
Semula Kevin terbangun karena mendengar jeritan Khaira yang memanggil tukang sayur. Ia pun melihat Khaira sedang memilah-milah sayuran dari balik jendela.
Kevin heran uang darimana gadis itu untuk membeli sayuran, sejenak Kevin berpikir, mungkin saja uang yang Khaira dibawa dari kampung.
Ia tertawa kecil kala melihat ekspresi Ibu sayur dan kedua Ibu-ibu kompleks perumahan yang terbengong bengong melompong melihat Khaira.
Yah, bagaimana tidak terbengong. Kevin saja jarang sekali berada di rumah. Dan jarang juga ada orang yang datang ke rumahnya.
Jika Sonia akan bertemu dengannya, maka Kevin lebih sering di studio musik. Ya secara otomatis mungkin munculnya spekulasi rumah kosong di lingkungannya tinggal.
Kevin kembali tertawa kala Khaira terkejut saat Ibu sayur menyebut jumlah harga sayuran yang dipilih gadis itu.
“Ya jelas saja beda Ra, harga di kampung sama di kota. Lo dodol, apa lo terlalu naif?” gumamnya seorang diri, dalam mengomentari keluguan Khaira.
Namun, sesaat kemudian Kevin mendengar Ibu sayur mempertanyakan siapakah Khaira.
Tanpa pikir panjang, daripada nantinya jadi bahan obrolan atau gosip serta pertanyaan disekitar kompleks perumahan.
Kevin langsung capcus untuk keluar dari dalam rumah yang pintunya dibiarkan Khaira terbuka lebar sehingga ia dapat mendengar apa yang dibicarakan dan apa yang jadi pertanyaan dari Ibu sayur terhadap Khaira.
“Dia istri saya!” seru Kevin berdiri di teras rumah.
Ibu sayur dan dua Ibu-ibu kompleks perumahan terkesiap atas ucapan seorang pria muda yang jarang sekali keluar rumah.
Lebih terkejut lagi Khaira, ia tak menyangka pria itu secara tidak langsung mengakuinya sebagai istri dihadapan Ibu sayur dan Ibu-ibu kompleks.
Kevin menghampiri Khaira dengan senyuman secerah matahari pagi ini. “Halo istriku, pagi.” secara sukarela ia mencium kening Khaira dihadapan Ibu sayur dan dua Ibu-ibu kompleks.
Ibu sayur dan kedua Ibu-ibu kompleks berserta Khaira terperangah dengan apa yang dilakukan Kevin.
Glek... Khaira menelan ludahnya yang serasa alot. Etdah, bukan hanya sinting! Tapi benar-benar eror nih orang! pikirnya menatap Kevin dari samping.
Ingin rasanya membanting tubuh pria jangkung yang sudah berani-beraninya mencium keningnya dihadapan Emak-emak pula! Khaira berulang kali mengerjap-ngerjapkan mata.
Perilaku yang diperlihatkan Kevin membuat Ibu sayur dan Ibu-ibu kompleks tercengang bukan main, ketiganya seolah dibuat kejang-kejang oleh kelakuan Kevin, yang tidak adanya acara hajatan, tidak adanya mengundang orang-orang di kompleks ini menjadi saksi nikahnya, tidak pula ada undangan pernikahan. Pria muda yang bahkan jarang sekali menunjukkan batang hidungnya setelah kematian adik serat Ibunya, tiba-tiba keluar rumah mengatakan mempunyai istri?
__ADS_1
OMG! Helo?
Salah seorang Ibu kompleks hampir saja pingsan mendengar pengakuan Kevin. Untuk saja Ibu kompleks lainnya membantu agar tidak jadi jatuh dan pingsan.
“Nak Kevin jangan bercanda? kamu bahkan nggak nyebar undangan?” ujar Bu Minah tetangga rumah Kevin yang berjarak dua rumah karena yang tepat bersebelahan dengan rumah Kevin merupakan rumah kosong.
Pertanyaan Bu Minah pun di benarkan oleh Bu Santi yang masih dengan setengah kesadarannya, “Iya jangan bercanda Kevin, jangan hanya karena kamu tinggal sendirian terus kamu seenaknya mengatakan kalau kamu sudah mempunyai istri,”
Ibu sayur pun ikut berkomentar, “Seperti si buta dari gua hantu, kamu jarang banget terlihat. Tapi sekalinya nongol bikin Emak hampir jantungan!” kata Ibu sayur yang memanggil dirinya dengan sebutan Emak. Seraya mengelus dada, “Kapan kalian menikah?”
Khaira canggung dan gelisah, ia merem melek mendengar Ibu sayur serta Ibu-ibu kompleks mencecar pertanyaan yang membuat sekujur tubuhnya dilanda panas dingin
“Aduh Mas Kevin, apa yang kamu lakukan. Apa yang akan kamu jelaskan? Buku nikah aja kita nggak punya?” seloroh Khaira dalam hati.
Kevin tersenyum kecil, ia menggaruk pelipisnya, “Begini Ibu-ibu, saya sudah menikah dengan istri saya secara agama, dan itu tandanya secara sah agama dia istri saya. Dan yang kedua, saya sedang memproses buku nikah kami,”
Ibu sayur dan Bu Minah dan Bu Santi pun lagi-lagi di buat tercengang mendengar penjelasan Kevin. Untuk kedua kalinya Bu Santi yang mempunyai riwayat lemah jantung akan pingsan. Namun dengan sigap Bu Minah memapah tetangganya.
