Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Nasib jack.


__ADS_3

Silla yang menemani sang mama masih tertidur pulas disofa sementara rafa terlihat segar dan membantu ine bangun juga mengantarnya sampai di depan kamar mandi.


Tak berapa lama mahendra datang bersama bi ijah yang datang membawa sarapan setelah mahendra memberitahu kalau silla dan rafa menginap di rumah sakit.


"Fa..., mama mana?"


"Di kamar mandi, pa. Kebetulan bibi datang, tolong temani mama bi! Rafa khawatir mama jatuh."


Ucap rafa setelah melihat bi ijah dari balik pintu.


"Silla baru saja tidur dini hari tadi nemenin mama."


"Ha?"


Mahendra sedikit terkejut pasal silla dan istrinya baru tidur dini hari.


"Iya, den."


Bi ijah bergegas ke kamar mandi setelah rafa memberitahu nya.


"Kenapa baru tidur dini hari? Mama merepotkan kalian? Atau terjadi sesuatu dengan mama?"


"Tidak, pa. Mama tak bisa tidur jadi silla yang nemenin ngobrol."


"Tapi tidak terjadi sesuatu pada mama kan?"


"Tidak, pa. Mungkin mama banyak tidur karena pengaruh obat bius pasca operasi jadi tengah malam mana tak bisa tidur."


"Hah..., syukurlah."


"Bagaimana keadaan kakakmu?"


"Sejauh ini masih normal pa. Tapi hari ini perban di mata kak jack akan dibuka, pa."


"Papa berharap kakak mu baik- baik saja."


"Kita doakan saja, pa."


"Eughh."


Sebuah suara mengalihkan pembicaraan rafa maupun mahendra pada sosok gadis kecil yang rupanya telah dewasa.


Mahendra mendekati sang putri membelai ujung rambutnya, entah mengapa air mata keluar dari kedua sudut mata mahendra.


"Kau sudah dewasa nak. Bukan lagi putri kecil papa yang manja dan bawel."


Gumam mahendra.


Rupanya sentuhan tangan mahendra membangunkan silla dari mimpinya, seketika terkejut melihat ranjang tempat tidur sang mama sudah kosong.


Rasa khawatir dan juga panik melanda setengah jiwanya yang belum sepenuhnya pulih dari mimpinya.


"Hah..., papa. Mama mana? Kenapa tidak ada?"


Ucap silla yang seketika melompat dari sofa berlari kecil mendekati ranjang mama nya.


"Ada pemeriksaan lain? Terjadi sesuatu dengan mama?"


Beberapa pertanyaan silla membuat mahendra maupun rafa melongo sedikit tercengang.


"Mama disini."


Suara ine mengalihkan pandangan mata silla pada jedya lelaki yang sangat disayanginya.


"Mama..., kenapa ada disana? Mama habis ngapain? Kenapa tak membangunkan silla?"


Silla berlari kecil menghampirinya.


"Kau tidur nyenyak sekali, mama melarang rafa membangunkanmu."


"Hem...., memangnya kenapa? Kalau mama jatuh gimana coba?"


"Ada bibi, non."


Bi ijah muncul dari balik pintu kamar mandi setelah membersihkan baju kotor yang di pakai ine.


"Loh..., bibi ikut juga?"


" Iya, non.Bibi bawa sarapan, juga baju ganti buat non. Kalau den rafa bibi ambilin baju den ian, hihihi."


"Nggak apa- apa kan, den?"


"Nggak apa- apa, bi. Terima kasih."


Silla mengambilkan sarapan untuk suaminya juga untuk papanya, dalam situasi seperti ini mahendra tak mungkin makan dirumah atau bisa dibilang nafsu makan mahendra tak kan normal seperti biasanya.


Silla sudah paham kebiasaan papanya yang seperti itu, ine tersenyum ketika melihat sang putri ternyata sudah tumbuh dewasa.


"Setelah makan ke ruang rawat jack, pa."


Mahendra menghentikan tangan nya yang akan memasukkan makanan itu ke mulut nya. Bukan hanya mahendra saja tetapi silla maupun rafa juga bereaksi sama, saling menatap satu sama lain bahkan menatap sang mama maupun papa.


" Tapi kondisi mama masih belum pulih."


" Sudah baikan, pa."

