Khaira melihat Kevin yang menunjukkan tampang tidak berdosa.
Kevin menggidik pundaknya. "Apa?"
Khaira melirik Kevin tajam. "Tadinya aku mau kasih tau tentang pernikahan kita, tapi nggak mengagetkan Abah juga Mas!"
Kevin tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya. "Hehe.."
Khaira kembali melihat layar monitor ponselnya. Dan Abah belum terlihat di video. Seketika menyeruak rasa ketakutan kalau Abah pingsan.
__ADS_1
"Abah, Abah, Abah?"
"Iya, Abah disini." jawab Abah, yang sudah kembali ke panggilan video, karena Beliau sempat tersentak dan menjatuhkan ponselnya di kursi, terkejut akan Kevin yang tiba-tiba muncul dilayar monitor ponsel.
"Siapa tadi, laki-laki yang tiba-tiba muncul kaya pocong, di telepon video kamu Ning?" tanya Abah, selidik.
Khaira menatap Kevin yang duduk disebelahnya, namun Kevin tidak nampak di panggilan video. Melihat Khaira memalingkan wajahnya, ke samping, membuat Abah bertambah rasa penasaran.
"Ning. Jangan-jangan tadi yang Abah lihat penampakan hantu. Pulang Ning pulang dari situ!" sangka Abah, dan menyuruh Khaira untuk pulang dari pantai.
Kevin lantas mengambil alih ponsel Khaira, dan menyapa Abah dengan kata sopan yang ia bisa.
"Halo Abah, saya Kevin." ucap Kevin, dan memperkenalkan dirinya. Kevin rasa seperti anak SD. Tapi biarlah, yang penting kenal sama mertua, hehe...
Abah nampak tidak puas akan sapaan yang nampak sok akrab yang ditujukan Kevin padanya.
"Siapa kamu?" tanya Abah, dengan nada suara tegas.
Khaira mencoba untuk mengambil alih ponselnya, namun ditahan oleh Kevin. Kevin melihat Khaira, dan kembali ke panggilan video.
"Emmm, saya Suami Khaira Abah, Putri Abah." jawab jujur Kevin, membuat Khaira membelalakkan matanya.
Abah terperanjat untuk yang kedua kalinya akibat ulah Kevin. Panggilan video yang terlihat di layar monitor ponsel Khaira, lagi-lagi menunjukkan kain gorden yang di sibakkan.
Khaira menggeplak lengan Kevin. "Aish sih Mas Kevin mah, bikin orang jantungan kalau kayak gini caranya!"
Kevin mengangkat kedua alisnya. "Ya habis bagaimana caranya memperkenalkan diri?"
Khaira mendengus dingin, ia lalu mengambil alih ponselnya.
"Abah, hallo Abah, Abah baik-baik aja kan, Bah?" panggil Khaira berulang, sangat mengkhawatirkan kondisi Abahnya yang mempunyai riwayat lemah jantung.
Terlihat Abah, mengambil ponselnya yang terjatuh di kursi dengan ponsel yang menghadap ke jendela.
"Walah biyung, Ojo main-main cah Ayu. Mana laki-laki tadi yang mengaku suamimu, tak cincang abis buat umpan ikan lele!" omel Abah.
Kevin yang mendengar omelan Abah membuatnya terkesiap, ia refleks memegang lehernya.
"Waduh, umpan lele?" gumam Kevin, pikirannya sudah mengembara.
"Emm.." Khaira sedang berpikir, untuk membuat alasan apa agar tidak membuat Abahnya terkejut dan juga tidak berbohong.
"Ning, jawab Abah, Khaira Ningrum!" kata Abah, mencari kejelasan.
"Ya sudah, kalau kamu ndak mau jawab, besok Abah akan ke Kota, ta cincang halus, ta remek-remek, sampe jadi umpan ikan lele laki-laki yang sudah ngaku-ngaku jadi Suamimu! Titik. Wassalam." umpat Abah, tiada koma hanya ada 'titik. Lalu memutuskan panggilan sepihak.
Khaira menatap Kevin yang nampak biasa saja, dengan umpatan Abah,
"Ha'ha Abah marah, pasti besok Abah datang, beneran mencincang Mas Kevin jadi perkedel."
"Lah, kok Aku?" jawab Kevin tanpa merasa bersalah.
"Ya, iya Mas Kevin, kan Abah jadi tau tentang pernikahan kita dengan cara seperti ini?" umpat Khaira mendengus kesal, lalu pergi meninggalkan Kevin begitu saja.
Kevin segera berlari kecil menyusul Khaira, dan membopong istrinya, layaknya seperti anak kecil yang ngambek.
"Mas Kevin!!!" Khaira berseru seketika tubuhnya melayang akibat ulah Kevin yang usil.
Tak lupa Kevin mengabadikan momen paling romantis, ia meminta orang lain untuk mengambil foto dari ponselnya.
"Bro, bro, tolong fotoin kita, boleh nggak?" pinta Kevin pada salah satu orang yang mengunjungi pantai.
"Oke." jawab seorang Pria yang datang bersama dengan pasangannya, dan menerima ponsel Kevin.
Beberapa kali Pria itu mengambil foto dengan pose yang berbeda, "Lagi?" tanyanya.
"Sudah, makasih yah." ucap Kevin, menerima ponselnya kembali. Seorang Pria itupun mengangguk dan berlalu dari hadapan Kevin juga Khaira, bersama dengan pasangannya.
Kevin melihat hasil foto yang membuatnya senang dan puas, salah satu fotonya bersama dengan Khaira berlatar belakang sunset yang sangat mempesona, tanpa pikir panjang Kevin langsung memasang untuk wallpaper ponselnya.
"Sangat indah." gumam Kevin, membuat Khaira tersenyum.
"Kamu juga indah, Mas." ucap Khaira, lalu berjalan beriringan menuju motor Kevin yang terparkir.
Bersambung...
__ADS_1