Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Menyikap tabir


__ADS_3

Sorot mata Erik menilai bahwa penampilan gadis didepannya memang berbeda dari kebanyakan wanita kota. Dia berkesan sederhana dan kalem.


"Kenapa kamu terlihat sangat gugup, rileks Nona." kata Erik membaca gesture Khaira yang memang terlihat sangat gugup dan gelisah.


Glek... Khaira menelan ludahnya, ia memang membenarkan ucapan pria bernama Erik. Ia memang gugup bahkan sangat tegang, ketika para pengunjung cafe satu persatu keluar dari dalam cafe, dan hanya tertinggal seorang pelayan yang berdiri tidak jauh. Dilihatnya Erik yang mengangkat tangannya, kode sebagai memanggil pelayan.


"Tolong bawakan menu yang paling mahal dan enak di sini." titah Erik kepada pelayan hanya dengan menjentikkan jari.


"Siap tuan." jawab si pelayan.


Khaira tercengang melihat pelayan langsung saja menyetujui permintaan pria bernama Erik. Ia membulatkan matanya menatap Erik, ada rasa cemas semakin menyeruak dari lubuk hatinya. Jantungnya berdegup kencang, seketika perasaannya tidak enak.


Terlebih lagi, kini pria setengah baya itu sedang melihatnya dengan tatapan tajam. Berulang kali Khaira menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Seorang pelayan mengantar pesanan yang dipesan oleh Erik. Lalu menaruhnya di atas meja.


"Silahkan dinikmati sajiannya terlebih dahulu, baru kita bisa bicara santai mengenai hal tentang Kevin," kata Erik masih dengan nada halus namun ia sendiri bisa mendengar suaranya yang tegas.


"Ehem.." dehem kecil Khaira, ia menatap cake kue yang terlihat sangat enak, bahkan coffe yang disajikan sangat nikmat. Namun sama sekali tak membuat Khaira merasa santai. Netranya beralih menatap wajah Erik. "langsung saja tuan, apa yang ingin anda sampaikan tentang Mas Kevin? Karena saya harus segera pulang," Khaira bertanya secara lugas kepada pria setengah baya yang sedang menatapnya tajam. Ia juga tidak ingin mengulur waktu, kalau bukan karena Kevin, tentunya ia tidak ingin ikut bersama dengan pria asing.


Erik melihat Khaira lantas tatapannya beralih melihat cangkir coffee yang dipesannya. Dengan sangat santai, Erik mengambil cangkir lantas meminumnya hanya sedikit saja, lalu menaruhnya kembali ke meja cukup keras hingga menimbulkan suara nyaring.


Khaira terkejut mendengar dentingan cangkir coffee yang di taruh Erik cukup keras. Ia membelalakkan matanya menatap cangkir putih, lalu beralih menatap Erik.


"Tinggalkan Kevin!" kata Erik tegas.


Deg...


Lagi dan lagi Khaira menelan ludahnya yang serasa mengganjal. Bahkan pernafasannya serasa tercekat di tenggorokan mendengar suara pria setengah baya dihadapannya yang terdengar sangat tegas. Irama jantungnya juga semakin tidak beraturan. Keringat mulai mengucur membasahi sekujur tubuhnya.


"M-maksud anda apa?" kata Khaira bertanya gagap.


Erik tersenyum sinis, "Saya sudah berbicara kepada Basuki. Kevin akan melangsungkan pernikahan dengan Clara, dan kamu hanyalah penghalang yang nantinya hanya akan menjadi parasit di hubungan antara Kevin dan Clara!"


Khaira terperangah mendengar bahwa Kevin akan menikah, diingatnya lagi nama 'Basuki adalah ayah Kevin dan juga wanita muda bernama Clara, wanita yang telah mengancamnya beberapa hari lalu.


"Siapa sebenarnya anda?"


Erik menarik ujung bibirnya tipis, ditatapnya seorang wanita muda yang nampak sedang gelisah, "Saya adalah Ayah Clara, dan saya tidak akan membiarkan kamu menghalang-halangi pernikahan anak saya!"

__ADS_1


Netra Khaira membulat sempurna, mendengar pengakuan Erik. Bahwa pria didepannya adalah Ayah dari wanita bernama Clara, "Apa?"


