Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Lebih jelas


__ADS_3

"Kevin, halo brother udah lama gue kagak ketemu sama lo, semenjak kerjaan lo pindah," seru Ariel menyambut tangan Kevin. Begitu juga dengan Kevin yang menjabat tangan Ariel.


"Ariel, gimana kabar lo?" balas Kevin.


"Baik." jawab Ariel.


Khaira dan Sonia saling tatap penuh dengan keheranan. Lalu menatap Kevin dan beralih menatap Ariel.


"Kalian saling kenal?" tanya Sonia keheranan.


Ariel mengangguki ucapan Sonia, lalu merangkul pundak kekasih barunya, "Aku sama Kevin udah kenal setahun."


"Jadi apa lo membiarkan seorang tamu diluar saja?" kata Kevin bertanya kepada sang pemilik kamar apartemen.


Akhirnya, Sonia mempersilahkan Kevin serta Khaira memasuki kamar apartemennya.


"Mau minum apa?" tawar Sonia basa-basi.


"Kagak perlu, palingan lo cuma punya whiskey!" celetuk Kevin.


Kevin dan Khaira lantas duduk di sofa yang sudah dipersilahkan, terlihat tempat tidur dan ruang tamu yang menjadi satu ruangan. Khaira melihat kamar yang begitu berantakan, serta ada beberapa pakaian dan pakaian dalam yang berserakan.


Sonia lantas duduk menyusul Ariel yang lebih dulu duduk berhadapan dengan Khaira dan Kevin dengan sekat meja kecil di tengah-tengah keempatnya.


Khaira tampak sangat mengamati kamar yang memang terlihat acak-acakan, dilihatnya juga bra dan cd berserakan, "Apa kamar ini baru terjadi gempa? Kenapa semuanya berantakan, bahkan pakaian dalam juga dibiarkan berserakan dilantai?"


Sonia dan Ariel saling bersitatap, bahkan keduanya belum menyelesaikan pertempurannya tadi yang masih nanggung.


"Hadeuh, kenapa gue kesini, momennya kagak pas sih." batin Kevin.


"Sebenarnya lo mau apa ke sini Vin? Lo tau nggak, lo dateng pada saat waktu yang nggak pas, padahal nanggung nih mau keluar," kata Ariel tanpa basa-basi.


"Ariel," kata Sonia menghentikan ucapan Ariel agar tidak membuka kartunya.


Kevin mencibir perilaku kedua manusia mesum di hadapannya. "Gila!”


"Keluar? Keluar apanya yang keluar? Oh Mbak sama Masnya mau keluar toh?" kata Khaira melihat Sonia dan Ariel bergantian lalu melihat melihat Kevin dan menggandeng tangan suaminya, "ayok Mas Kevin, mereka mau keluar katanya?" ajaknya pada Kevin yang masih santai duduk.


Sonia membulatkan mata sempurna melihat wanita yang beberapa hari lalu di rumah Kevin, ia melihat wanita yang sedang menggandeng tangan mantan kekasih itu masih sangat lugu. Tidak menyahut pembahasan dewasa yang sedang dikatakan Ariel.


Begitu juga dengan Ariel dan Kevin yang saling melempar tatapan satu sama lain.


"Bukan itu maksudnya keluar dari kamar mandi, iya keluar dari kamar mandi." kata Ariel meluruskan perkataannya yang sudah disalah artikan oleh wanita yang duduk di sebelah Kevin, "Aduh Kevin nemu dimana sih cewek lugu kayak gitu, akh jadi gemes gue." batinnya memandangi wanita berhijab hitam.


"Jadi maksud kedatangan gue kesini mau meluruskan kesalahpahaman istri gue," kata Kevin memegang paha Khaira yang tertutupi celana training panjang warna hitam, "Sonia jelasin, kalau kita udah berpisah dan nggak ada hubungan apa-apa lagi!"

__ADS_1


Khaira memindahkan tangan Kevin yang bertumpu di atas pahanya. Seketika itu juga mendapat tatapan mata dari Kevin, Khaira hanya memasang cengiran kuda.


Ariel terkejut mendengar Kevin berkata 'istri. "Hah, gue kagak salah dengar Vin? Cewek ini bini Lo? Kapan lo nikah?" ucapnya seraya menuju wanita yang berada disebelah Kevin.


