Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Siapa pelakor?


__ADS_3

Malam adalah selimut kesunyian untuk menghangatkan sisi yang kelam dari kejamnya roda dunia. Rona gelap di hamparan angkasa, bertabur bintang kejora, cahaya bulan telah terang sepenuhnya.


Kevin dan Khaira, kini sedang berada di Club Boleros. Menunggu seseorang yang telah menjebak keduanya, di pikiran Kevin hanya ingin memberi memberi pelajaran pada gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik.


Tak ingin menyakiti, ataupun bertindak jahat kepada Clara, masih sama perasaannya, seperti halnya, seorang Kakak kepada Almarhumah Adiknya yang sudah berpulang kepada Sang Pencipta.


Seseorang yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Memasang raut wajah masam, tiada senyuman, tiada keceriaan.


"Duduklah." pinta Kevin padanya.


Clara nampaknya enggan, untuk duduk di antara Kevin dan Khaira.


"Gue bilang duduk!" pinta Kevin lagi bersuara sedikit meninggi.


Apalah daya, meskipun sungkan, namun pada akhirnya, gadis yang kini hanya memakai celana panjang biru, serta kaos putih pendek duduk dengan posisi bersandar. Tidak sedikitpun Clara melihat Khaira.


"Ada apa lo pengen ketemu sama gue, apa lo pengen ketawain gue, karena gue menerima kenyataan harus menikahi pria brengsek seperti Anto?" Clara menatap tajam Kevin.


"Clara, kamu sehat?" tanya Khaira yang melihat wajah Clara nampak pucat.


Clara enggan menjawab pertanyaan Khaira.


"Otaknya yang nggak sehat!" celetuk Kevin.


Clara geram mendengar perkataan Kevin yang seperti mengejek. "Iya, otak gue emang nggak sehat. Semua ini karena lo, Vin. Lo udah tega mengacuhkan perasaan gue ke elo, dan lo lebih mentingin nih pelakor!" Clara melirik Khaira tajam.


Baik Kevin maupun Khaira terhenyak mendengar tuduhan Clara yang mengarah pada Khaira. Kevin melepas tangannya yang semula mendekap di depan dada.


"Maksud lo siapa pelakor? Dengar Clara, niatan gue ketemu sama lo mau berterima kasih dan ngasih ucapan selamat. Bukan malah mendengar caci maki lo yang nggak ada faedahnya!" geram Kevin berkata sembari menunjuk Clara.


"Mas Kevin..." Khaira menarik tangan Kevin agar tidak menunjuk-nunjuk Clara, ia merasa kasihan melihat keadaan Clara yang seperti tidak ada gairah untuk hidup.


Kevin terdiam mendengar terguran dari Khaira. Ia melihat istrinya dan kembali bersitatap tajam pada sorot mata Clara.


"To the points aja!" sergah Clara.


"Gue mau ketemu sama lo, karena gue pengen mengucapkan terimakasih. Meskipun jebakan yang udah lo buat runyam, tapi gue akhirnya bertemu dengan Khaira," kata Kevin menjelaskan apa maksudnya ingin bertemu dengan Clara, sebelum hari pernikahan Clara di gelar.

__ADS_1


"Dan yang harus lo tau Clar, perasaan itu nggak bisa di paksa. Mau pakai cara apapun, sampai rencana lo mau menculik istri gue, kalau kita nggak ditakdirkan bersama, pasti nggak akan bersama, pun sebaliknya. Jika ditakdirkan berjodoh dengan cara apapun dan sejauh apapun jaraknya pasti akan bertemu. Gue sayang sama lo tapi cuma rasa sayang ke adik." jelas Kevin, berharap agar membuat Clara melunak.


Khaira terhenyak kala mendengar Kevin, bahwa Clara sempat akan menculiknya. "Sebegitu benci kah kamu padaku, Clara?"


Clara menunduk lesuh seraya memilin jari jemarinya. Detik berikutnya ia menatap wajah Kevin dengan tatapan nanar. "Lo masih ingat Vin, saat gue baru pulang sekolah. Ketika gue di bully habis-habisan dibelakang gedung sekolah dan lo dateng, lo menyelamatkan gue, pada saat itulah gue menganggap lo pahlawan gue, dan gue jatuh cinta sama lo." kilas balik Clara mengingat saat ia masih SMP kelas VII.


"Tapi Cla, rasa sayang gue ke elo udah mentok rasa sayangnya Kakak ke adik." jawab Kevin, ia tidak menyangka karena menyelamatkan Clara dari bullyan, saat menjemput almarhumah Kirana, polemik perasaan itu berawal.


"Nggak Vin! Lo nggak bisa bilang kayak gitu dengan mudah. Perasaan ini begitu menyiksa gue selama hampir sepuluh tahun gue memendamnya, dan berharap lo memiliki perasaan yang sama ke gue, sampai pada akhirnya lo berpacaran sama Sonia, gue benar-benar seperti terjatuh ke dasar laut dan perlahan membunuh jiwa gue.." Clara tidak bisa lagi membendung air matanya, semua perasaan yang terpendam, begitu menyayat hatinya.


"Maafin gue Cla! Tapi benar-benar perasaan gue nggak bisa membalas rasa cinta yang lo rasain." jawab Kevin, bersuara melunak menatap Clara iba.


Namun, Clara tetaplah Clara yang kepala batu. Ia sangat membenci siapapun wanitanya yang bersanding dengan Kevin. "Wanita kampungan ini boleh memiliki Kevin untuk saat ini, tapi besok gue kagak janji!"


