Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kugadaikan cintaku


__ADS_3

Esok paginya pun tiba.


Elegi esok pagi. Sejuk menderu relung sanubari hati. Mengharap setitik asa merajut cerita. Sepanjang perjalanan kehidupan roda terus berputar, meskipun langkah bergetar, namun asa tak boleh pudar.


Tiada menyangka, kehidupan metropolitan sedemikian kejam. Bahkan dalam kutipan kata, tak kenal maka tak sayang, pun seakan percuma. Sudah kenal pun tidak bisa menjadi patokan untuk bisa menjadikan tali persaudaraan dan menganggap semuanya baik-baik saja.


Acap kali, roda persaingan dan mahalnya kebutuhan. Seolah menjadi momok yang menakutkan bagi kalangan orang yang tidak mau berusaha mencari pekerjaan.


Alhasil, merampok, mencuri serta merampas milik orang lain seolah dijadikan sebuah pekerjaan yang seolah-olah layak untuk diperhitungkan?


Miris!


Itulah yang ada dalam benak Khaira, ketika kemelut permasalahan di ibukota sudah mulai menyerangnya. Dari mulai teror dan cambret yang telah melukai tangannya.


Semalaman juga dipandanginya wajah Kevin yang nampak tenang dan nyenyak saat tertidur. Seolah sudah berabad-abad lamanya Kevin tidak bisa tertidur pulas. Seksama Khaira mengamati wajah Kevin yang sangat dekat, hanya tersisa sejengkal tangan.


"Pria seperti apa sebenarnya kamu Mas Kevin? Menurutku kamu baik dan perduli. Meskipun sebelumnya kamu bersikap tak acuh padaku, tapi pendapatku sekarang lain. Seolah ada sisi lain dari dirimu yang seharusnya aku lihat bukan hanya dengan mata telanjang, namun harus dilihat dari kacamata hati nuraniku. Bahwa kamu pria baik yang telah lama kesepian."


Khaira berkata dalam hatinya, tak ingin jika simpatinya sampai di dengar oleh Kevin, yang bisa saja sudah terbangun namun enggan membuka mata, "Haruskah aku mengurungkan niatku untuk pindah dari rumahmu? Haruskah aku belajar tentang menerima kenyataan bahwa kini kamu suamiku, dan mengenalkanmu pada Abah? Dan haruskah aku memupus harapan cintaku yang semula untuk Asep?"


Sangat lama Khaira memandangi wajah Kevin, pengaruh obat dan rumah sakit membuatnya resah serta gelisah. Akan tetapi setelah teralihkan perhatiannya memandangi wajah Kevin yang nampak tenang, lamat-lamat membuat keresahan serta kegelisahannya mulai terkikis.


Sampai pada Khaira tidak bisa tertidur memasuki waktu subuh. Khaira melihat kening Kevin mengerut, seumpama sedang bermimpi akan suatu hal yang mengerikan.


"Aku akan selalu berdoa untukmu, agar hatimu diberikan hidayah, untuk kamu lebih giat lagi Mas, dalam melakukan kewajiban sebagai seorang muslim, namun aku nggak mau menegurmu, yang akan membuatmu tersinggung, lebih baik aku berdoa untukmu, serta meminta kepada Allah, biar Allah saja yang menyentuh hatimu. Semoga Allah mengabulkan doaku. Amin.” Khaira berdoa didalam hati.


Lumayan lama kening Kevin mengerut. Dengan susah payah, Khaira mengangkat tangannya yang dipasangi selang infus, ia menaruh jari telunjuknya di kerutan kening Kevin. Tak sadar senyuman menyungging dikedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Lamat-lamat senyumannya memudar kala melihat kelopak mata Kevin yang masih terpejam bergerak-gerak, seperti bola bergerak dalam karung. Khaira menarik tangannya dari kening Kevin. Perlahan namun pasti, Khaira melihat Kevin membuka matanya.


Hal yang ingin Kevin lakukan setelah menikah adalah...? Ketika bangun tidur dan untuk pertama kalinya ketika membuka mata ia melihat istri tercinta tidur disebelahnya sembari bersandar pada bahunya. Yah, salahkah keinginannya ini? Apakah karena pernikahan yang berawal dari ketidaksengajaan ini sulit untuk diajak kompromi? Atukah memang belum adanya cinta? Bukankah cinta bisa datang dengan seiring berjalannya waktu?


Yah, semoga saja. Semoga apa yang disemogakan segera terwujud... Amin. Kevin melukis senyuman kecil, lalu mengangkat tangannya, diusapnya kening Khaira seraya berkata, "Selamat pagi buat kamu yang masih banyak gengsinya buat bilang kangen ke aku." ucapnya lembut.


Mendengar ucapan pria dihadapannya membuat Khaira tertegun, ia merasa malu sendiri. Benarkah ia mulai kangen dengan pria di depannya? Ataukah memang jarum-jarum dari benang cinta telah menjahit nama 'Kevin' dari nama sebelumnya yang terus merajut nama 'Asep'. Ibarat kata, "Kugadaikan cintaku."


