Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Musuh


__ADS_3

Sementara itu, Kevin senang. Akhirnya dapat mendengar Khaira bercerita mengenai hidup yang dijalani sang istri selama ini.


Namun, dari cerita itu. Kevin merasa resah hati, kala Khaira membicarakan tentang Asep, seorang pria yang menjadi teman baik Khaira selama ini.


Entah cemburu atau hanya sekedar tak ingin mendengar Khaira akrab dengan pria lain. Tetapi, Kevin lebih memilih diam tak menunjukkan bahwa ia tidak suka mendengar Khaira membicarakan Asep.


Kevin sempat terkejut kala mendengar seruan klakson mobil yang berjarak sekitar lima belas meter darinya duduk dibangku taman. Ia sepertinya mengenali mobil berwarna merah itu.


"Dulu, saat kamu sekolah. Teman baik mu siapa Mas Kevin?" tanya Khaira, ia menerawangkan pandangannya menatap bunga mawar yang mekar di taman.


"Hemm.." Kevin mengalihkan perhatiannya dari menatap mobil yang terparkir diseberang jalan, dan kembali menatap Khaira, "tadi kamu tanya apa, Delf?"


Khaira melirik Kevin sekilas, ia kembali menatap bunga mawar, "Sewaktu sekolah setingkat SMK, kamu pernah dekat sama siapa? Atau siapa teman baikmu?"


Kevin menadahkan wajahnya menatap hamparan langit berwarna terbaga, "Ada Brian, yang semalam kamu lihat dan cewek juga ada,"


Khaira mengangkat kedua alisnya dan menatap Kevin, "Benarkah? Siapa namanya?"


Bersitatap dengan dalamnya netra hitam Khaira, membuat Kevin seolah memasuki ruang kosong tapi tak ada celah baginya di sana, di sudut pandang Khaira, "Kalau aku sebutkan siapa namanya apa kamu nggak merasa cemburu?"


Khaira menggidik pundaknya, "Kenapa aku harus cemburu? Yang lalu biarlah berlalu."


Kevin manggut-manggut mendengar jawaban istrinya, ia lantas membuang tatapannya ke penjuru jalan raya.


"Memang nggak pernah adakah aku di sudut hatimu Khaira, meskipun hanya di pojokan?" gumam Kevin lirih.


Mendengar Kevin menggerutu cukup mengganggu pendengaran Khaira, "Kamu bilang apa Mas?"


Kevin menggeleng, "Nggak ada," ia lantas beranjak dari duduknya, "sore ini nggak seindah yang diharapkan, sebaiknya kita pulang." ia berjalan meninggalkan Khaira yang masih duduk di bangku memanjang taman.


Melihat sikap Kevin dingin membuat Khaira bingung, apa ucapan atau pertanyaan yang ia ajukan salah? Khaira menarik sudut bibirnya, netranya terus melihat punggung Kevin yang semakin menjauh, sesaat kemudian melihat Kevin berbalik badan dan juga memanggilnya.


"Woy Ra, ayo pulang! Cuacanya mendung!" seru Kevin berdiri dengan jarak yang lumayan jauh dari Khaira.


Khaira menadahkan wajahnya menatap hamparan langit yang memang berubah cuaca secara tiba-tiba. Langit terlihat berwarna biru tua lebih dominan warna keabu-abuan, bahkan di sisi lain berwarna hitam pekat. Ia segera beranjak, berlarian dengan langkah kecil menghampiri Kevin.


Kali ini tanpa adanya risau dan kaku, Khaira mengalungkan lengannya di lengan Kevin, ia meringis menampilkan gigi gingsulnya di sebelah kiri.


Melihat senyuman Khaira, agaknya Kevin pun tertular. Ia mencolek hidung Khaira, "Sudah siap pulang Nona?"


"Siap." Khaira mengangguk, senyuman kecil menyungging dikedua sudut bibirnya.


~~


Clara masih terus mengintai Kevin dan Khaira, hingga kedua orang yang sedang dalam pengamatannya telah pergi dari taman.


"Gue harus menculik Khaira!" gumam Clara.


Diambilnya ponsel dari dalam tas, ia menghubungi seseorang guna membantunya dalam melancarkan aksinya. Ia benar-benar telah menganggap dirinya seorang monster. Tak sedikit pun dalam hatinya untuk rela melepaskan Kevin bahagia.


Clara menginginkan Kevin juga sama sepertinya, sama-sama merasakan kekecewaan. Dan Clara mengira dengan menyingkirkan Khaira maka akan membuat Kevin dilema serta menjadikan pria itu frustasi.


