Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Salah culik


__ADS_3

"Bi..., pada kemana kok tidak ada orang?"


Semua orang tersentak kaget mendengar teriakan silla juga saat melihat silla menuruni anak tangga dengan tenang tak ada rasa khawatir sedikit pun.


Baik rafa mau pun bryan tahu betul kalau silla sangat sayang pada ane, tetapi silla tak menunjukkan wajah cemas sedikit pun.


"Non silla?"


"Dimana kursi roda kak ane bi? Belum kering ya?"


"Kenapa menatap silla seperti itu? Ada apa?"


Merasa sedikit curiga dengan tatapan semua orang, silla mengerutkan dahinya menatap curiga pada mereka.


"Kak ian dan kak rafa kenapa? Kenapa semua orang menatap silla seperti itu?"


"Ada yang salah?"


"Non..., non ane diculik."


"Diculik? Apa maksud bibi?"


"Stevi baru saja menelepon kalau ane ada pada nya, maksudnya kakak ipar di culik stevi."


Ucap rafa.


"Kak ane diculik? Masa sih. Lalu..., siapa yang mandi bersama silla tadi?"


"Haa."


"Haa."


"Haa."


Semua orang terkejut mendengar ucapan silla.


"Kenapa? Tak percaya? Lihatlah ke atas!"


Bryan berlari menaiki anak tangga tanpa menunggu lama.


Bryan terkejut melihat ane yang sudah duduk setengah bersandar di tempat tidur.


"Sayang..., kau tidak apa- apa? Syukurlah."


Ucap bryan memeluk tubuh istrinya.


Semua orang mengikuti bryan naik ke atas melihat kebenaran yang diucapkan silla, juga silla sendiri setelah mencari sesuatu di dalam kulkas.


"Non..., non tidak apa- apa?"


Bi inah orang pertama dari semua asisten yang berani mendekati ane.


"Bibi sangat khawatir."


"Jika ane disini lalu..., siapa yang diculik stevi?"


Ucap rafa.


"Entahlah? Mungkin nana, silla tak mendengar kabar penculikan itu."


Ucap silla.


"Nana?"


" Dia yang menemani silla mengganti baju kakak ipar, juga membantu memindahkan kakak ipar ke dalam bathup."


Ucap silla.


"Maksudmu?"


"Iya, sewaktu kakak ipar makan cake silla mencium bau anyir cake. Lalu..., silla meminta nana yang menemani silla membantu mengangkat kakak ipar ke dalam bath up."


"Karena silla rindu kebersamaan dengan kakak ipar jadi silla memutuskan ikut berendam bersama kak ane, hihihi."


Ucap silla sedikit tersenyum meringis menunjukkan giginya.


"Lalu kursi roda itu?"


Ucap rafa yang merasa penasaran.


"Silla menyuruh nana menjemur kursi roda itu karena sedikit basah setelah dibersihkan nana. Ada sedikit cipratan kue ."


"Lah..., berarti yang di culik nana? Bagaimana ini den? Mira pasti khawatir pada nana."


Ucap bi inah.


"Tenanglah, bi! Saya akan berusaha mencari dimana keberadaan gadis itu."


"Silla tak mengerti bagaimana mereka bisa melewati pintu gerbang dengan penjagaan yang sangat ketat?"


Ucap silla.


Rafa tersenyum mengusap kepala silla, menyadari istrinya masih terlalu polos mengerti tentang kelicikan orang lain yang mengarah rancah kejahatan.


"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Ayo kita pulang!"


Ucap rafa.


"Ya..., baiklah. Kak..., silla pulang dulu ya. Besuk silla akan datang lagi, kalau silla belum menikah pasti silla akan menginap disini tapi sekarang silla sudah menikah."


Silla memeluk ane merindukan canda tawa ane meskipun hatinya perih, rupanya silla sangat tegar.


"Aku pulang dulu."


Ucap rafa menepuk bahu bryan.


"Hem."


Bi inah merasa lega ternyata ane baik- baik saja, tetapi sedikit khawatir karena rupanya orang tersebut menculik sepupu mira.


Semua orang bertanya- tanya, bagaimana mungkin mereka menculik nana dan spa yang dilakukan nana sehingga membuat para penculik itu berpikir nana adalah ane.


Bryan duduk disamping ane memeluk gadis itu erat dalam pelukan nya. Rasa khawatir yang sempat menyelimutinya berubah menjadi rasa lega, rupanya stevi salah menculik orang.

