
[Ting! anak-anak yang masih di bawah umur dimohon skip.]
Setelah masuk kedalam kamar, tanpa aba-aba Kevin mencium bibir Khaira. Bibir ranum yang semakin membuatnya bergairaah. Dengan membopong istrinya, Kevin membawanya ke atas ranjang agar lebih leluasa untuk menjamah seluruh tubuhnya.
Kevin sudah di bawah pengaruh gairah seksuall, mulutnya terus mengulum pucuk merah istrinya. Dilihatnya Khaira menggeliat, semakin membuatnya ingin merengkuh tubuh istrinya yang sudah tak memakai baju atasan.
"Mas Kev.." belum apa-apa Khaira untuk melontarkan kata-kata, bibirnya sudah di bekap oleh bibir Kevin.
Dalam hati Khaira, mampukah ia untuk menandingi keperkasaan Kevin. Rasanya semua yang Kevin lakukan menyakitkan dan memberi rangsangan kenikmatan.
Kevin tersenyum kecil, tatkala merasa Khaira sudah masuk kedalam permainan panasnya, istrinya ini membalas dengan ciuman ganas. Kevin semakin dilanda kenikmatan, ia mulai terbuai dengan kemesraan yang semakin menggelora seluruh tubuhnya.
"*Khaira, begitu manisnya bibir dan lekuk tubuhmu. Aku sudah tak tahan ingin segera menyatukan tubuh ini*."
Kevin melepaskan semua pakaiannya sendiri dan juga pakaian yang masih melekat di tubuh istrinya, kini Kevin melihat dengan sangat jelas lekukan tubuh istrinya yang polos.
Kevin tersenyum tipis tatkala melihat istrinya menutup wajah dengan telapak tangan. Dengan satu hentakan kejantanannya yang sudah berdiri tegak menyusup ke celah sempit milik Khaira.
"Aaahhh.." erang Kevin merasakan betapa sempitnya celah yang sedang ia jamah. Begitu membuatnya seperti tersengat arus listrik. Terdiam sejenak sebelum melakukan hal yang lebih.
"Sakit Mas..." keluh Khaira menahan sakit atas benda keras Kevin yang sudah memasuki bahkan sudah menjebol pertahanan gawang yang selama ini ia jaga.
Kevin merasakan sesuatu yang mengalir di bawah sana, ia membungkukkan tubuh tegapnya, lalu mencium kening Khaira untuk sekedar memberikan waktu jeda.
"Sa-sangat sakit Mas Kev..." Khaira mencengkram kuat pundak kekar suaminya, ia semakin di buat takut saja, kala dada bidang suaminya semakin merengkuh tubuh kecilnya.
"Aku akan melakukannya perlahan." kata Kevin bersuara berat, ditatapnya Khaira sampai meneteskan air mata. Namun, seakan ia buta dan tuli, karena sudah di kuasai oleh nafsuu birahi. Kevin mulai menghentakkan tubuhnya dalam penyatuan kenikmatan surga dunia.
__ADS_1
Terbesit rasa bersalah di benak Kevin karena telah menyakiti Khaira dikarenakan nafsuu tidak dapat lagi ia bendung. Tapi seakan tubuhnya menginginkannya lebih, apa lagi melihat tubuh kecil istrinya yang dipenuhi keringat semakin membuatnya eksotis.
Seperti buah anggur yang baru saja di petik, Khaira dalam keadaan segar dan manis. Membuat Kevin ingin menggigitnya lagi dan lagi.
Khaira semakin kuat mencengkram punggung Kevin yang sepertinya memang tiada ampun untuk memberinya jeda dan bernafas normal. Ia hanya bisa pasrah, karena apa yang ia jaga selama ini, adalah milik suaminya. Milik Kevin, dan ia tidak dapat lagi mengingkari itu.
Erangan kenikmatan menguar darinya maupun dari Kevin. Dalam menerima serangan yang dilakukan oleh lelaki perkasa yang telah menjadi suaminya. Khaira mulai merasa lelah untuk mengimbangi permainan panas Kevin hingga membuat pelepasan berkali-kali.
Kabut birahi semakin besar menguasai Kevin, cengkraman kuat dari tangan Khaira membuatnya semakin memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi, ia melihat Khaira dan air matanya mulai mengering. terlihat tak berdaya menghadapinya. Berbeda dengannya, Kevin ingin terus memacu tubuhnya menikmati malam pertama yang tertunda. Meskipun saat ini ia melakukannya pada siang hari.
Kevin melihat dan mendengar dengan sangat jelas Khaira mendesahh menggeliat, sesaat kemudian memejamkan matanya.
Kevin merasa panik karena Khaira tidak kunjung membuka mata, ia menepuk-nepuk pipi istrinya yang memejamkan mata.
Tapi tetap saja Khaira tidak membuka matanya. Kevin lunglai, sesaat menyadari Khaira tidak kunjung membuka mata. Dengan kejantanannya yang masih menancap di muara pucak kenikmatan Khaira. Perlahan Kevin menariknya dari sana. Ia melihat sisa-sisa darah segar mengalir membasahi sprei.