__ADS_1


"Kita tunggu dokter yang memeriksa mama ya."


"Iya, baiklah. Mama hanya khawatir dengan keadaan jack."


Naluri seorang ibu nemang perlu di acungi jempol, meskipun hanya ibu sambung tetapi ine lah yang merawat jack sewaktu masih bayi.


Baik mahendra maupun silla memang mengatakan kalau jack sedikit terluka akibat serangan anak buah bram, namun tak mengatakan kalau jack terluka parah.


" Pa..., makan!"


Ucap silla menyentuh pelan punggung tangan mahendra. Silla mengerti kekhawatiran papanya terhadap kondisi psikis mama nya pasca operasi, takut khawatir akan mempengaruhi luka ine.


Mahendra tak menjawab perkataan putrinya hanya mengangguk pelan menutupi kegelisahan dalam hatinya.


Tak berapa lama dokter datang memeriksa ine mengatakan kalau sejauh ini kondisi luka dan kesehatan ine normal. Mata ine berbinar mendengar ucapan dokter dan setelah dokter meninggalkan ruang rawat ine, ine mengajak mahendra melihat putra pertamanya.


"Mama papa mana?"


Ucap silla yang baru keluar dari kamar mandi, ketika melihat tak seorang pun ada di ruang tersebut kecuali bi ijah.


"Ke ruang den jack, non."


"Kak rafa ikut?"


"Iya, non. Den rafa yang mendorong kursi roda nyonya."


Ucap bi ijah.


"Bibi pulang dulu ya, non."


"Kok pulang bi?"


"Iya, bibi belum sempat beberes rumah."


"Hem..., jangan terlalu capek bi! Kan ada mbak yang lain."


"Mereka tidak berani masuk kamar nyonya, non."


"Hah..., baiklah. Hati- hati ya bi!"


"Iya, non."


Bi ijah menghilang di balik pintu, sementara silla membereskan diri lalu menyusul ke ruang rawat jack.


Di ruang rawat jack.


Kedua orang tua stela sudah datang sejak pagi, safa sepertinya menginginkan asi dari mama nya setelah semalaman minum sufor.


Ibunya stela juga membuatkan sedikit sarapan untuk stela dan juga baju ganti untuk stela.


Semua yang berada di dalam ruangan tersebut merasa cemas dan tentu saja panik dengan kemungkinan terburuk yang terjadi pada jack. Terlebih baskoro yang tidak membayangkan jika kekhawatiran dokter benar terjadi.


Secara perlahan suster membantu dokter membuka perban yang ada di mata jack membuat stela merasa cemas.


"Coba buka mata nya secara perlahan, pak jack."


Ucap dokter tersebut dan jack hanya mengikuti arahan dokter untuk nwmbuka matanya secara perlahan.


"Kenapa semua gelap?"


Gumam jack dalam hati.


"Apa terjadi sesuatu dengan mata ku?"


"Pak jack..., apa anda bisa melihat saya?"


Jack menoleh ke arah sumber suara namun tak melihat satu bayangan apa pun.


"Apa perban nya sudah di buka dokter?"


"Sudah, pak jack. Apa anda tak bisa melihat apa pun?"


"Dokter apakah anda bercanda?"


"Ada siapa di ruangan ini?"


"Ada siapa? Tentu saja ada dokter dan istriku."


"Selain itu?"


"Aku tak melihat orang datang selain dokter."


Ucap jack.


Kekhawatiran baskoro rupanya benar terjadi bahkan ibunya stela tercengang menutup mulutnya tak percaya luka yang di derita menantunya berakibat fatal.


"Jack."


Ine tercengang ketika sang putra hanya melihat istrinya dan dokter saja, tetapi tak melihat kedua mertua nya juga baby safa yang tengah tidur dalam gendongan ibunya stela.


"Mama...., mama baik- baik saja?"


Jack tampak meraba- raba tepi tempat tidur ingin beranjak dari sana menghampiri sang mama. Jack menundukkan kepala nya merasa tak berguna menyembunyikan keadaan sesungguhnya.


Rafa mendorong kursi roda ine mendekati jack dimana jack tampak menangis dengan keadaan yang terjadi padanya. Jack hampir tak percaya kalau ia telah kehilangan penglihatan nya.

__ADS_1


Ine meneteskan air matanya tak percaya putranya tak bisa melihat karena kejadian itu.


