Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Siapa dia?


__ADS_3

Mita menuturkan, agar Khaira menunjukkan alamat tempat Mita menyewa kos-kosan kepada tukang ojek, maka tukang ojek pun akan paham,“Tolong antarkan saya ke alamat ini Pak,”


Seorang tukang ojek yang terlihat seumuran Abah melihat alamat dari secarik kertas yang ditunjukkan, tak perlu membuang waktu lama-lama untuk bisa memahami alamat yang tertera,“Iya neng.”


Khaira melebarkan senyumnya, dan bersenandung dalam hati, “Bener apa kata Mita.”


Bapak ojek pun menyodorkan helm dihadapan pelanggan ojeknya, “Ini neng helmnya, biar aman.”


Ucapan Bapak Ojek mengingatkan Khaira pada Abah. Ya benar, memakai helm saat berkendara memanglah aman. Aman dari razia, aman untuk melindungi kepala.Khaira melihat sepintas helm yang sudah terlihat usang, lalu ia memakainya.


Hidungnya merasa ada bau-bau yang menyengat dari helm yang dipakainya, ia berseloroh dalam hatinya, “Astaghfirullah, baunya ini helm, udah di pake berapa juta orang nih? Untung aku pake hijab, kalo enggak!”


Khaira hanya bisa bergidik ngeri kala sekilas ingatan tentang si penghuni rambut kepala, membuatnya harus merasakan di cukur gundul, saat ia masih berusia tujuh tahun. Lucu tenan!


Saat sudah membonceng, Khaira yang berpegang kebelakang, persisnya di ujung jok, melihat-lihat dan mengagumi ciptaan manusia yang menjulang tinggi. Namun, lebih gagah ciptaan Allah Subhanallahu Wa Ta'lla. [Itu pasti!]


Satu setengah jam lebih tiga puluh lima menit ia lalui, motor tukang ojek berhenti di depan sebuah kos-kosan yang menurut Khaira lebih tepatnya seperti sebuah kontrakan.


Bangunan persegi panjang yang berjejer bak bangunan sekolah. Terdapat lima pintu berbeda warna, biru laut, biru tua, kuning, merah, dan hijau. Khaira tersenyum geli, benaknya bermonolog, "Pas kaya sekolah TK, hihi,”


Bapak ojek yang melihat penumpangnya senyum-senyum nggak jelas lantas bertanya, "Kenapa senyum Neng?”


Khaira palingkan wajahnya menoleh ke Bapak ojek, "Kosannya lucu, warna warni hehe.” kekehnya kecil.


“Istri saya yang meminta agar kosan di cat sedemikian cerah,” kata Bapak Ojek.


Secara kebetulan, atau memang ini sudah jalan Allah. Bapak ojek pun lantas mengakui kalau yang meminta agar setiap pintu di beri cat warna yang berbeda adalah istrinya.


"Hah! Jadi kosan ini, punya Bapak?”tanya Khaira terkejut.


"Yah, begitulah Neng. Saya dan istri saya menikah sudah hampir tujuh belas tahun, dan kami belum juga di karuniai keturunan. Jadi untuk menghibur diri, istri saya yang meminta untuk mengecatnya dengan cat warna-warni. Supaya berasa kami sedang berada di taman sekolah TK.” ungkap Bapak ojek yang seperti sedang mencurahkan kesedihan, karena tanpa momongan, pernikahan akan terasa hampa, seperti sayur asam tanpa asam, dan seperti siang tanpa matahari, suram.


Khaira menatap Bapak ojek nanar, ia mencoba memberi Bapak tersebut semangat, sembari mengeluarkan uang dari tas selempangnya, "Semangat Pak, kan Nabi Zakaria Alaihi Sallam, Beliau dan istrinya diberikan amanah seorang anak, ketika Beliau memasuki usia senja,”


Bapak ojek nampak manggut-manggut, "Hemm.. betul kamu,”jawabnya, “tidak usah Neng, karena Neng sudah menghibur Saya, dengan kata-kata bijak eneng, ongkosnya saya gratiskan,”Bapak ojek menolak ongkos yang penumpangnya beri, Beliau pun mulai mengembangkan senyum.