__ADS_1


"Halo."


"Apa yang kau inginkan?"


"Hahaha..., baiklah. Rupanya kau terlalu berambisi padaku."


"Tapi..., apa kau yakin tidak melakukan kesalahan?"


"Baiklah kalau menurutmu benar."


"Tapi..., aku sudah menyerahkan bukti rekaman suaramu pada pihak yang berwajib."


"Selamat menikmati permainan."


Bryan tersenyum puas setelah menerima telepon dari seseorang di seberang sana.


"Jay..., wanita itu menculik salah satu asisten rumah tangga ku. Setelah mengetahui dimana markasnya berada, serahkan beberapa bukti pada pihak yang berwajib."


"Tidak, ane baik- baik saja."


"Beruntung silla ada disini."


"Entahlah?"


"O ya, apa semua dokumen perjalanan ku sudah siap?"


"Ya, baiklah. Terima kasih."


Bryan menutup sambungan telepon nya setelah menelepon jay dan juga tersenyum pada istrinya.


"Kita akan segera meninggalkan kota ini, sayang."


"Benarkah?"


"Ssts...., jangan sampai ada yang mendengar."


Bisik bryan meletakkan jari telunjuk nya di bibir ane. Seperti yang di ketahui drama yang mereka lakukan tak ada seorang pun yang tahu.


Sementara rafa yang mengajak pulang silla masih dalam perjalanan, silla tampak diam termenung tak mengeluarkan suara. Rafa sedikit heran dengan gadisnya yang terbiasa cerewet diam membisu, menoleh ke arah samping yang mana silla telah tidur pulas.


"Hah..., rupanya sudah tidur. Pantas saja tak ada suaranya."


"Kau tampak kelelahan."


"Besuk aku tidak akan mengajak mu bertemu kakak ipar."


Gumam rafa mengusap pelan wajah silla.


Tak berapa lama mereka sampai di lantai basement apartemen mereka, rafa terpaksa menggendong silla setelah beberapa saat tak berhasil membangunkan nya.


"Pulas sekali."


"Pasti sangat melelahkan mengurus kakak ipar."


"Kau sudah dewasa rupanya."


"Gadis kecil ku yang manja."


Rafa memutuskan berbaring disampingnya setelah kepenatan menghampiri isi kepalanya dengan berbagai kesibukan di kantor ian maupun dengan persiapan nya pindah ke sidney. Rafa harus membagi waktu antara keduanya juga mengawasi silla dari segala ancaman yang saat ini tengah melanda keluarga mahendra.


Rasa lelah membuat rafa tertidur dengan cepat bahkan tak melepaskan silla dari pelukan nya.


"Eughh..., Apa ini? Kenapa berat sekali?"


Silla mulai membuka matanya saat merasa ada sebuah beban di peeutnya.


"Hah..., tangan kakak."


"Dimana? Rumah? Jadi sudah sampai rumah?"


"Rupanya aku tidur pulas sampai nggak terasa sudah di rumah."


"Tidak..., tidak..., kenapa sudah sampai rumah?"


" Aaa.... ."


Silla sedikit berteriak kesal karena sudah sampai rumah yang semula ingin ke fresh mart membeli sesuatu.


"Ada apa sayang?"


"Hihihi..., tidak kak. Silla hanya mimpi."


Silla meringis secara perlahan menoleh rafa ketika mendengar suara nya. Silka sedikit menyesal telah membangunkan rafa yang semula tidur pulas.


"Mimpi?"


Silla tersenyum menganggukkan kepalanya sementara rafa hanya mengerutkan dahinya.


"Hah..., syukurlah. Kakak kira terjadi sesuatu dengan mu."


Ucap rafa merasa lega kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur.


"Huh..., untung saja. Kasihan kak rafa sepertinya sangat lelah."


Gumam silla dalam hati menyentuh dadanya sendiri sedikit lega.


Silla secara perlahan turun dari tempat tidur, tak ingin mengganggu rafa yang kembali memejamkan matanya setelah sempat mengganggunya dengan teriakan kecilnya yang tak sengaja secara reflek keluar dari bibir mungilnya.


Namun belum sempat menurunkan kedua kakinya, sebuah tangan menariknya kembali ke tempat tidur. Rasa keterkejutan nya membuat silla sempat berteriak.


"Aaaa."


Namun dengan cepat pula silla menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.


"Kakak ini..., bikin silla terkejut saja."


"Mau kemana?"


