Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Nggak rela melepaskan


__ADS_3

Khaira telah kembali ke rumah Kevin, duduk di kursi tunggal depan meja rias. Dilihatnya wajah yang sembab, hidung dan mata yang merah. Terlihat sangat terpuruk.


"Kenapa aku harus menangis seperti ini? Ada apa denganku ini. Bukankah sebelumnya aku ingin meninggalkan Mas Kevin tanpa di minta, lalu kenapa aku merasa nggak rela?"


Berbicara pada dirinya sendiri di pantulan cermin, mengharap bisa menemukan jawabannya atas tidak kerelaannya kini meninggalkan Kevin.


Seolah permintaan Erik dan uang yang diterimanya merupakan sebuah tantangan berat, merupakan sebuah hal yang harus ia hadapi, bukan untuk dijauhi.


Mengusap dan terus mengusap air matanya yang kian luruh membasahi pipi, bahkan matanya yang merah mulai terlihat sembab. Hidungnya yang merah sudah banyak mengeluarkan air berlendir warna bening.


Khaira menadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar yang ditempatinya, menarik nafas sedalam-dalamnya lantas menghembuskannya secara perlahan. Namun tetap saja ada perasaan ganjil yang seakan-akan hampir saja hilang. Hampir saja membuatnya kembali merasa trauma tentang perpisahan.


Nggak seorang pun siap dengan perpisahan, namun setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ada hidup ada mati, ada yang mencintai ada yang tersakiti.


Didengarnya dari arah pintu utama rumah yang dibuka oleh seseorang membersamai dengan suara yang memanggil namanya secara beruntun.


"Khaira!"


"Ra, Ra!"


"Khaira!"


"I'm coming hom!"


Suaranya semakin mendekat, Khaira membelalakkan matanya sempurna, ditatapnya pintu kamar yang tersingkap sedikit.


"Mas Kevin?" Khaira segera beranjak dari duduknya, ia berlari kecil dan seketika itu juga menghamburkan dirinya ke ranjang, lantas menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Rasanya pengab memang bernafas di dalam selimut seperti ini, tapi aku nggak mau sampai membuat Mas Kevin melihat ku seperti ini. Apa yang akan aku jawab jika nanti Mas Kevin melihat ku menangis. Apakah aku langsung mengaku bertemu dengan pria bernama Erik dan menceritakan kalau aku baru saja menerima uang dan menghabiskan segepok uang dalam sekejap? Terdengar seperti aku mendapatkan undian hologram berhadiah.


"Khaira!" Kevin membuka pintu kamar, netranya langsung tertuju pada selimut di atas ranjang yang menggunduk.


Nah kan benar saja, Mas Kevin mencari ku sampai ke kamar.


Khaira mengerjap-ngerjapkan matanya dibawah selimut.


Kevin tersenyum kecil melihat selimut yang bergerak-gerak kecil, dihampirinya lantas menghamburkan diri ke ranjang, dipeluknya Khaira seperti bantal guling, sangat erat sampai tangan dan kakinya ikut memeluk Khaira yang berada di bawah selimut.


"Ra, Ra. Ayo bangun, lo pernah bilang habis waktu ashar jangan buat tidur, pamali, bisa kesurupan. Tapi sekarang malah lo melakukannya, lo tau nggak? Ibarat kata nih yah, lo tuh menelan ludah lo sendiri. Ayo dah bangun?"


Kevin mengguncangkan tubuh Khaira, bahkan ia hendak menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya sampai tak nampak sehelai rambut pun, namun tangannya terhenti kala mendengar Khaira berkata.

__ADS_1


"Tolong jangan ganggu aku Mas Kevin, sanalah Mas Kevin tidur di kamar sendiri."


Kevin menggelengkan. "Kagak, kali ini aku mau tidur bareng kamu. Aku inikan suamimu."


Masih dipeluknya erat bahkan sangat erat. Kevin tersenyum senang bisa melakukan ini, mood yang semula hancur dikarenakan pertemuannya yang tidak sengaja dengan Anto, bahkan sempat bersitegang kala membicarakan Clara yang masuk rumah sakit dikarenakan overdosis meminum obat penggugur kandungan.


Membuat Kevin, geram akan sikap Clara yang seharusnya dibawa ke psikiater atau psikolog guna menyembuhkan gangguan mentalnya yang semakin merambah ke jiwa.


"Ra, ayo dong bangun? Ini kan udah hampir magrib, masa kamu diem bae di bawah selimut." memeluk Khaira seperti ini, seolah mengembalikan mood booster nya.


"Mas Kevin jangan peluk aku seperti ini, aku sulit bernafas, kamu mau aku mati yah?" Khaira bersuara menahan tangisnya. Ia masih di bawah selimut, bahkan tiada keniatan untuk membuka selimutnya.


"Lha ayo bangun, siapa suruh kamu pura-pura tidur? Kalau kamu nggak tidur, kenapa kamu menutupi seluruh tubuhmu dengan selimut? Memang kamu nggak berasa gerah?" Kevin masih memeluk Khaira layaknya bantal guling.


Aku nggak rela melepaskan mu Mas, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku takut..


Tak kuasa menahan air mata kembali mengalir membasahi pelipis, Khaira mengusap air matanya.


