
"Pak, anda sudah lama?"
Rupanya bram tak langsung menjawab sapaan dari seseorang, bukan karena tak mendengar atau melihat melainkan pikiran bram yang sedang kacau dipenuhi persoalan lain nya.
"Pak..., pak. Anda baik- baik saja?"
"Ah..., iya. Aku baik- baik saja."
Sadar dari lamunan nya atas panggilan beberapa kali dari orang yang ingin ditemuinya, segera membuatnya berpikir normal dan bersikap wajar.
"Ada apa bapak ingin bertemu dengan saya? Apa ada masalah yang penting?"
Ucap seorang lelaki yang duduk di depan bram.
"Tentu ada masalah penting."
"Masalah penting? Maksud bapak?"
"Apa jack akan memindahkan perusahaan nya? Apa perusahaan nya dalam masalah?"
"Tidak, pak. Pak jack tidak memindahkan perusahaan dan perusahaan baik- baik saja. Hanya..., pak jack memang tidak ke kantor dalam beberapa hari ini."
Jawaban kalimat terakhir dari laki- laki itu membuat bram mengerutkan dahinya.
" Apaa..., jadi benar jack tidak ke kantor?"
Gumam bram dalam hati.
"Apa jack mengatakan ada urusan lain karena tidak masuk kantor?"
Tanya bram yang sedikit penasaran dengan putranya tersebut.
"Tidak, pak. Beliau hanya mengatakan kalau ada sedikit urusan di luar kota."
"Luar kota?"
"Benar, pak."
"Jadi..., benar jack keluar kota."
Gumam bram dalam hati.
"Apa anda menginginkan atau membutuhkan sesuatu, pak? Saya harus kembali ke kantor, ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan."
"Tidak, itu saja."
"Baiklah kalau begitu saya permisi, pak."
"Tunggu!"
"Ya, pak."
"Segera beritahu aku jika jack memindahkan perusahaan nya."
"Baik, pak."
"Dan ini untukmu."
Bram memberikan sebuah amplop coklat yang tentunya berisi sesuatu kesenangan semua orang.
"Terima kasih, pak."
Bram hanya mengangguk pelan meneguk secangkir kopi yang di pesan nya sebelum laki- laki itu datang.
"Jack tidak masuk kantor selama beberapa hari? Bagaimana kalau yang dikatakan anak buahku benar?"
"Tapi karyawan nya mengatakan tidak ada pemberitahuan pemindahan?"
"Tapi..., bagaimana kalau secara tiba- tiba memindahkan kantornya?"
"Tidak! Aku harus mencari cara agar jack tetap disini."
__ADS_1
"Yah..., benar itu."
"Ini rencana terakhir yang pasti akan membuat jack semakin membenci mahendra dan juga menuruti semua kata- kataku."
Bram tak lepas memikirkan kemumgkinan yang terjadi hingga menyita sebagian besar perhatian nya.
Tak berapa lama bram memutuskan pergi dari restoran tersebut karena tak menemukan sebuah ide sama sekali dan juga karena semakin lama dadanya semakin sesak memikirkan kemungkinan yang terjadi.
" Om bram..., untuk apa dia berada di hotel itu?"
" Em..., aku tahu."
" Dia pasti sedang berkencan dengan daun muda."
" Aku ingin tahu seperti apa daun muda itu?"
"Tak ada seorang wanita pun yang ada disekitarnya? Lalu ..., apa yang dilakukan nya disini?"
Gumam seseorang yang tak asing dan saling kenal di antara mereka adalah stevi.
"Ah..., sudahlah. Untuk apa aku memikirkan nya?"
Gumam stevi melajukan kembali mobilnya setelah berhenti sesaat ketika melihat bram keluar dari lobby hotel yang mana stevi juga tengah mampir ke hotel tersebut namun enggan berhenti saat melihat bram.
Namun stevi memilih berhenti dan parkir di satu tempat tak jauh dari sana dan juga tak terlihat oleh bram. Stevi merasa penasaran kenapa bram berada di hotel tersebut dan juga sedikit kepo apa yang di lakukan nya.
"Eh..., kenapa aku tak melihat siapapun? Kenapa aku jadi kepo sih? Hihihi."
"Siapa sih yang bisa menandingi stevi?"
" Ah..., sudahlah. Lagi pula sebentar lagi aku akan menjadi nyonya di keluarga mahendra, untuk apa aku masih peduli pada laki- laki itu?"
Gumam stevi yang memilih pergi dari tempat itu.
"Hem..., nyonya bryan saputra. Not bad."
"Meskipun aku hanya istri kedua tapi aku memiliki kesempatan menggeser posisi gadis lumpuh itu."