Clara menatap Khiara tajam.


Iba dalam hati, kala mendengar cerita yang disampaikan Clara. Khaira melihat Kevin dan Clara. Ia sadari tidak mengerti, ia bukanlah siapa-siapa di masa lalu orang lain. Kendati Kevin kini telah menjadi suaminya, dan masa lalu hanyalah menjadi sebagian cerita.


"Pada akhirnya, aku hanyalah orang asing, yang mengetahui semua cerita dan rahasiamu." benak Khaira, merasa dirinya bagaikan orang asing di lingkungan Kevin.


"Clara, seperti apapun kamu memaksakan orang lain untuk kamu miliki, tapi apa yang bukan takdir mu, pasti nggak akan menjadi milikmu, pun juga sebaliknya denganku." kata Khaira menatap wajah Clara yang sayu.


"Lo nggak tau apapun tentang perasaan gue! Lo hanyalah orang yang sedikit beruntung." umpat Clara, dengan sorotan tajam bak bola api yang menggelinding kearah Khaira.


Clara beranjak dari duduknya.


"Vin, seharusnya lo pilih gue! Bukan cewek kampungan ini. Kevin kenapa lo nggak pernah melihat gue sebagai seorang wanita yang punya perasaan cinta sama lo." ratap Clara tentang hatinya, seraya mengusap air matanya yang kian luruh.


"Oke, oke baiklah! Duduklah, kita sudah seperti tontonan bagi pengunjung cafe." pinta Kevin, agar Clara duduk kembali. "Minumlah dulu Cla, agar hatimu tenang." Kevin memberikan segelas air mineral pada Clara yang terlihat bermuram durja.


Clara mengambil air minum yang di berikan Kevin, lalu meminumnya sampai habis. Setelah meminum air, Clara merasa sedikit lega, terlintas dalam benaknya.


"Sebelum menikah, gue ada permintaan, gue pengen Kevin mencium gue, sebagai wanita." pinta Clara, berharap agar Kevin mau mengabulkannya.


"Apa?" Khaira terkejut mendengar permintaan Clara.


Kevin tersenyum tipis melihat Khaira terkejut atas permintaan Clara. Ia jadi ingin lebih tahu seperti apa istrinya ini cemburu. Kevin kembali menatap Clara, "Baiklah."

__ADS_1


Khaira mendelikkan matanya menatap Kevin, yang sudah berdiri. "Tapi Mas?"


Clara tersenyum senang, ia lalu berdiri dan berjalan kearah Kevin.


Khaira ikut berdiri, ia membulatkan matanya menatap Kevin dan Clara yang kini sudah lebih dekat. Ia tidak tinggal diam, kala wajah Clara semakin mendekat wajah Kevin.


"Ide gila macam apa ini?" Khaira berseru lalu menarik lengan Kevin dan menjauhi Clara. "Mas Kevin, kita harus segera pulang!" tangannya menggenggam erat lengan Kevin.


Kevin tersenyum lebar, ia senang melihat reaksi istrinya yang jelas sedang cemburu. Dan cemburu tandanya cinta. Ia lantas menatap Clara yang berwajah geram menatap Khaira.


"Cla, sorry. Gue kagak bisa melakukan apa yang lo minta, sebaiknya lo pergi ke Anto, dan suruh dia melakukannya." ucap Kevin, ia mendekati Khaira lalu mencium singkat pipi istrinya.


Clara berdecak kesal membanting kursi hingga kursi kayu jatuh terjengkang, lantas pergi begitu saja meninggalkan Kevin dan Khaira. "Awas kalian sudah mempermainkan gue, lo bakal tahu akibatnya Vin. Tunggu aja!"


Seketika pengunjung club' tepatnya dibagian cafe Boleros terkejut dengan adanya kursi kayu yang terhempas ke lantai, mereka menatap sang disc jockey dan seorang wanita yang sedang berdiri disebelah Kevin. Dan ada beberapa pengunjung club' yang melihat kearah wanita berambut sebahu yang keluar dari cafe.


Khaira tercenung melihat brutalnya Clara.


Kevin menggenggam tangan Khaira, lalu membawanya keluar dari cafe, dan berdiri di bawah lampu berwarna kekuningan. "Jangan khawatir, aku nggak akan mencium wanita manapun, selama kamu menjadi istriku."


Khaira mengerjap menatap Kevin yang sedang tersenyum menatapnya. "Jadi sebelum aku menjadi istri mu, apa kamu terbiasa mencium banyak wanita?"


Kevin mencolek dagu Khaira. "Jangan pikirkan itu, ayok kita pulang."


"Tapi Mas Kevin belum jawab pertanyaan ku?" Khaira menuntut jawaban.


Kevin mengambil helm yang menggantung di kaca spion. Lalu memberikannya pada Khaira. "Apa kamu menuntut jawaban jujurku?"


Khaira mengangguk.


"Kalau aku berkata kamulah ciuman pertama ku, pasti kamu akan bilang aku pendusta?" Kevin memberikan helm pada Khaira.


Khaira menerima helm yang diberikan Kevin. "Aku nggak marah, meskipun aku bukan ciuman pertamamu. Tapi, aku bakal sangat marah, jika selama aku menjadi istri mu, kamu berani mencium wanita lain!"


Kevin melebarkan senyumnya. "Jangan berpikiran seperti itu, karena hal semacam itu nggak akan terjadi padaku."


__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2