"Bukankah pernikahan mu dan Kevin hanya pernikahan formalitas saja? Ingatlah selalu dimana tempatmu, dan kembalilah ke kampung! Karena orang kampung sejatinya tidak level dengan kehidupan di kota!" Erik mengeluarkan segepok uang dari dalam saku jasnya.


Khaira semakin dilanda ketegangan, dilihatnya pria setengah baya yang mengaku ayah dari Clara mengeluarkan uang dari saku jas yang terlihat mahal. Uang yang tidak sedikit, Khaira merasa uang itu bertumpuk dalam jumlah yang banyak.


"Ini adalah uang untuk tutup mulut agar kamu tidak memberitahu Kevin, jika saya bertemu denganmu, lalu pergilah dari kehidupan Kevin, selamanya. Jangan pernah kembali lagi, kalau kamu merasa uang ini kurang, anak buah saya akan memberikan mu sisanya."


Erik berkata penuh dengan peringatan agar Khaira tidak memberitahu tentang pertemuannya kepada Kevin. Lalu melemparkan gepokan uang kearah Khaira hingga mengenai wajah istri siri Kevin.


Khaira melihat uang berwarna merah bertaburan seperti hujan uang di hadapannya, sampai-sampai mengenai wajahnya. Rahangnya mengeras, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Mendadak rasa takut, gugup, gelisah dan tegang berubah menjadi keberanian. Khaira tidak menghendaki seseorang belaku kasar bahkan menjatuhkan harga dirinya hanya dengan uang, ia juga merasa Kevin bukanlah barang yang bisa dengan mudah ditukar dengan uang.


"Kemarin anak anda yang telah mengancam saya, dan sekarang anda? Jika kalian memang ingin saya menjauhi Kevin, kenapa tidak anda bicarakan dengan Kevin?"


Erik tergelak mendengar bahwa Clara juga telah melayangkan ancaman terhadap istri siri Kevin. "Itu karena kamu tidak tahu malu! Kamu sudah diberi peringatan tapi masih ngeyel!"


Khaira tersenyum tipis.


"Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda," Khaira sedikit membungkuk, seolah ia sedang memberi hormat kepada pria setengah baya itu. "jika saya menolak menjauhi Kevin apa yang akan anda dan anak anda perbuat terhadap saya? Dan saya merasa uang yang anda hamburkan secara tidak hormat sampai mengenai wajah saya ini masih kurang, saya melihat anda bukanlah orang sembarangan, namun sikap anda menyikap tabir bahwa anda bukan seseorang yang sepatutnya dihormati!" Khaira berkata dengan sangat lugas dan tegas, tatapannya menatap nyalang kepada pria didepannya.


"Jika saya mengakui bahwa saya memang gadis kampung, lantas darimana semua orang kota berasal?" Khaira bertanya tegas, namun sebisa mungkin agar tak terdengar seperti berteriak.


Melihat keberanian dan bantahan dari Khaira yang pandai mendebat, membuat Erik semakin geram lamat-lamat berubah menjadi garang, "Enyahlah dari hadapan ku! Jika dalam waktu seminggu ini kamu tidak meninggalkan Kevin, maka nyawamu adalah taruhannya!"


Khaira tergelak mendengar nyawanya mendapat ancaman. Namun malah semakin membuat nyalinya tertantang, seketika kelopak matanya serasa memanas lamat-lamat menjadi genangan air mata hingga membuat pandangannya mengabur.


"Hidup dan mati saya adalah takdir Allah, bukan di tangan anda ataupun di tangan orang-orang yang anda suruh akan membunuh saya. Saya akan tetap hidup sampai Yaumil Kiamat!" tukas Khaira bersuara gemetar.


Erik menegaskan rahangnya, netra menyiratkan ketidaksukaannya melihat keberanian Khaira, ia lantas berdiri mengangkat tangannya, namun sekelebat ingatan tentang putri satu-satunya menghinggapi sanubari hatinya sebagai seorang ayah. Ia melihat Khaira seperti melihat Clara yang sedang menahan tangis.


Seketika melihat tangan Erik yang terangkat membuat Khaira tertunduk takut, sekelebat ingatan tentang Abah menghinggapi perasaannya, genangan air dimatanya berubah menjadi buliran air mata yang terjatuh di punggung tangannya. "Abah." panggilnya dalam hati.


