Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Fladh back3( jack story)


__ADS_3

Sementara jack tak menyangka bram yang dikatakan ayah kandungnya bersikap sangat egois. Berbeda sekali dengan mahendra yang telah membesarkan nya selama ini.


Semakin mengingat kejadian tadi, jack semakin mempercepat laju mobilnya hingga pikiran nya terganggu tak fokus mengemudi. Jack memutuskan pergi ke sebuah kopi shop sekedar menjernihkan kekacauan yang mengganggu pikiran nya.


Beberapa kali jack merejeck panggilan telepon bram, juga membiarkan pesan masuk bertubi- tubi. Bram tak mengindahkan pesan dari pria tua yang telah membuatnya kecewa itu.


"Bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan pria seperti dia?"


"Sangat egois."


"Aku tak menyangka dia akan menyangkal kesalahan yang aku lakukan."


"Apa benar dia papa kandungku? Kenapa berbeda sekali dengan papa?"


"Mama selalu mengajariku untuk saling mengasihi sesama dan juga mengakui kesalahan jika memang benar aku melakukan nya. Tapi kenapa dia tidak?"


"Kenapa mama dan papa menyembunyikan kebenaran ini? Apa alasan nya?"


"Benarkah karena perusahaan?"


"Tidak mungkin."


" Seingat ku papa dan mama saat itu hanya membuka toko kelontong."


"Perusahaan Jk?"


Kepala jack pening memikirkan apa yang telah terjadi pada nya dan juga saat ia menemukan kebenaran lain.


Jack memegang kepalanya yang hampir pecah atas apa yang terjadi, juga memikirkan ancaman bram yang akan memberitahu stela tentang kebenaran kalau jack adalah putra kandungnya.


"Apa yang harus ku lakukan?"


"Aku tak ingin kehilangan safa dan juga stela. Tapi ..., bagaimana kalau stela tahu aku bukan anak kandung papa mahendra?"


"Brengsek!!"


"Laki- laki itu benar- benar mengacaukan hidupku."


"Tapi kenapa papa tak memberitahu ku hal yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi?*


"Kenapa rahasia ini tersimpan rapat selama ini?"


''Apa semua ini hanya akal- akalan pria itu? Tapi..., tes dna itu asli."


"Aahh..., sialan."


Berkali- kali mengumpat hampir saja jack di usir dati kopi shop tersebut karena mengganggu pelanggan yang lain.


Jack memutuskan pergi dari tempat itu, kembali ke apartemen nya. Namun bunyi ponselnya mengganggu langkahnya.


"Bram? Untuk apa dia menelepon ku lagi?Bukankah dia sudah mendapatkan apa yang di inginkan nya?"


"Untuk apa surat kuasa itu?"


" Bagaimana kalau dia menyalahgunakan surat itu?"


" Bodoh. Bodoh kamu jack."


"Sialan..., aku benar- benar terpedaya dengan keadaan ini."


"Seharusnya aku memberitahu stela, bagaimanapun juga stela adalah istri ku. Orang yang menemaniku dan juga telah memberiku keturunan."


Gumam jack.


Jack tampaknya sedikit kecewa dan marah dengan sikap bram juga kemarahan nya telah sedikit mereda saat melihat secara langsung perangai bram sesungguhnya.


Jack parkir di lantai basement seperti biasanya tak menghiraukan seseorang telah mengintainya selama beberapa hari ini. Jack tersadar dari semua itu saat tak sengaja melihat dari sisi mobil lain ketika orang itu tengah memperhatikan nya dan bersembunyi ketika jack sengaja menoleh ke arah orang tersebut.


Tak ingin gegabah, jack berpura- pura mengeluarkan ponsel nya dengan tetap berjalan meskipun begitu tetap dalam kewaspadaan nya.


Merasa keadaan masih normal dan terkendali, jack tak mengindahkan keberadaan orang tersebut berjalan ke arah lift menuju apartemen nya berada.


"Siapa orang itu? Kenapa memperhatikan ku? Kenapa aku tidak mengenalnya jika penghuni apartemen ini?"

__ADS_1


"Ah..., mungkin saja penghuni baru."


"Tidak. Sepertinya ada yang ganjil pada orang itu."


"Apa dia mata- mata yang dikirim bram?"


"Hah..., untuk apa dia memata- matai ku?"


Jack menggelengkan kepalanya sendiri merasa tak percaya kalau bram mengirim seseorang mengawasinya. Namun jack menghentikan lift yang berjalan menuju lantai dimana ia tingga, jack memilih menemui pengawas gedung yang menjaga keamanan gedung tersebut.


Entah ada angin apa dan mungkin tersirat sedikit kecurigaan pada orang tersebut, jack memutuskan menyelidiki tentang kebenaran semuanya.


"Pak jack, ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, pak. Apa boleh saya melihat cctv yang berada di lantai basement?"


"Lantai basement?"


Kedua security saling berpandangan hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan jack. Selama ini tak pernah ada yang meminta membuka layar cctv di lantai basement.


"Iya, benar."


"Apa terjadi sesuatu di lantai tersebut pak?"


