
Terus terngiang lagu yang dibawakan oleh pria bernama Damar untuk sang istri yang bernama Wulan.
Separuhku? Memang menjadi lagu yang sangat romantis. Hahh... Khaira menghela nafas panjang, setelah membersihkan diri ia merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Malam minggu yang indah, kenapa baru kali ini aku merasakan apa yang dilakukan khalayak umum bagi pasangan muda-mudi di saban malam minggu? Kemana saja aku selama ini? Kenapa aku menutup diriku? Apa hanya karena trauma tentang pernikahan kedua orang tua ku? Kenapa aku terus berpikiran pendek?"
Khaira berkelakar tentang malam minggu yang baru ia rasakan dan masa mudanya yang sudah terbuang percuma dikarenakan alasannya truama tentang pernikahan dan membentengi diri agar tidak tergoda oleh cinta dan pacaran.
Ia mengalihkan posisinya berbaring menjadi telungkup, serta menadahkan dagunya menggunakan kedua telapak tangannya sementara itu jari jemarinya engetuk-ngetuk pipi.
"Ahh tapi ada baiknya juga trauma ku ini, aku nggak terlibat ke dalam hubungan yang dinamakan pacaran? Karena pandangan umum, nggak sedikit pula hubungan pacaran bisa menyesatkan manusia itu sendiri, terlebih lagi untuk seorang perempuan, apabila dia di setubuhi terus hamil, pihak dari prianya mengelak bahwa dia nggak menghamili pacarnya, terus apa yang terjadi....?"
Ia kembali merebahkan dirinya menatap plafon putih kamar, ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Khaira menggelengkan kepalanya.
Hahhh....
"Rasa-rasanya memang sangat sulit untuk menerima kenyataan jikalau hamil di luar menikah, apalagi untuk perempuan bisa menjadi mahkota dan bisa menjadi malapetaka besar bagi keluarganya, nauzubillahi minzdalik.."
Khaira terdiam, sunyi senyap dan hampa. Seperti itulah malam-malamnya, tiada teman, tiada yang bisa diacak bicara. Khaira selalu berkata sendiri dan menjawab pertanyaannya sendiri.
Gila?
Tidak! Kenyataannya riset mengatakan berbicara pada diri sendiri bisa menjadi diri lebih baik. Dan itulah yang Khaira lakukan. Ketika tiada seorang pun yang dapat mendengarnya ataupun mau mendengar keluh kesahnya.
Berkata pada diri sendiri, mungkin solusinya. Namun ada yang ia sesalkan malam ini? Khaira sedang berpikir, apa yang dirasa ada yang kurang.
Kevin? Hahhhh... Khaira kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengapa untuk malam ini, hanya malam ini. Ia berpikir ingin Kevin di rumah. Kendati demikian tidak tidak satu kamar.
Namun Khaira ingin ada yang menemani rasa senangnya ini, rasa senang entah karena apa? Apakah senang karena bisa merasakan betapa indahnya malam mingguan pertamanya? Ataukah malam mingguan pertamanya ada yang menemaninya?
Khaira menelisik silsilah hatinya, namun ada perasaan yang masih terus membentengi hati. Seolah kata takut akan perpisahan kembali terngiang-ngiang.
"Aku rasa, aku harus melepaskan pikiran negatif ku terhadap Mas Kevin."
__ADS_1
Dalam doa Khaira mulai memejamkan matanya, detik berikutnya terjun kealam mimpi. Namun tiba-tiba saja....
Tok Tok Tok
Bunyi ketukan pintu membuat Khaira seketika membuka mata, siapakah gerangan? Apakah sang peneror itu lagi? Astaghfirullah hal'azdim tidak bisakah peneror itu merasa jera.
"Aku harus meminta Mas Kevin untuk memasang cctv, biar aku tahu siapa sebenarnya orang yang telah usil meneror."
Khaira memberanikan dirinya untuk berjalan keluar kamar. Terdengar secara terus menerus ketukan pintu kembali terdengar. Khaira membulatkan matanya menatap pintu bercat putih.
"Siapa?"
Tiada jawaban dari luar, namun ketukan pintu masih terdengar.
"Siapa? Jangan menakut-nakuti ku?"
Ketukan pintu berhenti, Khaira terus menatap pintu utama rumah. Kali ini ia tak ingin ambil resiko untuk membuka pintu, seperti seminggu yang lalu yang dikejutkan dengan adanya kardus berisikan ayam mati berlumuran darah.