"Aih.. Alhamdulillah, rezeki anak solehah, hehe.”seloroh Khaira senang.


"Sebenarnya Nak, ini, mau ke kosannya siapa?” tanya Bapak ojek.

__ADS_1


"Oh, saya mau ke kosannya Mita,” jawab Khaira sembari memasukkan uangnya ke dalam tas.


Bapak ojek inipun menunjukkan, kosan yang bercat biru laut di pintunya. "Ini, kosan Nak Mita, dia tadi pagi berpesan, kalau sepupunya datang dari Jawa, dan menitipkan kuncinya sama istri Saya,”


Khaira lagi-lagi merasa senang, “Beneran Pak?”


Bapak ojek pun mengangguk, “Mari ikut saya ke rumah dan bertemu istri saya juga mengambil kuncinya.”


Khaira mengangguk girang. Ia segera mengikuti dari belakang Bapak ojek untuk menuju kerumahnya, melewati deretan kos-kosan dan rumahnya pun tidak jauh. Persis di urutan paling ujung kosan.


Dari luar pagar keliling rumah yang hanya setinggi pusar orang dewasa. Khaira melihat seorang wanita sedang menyirami tanaman di pekarangan rumah yang tidak terlalu luas, tapi terlihat asri.


“Assalamualaikum, Bu,”salam Bapak ojek.


"Wa'alaikumussalam,” jawab salam wanita berhijab panjang yang sedang menyiram tanaman aneka ragam bunga, lalu menjabat tangan serta mencium tangan suaminya lembut.


‘Aakhhh sebuah keluarga yang harmonis, andai saja Abah sama Ibu... Aih mikirin apa sih aku!’ pikir Khaira, lalu menarik nafas dan menghembuskannya kasar.


Bapak ojek inipun, mengenalkan penumpangnya yang tidak lain adalah sepupu Mita pada sang istri, "Ini sepupu Mita, Umi,”


Istri yang dipanggil Umi inipun tersenyum ramah pada gadis yang terlihat jawani, dan menjabat tangan gadis si hadapannya.


“Panggil saja saya Umi Lasmi, Neng,” Ujar Umi.


Khaira mengangguk, “Iya, U-umi,” jawabnya kikuk.


Setelah mengobrol sesaat, bersama Umi Lasmi. Khaira panggil saja Umi, Umi pun memberikan kunci kamar kos Mita, pada Khaira. Ia menerimanya dengan senang hati.


Lantas Khaira langsung berpamitan dan berjalan kearah yang sebelumnya ia mengikuti Bapak Wahyu, Bapak ojek yang baru ia ketahui juga namanya. Tidak lupa, ia mengucapkan terima kasih kepada Beliau-beliau yang telah berbaik hati.


Dari pikiran kalutnya saat ini, yang Khaira fokuskan untuk sementara waktu adalah membersihkan diri dari dosa. Ralat! Dari debu dan keringat yang terasa sangat lengket.


Sebelumnya, Umi Lasmi, memberitahunya, jika di setiap kamar kost terdapat kamar mandi. Khaira berpikir, pantas saja Mita betah ngekos disini selema kurang lebih empat tahun. Karena pemilik kosannya ramah, dan terdapat kamar mandi di dalam kamar kost.


Terdengar suara azan Maghrib berkumandang, Khaira membuka kosan Mita yang terlihat gelap, lalu menutup pintunya kembali.


Khaira lantas mencari saklar lampu, sambil bersenandung kecil, “Mencari, mencari, mencari hiburan malam ini, eh. Kenapa aku jadi limbung dan menyayikan lagu Evi Sukesi feat Roma irama, yang sering di dengarin Abah?!”


Khaira mencari saklar lampu, untuk menerangi kamar kosan Mita. Dengan meraba-raba dinding, “Hihihi, aku kok jadi geli yah, dengan kata-kata, ‘meraba-raba'. Aih... Pikiran polos ku, agaknya terkotori oleh debu-debu jalanan tadi, hemm.”