Senyum merekah terpancar di wajah stevi dengan angan- angan yang mengisi pikiran nya saat ini.
Stevi datang ke hotel tersebut karena ada janji dengan seseorang yang tak lain adalah salah satu staf rumah sakit yang saat itu melakukan tes dna pada janin nya. Entah apa tujuan stevi mengajak bertemu staf tersebut kalau tidak untuk melancarkan tujuan nya.
Namun niat itu di urungkan nya saat melihat bram muncul secara tiba- tiba di depan lobby. Stevi memutuskan mengubah jadwal bertemu dengan staf tersebut.
Setelah pergi dari tempat itu seseoramg tampak menelepon stevi meskipun tak ada nomor tertera di layar ponselnya, stevi dengan cepat mengenali orang tersebut
"Iya..., aku tahu."
"Jangan khawatir! Aku akan datang secepatnya."
"Tidak."
"Baiklah..., tunggu aku disana!"
"Aaa..., brengsek!!"
Stevi membanting stir memutar balik menuju satu tempat dengan umpatan dan cacian dari mulut manis nya di sepanjang jalan.
"Sial."
"Kenapa mereka tidak becus menjaga toko?"
"Hah..., baru ditinggal sebentar sudah kacau."
"Sepertinya aku harus mencari seseorang yang benar- benar handal."
"Apalagi..., kalau aku sudah masuk ke keluarga mahendra tak mudah meninggalkan rumah begitu saja."
"Aku tak mungkin bisa leluasa berada di luar rumah dalam kondisi hamil seperti ini."
Di sepanjang jalan stevi tak berhenti berbicara sendiri saat mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat.
__ADS_1
Tak berapa lama ponsel stevi berbunyi kembali setelah kemarahan nya sedikit reda.
"Ya."
"Maaf, aku ada sedikit urusan."
" Apaa..., tidak..., tidak! Jangan!"
"Baiklah."
" Datanglah, ke apartemen ku malam ini. Aku akan share lokasi dimana apartemen ku berada."
" Klik."
"Aaaa...., sial."
" Kenapa semua datang secara bersamaan?"
" Hah..., dasar sial."
Stevi sedikit tersulut api amarah setelah mendapat telepon dari orang tersebut juga sedikit kesal karena nya.
Entah apa yang terjadi pada stevi hingga tersulut api anarah di sepanjang jalan saat mengenudi.
Stevi sedikit terpana melihat satu pemandangan yang tak biasamya saat berhenti di lampu merah, dan melihat sepasang suami istri yang sudah paruh baya bergandengan tangan saat menyebramg jalan.
"Hem..., apa aku akan seperti itu saat tua nanti?"
" Hihihi..., bersama anak cucu. Seperti apa wajah ku saat tua nanti? Saat rambut ku sudah memutih, saat wajah ku sudah keriput."
"Ah..., aku jadi ingin secepatnya mendapat gelar nyonya saputra."
"Tapi..., bagaimana dengan perempuan itu?"
"Aku harus bisa menyingkirkan nya dan juga membuat anak yang dikandung nya lenyap, agar aku dan anak ku menjadi satu- satu nya nyonya dan pewaris keluarga mahendra."
"Yah..., itu benar."
Senyum stevi menghilang saat teringat denada yang selalu di samping bryan dan juga saat lampu hijau menyala.
Tak berapa lama stevi berhenti di sebuah toko yang tak asing bagi nya yakni tempat nya bekerja atau mengelola bisnis ilegal nya selama ini.
"Bos..., kau sudah kembali?"
" Hem..., katakan! Bagaimana bisa terjadi?"
" Kita harus lebih waspada bos. Ternyata mereka menyuruh orang untuk menyamar hingga beberapa anak buah kita tertipu dan tertangkap, bos."
" Hah..., ceroboh. Bereskan kekacauan ini segera dan juga kita harus memindahkan barang- barang lain ke tempat yang baru."
"Baik, bos. Tapi tidak secepat itu, tempat yang baru kita baru saja di renovasi dan belum selesai."
"Aaaa...., sial. Aku bisa rugi banyak kalau begini."
"Baiklah, suruh orang cepat menyelesaikan renovasi itu! Ingat, secepatnya!!"
" Baik, bos."
Setelahnya beberapa anak buah nya pergi menjalankan perintah stevi. Stevi menggebrak meja setelah kepergian mereka, merasa kesal dengan apa yang telah terjadi bahkan membuat kepalanya merasa pening.
Dert... dert...
"Siapa lagi yang telepon? Jika kabar tidak penting, aku akan melenyapkan nya."
Gumam stevi.
"Halo."
"A..., iya..., iya. Aku akan kesana sekarang."
" Klik."
__ADS_1
Bersambung😊🙏