"Jadi apa yang gue dengar itu benar Vin, kalau kamu sudah menikah, kapan?" tanya Sonia tercengang, dilihatnya pria yang masih dicintainya lalu beralih menatap kearah wanita yang dikenalkan Kevin sebagai istri.


Kevin tersenyum tipis menatap Khaira intens, ia mencium singkat kening Khaira.


"Lagi dan lagi Mas Kevin selalu saja bertindak sesuka hati. Apa yang dilakukannya sekarang ini? Awas aja udah berani mencium keningku!" seloroh Khaira namun di dalam hati, bagaimana pun ia tak mau menegur Kevin dihadapan orang lain yang nantinya bisa saja membuat Kevin malu. Ia memasang senyuman kecut kearah kedua orang didepannya.


"Ya, namanya Khaira, dia istri gue yang sah. Dan gue memang nggak ada niatan buat ngudang kalian berdua." kata Kevin memperkenalkan Khaira kepada Ariel dan Sonia sang mantan kekasih.


"Wow asem banget lo Vin, lamaran gue kagak denger, bahkan nikahan pun gue kagak di undang, teman macam apa lo?" ucap Ariel, merespon pengakuan Kevin yang sudah mempunyai istri.


Sedangkan Sonia merasakan ketidaksenangannya melihat Kevin kini memperkenalkan seorang wanita, bukan hanya sekedar wanita, akan tetapi istri. Kini semakin tersisih lah ia di hati Kevin.


"Bagaimana caranya aku bisa balikan lagi sama kamu Vin, sedangkan kamu sekarang sudah mempunyai istri? Mungkinkah aku harus merelakan mu Kevin?" monolog Sonia dalam hati.


Lamunan Sonia terhenyak kala Ariel mengusap pahanya yang putih mulus.


"Gue pacar Sonia. Gue tau kalau Kevin sama Sonia pernah pacaran, tapi sekarang udah berakhir jadi lo, Khaira. Nggak perlu khawatir ataupun cemas, Kevin adalah orang baik, jadi dia nggak mungkin mainin cewek apalagi sekarang lo udah jadi istrinya, karena Kevin adalah tipe pria yang selalu menjaga." kata Ariel yang ditujukan kepada Khaira.


"Kenapa Vin? Apa istri lo menaruh curiga? Itu wajar, bahkan selama dua tahun menjalin hubungan sama lo, gue sering curiga dan khawatir terlebih saban malam lo pasti bertemu sama cewek cantik nan bohai, " Sonia memanas-manasi Khaira.


"Sonia, gue dateng kesini cuma mau lo meluruskan hal ini, gue kagak minta lo buat komentarin tentang dunia malam gue!" kata Kevin geram.


"Eh, santai dong lo Vin, lagi ngomong sama cewek begitu amat lo, nada bicara lo!" sahut Ariel ikut bersuara membela Sonia.


"Lo, nggak usah ngajarin gue tentang ngomong santai Riel. Lo sendiri aja nggak bisa santai sama cewek yang sering lo pacari," jawab Kevin, setengah tersulut emosi kala mengingat sewaktu Ariel pernah membentak seorang wanita di depan diskotek Valencia.


"Ariel! Kevin!" Sonia memanggil Pria disebelahnya untuk tidak melanjutkan perdebatan di antara Ariel maupun Kevin.


Sonia, beralih menatap Khaira, ia melihat raut wajah yang masih lugu, yang sejak tadi hanya diam saja.


"Hubunganku sama Kevin memang sudah berakhir, jadi kamu nggak perlu khawatir, kecuali?" kata Sonia menghentikan ucapannya di ujung lidah.


"Maksudnya, kecuali apa?" tanya Khaira memastikan.


"Kecuali apabila ada pelakor lain yang menggoda Kevin, dan Kevin menyambut pelakor itu dengan senang hati," ucap Sonia melanjutkan ucapannya yang tertahan.


"Nggak mungkin!" sergah Kevin, ia merasa sangat tidak mungkin ia tergoda oleh pelakor.


"Hey tenanglah Vin," kata Ariel ikut bersuara.


Sonia menatap Kevin detik kemudian menatap Khaira, "Kevin adalah pria baik-baik, selama aku mengenalnya, dia menghargai wanita, mungkin karena kehilangan Ibu dan adiknya. Aku berpikir Kevin nggak pernah mencintaiku karena jarang sekali mempunyai waktu untukku, hingga aku memutuskan untuk meninggalkannya."

