
Erik mendengar kabar dari Beni bahwa putri satu-satunya telah meminum obat penggugur kandungan. Orang tua mana yang tidak khawatir mendengar hal ini. Clara masih beruntung dikarenakan obat tersebut tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya dan masih bisa di tangani oleh Dokter.
Pria setengah baya ini duduk di kursi samping brankar. Sedangkan tangannya menggenggam tangan pucat Clara. Tak habis pikir, mengapa Clara sangat keras kepala dan begitu terobsesi dengan Kevin, apa hanya karena kehamilan ini. Bukankah bisa dibicarakan secara baik-baik dan kekeluargaan.
Telah mengabarkan kepada Basuki ayah dari Kevin. Namun, sementara ini Basuki belum bisa datang ke tanah air, dikarenakan pekerjaan yang masih terlihat padat. Erik menatap wajah pucat putrinya.
Dan juga membayangkan sosok Kevin. Apa yang dipandang lebih dari pria yang berprofesi sebagai disc jockey. Bahkan Erik begitu banyak mengenal pemuda-pemuda kaya pengusaha dan mempunyai bisnis menjanjikan.
Perlahan tangan Clara bergerak-gerak. Erik sangat senang, lamat-lamat melihat mata putrinya mulai terbuka.
"Clara." panggilnya bersuara parau.
Clara merasa limbung bahkan tatapannya berkunang-kunang, namun ia dapat mendengar suara sang Ayah dari samping kanan brankar nya. "Papa."
"Papa bersyukur nak, Papa sangat bersyukur akhirnya kamu siuman. Papa sangat khawatir. Berjanjilah dengan Papa mu ini, bahwa kamu tidak akan melakukan tindakan bodoh yang akan membahayakan nyawamu." Erik menggenggam tangan putrinya erat-erat, ia tak lagi duduk.
Sesaat kemudian Clara teringat, bahwa ia telah meminum obat penggugur kandungan. "Bagaimana dengan bayiku Pa? Apa dia sudah hilang dari perutku?"
Erik membulatkan matanya sempurna menatap wajah putri satu-satunya yang nampak sangat pucat. "Dalam keadaan seperti ini pun kamu masih berpikiran untuk menghilangkan bayi mu? Bayi yang tidak berdosa Clara, bahkan dia masih sekepal tangan, dia suci anakku. Papa malah semakin curiga, niatmu untuk menggugurkan kandungan bahwa bayi itu bukan anak Kevin."
Deg
Degupan jantung Clara tak beraturan. Clara mengalihkan atensinya, ia menatap plafond putih. Sebening air mata meluncur mulus keluar dari kelopak matanya. "Clara hanya nggak bisa untuk melahirkan anak tanpa Kevin Pa. Sedangkan Kevin masih bersikekeh untuk mengelak."
Melihat keadaan putrinya yang seperti ini, membuat Erik merasakan lara. "Maafkan Papa anakku. Maafkan Papa, Kevin bukanlah anak kecil yang harus diseret-seret untuk mengakui perbuatannya. Sepertinya Papa harus bertindak lebih tegas, untuk melaporkan Kevin ke polisi."
Mendengar kata polisi, membuat Clara memotong ucapan Papanya. "Jangan Pa, Clara mohon. Jangan laporkan Kevin ke polisi."
"Permisi tuan." Beni membuka pintu kamar IGD tempat Clara di rawat. Ia datang tidak sendiri, ada Anto dibelakangnya.
Erik membalikkan badannya menghadap sang ajudan kepercayaannya yang sedang berdiri di depan pintu masuk kamar IGD. "Ada apa Ben?"
__ADS_1
Beni menyingkir, ia memberikan ruang untuk Anto dapat berbicara dan mengakui perbuatannya terhadap Clara.
Anto sangat gemetaran, ia merasakan sensasi panas dingin sampai-sampai keringatnya membasahi sekujur tubuh.
Erik dan Clara menatap seorang pria yang bekerja menjadi security diskotek.
Terlebih untuk Clara, ia sangat terkejut tidak mungkin bukan. Bahwa Anto akan mengakui bahwa pria itulah yang telah menghamilinya.
"Ada apa ini Ben?" Erik bertanya kepada Beni dan detik berikutnya melihat pria yang menjadi security. Entah karena banyaknya karyawan sampai ia tidak mengenali namanya.
"Bicaralah Anto." Beni berkata kepada Anto yang berdiri di depannya hanya berjarak setengah meter.
Anto melihat Beni, dan beralih melihat atasannya yang terlihat sangat berwibawa dan berikutnya menatap Clara. Ia kembali menunduk dan mulai berkata meskipun terbata. "Saya Anto tuan. Saya yang telah membawa Clara ke rumah sakit."
"Ya saya tahu, Beni sudah mengatakannya kepada saya. Saya ucapkan terimakasih. Nanti saya akan memberikan mu bonus sebagai tanda terimakasih." jawab Erik santai.
