Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kakak-adik


__ADS_3

Setelah melakukan pembayaran dan tanaman boleh dibawa pulang, Khaira sudah lebih dulu jalan ke depan kios. Lalu di susul oleh Kevin yang berjalan menuju tukang becak, kendaraan roda tiga yang masih bisa di temui di sudut Kota metropolitan ini. Guna membawa tanaman hias yang dibelinya, lantas Kevin langsung berjalan ke motornya yang terparkir di depan kios.


Setelah standby di atas motor dan sebelum Kevin menyalakan mesin motornya, ia berkata kepada Khaira seperti memberinya peringatan.


"Lain kali, jangan beli tanaman disini lagi!"


Khaira hanya diam menatap Kevin, tak ingin adanya berdebatan karena suasana hatinya sedang baik dikarenakan tanaman bunga mawar biru yang sudah didambakannya, Khaira hanya menghela nafas panjang, dan bermonolog dalam hati melihat Kevin, "Lah, dia yang nyetir motor, dia pula yang tau sudut jalanan Kota ini, aneh!"


Mendapat tatapan sinis dari Khaira membuat Kevin merasa ngeri, "Kenapa natapnya begitu amat?"


Khaira menggidik pundaknya, "Nggak kenapa-kenapa?" ia lalu membonceng dengan santainya.


"Kalau nggak kenapa-kenapa. Kenapa natapnya seolah aku ini narapidana?" Kevin melihat tatapan mata Khaira yang seperti mengulitinya hidup-hidup.


Khaira mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan jalanan seperdetik kemudian ia kembali melihat Kevin lalu berkata santai. "Kalau Mas Kevin cemburu sama Ilham si penjual tanaman hias itu apa salahku? Kamu aja bebas mau mendekati cewek mana pun aku nggak cemburu. Santai aja aku mah, nggak berlebihan seperti posesifnya Mas Kevin, ingat Mas tamu nggak akan masuk kalau yang punya rumah nggak mengizinkannya masuk."


"Kalau tamunya Asep, bagaimana? Apa kamu akan tetapi membiarkannya masuk atau stay diluar?" sangka Kevin menoleh kesamping melihat Khaira, ia menaikkan alisnya.


Khaira mengerjapkan matanya menatap Kevin. "Kenapa jadi bahas soal Asep?"


Kevin menggidik pundaknya. "Yah, siapa tau aja kamu mau bukain pintu sama Asep, secara kan udah lama kamu nggak ketemu sama dia. Pasti menggebu-gebu dah rasa rindumu."


Khaira menadahkan wajahnya mengedarkan pandangan menatap pepohonan rindang di atasnya.


"Ya tentu Asep adalah salah satunya pria yang ingin aku dekati. Tapi itu dulu, mengingat statusku sekarang nggak mungkin mengharapkan Asep, mungkin juga dia udah ada ttm." Khaira berkata bernada suara pasrah sembari mengetuk-ngetuk kedua jari telunjuknya.


"Jangan dekat sama pria manapun, termasuk Asep!" kata Kevin entah peringatan entah larangan. Tapi ia cukup senang mendengar bahwa Khaira telah berputus asa dalam mengharapkan Asep.


"Mas Kevin pikir, hal yang diucapkan barusan adil buatku? Mas Kevin bebas dekat sama wanita manapun apalagi yang Mbahhenol, Mbahmontok, Mbahmenor!" jawab Khaira bersungut-sungut.


Kevin mengulum senyumnya melihat respon Khaira yang jelas sedang menyembunyikan rasa cemburu.


"Aku tahu kamu cemburu, bagaimana dengan tanganmu apa baik-baik saja? Nggak merasa sakit kan?" Kevin bertanya guna pengalihan obrolan yang semakin menjalar ke berbagai arah.


Khaira mengalihkan atensinya menatap pergelangan tangan yang tertutupi kemeja berlengan panjang, rasa excited dapat membeli mawar biru yang cukup merogoh kocek membuat Khaira melupakan rasa sakit dipergelangan tangannya. Namun, ia memilih diam tak merespon pertanyaan Kevin.


Kevin masih tersenyum lebar, ia menggelengkan kepalanya melihat gengsinya Khaira dalam mengakui bahwa wanita disebelahnya sedang menyembunyikan rasa sakit juga menyembunyikan perasaan cemburu.


"Ya udah naik, keburu siang." Kevin menunjuk boncengan motor dengan dagunya.


Khaira mengangguk seperti adik yang menurut atas perintah sang Kakak. Tapi memang kehidupan keduanya lebih mirip seperti kakak-adik.


Kevin telah siap membleyer gas motornya membaur dengan pengendara lain.


Diikuti oleh Bapak tukang becak, yang membawa tanaman hias.