__ADS_1


[Andai debu-debu jalanan dapat bicara, debu itu pasti akan bicara, “Sa ae Lu anak manusia, selalu jadiin gue kambing hitam.”]


Ceklek!


"Alamak, lampunya?” cahaya yang Khaira harapkan dari lampu pun seketika sirna, kala lampu itu tidak menyala, alias padam.


Ting! Terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya, yang sejak tadi bersemedi dari dalam tas selempang yang masih berada di dadanya. Khaira merogoh dan mengeluarkan ponsel hasil dari jerih payahnya, serta menekan tombol menyala, terlihat layar yang sudah retak.


Ternyata pesan suara dari Mita, via wawa.


“Ra, maaf ya, gue lupa ngasih tau Lo, kalau lampu kamar gue mati, tadi pagi gue lupa kasih tau Pak Wahyu, buat ganti lampunya. Nanti kalo gue udah pulang gue ganti lampunya,” pungkasnya, terdengar suara cempreng. Ya, Khaira sudah terbiasa tentunya, mendengar Mita menyebut‘aku' dengan sebutan‘gue' atau lo, secara garis besar Mita memang lahir di kota gaul.


Lagi-lagi Khaira hanya bisa menghela nafas, tidak berdaya. Ia melihat baterai ponselnya yang masih tersisa lima persen. “Semoga dengan tersisanya baterai ini, sanggup menyala sampai Mita pulang kerja.”


Dengan adanya bantuan cahaya lampu dari ponsel, Khaira dapat melihat ada sebuah kasur busa berukuran sedang, yang hanya setinggi betisnya.


Khaira duduk di tepian kasur, dan mulai membuka hijabnya, lalu mencari keberadaan kamar mandi. Selama hampir dua puluh menit, Khaira keluar dari kamar mandi. Ia merasa segar dan bersih, dengan rambut yang panjangnya sebatas punggung masih dalam keadaan basah.


Ia pun merasakan perutnya keroncongan, dan mencari keberadaan makanan yang mungkin saja bisa ia makan. Tapi tidak ada apapun, azan isya pun berkumandang. Terdengar tidak jauh dari kosan Mita. Berhubung Khaira sedang ada halangan, sudah empat hari, mungkin esok tuntas, kini ia hanya bisa mendengarkan suara azan.


Berpikir untuk mengabari Abah, namun saat melakukan panggilan. Ponselnya tiba-tiba mati, seketika Khaira dalam keadaan gelap gulita, hanya ada secercah cahaya dari arah teras kosan.


Rasa ngantuk pun mendera matanya, Khaira memulai memejamkan mata. Sembilan puluh detik kemudian alam bawah sadarnya telah mengajaknya bermain-main di alam mimpi.


Entah berapa lamanya sekian sang waktu, di habiskan seseorang untuk tertidur. Suara krusak-krusuk sayup-sayup terdengar dari arah pintu. Namun, Khaira yang merasakan kantuk berat ini pun kembali tertidur.


Sampai Khaira merasa ada seseorang tiba-tiba tidur disebelahnya, ‘Bruk'. Khaira berpikir itu adalah Mita, yang sangat-sangat merasa lelah setelah seharian kerja. Sehingga Mita tidak menyapanya, atau memang tidak berniat membangunkan nya.


Sampai waktu yang cukup lama, kali ini Khaira benar-benar terhenyak, oleh suara cempreng milik Mita,


"Khairaaa!”


Khaira langsung terduduk sambil mengucek mata kantuknya dan mendapati Mita sedang berdiri di ambang pintu, cahaya senter dari handphone yang sedang dipegang Mita menyoroti Khaira yang tampak sangat kesilauan.


"Ra, siapa cowok yang Lo bawa masuk ke kamar gue?!”tanya Mita dengan nada tinggi, membuat Khaira langsung mengalihkan pandangan kearah sampingnya, dan yang tidak di sangka-sangka, ada seorang pria asing yang sedang berbaring serta bertelanjang dada.


“Waaduh! Siapa dia, Mita?!” jerit Khaira secepat kilat bangun dari kasur.


•••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2