
Setelah sholat tahajud, ia tak kunjung beranjak dari duduknya di atas sajadah. Khaira merenungi setiap kesalahan yang pernah di lakukannya.
Serta merenungkan rasa rindunya terhadap kampung halamannya. Merindukan Abah, temannya di kampung dan salah satunya merindukan Asep.
Dalam keadaan sunyi senyap dimalam hari seperti inilah, waktu yang pas untuk merenungkan segala aspek kehidupan.
Namun terdengar kunci pintu rumah dibuka, Khaira mengira itu adalah sang empu yang mempunyai rumah. Khaira lebih memilih diam tak membuka suara, Ia lantas menghampiri Kevin yang sedang memunggungi ruang tamu dikarenakan sedang mengunci pintu.
Tanpa dinyana tanpa disangka pada saat Kevin membalikkan tubuh, pria dihadapannya berteriak.
"Aaarrrhhh..." teriak Kevin lantang.
Bukan hanya Kevin yang terkejut dan berteriak, akan tetapi Khaira juga tercengang mendengar Kevin berteriak.
"Aaaahhh..." teriak Khaira spontan menutup telinganya.
Kevin menyadari bahwa sesosok putih didepannya merupakan Khaira yang sedang memakai mukena. Ia refleks menutup mulut Khaira menggunakan tangannya.
"Diam!" seru Kevin.
Seketika senyap, netra Kevin melihat wajah Khaira dalam keremangan cahaya.
"Emmm..." kata Khaira mendapati tangan Kevin membekap mulutnya.
Kevin menyadari tangannya yang membekap mulut Khaira, ia menariknya dari sana.
Khaira mengusap mulutnya bekas bekapan Kevin, "Kenapa sih mesti teriak-teriak!"
"Habis lo ngagetin begitu, dalam keadaan rumah gelap gulita. Elo pakai mukenah!" berang Kevin lantas berjalan menuju saklar lampu. Seketika terang benderang lah ruang tamu dan melihat Khaira yang memakai mukena.
Khaira berjalan menuju ruang tengah, "Memang Mas Kevin aja yang kaget, aku juga tau! Apalagi aku baru melihat seseorang memakai topeng menyeramkan di luar jendela!"
Diingatnya lagi topeng menyeramkan yang ia temukan di jalanan depan rumah. Kevin menyusul Khaira yang sedang berjalan ke dapur, dilihatnya gadis itu sedang mengambil gelas lantas menuangkan air dari teko bening di meja makan.
"Seseorang pakai topeng?" Kevin mengulangi perkataan Khaira. Ia menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan Khaira yang sedang meminum air.
Khaira mengangguk, "Iya, kamu punya musuh kah? Sampai seseorang melayangkan teror seperti itu?"
Kevin terdiam, ia berpikir mengenai musuh. Yah, musuhnya sangat banyak dari kalangan para preman dan begal tapi tidak mungkin mereka tahu rumahnya. Dan di diskotek terlihat baik-baik saja. Terkecuali Frans.
"Apa mungkin Frans yang melakukan itu?" monolognya dalam hati, memikirkan Frans.
Melihat Kevin hanya diam saja, membuat Khaira bertanya-tanya apakah gerangan yang sedang dipikirkan Kevin? "Apa Mas Kevin sedang memikirkan atau merunut siapa saja musuh Mas Kevin?"
Kevin mengalihkan atensinya dari lemari dapur beralih melihat Khaira, "Ya seperti itulah. Tapi gue rasa ancaman atau teror yang mengarah sama gue kagak mungkin dengan cara seperti anak kecil kayak gini,"
"Gimana bisa terornya seperti anak kecil. Wong jelas-jelas aku melihat topeng menyeramkan itu berlumuran darah?" kata Khaira bersungut-sungut, mengingat betapa menyeramkan topeng berlumuran darah yang dilihatnya diluar jendela.
"Topengnya memang terlihat menyeramkan, tapi bukan darah. Melainkan cat warna merah yang melumuri topeng," jawab Kevin, saat menemukan topeng di jalanan depan rumah.
__ADS_1
Khaira mengernyitkan dahinya, "Kok Mas Kevin bisa tau kalau warna merah yang melumuri topeng menyeramkan itu bukan darah? Jangan-jangan Mas Kevin sendiri yang menakut-nakuti ku?" tuduhnya.
Kevin menatap Khaira malas, "Ngapain gue main-main begitu. Memang apa untungnya buat gue. Kena omelan, iya!"
"Ya habis, kenapa Mas Kevin bisa tahu kalau warna merah itu bukan darah?" tanya Khaira masih tidak melunakkan suaranya.
"Gue ngelihat topeng itu didepan rumah, dan gue sendiri udah ngecek. Kalau warna merahnya bukan darah, melainkan cat yang udah mulai mengering," kata Kevin.
Khaira manggut-manggut tipis, "Ya maaf kalau aku sempat menduga kalau orang yang memakai topeng itu kamu,"
"Lo bukan lagi menduga, tapi secara langsung lo nuduh gue yang melakukannya," balas Kevin seperti mengerutu.
Khaira menunduk, ia menyadari bahwa ia telah menuduh Kevin, "Ya maaf kalau aku berpikiran negatif,"
"Kapan sih lo berpikir positif tentang gue?" sergah Kevin.
Deg... Khaira terdiam. Ia memang selalu saja berpikiran negatif tentang Kevin. Bahkan dari 10, hanya 1 persen ia berpikiran positif tentang Kevin.
Dilihatnya Khaira yang menunduk membuat Kevin sedikit melunak, "Lo nggak buka pintu kan?"