Sepanjang jalan, meskipun fokus melajukan motornya dengan kecepatan sedang, Kevin curi-curi pandang untuk melihat wajah Khaira dari spion motor yang sengaja ia arahkan kepada Khaira yang sedang mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan jalanan dan bangunan.


"Cinta apa hanya sekedar mengisi kesepian gue? Setelah lepas dari Sonia, seakan rasa cinta gue runtuh, tapi kenapa rasa nyaman dan bahagia gue dapatkan dari Khaira, meskipun perdebatan kecil masih dominan terjadi di antara pembicaraan gue sama Khaira?" selorohnya dalam hati, Kevin merasakan sesuatu yang menggelitik isi perutnya, seolah ada yang menaburkan bunga bermekaran dalam hatinya kini.


Dalam berbagai pertanyaan bermunculan dalam hatinya kini. Khaira memang diam, ia mengamati setiap bangunan dan kendaraan bermotor. Akan tetapi siapa yang tahu jika dalam hati dan pikirannya sedang ada pertengkaran kecil. "Seharusnya memang aku harus bisa melupakan Asep, yah siapa tahu kebahagiaan yang sedang ku cari-cari ternyata ada di sini. Di depanku."


Bermonolog dalam hati tatapannya terus menerus melihat punggung Kevin. Entah mengapa Khaira merasa ingin menyandarkan beban tubuhnya di punggung Kevin yang nampak gagah. Tanpa lagi ada jarak, Khaira mulai menyandarkan beban tubuhnya tanpa memeluk Kevin.


Merasakan punggungnya terasa berat, Kevin mengulum senyum, dibiarkannya Khaira bersandar pada bahunya. Lalu berinisiatif menarik tangan Khaira dan meletakkannya di depan perut.

__ADS_1


Tersentak atas perbuatan Kevin, kali ini Khaira tak melawan.


Empat puluh lima menit kemudian, Kevin dan Khaira pun sampai di halaman rumah. Khaira segera bergegas turun dari boncengan, dengan sigap membukakan pintu pagar teralis besi.


Kevin memarkirkan motornya dihalaman rumah. Dilihatnya Khaira nampak tidak sabaran menunggu Bapak tukang becak yang jaraknya lumayan jauh. Dan betapa senangnya saat melihat Bapak tukang becak hampir sampai di depan rumah.


"Silahkan Pak, langsung bawa masuk saja becaknya," ucap Kevin kepada Bapak tukang becak, dan membuka pintu gerbang yang setinggi dadanya selebar-lebarnya.


Kevin juga membantu, Bapak tukang becak menurunkan beberapa jenis tanaman yang di pilih Khaira. Bukan hanya tanaman akan tetapi juga tiga kantung pupuk kandang.


Khaira nampak sangat memperhatikan Kevin, hingga semua tanaman itu sudah berada di halaman rumah, ia juga menjawab dari beberapa Ibu-ibu kompleks perumahan yang lewat depan rumah.


"Beli tanaman, Ra?" kata Bu Sri.


"Iya Bu," jawab Khaira ramah.


"Iya bener atuh neng, buat penghijauan halaman rumah," kata Bu Tini.


"Iya Bu, biar nggak kelihatan gersang," jawab Khaira tersenyum ramah.


"Lanjutkan Neng, saya pergi dulu mau ada arisan di rumah Bu RT. Kapan-kapan kamu harus ikut yah, biar semakin kenal sama Ibu-ibu kompleks?" kata Bu Jumeirah.


Khaira mengangguk singkat, "Iya Bu Jumeirah insyaallah,"


Ketiga Ibu-ibu kompleks itupun pergi dari depan rumah Kevin.


"Lha berasa tua kalau aku sampai ikutan arisan." gumam Khaira setelah Ibu-ibu itu tidak terlihat.


"Mau minum apa Pak?" tanya Khaira pada Bapak tukang becak.


Kevin pun menanyakan berapa ongkosnya, "Berapa Pak ongkosnya?"


"Empat puluh lima ribu Mas,” jawab Bapak tukang becak.


Kevin merogoh dombet dari saku celana pendeknya yang berada di saku samping, lantas mengeluarkan uang bergambar Presiden pertama Republik Indonesia dan Wakilnya.


"Uang pas saja, Mas? Saya baru narik, dan belum ada uang kembalian, hanya ada lima belas ribu yang saya bawa dari rumah." kata Bapak tukang becak.


"Ambil saja Pak kembaliannya, anggap ini rezeki kecil di pagi hari, untuk menyambut rezeki besar di siang hari." jawab Kevin.


Bapak tukang becak terkejut, dalam perasaan keragu-raguan dan tangan yang keriput serta gemetar. Bapak tukang becak menerima uang pemberian pemuda yang ada didepannya.