__ADS_1


Jelas Sonia mengingat ketika dirinya masih menjalin kasih dengan Kevin, Sonia mengenal Kevin sebagai pria yang sopan. Meskipun Kevin bekerja di tempat hiburan malam.


Mendengar pengakuan Sonia, Kevin merasa bersalah. Ia kini menyadari, kurangnya quality time, sangat mudah menjerumuskan hubungan toxic.


"Jika menurut Abah ku, pria baik adalah pria yang bisa menjaga marwah dari wanita yang dicintainya. Salah satu jalan keluar dari perbuatan tercela adalah menikah," tukas Khaira menerangkan apa yang Abah nasehatkan.


"Seperti yang kita lakukan kan, sayang." imbuh Kevin menoel dagu Khaira.


Tak menepis tangan Kevin, Khaira bersikap santai. Selayaknya pasangan suami-isteri yang akur. "Dari Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu pernah berkata, "Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu pakai dan kamu lepas semaumu. Mereka terhormat dan memiliki haknya."


Sonia terdiam, ia tersentuh dengan hadits yang diterangkan oleh Khaira,


"Kamu benar." ucap Sonia, membenarkan ucapan Khaira.


"Dah tuh, udah dapet pencerahan dari Mamah Dedeh, eh bini gue maksudnya, kan. Nikah dah kalian. Mau sampai kapan kalian berdua mesum, ntar kalau kalian punya anak, terus si Bapaknya kagak tanggung jawab. Anak kalian kasihan tau, nyari Bapak mana, Bapak mana? Di Jonggol, haha..." kata Kevin penuh dengan sindiran pedas, dan diakhiri dengan kekehan gaje.


Khaira menyikut lengan Kevin, yang masih tertawa seperti mengejek tanpa melihat kedua orang didepannya terlihat ingin memakannya hidup-hidup.


"Nyinyir!" celetuk Ariel.


Kevin menggidik pundaknya tak acuh.


~~


Setelah, selesai dengan urusannya. Dan lebih jelas mengenai hubungannya dengan Sonia yang benar-benar telah berakhir. Kevin berharap Khaira akan lebih membuka diri dan tidak lagi berpikir negatif tentang dirinya.


Kini Kevin kembali melajukan motornya, menuju rumah sakit, untuk cek up luka dilengan Khaira.


Namun, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Khaira masih diam saja, Kevin merasa dengan diamnya Khaira membuat ia merasa hampa. Meskipun Kevin sudah menjelaskan tentang akhir dari hubungannya dengan wanita bernama Sonia.


Akan tetapi, nampaknya masih ada yang mengganggu pikiran istrinya. Kevin merasa dengan cara apalagi untuk meyakinkannya, bahwa pernikahan bukan hanya sekedar formalitas. Ia juga kini telah membuka hatinya untuk Khaira, bahwa bisa saja hatinya tidak rela Khaira meninggalkan rumah karena ia sudah mulai jatuh cinta terhadap wanita yang ia sebut istri.


Sedangkan diamnya Khaira tengah memikirkan tentang wanita yang bernama Clara, siapa Clara? Dan apa motifnya? Mengirimkan foto-foto itu, apa wanita itu hanya ingin ia dan Kevin berseteru. Khaira menggeleng perlahan, netranya masih melihat jalanan yang dilaluinya.


Ada banyak yang Khaira tidak mengerti tentang Kevin, pria yang belum lama ia nikahi, seperti apa sifat aslinya. Dalam hatinya ia hanya ingin berprasangka baik, meskipun itu sulit dilakukannya.


"Ya Allah, sabarkanlah hamba, Engkaulah Sang Maha Pemberi Rasa cinta, maka bangkitkan lah rasa cinta hamba pada cinta hakiki, cinta sejati. Bukan cinta yang hanya bisanya cuma menyakiti." benaknya menginginkan cinta tulus, bukan hanya rasa cinta yang mudah dihapus.


Dilihatnya tangannya yang melingkar di pinggang Kevin, Khaira ingin bersandar pada bahu suaminya. Ia ingin lebih lagi merasakan sehangat apa sikap Kevin. Perlahan tapi pasti, Khaira mengikis jarak, dan menyandarkan kepala yang tertutupi helm di bahu Kevin.


"Semoga kedepannya lebih baik lagi Mas." gumam Khaira sangat lirih, nyaris seperti bisikan.



__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2