Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Story tya


__ADS_3

Beberapa hari berlalu ane yang sudah sehat meskipun tak kembali normal seperti sedia kala, tapi mengalami beberapa kemajuan dengan perawatan kedua mama yang sangat menyayanginya.


Juga kunjungan dari orang- orang terkasih nya, termasuk tya yang juga mengunjungi ya setiap hari. Bukan mereka saja yang memberi support pada ane, tetapi juga asisten rumah tangga bryan dan ane juga ikut andil memberi semangat mereka.


"Kenapa begini sih ne? Saat kau menemukan cinta sejati mu dan juga di karuniai baby mendapat ujian sebesar ini."


Ucap tya yang saat itu datang menemani ane di kebun bunga milik nya.


"Bukan kah kau sudah janji tak kan bersedih?"


Ucap jay yang ada di samping nya. Tya mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan jay tersenyum meringis memperlihatkan giginya. Tya tahu betul apa yang di katakan jay, karena ia sudah dapat peringatan dari jay kalau tya tak boleh memperlihatkan kesedihan nya atau jay tak kan mengajak nya mengunjungi ane.


"Baiklah..., baiklah. Jangan marah! Aku janji."


Ucap tya mengusap air mata di kedua sudut matanya lalu mengusap pelan tangan jay.


"Aku akan menemui bryan sebentar, kau tunggu disini dan jangan kemana- mana sebelum aku datang menjemput mu."


Ucap jay.


" Iya..., iya..., baiklah."


Jay berlalu mrninggalkan tya bersama ane di kebun bunga. Saat tya datang, seorang asisten rumah tangga tengah mengajaknya ke kebun bunga miliknya.


"Kau dengar itu! Jay..., suami ku menjadi seorang yang protektif seperti suami mu."


Ucap tya.


"Ne..., apa kita jadi berbesan? Aku tengah hamil."


"Berita kehamilan ini ingin ku sampaikan pada mu, tapi... yasudah. Aku yakin kau dapat mendengar apa yang ku katakan."


" Kau tahu ne, suami ku sangat memperhatikan ku, memanjakan ku, apalagi saat hamil seperti ini..., over protektif."


"Sama apa yang dilakukan bryan padamu."


" Semula aku sangat gerah dan juga bosan semua larangan nya, tapi rupanya dia punya sisi tanggung jawab yang besar tak ingin kehilangan janin nya."


" Karena kecerobohan ku, hampir saja aku kehilangan bayiku, tapi caranya merawatku sangat luar biasa."


" Dan benar apa yang kau katakan, dia anak orang kaya, bahkan lebih kaya dari orang tua ku."


"Kedua orang tua nya sangat menyayangiku, saat mengetahui kehamilan ku mama sama sekali tak mengijinkan ku mengerjakan pekerjaan rumah. Jangankan semua itu, turun dari tempat tidur saja mama mertua ku memapah ku."


" Hihihi..., bahkan mamaku yang jarang memperhatikan ku berubah semenjak tahu ada cucunya di dalam perutku."


"Banyak sekali yang ingin ku ceritakan padamu, ne."


"Salah satu nya adalah rupanya suami ku jatuh hati pada ku saat melihat ku kali pertama."


Bisik tya pada ane.


"Aku tahu."


Tya terdiam membisu ketika mendengar suara ane sahabatnya.


"Ne..., kau menjawab pernyataan ku? Kau sudah sembuh?"


Tya menggoyang- goyangkan kedua bahu ane yang tengah duduk di kursi roda, namun ane tak bergerak sama sekali kecuali atas goyangan tya.


"Non..., non..., jangan non! Non ane bisa sakit kalau di goyang- goyangkan seperti itu."


Salah seorang asisten rumah tangga mengantar cemilan dan minuman untuk mereka menghentikan tya ketika melihat kejadian itu.

__ADS_1


Tya berhenti seketika menatap ane lalu menatap pada asisten rumah tangga tersebut.


"Tapi ane bicara, bi."


Ucap tya.


"Hem..., bibi tahu non tya sahabat non ane dan tentunya sangat menyayanginya."


"Tapi non ane memang dalam kondisi seperti ini, bibi juga sering berhayal non ane cepat pulih seperti sedia kala."


Tya lemah lesu tak berdaya mendengar penjelasan bibi.


"Hah..., mungkin bibi benar. Saya sedang berkhayal berbincang dengan ane. Terima kasih, bi."