"Semoga menjadi berkah Pak," kata Kevin memegang sekilas pundak Bapak tukang becak.


Khaira nampak sangat tersentuh oleh kebaikan Kevin, ia tidak menyangka, dari cara penampilannya yang urakan, arogan, ucapan Kevin yang kadang asal ceplas-ceplos. Kevin masih mempunyai sisi baik yang tidak terlihat dengan mata telanjang.


"Terimakasih Nak, semoga Allah membalas kebaikan kalian, dengan kebaikan-kebaikan dari sisi-Nya. Dan jadilah Kakak dan adik yang selalu akur." kata Bapak tukang becak.


"Amin." Khaira mengulum senyum, mendengar akhiran kata dari Bapak tukang becak.


Kevin tercenung mendengar perkataan Bapak tukang becak, ketika ia akan menjelaskan statusnya dengan Khaira bukanlah Kakak-adik. Bapak tukang becak sudah berlalu dari hadapannya.


"Pak kami bukan Kakak-beradik..." kata Kevin terdengar sangat lirih nyaris seperti bisikan.


Setelah, Bapak tukang becak itu pergi.

__ADS_1


Kevin menggandeng tangan Khaira. "Sepertinya kita memang harus bikin anak supaya nggak disangka Kakak-adik."


Baru dua langkah Khaira mengikuti langkah Kevin, ia menarik tangan suaminya. "Apaan si Mas Kevin ini, bikin anak. Memangnya bikin anak bisa dibuat dari tepung."


"Ya biar nggak di sangka orang, kita kakak-adik." jelas Kevin.


"Halah-halah... lihat tuh tanaman. Bikin anak, itukan alasan Mas Kevin yang suka berpikiran kelon-kelon wae!" Khaira melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevin.


Kevin terbengong melihat Khaira yang mulai membungkuk guna mengangkat tanaman hias. Teringat kembali akan tangan Khaira yang terluka, ia lantas menghampiri istrinya. "Biar aku bantu."


Khaira mulai menata tanaman yang akan dipindahkan ke dalam pot-pot bunga, yang sudah mereka beli, sekalian di tempat penjual tanaman hias.


Kevin dengan telaten memasukan campuran tanah organik kedalam pot, yang dipandu oleh Khaira. Khaira pun nampak sangat senang, Kevin melakukan semua yang dikatakannya, tanpa rasa beban.


"Ini taruh dimana?" tanya Kevin melepas bibit tanaman bunga mawar merah dari plastik hitam.


"Itu, di pot yang lebih besar aja," jawab Khaira sembari menunjuk pot yang lebih besar.


Kevin manggut-manggut paham.


"Mas Kevin?" Khaira memanggil Kevin yang tengah sibuk menaruh tanah campuran kedalam pot.


"Hemm.. kenapa?" sahut Kevin.


"Makasih." kata Khaira senang, dengan tatapan mata yang berbinar-binar.


"Sudah menjadi kewajiban ku, untuk membuat mu bahagia.” jawab Kevin seraya tersenyum, dan kembali sibuk dengan tanah dan pot ditangannya.


Khaira speechless tersenyum mendengar jawaban Kevin, ia kembali memindahkan tanaman hias bibit bunga mawar biru kedalam pot yang sudah diberi tanah serta pupuk oleh Kevin. Keduanya pun, kini sibuk, dengan aktivitas paginya.


"Siang nanti, aku mau ke studio.” ucap Kevin disela kesibukannya menaruh tanah kedalam pot.


"Mau ngapain?" tanya Khaira.


"Ada beberapa hal yang harus aku lakukan di sana, soal musik DJ.” jawab Kevin, sekilas melirik Khaira.


Khaira manggut-manggut tipis.


"Kamu mau ikut?" Kevin menawarkan siapa tahu Khaira bosan dirumah.


Khaira antusias mendengar tawaran Kevin, ia juga penasaran apa saja kegiatan yang dilakukan Kevin. Bahkan sampai sekarang ini pun ia masih belum mengetahui apa pekerjaan Kevin, "Bolehkah?"


"Of course." sahut Kevin, tentu saja Kevin membolehkan, pikir Kevin toh hanya studio tempat ia melatih kemahirannya memainkan alat musik DJ, bukan ke tempatnya bekerja.


~~


Dari dalam mobil tak jauh dari rumah Kevin, Sonia nampak mengamati Kevin yang sedang terlihat akrab bersama dengan seorang wanita berhijab marun, "Diakah istri Kevin?"


Sonia semakin penasaran dibuatnya, "Wanita itu terlihat baik untuk Kevin. Masih maukah Kevin maafin gue dan kembali lagi sama gue?"




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2