Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
kemarahan ine


__ADS_3

Beberapa orang yang mendengar teriakan ine, sontak saja keluar dari rumah melihat keadaan. Bahkan ada yang memanggil bryan yang berada di ruang kerja nya, takut terjadi sesuatu dengan ane.


"Nyonya..., ada apa nyonya?"


"Bi panggil security! usir perempuan ini! Dan jangan biarkan dia masuk lagi!"


"Baik, nya."


Salah satu asisten rumah tangga ane berlari memanggil security yang berada di pos penjagaan.


"Ada apa ma?"


"Bryan..., kenapa kau ceroboh sekali membiarkan wanita ini masuk?"


" Jika mama tak datang tepat waktu mungkin ane sudah tidak ada. Perempuan ini mencekik ane."


"Apaa."


" Apaa."


" Apaa."


Bryan dan asisten rumah tangga yang berduyung- duyung keluar rumah tersentak kaget mendengar ucapan ine.


"Sayang, kamu tidak apa- apa?"


Bryan berjongkok mengusap lembut wajah ane mencium kening gadis itu dengan lembut.


"Hah..., aku yang mencekik? Justru dia yang menarik tanganku tak melepaskan nya. Gadis ini telah menipu kalian."


"Security..., usir perempuan ini!"


Bryan berteriak dengan penuh kemarahan, tatapan tajam kedua bola matanya seperti netra mata elang hendak menerkam mangsanya.


"Baik, pak."


"Dia tidak sakit seperti yang kalian lihat, dia bisa bicara bahkan berdiri. Kalian telah tertipu dengan kepolosan nya."


Stevi masih menyangkal apa yang dituduhkan padanya lalu menunjuk ke arah ane berniat memberitahu yang sebenarnya. Namun tak seorang pun mengindahkan ucapan nya, apalagi security bryan tak segan menggelandang stevi yang masih berbicara disana.


"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri."


Stevi meronta menolak di gelandang oleh dua security bryan.


"Gadis picik ini telah mempermainkan kalian."


"Diam!!"


Ine berteriak keras, emosi yang ditahan nya mekedak begitu saja tatkala stevi membicarakan sang menantu.


"Jangan banyak bicara! Pergi! Pergi dari sini atau aku akan melaporkan mu ke pihak yang berwajib!"


"Hah..., silahkan! Aku tidak takut sama sekali, justru kalian yang akan ku laporkan atas tuduhan kalian."


Stevi masih tidak terima dengan perlakuan dan sikap ine padanya.


"Baiklah, kalau kau tidak takut. Aku juga akan melaporkan mu atas tuduhan pencemaran nama baik atas janin yang kau kandung itu."


Deg...


Mendadak stevi diam tak berkutik sedikit pun mengingat hasil yang tertulis dalam kertas tersebut memikih untuk pergi dari rumah bryan.


"Awas kalian!! Aku akan membalasnya."


Stevi berlalu pergi meninggalkan rumah mewah dan megah itu menuju sebuah mobil yang sengaja terparkir di seberang jalan.


Stevi mengemudikan mobilnya meninggalkan komplek perumahan tersebut, berkali- kali membanting stir merasa kesal.


"Sialan."


" Brengsek."


"Aku benar- benar terpedaya dengan permainan gadis itu."


"Aku harus mencari cara lain menjatuhkannya , tapi bagaimana?"


" Bryan sudah illfeel pada ku, apalagi mamanya."


"Sial."


Secara tiba- tiba stevi mengingat perkataan mama bryan yang akan melaporkan nya ke pihak yang berwajib.


"Bagaimana kalau mereka benar- benar melaporkan ku ke pihak yang berwajib? Tidak..., tidak..., itu tak boleh terjadi."


Gumam stevi.


" Aku akan di penjara, bahkan lebih lama dari kasus sebelum nya."


"Tapi..., bagaimana mungkin kertas itu tertulis nama lain?"

__ADS_1


" Bagaimana ini?"


"Siapa sebenarnya rian samudra? Dan bagaimana mungkin dia bisa berubah menjadi bryan?


"Aahh..., sial. Rupanya ini bagian dari rencana gadis itu."


"Bagaimana aku bisa seceroboh itu?"


"Aku akan membalas mu."


Tersulut api kemarahan stevi mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi bahkan hampir saja menyebabkan kecelakaan pengguna jalan lain.


Sementara kediaman bryan masih ramai dengan beberapa asisten yang dikumpulkan ine di ruang tengah.


"Kenapa kalian bisa seceroboh ini?"


" Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan menantuku?"


"Siapa yang akan tanggung jawab?"


"Saya tidak mau semua ini terulang lagi."


Tak ada seorang pun yang berani menjawab ucapan ine yang terlihat sangat marah, selain menundukkan kepalanya.


"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?"


Della yang tiba- tiba muncul terkejut melihat ine tengah memarahi atau bisa dikatakan mengumpulkan asisten rumah tangga.


"Mereka sangat ceroboh, del. Hampir saja kita kehilangan putri kita karena kecerobohan mereka."


Ucap ine.


"Sudahlah, ma. Bukan sepenuhnta salah mereka, seharusnta bryan yang nenenani ane."


Ucap bryan.


"Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti."


Della semakin bingung dengan apa yang mereja bicarakan.


"Kalian boleh pergi."


"Baik, den."


Bryan menyuruh semua asisten rumah tangga yang dikumpulkan mamanya pergi dari ruang tengah kembali mengerjakan tugas masing- masing.


"Duduk, ma! Mama ingin minum sesuatu?"


