
Akhirnya karena tidak mau menjawab, Kevin pun langsung mengambil tas selempang milik Khaira yang berada di atas meja samping brankar, dan merogoh kedalam tas, lalu mengeluarkan ponsel yang sudah retak dibagian layarnya.
"Jangan dibuka, kenapa kamu sukanya maksa Mas Kevin!” sergah Khaira, namun tidak berdaya kala kedua tangannya kini harus di istirahatkan terlebih dulu. Satu tangan terluka dan satu tangannya lagi di infus.
Iba kala melihat ponsel Khaira dalam kondisi retak seperti itu. Namun, Kevin tidak ingin menunjukkan rasa iba'nya, dan lebih memilih untuk membuka layar ponsel, serta bertanya kata sandi?
"Kata sandi?"
Khaira pun pasrah dan menyebut enam digit angka kata sandi.
"Sesimple ini kata sandi mu?” kata Kevin terkejut mendapati Khaira begitu simple menyertakan keamanan di perangkat ponsel.
"Ya!" jawab Khaira singkat, enam digit angka yang terdiri dari setiap rukun sholat.
Kevin manggut-manggut, dan mulai membuka kunci dengan kata sandi yang telah disebutkan Khaira, dan melakukan pencarian di kontak ponsel milik istrinya, sejenak ia terdiam lalu melihat Khaira, "*Haruskah aku membelikannya ponsel baru*?"
Khaira mengerjapkan matanya menatap Kevin, ada yang aneh dari tatapan mata Kevin, "Kenapa?"
Kevin menggeleng, ia kembali melihat layar ponsel Khaira. Dikarenakan tidak menemukan namanya di kontak, Kevin lantas berinisiatif melakukan panggilan melalui ponsel miliknya sendiri.
Dan benar saja, tersambung, namun ada yang aneh dari raut wajah Kevin, kala melihat nama kontaknya yang jauh dari ekspetasi dan jauh dari khayalannya.
"*Seumpama, Sayang, Hubby, Honey, atau hanya nama yang Khaira gunakan untuk memanggil nama gue, Mas Kevin? Akh nih cewek cuek banget! Apa dia belum secuilpun ada rasa sama gue? Hem agaknya pengaruh pria bernama Asap masih disimpannya dalam hati*." Kevin membatin memandangi ponsel Khaira.
"Tuan arogan!" kata Kevin, mengalihkan atensinya dari menatap layar ponsel lalu menatap Khaira.
Khaira masih tetap membuang tatapannya ke tirai hijau sebagai pembatas antara brankar satu ke brankar pasien lain.
"Itu udah nama yang paling bagus!" jawab Khaira tanpa melihat bahwa Kevin sedang menatapnya seperti mengintimidasinya.
"Oke!" mungkin bagi Khaira, ia merupakan si tuan arogan. Yah Kevin bisa mengerti akan hal itu. Kemungkinan juga karena beberapa kali ia memaksa, "*Lha kenapa gue jadi melow perihal nama*?"
"Hahahaha..."
"Nama kontak yang sangat unik."
__ADS_1
"Itu merupakan nama kesayangan kali Mas?"
"Jadi ingat dulu saat pacaran, dinamai sayang. Pas udah jadi istri dinamai istriku, pas udah jadi ibu rumah tangga, dinamai sekertaris keuangan?"
"Memang lucu yah, kalau sudah ingat nostalgia masa-masa pacaran sebelum ada internet?" seloroh Ibu-ibu yang berusia setengah abad.
"Ih Bu Farida, pacaran dulu sama pacaran jaman sekarang beda atuh. Kalau dulu kan masih malu-malu, dan pakai surat, kalau pacaran jaman sekarang ditelpon tinggal ketemuan," kata Bu Rahayu.
Semua orang yang berada di ruangan itupun sontak tertawa, terbahak-bahak. Dan ada pula Ibu-ibu dan Bapak yang berbagi pengalaman ketika masih pacaran hingga sudah menjalani biduk rumah tangga. Tertawa mereka sampai terdengar ke telinga perawat yang berjaga malam.
Pintu kamar rawat inap terbuka oleh seorang penjaga keamanan pasien.
"Ibu-ibu, Bapak-bapak. Kenapa jam segini belum istirahat. Ini rumah sakit apa tempat arisan yah kok rame bener? Diharapkan tertib agar yang sakit bisa segera pulih." kata perawat pria yang berjaga malam dalam memperingatkan pasien serta kerabat yang menjaga pasien.
Semua kerabat dan pasien membubarkan diri. Dan kembali kepada tempatnya masing-masing.
Perawat pria geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka, heran sudah seperti acara reuni anak sekolah ditahun sembilan puluhan. Perawat pria kembali kepada tempatnya jaganya yang berada di sebelah rawat inap kelas dua.