"Putra mama."


Ine menahan isak tangis bahkan agar terlihat baik- baik saja menyembunyikan kesedihan nya, memegang tangan jack."


"Ma...., Mana baik- baik saja?"


"Iya, sayang. Mama baik- baik saja."


"Mama..., maafin jack ma. Jack telah gagal menjadi seorang putra yang baik untuk mama."


Jack menangis tersedu- sedu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Bu..., ijinkan saya memeriksa keadaan pak jack!"


"Baiklah, dokter."


Melihat jack yang masih bisa mengeluarkan air mata bahkan beberapa kali mengerjap ketika dokter mengarahkan lampu senter pada matanya seakan memberi sedikit harapan pada keluarga itu.


Stela menahan mulutnya berlari ke luar ruangan menahan sesak di dadanya. Stela tak mengira kondisi jack akan separah itu hanya karena satu kesalahan.


Tak jauh dari sana, silla melihat stela yang menangis menahan dadanya yang begitu sakit tercengang menghentikan langkahnya. Silla menghela nafasnya mencoba untuk tenang, silla memang sudah mengetahui kondisi terburuk dari sang papa perihal kedua mata jack.


"Kak."


"Silla."


Stela menghentikan tangisnya melihat ke arah silla yang berdiri di depan stela.


"Ujian rumah tangga tak hanya datang karena persoalan financial, keturunan, bahkan pekerjaan. Tapi juga datang dari kesehatan dan juga kemungkinan buruk lain nya."


Stela tercengang mendengar gadis kecil ysng baru lulus sekolah menengah itu, ternyata bisa berpikir sangat dewasa.


"Saat memutuskan untuk menikah, maka kemungkinan apa pun harus siap menghadapinya."


"Selama kita tak pantang menyerah dan berusaha, silla yakin masih ada jalan untuk memulihkan kondisi kak jack."


"Benar apa yang dikatakan silla, nak."


Keduanya menoleh ke arah sumber suara yakni ibunya stela yang ada di samping mereka.


"Lihatlah peri kecil ini! Bayi ini tak bersalah dan tak berdosa sama sekali. Tak pantas kita larut dalam kesedihan lalu mengabaikan nya."


"Kita masih bisa mencari jalan lain, mencari donor mata misalnya. Atau juga dengan terapi yang di anjurkan dokter."


Ucap ibunya stela kemudian.


"Iya, bu. Stela paham. Stela hanya takut jack depresi dan merasa tertekan."


Ucap stela.


"Kita bisa memberitahunya secara perlahan."


"Safa...., ikut tante yuk. Sebelum tante pergi jauh dan hanya setahun sekali pulangnya."


Ucapan stela membuat kedua wanita itu tercengang dan saling pandang.


"Setahun sekali pulang? Memangnya silla mau kemana?"


"Silla akan kuliah di sidney, bu. Dan juga tinggal sama papanya kak rafa."


"Kenapa kau tidak memberitahu kakak?"


"Ih..., kakak ini lupa atau amnesia? Silla kan sudah memberitahu kakak."


Ucap silla sedikit sewot.


"Hihihi..., iya ya. Maaf, kakak lupa.''


Silla menggendong baby safa masuk ke dalam ruang rawat kakaknya, sementara stela dan ibunya masih duduk di luar. Sikap gemas silla sedikit membuat stela merasa terhibur dengan tingkah gemoy nya.


"Sepertinya ide silla bagus juga."


Ucap ibunya.


" Apa maksud ibu?"


"Ya...., kau bisa tinggal di singapore bersama safa dan jack."


"Tapi..., bu."


"Dengan begitu kalian akan jauh dari depresi. Untuk akomodasi dan tempat tinggal, ibu dan ayah yang akan menjamin nya."


"Bukan kah stela anak semata wayang ibu dan ayah?"


"Memang nya kenapa?"


"Tak menyesal stela tinggal di luar negeri?"


"Ibu dan ayahmu bisa berkunjung sekaligus liburan."


"Ya ya ya..., terserah ibu."


Entah mengapa ibunya stela memikirkan jalan terbaik untuk mereka, sepetti yang diketahui kalau ibunya stela adalah orang pertama yang selalu komplin kalau stela tinggal di luar negeri.

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2