Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Untung dan Rugi


__ADS_3

Mendengar hal semacam itu, membuat Kevin membelalakkan matanya, ia secara refleks berdiri, "Apa?" dilihatnya wajah Clara yang sedang tersenyum menatapnya.



"Kamu telah tega memperdaya ku Kevin, setelah mengetahui aku hamil, kamu nggak mau bertanggungjawab. Mana Kevin yang ku kenal sebagai seorang pria berwibawa dan penuh dengan tanggung jawab?" Clara berkata seraya menangis tersedu-sedu mengharap iba, dilihatnya Kevin yang menatapnya dengan tatapan nyalang.



"Perkataan macam ini?" Kevin menghardik ucapan Clara, gadis itu telah memfitnahnya, "setelah menculik dan menjebak gue, lo fitnah gue Cla? Gue malu Cla, pernah nganggap lo sebagai adik gue sendiri!" sambungnya bersungut-sungut menahan sesal.



"Kevin!" sergah Erik, "Tenanglah Kevin, duduklah dulu. Mengapa kamu bersitegang, bahkan saya belum selesai bicara. Nggak sopan jika kamu berbicara tapi posisimu berdiri dan berkata dengan nada tinggi," bujuk Erik, agar Kevin mau mendengarkannya.



"Enggak! Saya nggak bisa menerima fitnah seperti ini!" Kevin meninggikan suaranya, ia menatap Clara tajam, "Clara! Jangankan untuk membuat lo hamil! Nyentuh lo aja gue kagak pernah! Lo pernah ngaku, kalau lo tidur sama pria yang lo kagak kenal?!" Kevin masih tidak melunakkan suaranya.



Erik bingung diantara Kevin dan Clara, mana yang benar?



"Apa maksudnya ini Clara? Kamu tidur dengan pria lain?" Erik menuntut penjelasan dari putrinya mengenai ucapan yang Kevin lontarkan.



"Kevin bohong Pa, Kevin bohong. Dia berkata demikian karena tidak mau mengakui perbuatannya!" Clara menangis meraung rintih, ia sampai rela menjatuhkan dirinya ke permadani tebal sebagai alas sofa.



"Clara! Perlu gue tekankan, kalau sampai gue menikahi elo merupakan kesalahan besar di hidup gue, dan gue kagak bakal membubuhkan tanda tangan di atas buku nikah yang di dalamnya tercantum nama lo!" Kevin berkata dengan nada suara ditekankan.



Ngilu! Itulah yang tergores di sudut hati Clara. Kesalahan? Sungguh ia tak pernah menganggap mencintai Kevin adalah kesalahan. Tapi mengapa Kevin menganggap menikahinya adalah kesalahan? "*Kevin dengarkanlah jeritan hati ini*." monolognya dalam hati.



"Kevin!" Erik berdiri, ia sungguh tersulut emosi menghadapi arogannya Kevin, ditatapnya Kevin yang terlihat sedang menggebu-gebu.



"Come on Kevin! Pikiranmu harus terbuka! Pernikahan mu dan Clara bukanlah kesalahan. Justru ini akan sangat menguntungkan untukmu," sempat menahan kesal, namun Erik tahu. Bahwasanya membujuk Kevin bukan dengan cara memaksa.



Kevin mengerutkan dahinya, mendengar kata (untung) dari pria setengah baya. Ia menyangsingkan ucapa itu.



"Untung! Apa maksud anda jika saya menikahi Clara menguntungkan? Bahkan anda mungkin sudah tahu rencana Clara yang sudah menjebak saya, bahkan tanpa rasa malunya anak anda sudah memfitnah saya!" tukas Kevin, kali ini suara lebih sedikit melunak namun masih terdengar tegas.


__ADS_1


"Kamu boleh nggak mengakui bahwa janin yang dikandungan Clara bukanlah kelakuan bejadmu, tapi antara saya dan Basuki sudah sepakat, akan mengadakan resepsi pernikahan antara kamu dan Clara," tegas Erik berkata, bahwa keputusannya sudah mutlak.



"Akuilah perbuatan mu Kevin, lambat laun kamu akan menerima ku. Aku yakin akan menjadi istri yang baik untukmu," ucap Clara memelas.



Kevin terdiam mendengar racauan Clara, ia tengah memikirkan solusinya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.



"Cukup Clara, tenanglah darling," Erik menunjukkan kode bahwa Clara harus bersikap tenang, sedetik kemudian dilihatnya Kevin yang nampak diam seperti sedang berpikir, "Kevin, pikirkanlah dengan pikiran tenang, kamu akan menjadi seorang ayah, tidakkah kamu merasa malu jika sikap aroganmu nggak kamu hilangkan, hm?"



Kevin menatap Erik tajam lalu menatap Clara, "Sampai pada bayi itu lahir, dan lo bisa membuktikan bahwa bayi itu adalah hasil dari perbuatan gue. Tanpa syarat gue bakal tanggung jawab!"