"Tolong bantu gue buat melenyapkan seseorang,"


Sejenak Clara terdiam dalam mendengarkan seseorang yang sedang ia hubungi.

__ADS_1


"Tenang, targetnya cewek. Kelihatannya nih cewek lemah, pastilah mudah untuk melenyapkannya,"


Jelas Clara, dalam membayangkan targetnya merupakan gadis lemah, ia kembali terdiam sejenak dalam mendengarkan lawan bicaranya di sambungan telepon.


"Soal bayaran gampang! Gue kasih DP lo lima puluh juta. Yang penting lo singkirkan tu perempuan, kalau lo berhasil gue kasih bonus,"


Terang Clara, matanya menatap lurus ke depan jalanan. Setelah menyelesaikan perjanjian dengan seorang pembunuh bayaran, Clara mematikan sambungan telepon.


"Gue kagak bakal rela lo bahagia Kevin, lo hanya milik gue seorang!" gumam Clara tegas.


Lantas melemparkan ponselnya ke jok samping kemudi. Perlahan tapi pasti, Clara melajukan mobilnya meninggalkan area sekitaran taman.


~~


Hujan sudah mulai reda, sejak mengguyur pukul 18:11 wib sampai pukul 19:30 wib.


Sholat isya terlaksana, dengan Kevin sebagai imam. Tentu saja Khaira yang meminta Kevin untuk menjadi imam. Ia bukan hanya meminta, tapi merengek dengan alasan surga sebagai pahalanya.


Khaira memahami ketakutan Kevin, karena mungkin inilah pengalaman pertama bagi Kevin untuk menjadi imam.


Setelah selesai sholat dan memanjatkan doa. Khaira terus menatap punggung Kevin, "Inikah rasa sholat di imami suami?" monolognya dalam hati.


Dilihatnya Kevin yang berbalik badan, bersitatap seperti ini membuat Khaira speechless, "Ehemm.." dehemnya, Khaira celingusan, lalu melihat tangan Kevin, ia berinisiatif menyalami tangan pria dihadapannya.


Tentu saja Kevin sangat senang, dengan adanya sikap Khaira yang sehangat ini. Ia menyunggingkan senyuman, ditatapnya Khaira lekat-lekat.


"Mas Kevin, malam ini kerja?" tanya Khaira, ia mulai beranjak dari duduknya.


Kevin pun menyusul Khaira beranjak dari atas sajadahnya, lantas melipat sajadah, "Sebenarnya sih masih males berangkat, tapi udah di telpon sama Bos,"


"Kenapa, emang?" tanya Kevin, melihat raut wajah Khaira seperti kecewa.


"Nggak papa," jawab Khaira, lalu melepas mukena, dan melipatnya dengan satu tangan. Nampak berantakan sih memang.


"Kalau kamu, nggak pengen aku kerja, ya udah aku dirumah aja," kata Kevin, lantas duduk di tepian ranjang.


Khaira menatap Kevin, "Aku nggak pernah keberatan kamu pergi bekerja, meskipun sampai sekarang ini aku nggak tau apa pekerjaan mu?"


Kevin tergelak mendengar pertanyaan Khaira. Ya, sebulan lebih Khaira hidup bersama dengannya. Namun, baru kali ini Khaira menanyakan apa pekerjaannya. Kevin mengira istrinya itu akan cuek-cuek saja. Namun sangkaannya salah.


Mengingat memang sikap Khaira yang dingin, dan seolah tidak perduli dengan kegiatannya. Namun, Kevin belum berani untuk mengatakan apa pekerjaannya kepada Khaira. Ia masih saja tidak memiliki percaya diri untuk mengakui bahwa ia merupakan seorang Disc Jockey dan sangat bergaul dengan PSK, Alkohol dan sesuatu hal yang di anggap hitam.


~~


Malam semakin larut.


Kevin sudah siap dengan memakai Hoodie serta jens panjang sedikit sobekan di bagian lututnya. Khaira pun mengantarnya sampai ke depan pintu rumah.


Khaira menyalami tangan Pria yang hampir sebulan menjadi suaminya serta mencium punggung tangan Kevin.


Entah mengapa Kevin merasa tidak tega melihat Khaira, "Kamu yakin kamu nggak apa-apa aku tinggal?"


Khaira tersenyum, lantas mengangguk tipis, "Nggak apa-apa jangan khawatirkan aku. Justru yang aku khawatirkan Mas Kevin, apa benar kamu sudah lebih baik? Aku lihat lebamnya masih terlihat jelas,"


Lantas diusapnya mata sebelah kiri Kevin yang masih memperlihatkan lebam ruam merah kebiruan, Khaira merasa lebam itu masih sakit.