Kevin mengutuki dirinya, ia mengeram sampai memukuli kepalanya dan meremass rambutnya kuat-kuat. Nafsuu membuat segalanya menjadi runyam.
"Apa yang sudah aku lakukan, harusnya aku bisa menahan, harusnya aku bisa melakukannya dengan pelan."
Kevin menutupi kepolosan istrinya dengan selimut, lalu ia sendiri melilitkan handuk di pinggangnya. Pikirannya saat ini dalam keadaan panik. Lalu berjalan keluar dari kamar, dan mengambil baskom lalu mengisinya dengan air hangat dari shower kamar mandi. Lantas kembali lagi ke kamar.
Ditatapnya wajah Khaira, lalu membuka selimut yang semula menutupi kepolosan istrinya. Kevin melihat bekas kepemilikannya di beberapa bagian tubuh polos Khaira yang berwarna merah keunguan.
Kevin memeras handuk air hangat, lalu mengusap wajah Khaira. Desah pelan nafas gadis yang sudah hilang selaput darahnya. Mata Khaira masih terpejam sedikit sembab. Membuatnya merasa sangat bersalah. Bibir Khaira terlihat merah mungkin saja menggigit bibir sangat kuat ketika menahan sakit akibat terjangan yang ia lakukan.
__ADS_1
"Maafkan aku Khaira." Kevin mengecup kening istrinya. seraya menyingkirkan anak rambut di pipi Khaira. "Kamu cantik, takkan terganti."
Dengan perlahan handuk yang masih ia pegang, mulai membersihkan tubuh Khaira. Tidak ada nafsuu, yang ada hanya rasa sesal memandangi tubuh kecil yang tadi memeluknya erat-erat, bahkan mencengkram kuat bahunya. "Maafkan aku Khaira." Kevin benar-benar mengutuki dirinya, andai saja dapat ia tahan atau paling tidak melakukannya secara perlahan.
Netra Kevin merah saat melihat bekas keperkasaannya tertinggal di selaput darah Khaira. Begitu sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Hampir 28 tahun, ia menjadi pria tulen, selalu menghindari wanita penggoda, seolah ia ingin meluapkan hasrat dan emosinya pada seorang gadis yang telah menjadi istrinya. Tapi sekarang, Kevin menyadari, ia seperti sang bajingan tengik yang memaksa seorang gadis untuk menyerahkan harga dirinya.
Kevin terus mengutuki dirinya, ia mengusap bekas darah yang mulai mengering dengan sangat hati-hati. Dalam pikirannya, entah berapa lama ia melakukannya pada Khaira hingga membuat sang istri kelelahan dan sepertinya pingsan.
Waktu sudah menjelang senja. Kevin juga sudah membersihkan dirinya dengan mandi besar, tentu saja ia memperoleh pelajaran seperti itu di internet tak sembarangan pula ia melakukan hubungan intim dengan sang istri. Ia terlebih dulu sudah berniat dan berdoa ketika akan mencumbui istrinya, agar dihindari dari godaan setan, pabila dalam hubungannya membuahkan keturunan. Itu semua ia pelajari jauh-jauh hari sebelum benar-benar bisa menjamah dan dapat merenggut mahkota istrinya.
Kini Kevin duduk di tepian ranjang. Netranya terus menatap pergerakan mata Khaira, ia mencium dan mengusap punggung tangan Khaira. Rasanya ia dalam kepanikan seorang diri.
"Maafkan aku, Ra."
Kevin memeriksa denyut nadi dan pernafasan istrinya, sangat stabil dan normal. Seperti orang yang sedang tertidur pulas.
Kevin mengambil ponselnya, ia berinisiatif untuk menghubungi dokter, bahkan sebelumnya ia berpikir untuk membawa Khaira ke rumah sakit. Tapi apa yang akan ia jelaskan, masa menjelaskan sang istri pingsan setelah melakukan hubungan seksuall. Itu sama saja dengan bunuh diri dengan membuka aib rumah tangganya sendiri. Bahkan terdengar ambigu, jika ia sampai menceritakannya pada orang lain.
Lama Kevin berpikir, bahkan kini otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ia ingat sesuatu, minyak kayu putih. Hah iya minyak kayu putih. Kevin berdiri namun sebelum benar-benar menjauh dari ranjang, ia mendengar suara yang seperti bisikan.
"Mas Kevin." ucap Khaira sangat lirih nyaris terdengar seperti bisikan. Seolah tenaganya benar-benar terkuras habis.
Kevin langsung menoleh dan melihat kelopak mata istrinya terbuka. Rasa syukur mejalari hatinya kini, menepikan rasa panik dan khawatir.
"My Delf." Kevin duduk kembali dan menghamburkan diri memeluk Khaira.
__ADS_1
Bersambung....