Dipandanginya wajah Kevin yang masih tersenyum, "Lha kenapa jadi terkesan aku nggak setia?" berulang kali Khaira mencoba menelisik silsilah dalam lubuk hatinya?


Khaira mengalihkan atensinya menatap plafon putih rumah sakit, "Selamat pagi juga buat kamu yang udah sayang tapi kebanyakan gaya...?"


Kevin terkekeh kecil mendengar balasan dari Khaira, terlihat jelas bahwa Khaira sedang salah tingkah. Pertanda dari membuang tatapan mata, "Ya ya ya, kalau aku mengakui mulai sayang sama kamu. Apa rasa sayangku bertepuk sebelah tangan, jikalau dihatimu saja masih terus merajut nama Asap, hm?"


Khaira mengernyitkan dahinya mendengar nama 'Asep, berubah jadi 'Asap. Ia menoleh wajahnya menatap Kevin yang masih tidak melunturkan senyuman, "Kenapa jadi Asap? Asep Mas Kevin, Asep?"


Menangkap kekecewaan dari nada bicara Kevin, membuat Khaira merasa tidak enak hati, dipandanginya punggung Kevin yang sudah duduk di tepian brankar, "Aku akan membalas rasa sayangmu supaya nggak bertepuk sebelah tangan, jika benar rasa sayangmu padaku, tulus?"


Mendengar jawaban Khaira, membuat telinga Kevin serasa digelitiki oleh bulu-bulu ayam. ia spontanitas membalikkan tubuhnya bersitatap dengan manik mata hitam Khaira, "Benarkah?"


Khaira mengangguk singkat.


"Tentang ketulusan bisa menjadi renungan buat nggak berharap lebih dalam memberi. Ketulusan merupakan sikap memberi tanpa pamrih. Jadi, ketulusan nggak pernah mengharap balasan atau imbalan atas semua yang telah dilakukan. Ketulusan tersebut muncul dari dalam lubuk hati yang paling dalam. Dengan ketulusan bisa membuatmu menerima segala sesuatu dengan apa adanya, termasuk dalam cinta," Khaira menerangkan sekiranya ucapan serta tindakan yang berlandaskan dengan ketulusan nantinya tiada hati yang merasa tidak enak hati dan akhirnya memberi ataupun membalas karena terpaksa untuk membalas budi.


"karena hati yang tulus, seharusnya nggak akan merasakan tersakiti ketika cintanya bertepuk sebelah tangan, ataupun dicampakkan..." Khaira belajar dari kehidupan yang Abah alami dan Abah ajarkan kepada dirinya, meskipun ditinggalkan oleh Ibu Purwasih, namun Abah seperti tidak menyimpan rasa sakit hati telah di campakkan begitu saja.


Kevin tersenyum tipis melihat istrinya, ia menangkap sikap Khaira yang bijak meskipun terkadang sikap Khaira tegas, namun sejatinya Khaira adalah wanita yang lembut, ia membalas ucapan Khaira, "Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat atau didengar, tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati."

__ADS_1


Khaira tercenung mendengar jawaban bijak Kevin, "Itukah sebabnya kamu terlihat biasa saja ketika putus dari pacarmu?"


"Terkadang sakit, tapi yah mau bagaimana lagi?" Kevin berkata membersamai dengan menggidik pundaknya, "kan sekarang udah ada kamu, hehe.."


"Oh jadi aku cuma di jadiin bahan percobaan dari pelarian rasa sakit hatimu?" Khaira melihat wajah Kevin yang masih nampak jelas lebam.


"Emmm... nggak juga," Kevin menolak asumsi Khaira, "karena kamu hadir di waktu yang tepat," sambungnya lagi dengan suara pelan.


Khaira mendengar Kevin berkata seperti itu, ia terkekeh kecil, "Hehe... Asek ah, tepat seperti waktu subuh berkumandang."


Kumandang adzan subuh menggema di area rumah sakit ini.


"Ya seperti itulah kira-kira, hehe.." balas Kevin, mendengar adzan subuh mengumandang.


"Sholat yuk." ajak Khaira.


"Memangnya kamu bisa wudhu?" Kevin sempat bingung.


"Mas Kevin sholat di mushola, aku sholat di sini dengan wudhu tayamum," jelas Khaira.


"Oh oke, baiklah." Kevin manggut-manggut, lalu keluar dari tirai hijau yang menjadi sekat antara pasien satu dari pasien lainnya.


Selepas kepergian Kevin, Khaira mulai mengucap basmallah sesaat kemudian mengucap doa niat bertayamum. Lalu, melaksanakan sholat subuh, dengan gerakan pelan, dikarenakan obat bius sudah mereda dan kini pergelangan tangannya yang sudah mulai terasa sakit.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2