Ucap bryan.


Ucap della.


"Ane sendirian di teras samping tanpa ada yang menemani."


Ucap ine yang mulai menjelaskan kenapa sedikit marah dengan para asisten.


"Lalu...? Bukankah setiap hari seperti itu?"


"Apaa..., setiap hari seperti itu? Bagaimana mungkin?"


Ine terkejut saat della mengatakan demikian, memang selama ini della yang setiap hari rutin datang menemani ane. Della selalu datang pagi untuk menemani sang putri.


"Kenapa ditinggal sendiri?"


"Karena semua untuk membuat ane mengingat memory nya, makanya sesekali memang sengaja di tinggal ne."


"Bagaimana kalau perempuan itu melakukan hal yang lebih gila lagi?"


"Lebih gila? Perempuan? Siapa?"


Della mengerutkan dahinya semakin tak mengerti arah pembicaraan ine.


"Stevi..., gadis yang mengaku istri ian itu. Entah sejak kapan ia datang? Hampir saja gadis itu melakukan hal gila."


"Untung aku datang saat yang tepat saat gadis itu mencoba mencekik ane."


Ucap ine melanjutkan pembicaraan nya.


"Apaa..., mencekik ane?"


Della serengah berteriak bangun dari tempat duduknya menghampiri sang putri.


"Sayang, kamu tidak apa- apa? Maafin mama, mama datang agak siang karena harus menyiapkan perlengkapan papa mu yang akan dinas ke luar negeri."


Ucap della duduk berjongkok memegang kedua tangan ane.


"Tidak apa- apa, ma. Semua salah bryan yang terlalu sibuk dengan beberapa pekerjaan kantor."


"Tidak, bryan. Kita tak harus saling menyalahkan, harus saling memberi support untuk kesembuhan istrimu."

__ADS_1


Ine menghela nafas merasa menyesal, saat menyadari kesalahan nya memarahi para pekerja ane.


Ine tersulut emosi semata- mata khawatir terjadi sesuatu dengan sang menantu.


"Oh... ya, bagaimana dengan hasil tes dna gadis itu?"


Mendadak ingatan della tertuju pada stevi yang mengaku hamil anak bryan.


"Sudah selesai, ma. Ini.


Bryan memberikan hasil tes dna tentang kehamilan stevi yang mana dalam kertas tersebut tak tertulis nama bryan dan tertulis nama rian.


"Kok rian? Berarti gadis itu memang berbohong."


Gumam della setelah membaca seluruh hasil tes tersebut.


"Rian samudra? Siapa dia? Apa hubungan nya dengan mu?"


Ucap della.


"Teman kampus, ma."


"Lalu..., gadis itu?"


"Entahlah? Bryan tak mengenalnya, tiba- tiba saja gadis itu muncul mengaku tetangga bryan saat masih kecil."


"Oh.., jadi gadis itu sengaja mendekatimu?"


Della mengerutkan dahinya saat mengetahui cerita sebenarnya dari sang menantu.


" Apaa..., ternyata stevi sudah merencanakan semua ini? Rupanya gadis iitu sengaja mendekati mama."


Ucap ine tersulut emosi saat mendengar putranya menceritakan sebelum kecelakaan ane terjadi.


"Mungkin, ma. Ian kurang pasti."


Bryan tak mungkin menceritakan hal yang sesungguhnya tak ingin membuat ine maupun della bersedih.


"Ma..., ian ajak ane ke atas ya ma. Ian tak ingin kekacauan tadi pagi mempengaruhi pikiran ane, akan semakin sulit untuk mencapai kesembuhan."


"Baiklah, istirahatlah!"


"Iya ma."


Ian merasa lwga bisa mengajak istrinya menghundari beberapa pertsnyaan yang pasti tak yakin ane tak bereaksi saat mendengarnya.


Sementara di ruang tengah lantai satu masih ada ine dan della yang memikirkan perkataan ian.


" Ne."


"Hem."


"Aku akan istirahat di kamar atas, kau mau ikut?"


"Tidak, aku akan disini. Istirahatlah! "


"Baiklah. Jangan terlalu dipikirkan!"


"Iya."


Meskipun ine sedikit kesal dan geram yang ternyata stevi sengaja mendekatinya. Ine merasa sedikit menyesal telah menyalahkan para asisten rumah tangga bryan.


"Bi.. ."


"Iya, nya. Nyonya membutuhkan sesuatu?"


"Tidak. Hanya..., sampaikan permintaan maaf ku pada semua asisten tak seharusnya aku memarahi kalian yang telah berjasa membantu merawat ane."


Ucap ine yang membuat semua orang didapur tercengang mendengarnya hampir tak percaya dengan permintaan maaf ine.


Salah seorang menyenggol tangan bi inah saat tercengang mendengar ucapan seorang bos yang tak segan meminta maaf pada bawahan meskipun hanya seorang asisten rumah tangga.


"Ehh..., iya nya. Tidak apa- apa, sudah sepantasnya nyonya marah karena kecerobohan kami."


"Tidak, saya yang salah yang tidak mengetahui kebiasaan ane saat pagi hari."


"Dan terima kasih sudah menjaga ane."


"Sama- sama, nya."


Ine kembali duduk di ruang tengah mengambil tas tenteng miliknya mencari dimana ponselnya berada.


Ine sedikit risau karena beberapa hari stela tak menjawab telepon ataupun membalas pesan yang dikirimkan. Bahkan telepon nya mati sejak dua hari yang lalu.


"Kemana stela dan jack? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?"


Gumam ine.


"Ma."

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2