
Motor yang Kevin kendalikan melaju dengan kecepatan tinggi, Khaira merasa, inikah sifat asli dingin Kevin yang sesungguhnya? Selalu memaksa, selalu bertindak sesuka hati. Hah benar-benar sangat jengkel dengan perlakuan Kevin yang tidak ada lembut-lembutnya untuk merayu.
Kevin merasa Khaira tidak berpegangan, ia lantas mengambil tangan Khaira, dan menuntun ke dadanya. Nampak Khaira tidak menolak membuat Kevin tersenyum tipis.
"Nah kan, memang lo tuh sukanya di paksa-paksa." selorohnya dalam hati melihat raut wajah Khaira yang masam dari pantulan spion.
Motor yang Kevin lajukan memasuki kawasan pelataran gedung mewah menjulang tinggi.
Sementara itu, Khaira merasa gedung yang menjadi tujuan Kevin serasa tidak asing. Namun tak dapat dipastikan bahwa gedung di depannya adalah gedung yang sama saat memergoki Kevin memasuki kamar apartemen mewah, karena pada malam dan siang hari terlihat sangat berbeda.
Kevin terus memacu gas motornya hingga memasuki memasuki basemen gedung. Dilihatnya dari spion Khaira nampak sangat mengamati basemen gedung, yang terdapat begitu banyak kendaraan terparkir.
Kevin mematikan mesin motornya, dan turun dari motor. Sedangkan Khaira, Kevin melihat terpukau akan parkiran didalam gedung, yang mungkin baru pertama kali ini Khaira lihat.
"Turun!" titah Kevin, menyuruh Khaira yang masih setia duduk di jok belakang.
"Ini dimana Mas Kevin? Gedung ini apa namanya? Kok aku merasa nggak asing?" tanya Khaira, lantas turun dari boncengan motor.
Seperti saat memakaikan helm, Kevin juga membantu melepaskan helm di kepala Khaira yang tertutupi hijab instan berwarna hitam, "Bukankah kamu pernah melihatku di gedung ini?"
"Tapi kan bukan di parkiran dalam gedung seperti ini? Aku melihatmu di gedung atas, sampai aku gemetaran masuk ke dalam lift, untung saja aku pernah nonton film-film Hollywood, jadi aku bisa belajar naik lift," jawab Khaira jujur, menceritakan saat ia gemetaran naik lift.
Mendengar cerita Khaira membuat Kevin kembali didera rasa gemas. Plethak... Kevin menggetak kening Khaira menggunakan tangannya.
"Atahlahh... Mas Kevin sakit tau! Kenapa harus menggetak jenongku?" hardik Khaira geram, seraya mengusap keningnya yang digetak Kevin.
Kevin tersenyum senang melihat raut wajah Khaira yang ditekuk kasar, "Kalau kamu belum pernah naik lift, terus punya keberanian dari mana kamu melakukannya? Terus bagaimana bisa kamu sampai di lantai atas gedung?"
"Ya aku minta bantuan orang lain yang sama-sama sedang naik lift, meskipun aku orang kampung, tapi bukan berarti aku dungu dan katro deso Mas Kevin!"
"Sudahlah! Debat sama kamu memang nggak pernah selesai. Ayo ikut aku." Kevin menggenggam tangan Khaira, dan berjalan kearah lift yang berada di basman apartemen.
Khaira terlihat ragu, dan berhenti didepan lift, saat lift terbuka.
"Kenapa? Jangan pura-pura takut, kemarin aja kamu berani. Kenapa sekarang ada aku kamu takut?" kata Kevin dilihatnya mimik wajah Khaira yang gelisah.
__ADS_1
"Ih, apaan si Mas Kevin! Memang aku sekarang ini nggak seberani waktu lalu," kata Khaira merasa kecemasan.
"Hilih bilang aja mau di peluk!" Kevin spontan saja memeluk pundak Khaira dan menuntunnya menaiki lift dan menekan tombol 20.
Ya tentunya kedua pasangan yang jarang akur ini mendapat tatapan penuh keanehan dari orang-orang yang berada di basman dan orang yang akan memasuki lift.
Setelah sampai di lantai gedung yang di tuju, Khaira segera saja melepaskan diri dari dekapan Kevin yang terus saja merengkuh tubuhnya, bahkan juga matanya. Alhasil Khaira tidak dapat cuci mata untuk melihat seorang bule tampan yang satu lift bersama dengannya tadi, sebelum pintu lift tertutup Khaira melambaikan tangannya kepada si bule tampan.
"Dih genit!" nyinyir Kevin melihat sikap Khaira yang dianggapnya centil.
"Lha kapan lagi bisa cuci mata sama bule ganteng."
"Lebih gantengan suamimu ini tau!" sergah Kevin.
Khaira mendengus dingin, lalu mengikuti kemana langkah kaki Kevin akan membawanya, tentu berbeda jalan dengan apa yang pertama kali membawa Khaira ke gedung ini beberapa hari lalu.
Kini Kevin serta Khaira sudah berdiri didepan kamar apartemen, Kevin beberapa kali memencet tombol bel.
"Orangnya nggak ada kali Mas?" kata Khaira, karena sejak tadi Kevin memencet bel tidak ada respons untuk pintu terbuka oleh pemilik apartemen.