"Pergilah Mas Kevin, aku mohon," kata Khaira lirih menahan suaranya yang membaur dengan isakan tangis, "Aku mohon." ucapnya lagi, agar Kevin mau mengerti bahwa ia tak mau di ganggu untuk saat ini.


Kevin melepaskan pelukannya, menghela nafas panjang. Terlentang menatap langit-langit kamar.


"Baiklah-baiklah." Kevin turun ranjang, lalu berjalan menuju pintu kamar. Bukannya keluar, Kevin malah menutup pintu dan masih berada didalam kamar. Kevin mengamati selimut warna pink fanta dengan motif bunga tulip yang menutupi seluruh tubuh Khaira.


"Astaghfirullah Mas Kevin! Kamu membuat jantungku serasa mau lompat ke lutut!" seru Khaira, refleks mengusap dadanya.


Kevin menatap Khaira yang berwajah sembab, meskipun hatinya geli ingin tertawa melihat Khaira yang terkejut mendapatinya masih berada di kamar. Namun perasaannya berkata benar, bahwa Khaira memang sedang menangis.


"Kenapa?" Kevin mulai mendekati ranjang. Namun melihat tangan Khaira yang menghentikannya.


"Stop Mas Kevin, jangan mendekat!" Khaira tak berani menatap Kevin, dan menunduk adalah pilihannya. Guna menghindari tatapan Kevin, yang sudah kadung melihat wajahnya yang sembab.


Kevin tidak menggubris peringatan Khaira, semakin ia dihentikan. Maka akan semakin membuat nyalinya tertantang. Ia lantas duduk dan memegang tangan Khaira.


"Ada apa hm? Kalau nangis tuh jangan ngumpet di bawah selimut. Kasihanilah selimut ini jadi basah. Kalau nangis tuh seperti ini...." Kevin memperagakan tangisan yang meraung-raung.


Selain arogan dan pemaksa, ada satu lagi yang Khaira dapat mengerti bahwa Kevin termasuk orang yang jenaka dalam menghibur seseorang yang sedang bersedih, bukan dengan nasehat. Tapi dengan tangisan yang dibuat seperti terdengar berlebihan.


Khaira mengepalkan tangannya dan memukul dada bidang Kevin secara pelan. "Aku bukan anak kecil Mas, masa nangis sampai segitunya."


"Hahaha..." Kevin terkekeh kecil, diusapnya air mata yang masih terlihat di pipi Khaira, "makanya kalau nggak berniat nangis tuh jangan nangis, lihat nih wajahmu jadi sembab." ucapnya sendu.

__ADS_1


Ditatapnya Kevin lekat-lekat, sampai kelopak matanya kembali digenangi air bening dan membuat pandangannya mengaburkan melihat wajah Kevin. Khaira menghamburkan diri memeluk Kevin.


Kevin membulatkan matanya sempurna, terkejut akan sikap Khaira yang tidak seperti biasanya, namun tak ada suara yang menguar dari mulutnya, seakan-akan pita suaranya tercekat di tenggorokan.


Kevin membalas pelukan Khaira, lalu mengubahnya menjadi belaian lembut di punggung Khaira yang masih menangis. Dibiarkan pundaknya sebagai wadah air mata Khaira, bahkan ia merasa pundak mulai basah.


Perlahan sekali Khaira mengurai pelukannya.


"Maafkan aku Mas Kevin," Khaira merasa malu telah menangis seperti anak kecil, ia berkata tanpa melihat lawan bicaranya.


"Maaf? Maaf kenapa?" Kevin menyelipkan anak rambut disela telinga Khaira.


Khaira menunduk, ia mengangkat tangannya yang sedang dipegang Kevin, lalu mencium singkat punggung tangan suaminya. "Maafkan aku selalu berprasangka buruk padamu."


"Hey, sudahlah. Kamu nggak perlu bahas soal itu dan jangan sungkan untuk berbagi cerita padaku."


"Aku mau mandi."


"Lho kamu belum cerita, kenapa mau mandi?"


"Aku gerah, butuh penyegaran."


"Ya cerita dulu, sebenarnya ada apa, apa yang membuatmu menangis? Jangan lagi menyembunyikan kesedihan seorang diri."


Khaira menatap Kevin tanpa berkedip, ia tersenyum penuh arti, dilihatnya Kevin juga ikut tersenyum namun mimik wajah suaminya terlihat bingung. Ia mengusap pipi Kevin yang lembut.


Apa yang harus aku katakan padamu Mas, aku nggak bisa ceritakan kalau tadi aku bertemu dengan seorang pria bernama Erik. Aku juga nggak menyangka, ternyata kamu akan menikah dengan Clara.


"Ada apa, jangan diam seperti ini?" Kevin membujuk agar Khaira mau bercerita.


"Aku baik-baik saja Mas." Khaira berdiri melepaskan tangan Kevin.


Dilihatnya Khaira yang berlalu dari kamar, Kevin mengusap pipi bekas Khaira mengusapnya, "Seperti yang dikatakan oleh Nicholas Sparks, (Cinta itu seperti angin, kamu tidak bisa melihatnya tapi kamu bisa merasakannya)"


Kevin menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia lantas beranjak dari duduknya. Berjalan kearah kamar mandi, tak dibiarkannya Khaira melanjutkan tangisan di dalam kamar mandi.


"Khaira! Cepetan mandinya. Gue juga mau mandi! Jangan nangis dibawah guyuran shower!"



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2