Clara tertegun menatap Kevin, ia menegaskan rahangnya, lalu terduduk kembali sedikit memaksakan diri, "Tes DNA?"



Kevin mengangguk singkat, "Iya, lo harus meyakinkan gue bahwa itu hasil dari perbuatan bejad gue ke elo,"



Erik menatap Clara dan Kevin secara bergantian.




"Benarkah? Kenapa nggak anda tanyakan saja kepada Clara siapa sebenarnya pria yang telah menghamilinya?" Kevin mengalihkan atensinya menatap Clara, "Benarkan Clara?" masih berdiri kokoh, enggan menggeser satu senti pun dari posisinya di bawah lampu hias kristal. Kevin menatap penuh dengan keheranan kepada Erik dan juga Clara. Anak dan Ayah sama saja, selalu memaksa.



Clara menatap Kevin berderai air mata.



"Keuntungan apapun yang akan Anda berikan kepada saya, nggak akan bisa membeli hati saya! Dan saya nggak mau mengakui hal yang nggak saya lakukan," kata Kevin tegas menatap pria yang seumuran dengan Ayahnya.



Erik melihat kemarahan yang berkobar-kobar dalam diri Kevin, "Kevin pikirkanlah ini secara baik-baik, baru kamu bisa memutuskannya."



Kevin sudah tidak tahan lagi, dan ingin segera pergi dari hadapan Clara juga Erik.



"Enggak ada ruang untuk saya berpikir mau menikahi Clara, dan perlu saya tegaskan!" Kevin menjeda ucapannya, ia beralih menatap sinis Clara sesaat kemudian kembali menatap Erik, "saya menolak untuk menikahi putri anda, Bos. Pernikahan bagi saya, bukan tentang untung dan rugi!”sambungnya lagi, namun ia tak dapat menyelesaikan kalimatnya yang mengambang di ujung lidah.

__ADS_1



Kevin langsung berbalik badan memunggungi Clara beserta Erik. Hendak meninggalkan ruang tamu seperti istana. Namun empat orang anak buah Erik menghadangnya. Salah satu pria berbadan kekar menarik lengan Kevin yang tertutupi Hoodie berwarna hitam.



Dengan gerak cepat Kevin mengeluarkan pisau lipat di saku belakang celana yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga. Lantas memutar balikkan tangan seorang anak buah Erik yang mencekal lengannya lalu memplintir ke belakang punggung orang tersebut.



Kevin menodongkan pisau kearah tiga pria kekar di hadapannya yang siap menyerang, lalu mengalihkan mata pisau ke leher pria yang ia jadikan sandranya.



"Kalau kalian mendekat, gue kagak segan-segan bakal sayat leher temen lo!" seru Kevin menatap satu bersatu dari ketiga orang yang siap memasang kuda-kuda hendak menyerangnya.



Erik menghela nafas panjang, ia memang tahu sifat kerasnya Kevin. Tak akan mudah dalam membujuk anak itu. "Biarkan pergi!"



Clara melihat keputus asaan Papa Erik, ia tidak menerima begitu saja. "Tapi Pa!"



Kevin tersenyum kecil, ia menghempaskan seorang anak buah Erik yang dijadikannya sebagai tameng untuk melindungi diri. Karena ia sadar, tenaganya sudah terkikis akibat perkelahian sebelumnya. Maka ia gunakan cara ini guna menghindari pertarungan lagi.



Masih dengan pisau yang ia todongkan kearah empat anak buah Erik yang melihatnya. Kevin segera berlari keluar rumah super mewah Erik.



Clara tidak tinggal diam, ia kalangkabut melihat pujaan hatinya itu pergi. Sedangkan Papa Erik hanya diam saja, "Pa kenapa biarkan Kevin pergi!" serunya kesal. Ia lantas beralih menatap anak buah Papa Erik, "Hey kalian kenapa hanya diam saja, kejar Kevin!" titah Clara dengan suara yang memekikkan gendang telinga.



Anak buah Erik bimbang, antara mendengarkan tuanya atau mendengarkan titah Clara. Dua dari empat anak buah Erik hendak mengejar Kevin, namun di panggil oleh Erik untuk tidak mengejar Kevin.



"Jangan kerjar Kevin!" kata Erik dengan suara menggelegar di tengah-tengah ruang tamu istananya.



Erik kembali terdiam, masih dengan posisi duduk yang sama. Yaitu melipat kaki kanannya yang bertumpu di atas paha kirinya. Dalam diamnya, Erik telah menyusun rencana.



Sedangkan Clara, tak bisa berbuat apa-apa ia melihat Papa Erik dan beralih mentap pintu besar utama istana rumah orangtuanya.



Ingin rasanya Clara mengejar Kevin, ingin sekali rasanya menarik paksa pria itu. Namun apalah daya, ia tak mampu. Ia merasakan sesuatu yang terasa panas di kedua kelopak matanya. Clara membatin lara, "*Kevin, sampai kapanpun gue kagak bakal lepasin lo*!”

__ADS_1



Bersambung


__ADS_2