Ucap dari slah satu dari mereka.


"Tidak, hanya saya merasa sedikit curiga pada sebuah mobil yang parkir di basement. Seperti sedang mengikuti saya dan saya tak merasa mengenal atau menjadi penghuni gedung ini."


"Benarkah, pak? Baiklah kalau begitu. Silahkan ikut kami!"


Jack menganggukkan kepalanya mengikuti kedua security ke ruang cctv untuk memastikan yang sebenarnya terjadi.


Tak berapa lama mereka sampai di ruang cctv seperti yang di katakan jack kalau ada kecurigaan pada sebuah kendaraan dan juga penghuninya yang ada di lantai tersebut.


"Itu dia, pak. Mobil itu."


Tunjuk jack pada sebuah layar yang menampilkan orang yang mengintainya.


Beberapa security yang ikut mengamati layar monitor cctv merasa curiga lalu mengambil beberapa gambar saat mereka mendekati cctv kamera yang tak terlihat mereka.


"Siapa mereka?"


Ucap salah seorang dari mereka.


"Kenapa mereka mendekati mobil pak jack?"


"Entahlah? Saya tidak merasa kenal dengan mereka."


Ucap jack.


"Sepertinya bukan penghuni gedung ini."


"Berarti kecurigaan pak jack benar."


"Apa kita segera mengambil tindakan?"


"Tidak, awasi beberapa saat! Jika memang benar membahayakan, tangkap saja!"


Ucap jack.


"Baiklah, pak. Kami akan mengikuti saran bapak."


Ucap salah satu dari mereka.


"Kalau begitu saya permisi, pak. Dan terima kasih atas bantuan nya."


Ucap jack.


"Tidak, pak. Sudah menjadi kewajiban kami, lagi pula kecurigaan bapak memang benar."


" Jadi..., kami yang harusnya minta maaf karena membuat bapak merasa tidak nyaman."


"Tidak, semua hanya ketidaksengajaan saja. Semula saya tak merasa curiga sedikit pun sebelum hari ini."

__ADS_1


Ucap jack.


"Jadi..., orang itu memang sudah beberapa hari mengintai bapak?"


"Bisa dikatakan begitu. Tapi saya tidak merasa curiga hingga saat saya parkir tak sengaja mendengar percakapan salah satu dari mereka."


"Baik, pak. Kami akan segera mengambil tindakan."


"Terima kasih, pak. Saya permisi dulu."


"Baik, pak. Silahkan!"


Jack meninggalkan ruang cctv gedung tersrbut setelah berpamitan dan juga memberikan keterangan pada petugas security.


Jack tak menaruh kecurigaan apa pun siapa dan mengapa orang itu memata- matai nya. Namun jack bergegas ke apartemen nya setelah pikiran nya terbesit nama bram di kepalanya.


Enrahlah? Kenapa jack bisa sampai mencurigainya? Meskipun jack sudah mengetahui kalau bram adalah papa kandung nya, tetapi kecurigaan jack sangat besar padanya. Mengingat adanya ancaman dari bram dan juga bagaimana bram bisa mengetahui kalau ia ke luar kota dalam beberapa hari ini.


"Stela..., stela..., stela... safa..., sa."


"Den..., sudah pulang?"


Tampak seorang art keluar menggendong safa dari kamar si baby.


"Bibi..., stela mana?"


" Non stela keluar sebentar, den."


"Keluar?"


"Iya, den."


"Kemana?"


"Maaf, den. Bibi tidak sempat bertanya kemana non stela akan pergi den. Non stela keluar denhan cepat setelah aden pergi."


Ucap bibi.


"Katanya hanya sebentar."


Jack mengerutkan dahinya saat mendengar penjelasan asisten rumah tangga nya.


"Kemana stela pergi? Apa dia memgikuti ku?"


Gumam jack dalam hati.


"Tidak. Aku tak melihat mobil mengikuti ku."


" Lalu..., kemana stela pergi?"


"Apa dia ke rumah mama? Rasanyatidak mungkin."


"Pasti ke rumah ibu, tapi kenapa safa tak dibawa?"


"Kemana stela pergi?"


Jack tak lantas memikirkan semua nya, memilih pergi ke ruang kerja nya. Pikiran jack masih menerawang jauh ke angkasa memikirkan kemana istrinya pergi meninggalkan rumah. Jack tak bisa melacak keberadaan stela setelah ponsel stela pecah.


Jack mengerutkan dahinya ketika melihat layr ponselnya berdering dengan nama panggilan yang tak asing baginya. Jack tak ingin mengangkat panggilan tersebut memilih membiarkan panggilan tersebut. Namun tak berapa lama jack terkejut ketika melihat sebuah pesan dengan nada ancaman untuknya.


"Brengsek!!"


"Sialan."


"Apa dia bisa disebut seorang papa yang nengancam putranya sendiri?"


"Aku tak menyangka."


"Tapi..., bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan stela?"


"Tidak, aku harus menyelamatkan stela."


Bersambung😊🙏

__ADS_1


__ADS_2