Kevin bingung, ia akan tidur dimana? Apakah dilantai yang keras nan dingin? Tak apalah.
"Mas Kevin," Khaira memanggil Kevin yang masih celingukan.
Kevin pun menoleh kearah Khaira, "Kenapa?"
"Sini, tidur disini.” ucap Khaira sambil melirik bagian brankar yang terlihat sempit.
Kevin pun mengerutkan keningnya, "Kamu bercanda? Mana muat, lagian aku kan bukan orang sakit."
"Itukan kalau kamu mau, aku kan sudah berbaik hati supaya kamu nggak tidur di lantai. Lagian kok bisa Mas Kevin tahu aku di rumah sakit?" tukas Khaira mulai memejamkan mata.
"Siapa bilang aku nggak mau. Nggak bisa nolak iya," jawab Kevin sekenanya, "Rezki yang menjawab panggilan ku, jadi aku tahu kamu terluka," Kevin mengulum senyum melihat ekspresi Khaira yang peduli tidak peduli terhadapnya, ia menutup tirai hijau dan siap meluncur di samping Khaira. Namun sesaat kemudian ia urungkan, karena memikirkan Khaira yang memang sedang sakit.
Tidak adanya pergerakan di sampingnya, membuat Khaira meremang melihat Kevin.
"Kenapa cuma diam aja? Nggak mau menerima tawaran dari kebaikan ku? Ya udah, aku peringatkan kalau aku lagi tidur jangan sentuh aku, dan jangan memandangi saat aku tidur, karena apa? Aku kalau lagi tidur, mulutku suka nganga. Aaaa...” kata Khaira, memberi contoh mulutnya yang menganga, namun matanya masih terpejam.
__ADS_1
Kevin hanya tersenyum geli,
"Masih ada yah cewek, di zaman ini yang menunjukkan kejelekannya. Biasanya kan cewek itu bakal menyanjung dirinya di hadapan orang lain, apalagi sama pria yang disukainya."
Khaira pun nampak memejamkan matanya, tapi sayu-sayu ia masih melihat Kevin yang senyum-senyum tidak jelas. "Gila!"
Kevin pun memilih tidur di bawah, di lantai yang keras nan dingin, ia sama sekali tidak perduli dengan pekerjaannya saat ini, toh akan ada Disc Jockey pengganti.
"Buset, dingin bat da-ah.” gumam Kevin, yang merasakan lantai rumah sakit begitu dingin ditambah lagi dengan pendingin ruangan.
Sementara Khaira senyam-senyum geli, saat ini lengannya tidak begitu terasa sakit, karena masih dalam pengaruh obat bius. Sampai ia benar-benar tertidur.
Kevin, agaknya merasakan ketidak nyamanan yang luar biasa, untung saja hordeng pembatas pasien ia tutup semua, kalau sampai ada yang melihatnya saat ini. Akan sangat lebih membuatnya merasa tidak nyaman.
Kevin pun seperti memperagakan olahraga, kadang ia bangun, duduk, berbaring, ia lakukan berulang-ulang, sampai akhirnya ia terbangun lagi.
Dan, melihat sisi brankar Khaira yang terlihat ada sebagian tempat yang bisa ia gunakan, meskipun terlihat sangat sempit untuk dirinya.
Akhirnya, Kevin pun menyerah, dan memilih untuk mencoba tidur di samping yang di tawarkan Khaira,
"Akh terasa nyaman memang.” gumam Kevin merasakan kenyamanan, apalagi bisa melihat wajah manis Khaira dengan jarak sedekat ini.
"*Kalau pun gue nantinya terkena diabetes akibat lihat lo yang manis, gue ridho dah*." Kevin membatin seraya melihat wajah Khaira.
Tak pernah tidur sedekat ini dengan Khaira, Kevin merasa grogi.
Kevin memajukan kepalanya, berharap bisa secuil mencium kening Khaira, namun hal yang tak di duga, Khaira membuka mata, tatapan mereka saling beradu. Sekian menit tidak ada yang mau mengalah, Khaira pun akhirnya yang membuka suara.
"Mau ngapain?” hardik Khaira yang melihat wajah Kevin sedekat ini dengan wajahnya.
Kevin pun langsung memalingkan wajahnya, dan seolah sedang menepuk-nepuk seekor nyamuk yang terbang. Dan tidak menjawab pertanyaan Khaira, "Woah-woah nyamuk banyak banget di sini yak?"
Kevin lebih memilih memejamkan matanya. Dan disusul oleh Khaira yang memastikan terlebih dulu. Keadaan Kevin sudah tertidur.
"*Jangan harap*!" batin Khaira.
~~
Bersambung...
__ADS_1