"Ke dapur memeriksa bahan makanan yang bisa di masak."


"Tadinya ingin menyuruh kakak mampir di freshmart, tapi sudah sampai rumah."


Ucap silla.

__ADS_1


"Hem..., kau tertidur pulas jadi kakak tak tega membangunkan mu."


Jawab rafa yang memejamkan mata kembali dengan salah satu tangan memeluk tubuh silla.


"Kita pesan makanan saja atau makan di luar, sekalian belanja kebutuhan rumah."


"Makan diluar saja."


Ucap silla.


"Baiklah, tapi temani kakak tidur dulu. Kakak masih ngantuk."


"Kakak saja yang tidur, silla ingin berendam dulu."


"Tidak. Kau sudah menggangguku sebagai hukuman nya kau harus menemani kakak tidur."


"Tapi silla sudah tak ngantuk, kak."


"Aku akan membantu mu."


Silla mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan rafa dan juga menatap heran pada suami nya.


Rafa yang seketika melompat ke atas tubuh silla membuat silla menyadari apa maksud dari perkataan suaminya.


Pikiran silla melayang jauh ke angkasa berharap apa yang sedang dipikirkan nya tidak terjadi. Namun semua hanya angan- angan saja, meskipun berkelit berusaha menolak nyatanya silla larut dalam permainan suaminya hingga terkapar lemah.


"Apa akan ada junior disini?"


Gumam rafa menyentuh pelan perut istrinya.


"Hah..., kenapa aku memikirkan perkataan ian?"


"Tidak..., tidak..., tidak. Aku tidak boleh egois."


"Lagi pula akan sangat menyenangkan pacaran setelah menikah."


Ucap rafa tersenyum lalu mencium kening istrinya, sebelum akhirnya memutuskan membersihkan diri.


"Oo..., jadi ingin ada junior disini?"


Gumam silla dalam hati yang membuka matanya menatap langit- langit setelah suaminya meninggalkan nya.


"Apa aku harus semuda ini melahirkan? Bagaimana dengan kuliahku?"


"Tapi..., bagaimana kalau kak rafa mencari wanita lain karena aku menunda kehamilan?"


"Tidak..., itu tidak mungkin."


"Hah..., kakak sangat menginginkan nya kah?"


"Tidak, aku juga tidak boleh egois menolak keinginan suami silla. Apalagi kita sudah menikah."


"Bisa saja...., lagipula ada papa di sidney. Hihihi..., mereka harus bekerja sama menjaga baby saat aku kuliah."


Tak menunggu lama, silla menyusul suaminya yang saat ini tengah berendam di kamar mandi.


"Hah..., kau membuat kakak terkejut saja. Sudah bangun?"


"Hem."


"Kemarilah! Berendam dan menikmati anggur merah akan menghangatkan badan."


"Silla tidak suka."


"Kau harus mencoba nya."


"Tidak, kak. Silla takut mabuk."


"Baiklah, kakak tidak akan memaksamu."


Bersandar di dada sang suami, silla meraih satu tangan yang merentang pada sandaran bath up.


"Kak..., apa kakak menginginkan ini?"


Silla meletakkan tangan rafa tepat di atas perut silla.


"Tentu saja, tapi tidak secepat itu."


"Kenapa?"


"Bukankah kau akan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?"


"Benar, tapi jika kakak menginginkan nya silla akan menunda nya sampai melahirkan."


Ucap silla.


"Setelah melahirkan, baru silla mendaftarkan diri kuliah."


"Lalu..., baby kita?"


"Kakak dan papa yang harus menjaganya."


Ucap silla tersenyum menoleh pada rafa, mengedipkan salah satu matanya.


"Hahaha..., kalau begitu tidak usah."


"Kenapa? Jadi kakak tak ingin punya baby?"


"Tapi tak harus kau meninggalkan nya."


" Siapa yang bilang? Silla kan hanya kuliah, setelah pulang ya sudah pasti baby dengan silla."


"Tidak. Kakak tak ingin kau kecapekan."


"Tapi..., bagaimana kalau papa menginginkan cucu secepatnya?"


Ucap silla membalikkan tubuhnya menatap sang suami.


"Baiklah..., baiklah. Kita akan memikirkan nya nanti."


Rayuan silla rupanya tak sampai disana saja, rafa bahkan harus mencetak satu ronde lagi akibat rayuan maut sang istri.


Bersambung🙏😊

__ADS_1


__ADS_2