Khaira kembali ke kamarnya, dan langsung menghamburkan dirinya ke ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
03:40
Kevin baru pulang, setelah memarkirkan motornya, ia melihat sebuah kardus kecil yang berada di depan pintu. Tak tak berniat untuk membuka, dikarenakan khawatir bahwa itu adalah sebuah teror. Kevin langsung menyingkirkan kardus tanpa melihat isinya.
Setelah menyingkirkan kardus, Kevin membuka pintu dan masuk kedalam rumah tak lupa ia mengunci pintu. Ia berjalan menuju kamar, namun bukan kamarnya sendiri, melainkan kamar yang ditempati Khaira.
Kevin melihat Khaira tertutupi selimut seluruhnya, ia lantas mendekati ranjang dan tidur disebelah Khaira.
~
Menjelang waktu subuh, Khaira terbangun namun ia dikejutkan dengan seseorang yang tidur di sebelahnya, "Astaghfirullah, Mas Kevin ngagetin aja!"
Ditatapnya pintu kamar, ia lupa mengunci pintu semalam. Untung saja Kevin tidak berulah lagi.
__ADS_1
"Rupa-rupanya, aku nggak boleh lengah untuk mengunci pintu. Mas Kevin selalu bisa mengambil kesempatan. Bahkan bukan kesempatan dalam kesempitan sekalipun." gumamnya lirih
Ditatapnya Kevin yang masih tertidur pulas. Namun detik berikutnya, ada yang seperti menusuk-nusuk relung hatinya, Khaira merasa kasihan melihat wajah Kevin yang nampak sangat lelah.
Refleks tangannya terangkat dan mengusap samping kanan wajah Kevin, membenarkan rambut Kevin yang menutupi kening.
"Perduli lah pada dirimu sendiri Mas Kevin, kalau kamu nggak perduli pada dirimu sendiri lalu siapa lagi yang akan perduli, jangan terlalu keras dalam mengejar dunia yang semakin kita kejar akan semakin kurang, ingatlah urusan akhirat mu. Kata Abah, antara dunia dan akhirat harus seimbang, seiman dan sejalan." kata Khaira lirih, ia melihat wajah Kevin terutama dibagian dagu Kevin nampak ditumbuhi rambut kecil tapi terlihat kaku, "bahkan kamu nggak mempunyai waktu untuk mencukur berewok yang mulai tumbuh."
Khaira menghela nafas, lantas ia beranjak dari tempat tidur guna membersihkan diri dan setelah itu berwudhu guna melaksanakan sholat subuh.
Setelah keluarnya Khaira dari kamar, Kevin membuka matanya. Ia tidak benar-benar tertidur pulas. Senyuman kecil terlukis diwajahnya, ia mengusap wajah bekas tangan Khaira mengusap wajahnya.
"Dia benar-benar manis, seperti gula Jawa."
Kevin beranjak dari duduknya, ia duduk di tepian ranjang. Terlihat pintu kamar yang terbuka dengan adanya Khaira telah kembali dari kamar mandi dengan sudah berganti pakaian, tapi tidak memakai hijab.
Dilihatnya rambut Khaira yang tergerai indah, namun juga melihat Khaira terkejut, Kevin terkesima melihat Khaira yang nampak terkejut serta salah tingkah.
Khaira terkejut mendapati Kevin sudah terbangun bahkan duduk di tepian ranjang. Ia membenarkan rambutnya yang tergerai sepanjang, namun suara Kevin mendadak mengejutkannya.
"Biarkan tergerai, lo nampak cantik. Cantik banget malah. Bukan, bukan hanya cantik tapi lo tu manis seperti gula Jawa." kata Kevin, ia menatap Khaira intens.
Khaira semakin salah tingkah, mendengar pujian yang diucapkan Kevin, bahkan Khaira seolah-olah tidak menapaki lantai, "Ehemm... Apaan sih Mas Kevin jangan sok manis yah!" hardiknya memperingati Kevin.
"Gue kagak pernah bohong kalau lagi pengen memuji orang, dan gue kagak pernah dusta hanya untuk sekedar membuat orang lain bahagia, gue ini apa adanya, kalau gue bilang cantik ya cantik, tapi gue kagak suka menghina orang lain jelek," balas Kevin, ia lantas beranjak dari duduknya hendak menghampiri Khaira, akan tetapi ia berhenti melangkah manakala mendengar peluit panjang yang dibunyikan oleh Khaira yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
Priiiiittt!!!
Kevin merasa terganggu mendengar peluit panjang yang dibunyikan oleh Khaira, "Apaan sih tu berisik banget kek tukang parkir?"
"Yuk sholat?" kata Khaira.
__ADS_1
Bersambung