Ucap tya yang akhirnya menyerah mengakui kalau ia sedang berkhayal.


"Tya merindukan nya, bi."


"Bibi juga, non. Apalagi rumah ini, terasa sepi tanpa teriakan non ane. Gelak tawanya, manja nya, merajuknya, apalagi saat bermanja pada aden."


"Benar, bi. Tya merasa seperti itu, ponsel tya tak henti berdering dengan pesan- pesan konyolnya yang kadang membuat tya jengkel."


Entahlah apa yang mereka berdua pikirkan, hingga memeluk satu sama lain. Meskipun tya percaya kalau tak sedang berkhayal namun pada kenyataan nya ane memang tak bergerak sama sekali.


Sementara bryan yang berada di ruang kerja nya bersama jay dan rafa tampak sedang serius dengan masalah yang mereka hadapi.


" Ini..., semua file yang berisi tentang bram ada di sini."


Ucap jay menyerahkan amplop coklat pada sahabat sekaligus bos nya tersebut.


"Semua yang kau inginkan sudah selesai, tingga menunggu visa keluar dan mungkin dalam beberapa hari ini."


Ucap rafa.


Jay membelalakkan matanya mendengar penjelasan rafa.


"Bryan akan membawa ane tinggal di luar negeri."


Ucap rafa.


"Dan kau juga akan pindah ke sidney?"


Tanya jay menatap sahabat nya itu.


"Ya begitulah. Papa ku menginginkan menantunya tinggal bersama nya."


Ucap rafa mengedipkan salah satu matanya pada jay, sementara bryan tersenyum melihat dan mendengar percakapan antara kedua sahabatnya itu.


"Hah..., kalau semua pindah lalu aku?"


"Kau bisa tetap disini mengelola restoran dan perusahaan jay."


Ucap bryan.


" Tidak..., tidak..., tidak. Lebih baik aku kembali ke kota ku."


Jay menggeleng dengan cepat menolak permintaan bryan.


" Kenapa? Bukan kah kau gila kerja?"


Kata sindiran pedas untuk sahabatnya serta senyum ejekan di balas dengan wajah cemberut jay.


"Iya, dulu. Tapi sekarang..., istri ku sedang hamil mana mungkin aku meninggalkan nya mengemban tugas seberat itu."

__ADS_1


Ucap jay.


"Kau tidak tahu..., aku hampir kehilangan bayiku karena kecerobohan ku. Jadi..., tak mungkin aku meninggalkan nya sendiri di rumah."


Ungkap jay saat mengenang kisah beberapa saat yang lalu dimana tya hampir keguguran.


"Hem."


"Hem."


Kedua sahabat itu saling berpandangan mendengar cerita dari salah satu sahabatnya tersebut.


"Baiklah, aku pergi dulu. Jika tidak, istri ku akan bersedih meratapi istri mu dan bisa berakibat fatal kalau berlebihan."


Ucap jay.


"Thanks, jay."


"Hem."


Jay meninggalkan ruang kerja bryan yang ia khawatir dengan tya akan berlarut dalam kesedihan nya.


"Kemana bawel pergi? Kenapa tak ikut dengan mu?"


Tanya bryan pada rafa yang masih duduk tenang menatap layar ponselnya.


"Ada di rumah mama."


"Di rumah mama?"


"Hem..., katanya kangen dengan masakan mbok ijah jadi aku drop off kesana."


"Hah..., ada- ada saja."


"Kapan kau dan silla akan berangkat ke sidney?"


"Tak lama setelah kau pergi."


"Yah..., baiklah. Aku hanya bisa menitipkan bawel padamu, jaga baik- baik! Meskipun agak keras kepala, dia mempunyai hati yang lembut.


"Tentu saja aku akan menjaga nya, dia istri ku."


Ucap rafa yang beranjak dari tempat duduknya.


"Aku pergi dulu."


"Hem..., hati- hati di jalan!"


"Okay."


Rafa menghilang di balik pintu ruang kerja nya setelah berbincang sejenak dengan bryan.


Bryan membelalakkan matanya ketika melihat satu persatu data yang diberikan jay padanya.


"Hah..., dendam nasa lalu."


"Tapi..., apa hubungan nya dengan kak jack?"


Setelah melihat lembar berikutnya, bryan mengerutkan dahinya hampir syok melihat lembar kertas tersebut.


"Tidak mungkin."


Bersambung😊🙏

__ADS_1


__ADS_2