Spontanitas Khiara mengangkat wajah, netranya bertemu pandang dengan netra Kevin, "Enggaklah, aku kan takut. Kota ini sangat asing, bahkan kamu pun masih asing bagiku,"
Kevin mengangkat alisnya, ia lantas beranjak dari duduknya. "Tidurlah, nanti gue bakal cari tau siapa yang udah neror pakai topeng kayak gitu. Biar lo kagak nuduh gue lagi yang melakukannya."
Lantas Kevin melenggang pergi dari hadapan Khaira yang masih duduk di kursi meja makan, berjalan menuju kamarnya sendiri.
Rasa-rasanya capek kerjanya tidak ada artinya. Tidak ada yang bisa diharapkan untuk bisa membuatnya dipercayai, ada setitik rasa kecewa di sudut hatinya kala dianggap negatif oleh Khaira.
~~
Setelah melakukan aktivitas pagi, seperti biasanya Kevin akan mengantar Khaira.
Butuh waktu empat puluh menit untuk sampai ke restauran Padang Bulan.
"Makasih Mas Kevin," kata Khaira setelah turun dari boncengan.
"Hemm.." jawab Kevin hanya dengan berdehem saja, bahkan tanpa menoleh kearah Khaira.
Melihat Kevin tak acuh, membuat Khaira menduga Kevin masih marah atas tuduhannya semalam, "Mas Kevin masih marah?"
"Nggak tuh!" jawab Kevin sekenanya.
"Kalau nggak marah kenapa ngadepnya lurus aja, nggak melihat ku?" kata Khaira terus menatap Kevin dari samping wajah kanan.
"Gue lagi lihat cewek cakep!" balas Kevin terus menatap lurus ke depan.
Khaira langsung mengikuti arah pandang Kevin, dan benar saja ada seorang wanita cantik seperti model akan memasuki gedung sebelah restauran. Ia manggut-manggut, lalu kembali melihat Kevin sinis.
Tidak seperti biasanya sebelum masuk kedalam restauran maka Khaira akan menjabat tangan Kevin. Namun kali ini ia melenggang pergi menuju samping restauran, bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun lagi kepada Kevin.
__ADS_1
"Kenapa lo belum masuk Ra?" tanpa menoleh, Kevin bertanya kepada Khaira, tidak ditemukannya Khaira menjawab. Kevin lantas menoleh kearah samping kanannya, dan melihat Khaira sudah melenggang pergi.
"Kenapa tuh anak nyelonong aja, kagak salim kagak pamit. Biasanya kan kayak anak SD?" gumam Kevin seorang diri.
"Woy Ra lo belum salim? Jangan nginep lagi di kosan Mita!" teriaknya memanggil Khaira, namun gadis itu tidak menoleh bahkan tidak menghentikan langkahnya.
"Wah tu cewek emang sikapnya galak!" gerutunya kesal.
Saat sedang mengamati Khaira, seseorang menegurnya. Membuat Kevin langsung mengalihkan atensinya menoleh kepada seseorang yang memanggilnya.
"Kevin, tumben lo disini?" dialah sang pemilik restauran Padang Bulan.
Ditatapnya Rezki yang sudah mendekat, "Kenapa emangnya, gue kagak boleh ke sini?"
"Ya kagak, biasanya kan lo kalau mau makan pesan delivery," jawab Rezki, dilihatnya dari kejauhan Mita memarkirkan motornya di area parkiran khusus karyawan.
Begitu juga dengan Mita setelah memarkirkan motor, gadis itu melihat kearahnya dan terlihat mendekat. Rezki cukup terpana melihat raut wajah Mita yang ceria.
"Bos." sapa Mita yang baru datang.
"Motor lo udah diperbaiki, Mit?" tanya Rezki pada karyawatinya.
"Iya," dilihatnya Kevin yang hendak pergi, "Bos sama Kevin saling kenal kah?" tanyanya pada Rezki.
"Gue pergi dulu Ki!" ujar Kevin lalu melajukan motornya meninggalkan pelataran restauran Rezki.
Rezki melihat kepergian Kevin, dan kembali menatap Mita. Gadis cantik yang mempunyai potongan rambut sebahu, "Dia teman kuliah ku," jawabnya atas pertanyaan Mita tentang Kevin.
Mita manggut-manggut.
"Kenapa lo juga kenal sama Kevin?" tanya Rezki.
"Emm... kalau Kevin temen Bos, kenapa selama satu tahun gue kerja di sini kagak pernah lihat Kevin ke sini?" tanya Mita menyelidik.
"Iya makanya gue heran, kenapa bisa Kevin dateng ke sini. Padahal dia selalu pesan delivery, dan terakhir kali gue lihat Kevin ke restauran beberapa bulan lalu," jawab Rezki, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Berarti Kevin pernah ke sini?" Mita bertanya lagi guna memastikan, bahwa ia memang tidak merasa asing dengan wajah Kevin.
Rezki mengangguk, "Kenapa? Apa ada yang salah, atau lo pernah ada masalah sama dia?"
Mita menggeleng, "Nggak pa-pa,"
"Ya udah ayok masuk." balas Rezki sembari merangkul pundak Mita.
"Ih apaan sih ini main rangkul-rangkul!" Mita melepaskan rangkulan Rezki dan berlari meninggalkan Bos-nya.
Ditatapnya kepergian Mita, seorang karyawati yang sudah lama juga Rezki mengenalnya. Bahkan sebelum Mita bekerja di restaurannya. Rezki sudah mengenal Mita dari tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
Bersambung...