Khaira memberanikan diri mengangkat wajahnya.


Netra Khaira yang dipenuhi genangan air mata berhasil menghipnotis Erik sebagai seorang ayah yang membesarkan putri kecilnya, ia mengurungkan niatnya hendak melayangkan tamparan keras kearah wajah Khaira. Kini tangan Erik seolah menggantung di udara.


Erik menarik tangannya, dan melipat tangannya di belakang pinggang, tanpa melihat Khaira, ia berkata, "Pergilah sebelum saya benar-benar habis kesabaran! Dan saya mohon, sebagai seorang ayah yang ingin melihat putrinya bahagia, tinggalkan Kevin. Besar cintamu saat ini, tidak melebihi besar rasa cinta putriku kepada Kevin, dan saya yakin kamu akan mendapatkan pengganti Kevin."

__ADS_1


Mendengar semua perkataan pria setengah baya bernama Erik. Membuat Khaira merasa dilema, hatinya seperti kulit yang tertancap duri, sangat pegal dan sakit, diiringi dengan rasa perih.


Khaira menahan tangis agak tidak menjadi sesenggukan. Dilihatnya uang yang berserakan di meja dan di lantai cafe, ia lantas memungutinya dan mengumpulkannya menjadi satu.


Erik melihat Khaira memungut uang yang berserakan, berspekulasi bahwa Khaira adalah gadis yang sangat licik.


"Baiklah, akan saya pikirkan." ujar Khaira, lalu meninggalkan Erik dan membawa uang-uang yang semula dihamburkan Erik ke hadapannya. Ia merasa Erik tidaklah membutuhkan uang-uang ini. Biarkan saja pria setengah baya itu berpikiran ia adalah gadis yang materialistis ataupun tidak mempunyai harga diri. Pan pora!


Perasaan yang semula sendu, berubah menjadi senyuman kecil. Erik melihat Khaira keluar dari cafe dengan membawa uang yang semula dihamburkan nya. "Dasar gadis licik. Pintar sekali dia memainkan drama!"


~~


Di perjalanan menuju pulang ke rumah Kevin. Khaira menangis terisak-isak, tak terbendung lagi harga dirinya telah diinjak-injak oleh sebagian orang yang tidak mengenalnya dengan baik.


"Abah, kenapa hidup Ning seperti ini? Apa bedanya Ning dengan pengemis, bahkan kini Ning membawa uang-uang yang semula di lemparkan ke wajah Ning. Apakah Ning sudah seperti pengemis Bah?" gumam Khaira disela-sela tangisnya.


Khaira melihat tunawisma, yah niatnya mengambil uang yang dihamburkan Erik hanya untuk ini. Ia lantas membagikan uang yang semula dihamburkan Erik kepada para tunawisma, pengemis dan kepada para pengguna jalan seperti tukang ojek dan pedagang kaki lima.


Entah berapa jumlah total keseluruhan, Khaira tak tahu, ia hanya ingin membaginya. Ketika banyak dari orang-orang yang masih sangat kekurangan, namun segelintir orang kaya raya yang bersikap dermawan.


~~


Di dalam mobil mewah, Erik tersenyum senang. Nampaknya memang tidak sulit untuk membuat gadis kampungan itu meninggalkan Kevin.


"Aku tidak menduga, gadis kampung itu sangat pandai membuat aku melihatnya seperti Clara, tapi ternyata gadis kampungan itu cerdik dan licik, dengan membawa semua uang-uang ku,"


Ifan, selaku driver tak sengaja melihat seorang gadis yang sebelumnya ditemui oleh sang tuan. Ia lantas memperlambat laju mobilnya.


Merasa laju mobil yang dikemudikan Ifan lamban, sedangkan Erik akan menghadiri pertemuan dengan para kolega bisnis. Erik geram dan bertanya kepada Ifan, "Fan, kenapa kamu memperlambat laju mobilnya?"


Ifan terhenyak mendengar suara tuannya yang mengagetkan nya, "Itu tuan, itu Khaira..." Ifan menunjuk Khaira yang sedang membagi-bagikan uang kepada para pengguna jalan.


Erik melihat kemana Ifan menunjuk Khaira, netranya membulat sempurna.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2