Melihat kebrutalan Kevin mengetuk pintu, membuat Khaira terheran-heran, "Mas Kevin, kenapa gedor pintunya brutal begitu? Kalau sampai pintu ini terlepas bagaimana?"
Khaira memegangi tangan Kevin, agar berhenti menggedor pintu kamar apartemen, yang Khaira takutkan akan menimbulkan kehebohan di lain penghuni apartemen.
Sekian menit menunggu. Pintu akhirnya menunjukkan pergerakan perlahan terbuka setengah, dengan seorang wanita cantik yang melongokkan kepala seketika membulatkan matanya melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu. Dilihatnya juga seorang wanita berhijab yang kemarin ia lihat di depan rumah Kevin.
"Kevin!" ucap Sonia terkejut.
Meskipun enggan untuk bertemu mantannya, namun Kevin memang harus meluruskan kekeliruan Khaira terhadapnya agar tidak selalu berpikir bahwa ia adalah pria mesum. "Ngapain aja lo lama bener buka pintunya?" tanyanya sinis pada sang mantan.
Sonia enggan membuka pintunya lebar-lebar, dikarenakan ia sedang menyembunyikan sesuatu di dalam kamarnya.
Khaira dilanda kebingungan, ia nampak terkejut, dengan wanita yang keluar dari dalam kamar apartemen, yang hanya memakai pakaian seksi seperti dress mini bahkan sangkat mini sampai belahan dada terlihat bohai dan...
"Kalau aku berjongkok pasti bisa melihat selangkangannya bahkan anu'nya hem.. aduh pikiran ku agaknya memang harus di cuci biar nggak ngeres." selorohnya dalam hati. Khaira beralih menatap Kevin yang nampak biasa saja melihat pemandangan yang sangat menggoda iman.
__ADS_1
Kevin menoleh kearah Khaira yang sedang melihatnya, "Di kamar ini kan kamu melihatku? Apa wanita ini juga yang kamu lihat menyambutku dan membuatmu salah paham?"
Mengerjap-ngerjapkan matanya, Khaira kembali menatap seorang wanita cantik yang berdiri di ambang pintu masuk kamar, "Yah, aku melihat Mas Kevin di sini, tapi wanita ini, aku nggak tau pasti."
"Maksudnya apa ini Vin?" Sonia bingung melihat sang mantan detik berikutnya melihat seorang wanita berhijab hitam yang berdiri tepat disebelah Kevin. Apa yang Sonia sembunyikan ternyata membuka pintu kamar apartemennya lebar-lebar.
Seorang pria berdiri di belakang Sonia, dengan hanya memakai celana pendek lebih seperti CD, dilihatnya seorang pria dan seorang wanita berhijab di depan pintu, "Siapa mereka sayang," tanyanya kepada Sonia.
Kevin melihat seorang pria yang bertelanjang dada, bukan Frans. Tapi sama saja gemuknya. Kevin berdecih melihat Sonia dan seorang pria di belakang mantan pacarnya.
Sorot mata Kevin menyoroti dengan tatapan sinis kepada mantan kekasih dan seorang pria. "Memangnya selain jual diri dan bekerja sebagai model majalah dewasa, lo nggak bisa cari kerjaan lain Sonia?"
"Bukan urusan mu Vin. Kalau kamu mau berkomentar tentang hidupku mending kamu pergi dari sini." Sonia menunduk ia tak berani menatap Kevin, meremas ujung lingerie sutra berwarna navy. Namun detik berikutnya, Sonia menyingkirkan tubuhnya kala pria di belakangnya maju selangkah menghadap Kevin dengan membusungkan dada.
"Siapa lo? Dan mau apa lo ke sini?" kata pria gemuk berkata dengan menunjuk bahu seorang pria yang berdiri didepannya.
Kevin menepis tangan pria bertubuh bongsor seperti Frans, namun matanya menatap kebelakang tepatnya kearah Sonia, "Siapa pris ini? Gue baru pertama kali ini melihatnya?"
"Gue Ariel, mau apa lo?" ucapnya menyebutkan dirinya bernama Ariel.
Khaira dilanda kebingungan, ia melihat seorang wanita cantik yang memakai pakaian seksi rambut panjang warna brown. "Setelah diamati-amati aku pernah melihatnya dimana?"
"Kalau gue mau nonjok wajah lo gimana?" kata Kevin kepada pria yang bernama Ariel.
"Wah ngajak ribut lo? Ayo sini dah memangnya gue takut?!" balas Ariel membusungkan dadanya kearah Kevin.
Khaira membulatkan matanya menatap Kevin, ia segera saja menyelipkan jemarinya ke jemari Kevin, "Mas Kevin, kamu mengajakku ke sini bukan untuk menyaksikanmu berantem! kalau kamu mau berantem ayolah ke ring tinju!"
Begitu juga dengan Sonia yang menghentikan tangan Ariel yang sudah terkepal hendak melayangkan tinjunya kearah Kevin, "Ariel." dilihatnya tangan wanita disebelah Kevin yang menaut jemari tangan Kevin. Ada rasa yang mengiris hati Sonia seketika itu juga.
Bersambung
__ADS_1