__ADS_1


Mendapatkan perlakuan hangat dan sikap perhatian Kevin, membuatnya tersenyum tipis, "Meleleh hati Abah dek," ucapnya spontan.


Khaira menyadari tangannya yang secara refleks telah mengusap wajah Kevin, ia menarik tangannya dari sana.


Sangat senang bisa melihat Khaira yang nampak malu-malu, Kevin mengusap pipi Khaira, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawab salam Khaira yang seperti tidak rela jika Kevin harus berangkat kerja, meskipun sampai saat ini, entah pekerjaan apa yang di kerjakan Kevin. Tapi ya sudahlah, biarkan saja nanti Kevin yang menjelaskannya.


Khaira mengharap semoga saja, bukan suatu pekerjaan yang membahayakan orang lain, dan bukan bahaya yang mencelakakan diri Kevin sendiri. Amin, itulah kiranya doa yang tersemat di sudut hati Khaira, ketika melihat Kevin berangkat bekerja.


Dengan berat hati Kevin berjalan mundur tatapannya masih terus menatap Khaira, sampai tidak menyadari ada turunan lantai teras rumah membuatnya terjatuh.


"Aduh!" seru Kevin terkejut mendapati dirinya telah terperosok ke lantai garasi.


"Mas Kevin!" bukan hanya Kevin, Khaira juga terkesiap ia hendak menghampiri Kevin, namun keburu Kevin sudah kembali berdiri dengan gaya sok cool.


"Tenang, gue kagak apa-apa! Tadi cuma speechless lihat senyum adek manis! Asek ah!" kata Kevin seraya menaik turunkan kedua alisnya.


Melihat sikap Kevin yang lucu dan sok cool membuat rasa iba Khaira berubah menjadi gelak tawa, "Hahaha.. gayamu lho Mas, Mas... Sok cool?"


Mendengar tawa renyahnya Khaira menular pada Kevin, ia ikut tertawa renyah. Kalau begini caranya, kapan akan berangkat bekerja. Melihat Khaira lalu melihat motornya yang terpakir manja.


Kembali menghampiri Khaira yang masih tertawa kecil, Kevin mencium singkat pipi istrinya.


Khaira spontan membelalakkan mata, serta menutup mulut dengan tangan melihat lagi dan lagi Kevin mengambil kesempatan saat lengahnya.


"Mas Kevin!" serunya melihat Kevin yang sudah standby di atas motor sport.


"Daah My Delf..." sebelum mendapatkan protes, Kevin buru-buru menstater motornya dan tersenyum kearah Khaira yang masih termangu.


Khaira terus menatap Kevin, hingga pria itu meninggalkan halaman rumah yang luasnya tidak seberapa. Melihat kedipan mata Kevin membuat Khaira seakan jungkir balik.


"Ssshh... Sangat menggoda!" gumam Khaira terkesima. Sesaat kemudian ia menyadari dirinya telah tergoda oleh sikap genit Kevin. Digeplak jidatnya sendiri, "Astaghfirullah, Khaira!"


Degup jantungnya, tak beraturan, seperti genderang marawis. Masih termangu, Khaira berbalik dan hendak memasuki rumah. Akan tetapi, sebelum Khaira benar-benar menutup pintu. Ia mendapati suara seorang wanita memanggilnya.


"Permisi!" sapa seorang wanita dari halaman rumah.


Khaira kembali membuka pintu, dan melihat wajah seseorang yang tidak asing baginya. Khaira mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu, sekilas ingatan pun muncul. Dan ia berhasil menemukan kepingan ingatan itu. Bertemu di restoran! Pikirnya.


"Oh, Mbaknya yang waktu itu, soal asuransi?" kata Khaira, memastikan.


Siapa lagi seorang wanita yang menanyakan asuransi kepada Khaira jika bukan Clara. Clara mengangguk, "Ternyata ingatan lo kuat, gue dengar-dengar lo mengalami kecelakaan?"


Mendengar jawaban wanita modis didepannya bernada ketus dan jutek Khaira meras heran, dahinya mengernyit. Mengusap sekilas lengannya yang terluka, "Maaf, kalau boleh tahu. Mbak ini tahu dari mana kalau aku terluka?"


Clara menarik sudut bibirnya, "Jelas gue tahu, karena gue adalah musuh lo!"


Khaira terperangah, "Mu-musuh?!"




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2