Berdebar jantung Anto sangat berdebar, ia tak punya nyali untuk menatap Erik. "Saya adalah ayah dari bayi yang dikandung Clara."
Bagaikan petir menyambar bumi. Pria setengah baya ini tergelak. Erik langsung berdiri. Wajahnya merah, emosinya menyala-nyala.
Clara membulatkan matanya ia tercengang melihat keberanian Anto mengemukakan pengakuan dihadapan Papa Erik.
"Saya berterimakasih karena kamu telah membawa Clara ke rumah sakit. Tapi jangan sekonyong-konyong kamu mengaku-ngaku ayah dari bayi yang dikandungan Clara. Kamu pastilah pemuda miskin yang hanya ingin mengambil untung karena Clara bukanlah gadis biasa." sungut Erik membara.
Seketika itu pula Anto mengangkat wajahnya melihat betapa murkanya seorang Erik Laksamana. Bahkan penghinaan terdengar sangat ringan diucapkan Papa dari wanita yang dicintainya. "Bu-bukan begitu tuan. Saya tulus mencintai Clara, saya ingin bertanggung jawab atas kehamilan Clara."
Erik semakin tidak tahan mendengar pengakuan pria yang berdiri di depan Beni. Ia mendekat lantas menarik paksa kerah baju yang dipakai Anto dan membawanya keluar dari kamar IGD. Menghempaskan Anto begitu saja ke lantai putih rumah sakit.
"Dengarkan saya baik-baik, jika kamu adalah pria yang tidak mempunyai siasat licik dan pria yang tulus mencintai Clara, tidak akan mungkin kamu akan berbuat kebejatan terhadap Clara. Ingat ini baik-baik jika pendengaran mu tidak tuli, Kevin adalah ayah dari anak yang dikandung Clara. Jadi jangan membuat pengakuan bodoh!" Erik berkata tegas.
Anto tergelak mendengar Kevin ayah dari bayi yang dikandung Clara. Muncullah stigma dalam hatinya, "Apakah Clara juga melakukannya dengan Kevin, brengsek!"
__ADS_1
Erik melihat Beni masih dengan tatapan mata yang menyala-nyala. "Beni, usir dia dari sini. Saya tidak mau melihat bedebah ini."
Tak ada pilihan lain bagi Beni, meskipun ia ingin membantu Anto. Namun, untuk membujuk Erik yang terlihat sangat marah bukanlah sesuatu yang dapat diterima oleh tuannya.
"Siap tuan." Beni melihat Anto yang bersimpuh di lantai depan kamar IGD.
Erik sangat murka mendengar pengakuan dari seorang pria yang bekerja sebagai security diskotek miliknya. Ia lantas kembali masuk kedalam kamar IGD Clara.
Di luar rumah sakit.
Beni menepuk pundak Anto, "Lo harus memiliki tekad untuk memenangkan hati tuan Erik. Bukan hanya sekali atau dua kali, kalau lo benar-benar tulus sama Clara lo harus memperjuangkannya, Clara butuh seseorang yang mampu meredam pikiran gilanya."
Anto diam, kali ini ia merasa tuli untuk mendengar suara dan nasehat Beni. Ia masih memikirkan, benarkah ucapan Erik. Bahwa bayi yang dikandung Clara adalah anak Kevin.
Melihat Anto hanya diam, Beni lantas menepuk bahu Anto, dan benar saja melihat respon Anto yang terkejut. "Lo lagi mikir apaan?"
Anto tergelak ia langsung menatap Beni. "Aku meragukan bayi itu Bang."
Beni tersenyum simpul. "Percayalah, gue kenal baik sama Kevin. Dan Kevin bukanlah seorang pria yang terbiasa bercocok tanam. Kevin adalah pria yang bisa menahan hasratnya. Mungkin itulah Clara sangat terobsesi dengan disc jockey itu."
Mendengar jawaban Beni yang seperti menohok. Anto tersenyum kecut. "Abang menyindir ku?"
Beni menaikkan alisnya, membersamai dengan menggidik pundak. "Yah, kalau lo merasa tersindir itu bagus-" Ia hendak berjalan memasuki lobby rumah sakit, namun sebelum menapaki kakinya di lantai rumah sakit. Beni kembali melihat Anto yang berjarak dua meter. "Orang yang bisa merasakan sindiran orang lain, berarti dia masih mempunyai hati yang sangat respect dan perduli terhadap orang lain."
Anto melihat Beni yang kembali berjalan menuju pintu kaca rumah sakit. Lantas mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan bangunan rumah sakit.
Helaan nafas panjang menyelaraskan perasaannya gundahnya. Anto mengerti ia telah salah melakukan perbuatan bejad itu kepada Clara. Seharusnya ia bisa menahannya, sakit hati memang bisa menghancurkan segalanya. Termasuk rasa cinta yang kemudian bisa menjadi benci.
__ADS_1
Bersambung