“Bu Santi, Bu jangan pingsan, berat atuh.” kata Bu Minah menegur Bu Santi agar jangan pingsan, karena badan Bu Santi gemuk. Bu Minah merasa ngap-ngapan dibuatnya, jika harus terus menerus memapah Bu Santi.
“Apa karena dia ini udah hamil duluan?” tanya Bu Minah mencurigai adanya hamil di luar nikah yang menyebabkan Kevin maupun gadis yang belum diketahui namanya melangsungkan pernikahan secara agama.
Khaira membulatkan matanya mendengar tuduhan seorang ibu-ibu yang rambutnya dijepit ke atas. Ia sontak saja menggelengkan kepalanya, menyangkal tuduhan bahwa ia hamil di luar nikah. Ia sangat geram akan ulah Kevin, Khaira menginjak kaki Kevin.
Kevin terkejut kakinya diinjak Khaira, ia mengerti bahwa mungkin saja Khaira kesal padanya, ia kembali menatap Ibu sayur dan kedua Ibu-ibu kompleks.
“Begini ya Ibu-ibu, istri saya nggak lagi hamil, dan kami menikah secara agama dihadiri juga oleh keluarga kami” jelas Kevin melihat ketiga ibu-ibu secara bergantian, sempat melirik juga kearah Khaira yang sedang menampilkan mimik wajah bingung.
“Dikarenakan kami nggak mau pacaran dan kami juga belum ada waktu untuk menggelar resepsi, nanti kalau kami sudah ada tanggal dan waktu yang pas untuk menggelar resepsi jangankan Ibu sayur dan Ibu-ibu ini, satu komplek perumahan ini saya undang,” terpaksalah Kevin berbohong tentang alasannya yang sekiranya logis.
“Begitu yah?” ucap Bu Santi, kali ini ia lebih berlapang dada. Dan sudah kembali berdiri tegak.
“Kalau begitu siapa nama istri mu Nak Kepin?” tanya Ibu sayur, menyebutkan nama Kevin menggantinya dengan huruf P, karena orang Betawi agak sulit mengatakan huruf V.
Khaira diam seribu bahasa, seolah mendadak lidahnya bertulang dan sulit sekali untuk digerakkan. Ini akibat ulah si tuan arogan yang sudah membuatnya mati kutu.
__ADS_1
Kevin mengembangkan senyumnya, “Khaira,” sebut Kevin mengenalkan nama istri dadakannya. “Nama lengkapnya Khaira Ningrum, dia berasal dari Jogja,”
Bu Minah dan Bu Santi nampak manggut-manggut.
“Wah jauh juga yah, Jogja? Saya pengen tuh ke sana, pengen ngeliat candi Prambanan,” kata Ibu sayur.
Kevin merasa cukup puas dengan tanggapan Ibu-ibu kompleks dan Ibu sayur yang nampak tidak akan lagi salah paham dan dirasa tidak akan menyebarkan gosip di area kompleks perumahan.
“Bagaimana Ibu-ibu apa sudah jelas?” tanya Kevin, melihat ketiga Ibu-ibu secara bergantian.
“Ya, beneran lo yah, kalau kalian menggelar resepsi pernikahan kami di undang.” kata Bu Santi.
Kevin tersenyum bersamaan dengan mengangguk singkat, “Itu pasti Bu, doakan saja semoga lancar dan langgeng.”
“Amin, amin.” jawab Ibu sayur membersamai suara amin Bu Minah dan Bu Santi.
“Sekarang kita masuk dulu ya Bu, Permisi.” ucap Kevin, ia melihat sayuran yang sudah dimasukkan kedalam kantung plastik berwarna ungu, “Ini belanja kamu sayang?” tanyanya pada Khaira.
Khaira hanya melihat Kevin, tiada jawaban yang terlontar. Ia masih tidak mempercayai bahwa Kevin bisa mengarang cerita seperti itu kepada Ibu-ibu dihadapannya. Dan terlihat ketiga Ibu-ibu itu mempercayai Kevin. Oh ada apakah dunia fana ini?
Ibu sayur pun menjawabnya untuk istri Kevin yang sebelumnya ia sangka hantu penunggu rumah Almarhumah Bu Lusiana.
“Iya itu belanjaan istrimu Nak Kepin, dan ini kembaliannya. Sudah sana masuk, mungkin saja istri mu ini sedikit malu,” tukas Ibu sayur melihat Khaira yang berdiam diri dan beralih melihat Kevin.
Kevin pun mengangguk dan mengambil dua kantung plastik berisi sayuran. “Makasih Emak sayur.” ucapnya ramah.
“Sama-sama.” balas Ibu sayur.
“Ayo sayang kita masuk.” ajak Kevin, lalu merangkul pundak Khaira dan membawanya untuk masuk kedalam rumah.
Ibu sayur dan Ibu-ibu kompleks melihat Kevin sampai pria muda itu masuk kedalam rumah bersama gadis yang diakuinya sebagai istri. Ghibah pun di mulai.
__ADS_1
Bersambung