
Mentari pun kian meninggi mengitari rotasi bumi. Pukul 07:23 wib.
Di luar kamar kosan Mita orang-orang sudah melakukan aktivitas rutin paginya. Seperti ada yang mencuci pakaian, beberes rumah, dan ada juga yang memilah memilih sayuran di gerobak sayur bersamaan dengan para tetangga.
Rukun, itulah gambaran yang terlihat di Kampung Rawa Dengklok.
Sementara itu di dalam kosan Mita.
Khaira sudah bersiap untuk berangkat kerja dikarenakan pakaiannya di rumah Kevin, alhasil ia pun meminjam pakaian milik Mita yang sekiranya cocok dengan jenis pakaian yang ia pakai sehari-hari. Namun, Mita yang lebih suka dengan selera ala-ala Korean style, nampak sulit bagi Khaira mencocokkan jenis atasan dan bawahan.
“Mit, aku berasa seksi nggak sih? Kok aku nampak aneh pakai baju kamu?” Khaira bercermin, ia berulang kali melihat dirinya di pantulan cermin, mencocokkan pakaian yang dipinjamnya dari Mita. Pakaian yang memang tidak pas Khaira pakai pakaian Mita yang lebih dominan seksi.
“Itu baju udah yang paling pas lo pake Ra, yang lain lo lihat sendiri kebanyakan pendek, dan kalau berlengan panjang pasti ketat,” ujar Mita, kembali melipat pakaian yang sempat di acak adul karena mencari pakaian yang sekiranya pas dipakai sepupunya yang memang sangat berbeda jenis seleranya berpakaian.
Blazer jins sobek bagian lengan kanan dan kiri, di tambah juga sobekan ala-ala style di punggung. Panjang lengan tidak sampai pergelangan tangan. Dan panjang dibagian tubuh, hanya sebatas punggung. Di padukan dengan baju lengan pendek yang cukup ketat, hanya sebatas pinggang. Dan celananya memang panjang agak sedikit longgar, tapi mengapa harus ada sobekan pula di bagian lututnya.
“Aku kayak cabe-cabean Mita!” cetus Khaira, lusuh. Jika saja pakaiannya kemarin yang ia pakai bisa ia gunakan kembali, namun sangat tidak dianjurkan karena baunya sangatlah apek. Apa kata rekan kerja, serta pelanggan restoran jika mencium bau tidak sedap dari pakaian kemarin yang tidak diganti.
“Assalamualaikum.” salam seseorang bersamaan memasuki pintu kamar kosan yang sedikit terbuka.
Khaira secepatnya mengambil tas selempangnya guna menutupi area sensitifnya. Jika bagi Mita mungkin biasa saja, namun bagi Khaira pakaian seperti ini sangat menonjol area sensitifnya terutama di bagian lingkar pinggang sampai ke paha.
“Mas Kevin kenapa kamu masuk, tanpa ketuk pintu!” seru Khaira melihat Kevin yang sudah berdiri memasuki kosan Mita yang sepetak kamar berukuran 5x5 meter.
“Loh memangnya kenapa? Lo kan nggak lagi telanjang?” Kevin tidak menghiraukan ucapan Khaira, ia malah duduk di lantai dan menarik kantung plastik berisikan nasi uduk yang di tunjukkan Mita ancer-ancer pedagang nasi uduk.
“Iya Ra, lo kan nggak lagi telanjang. Kenapa harus di tutupin si mumuk lo pakai tas, lagian dia kan suami lo, sah-sah aja sih kalau menurut gue dia ngeliat semua lekukan tubuh lo,” ujar Mita sambil memasukkan beberapa potong pakaian kedalam lemari pakaian yang tidak terlalu besar.
Kevin mengulum senyumnya, ia sekilas melirik Khaira yang sedang membulatkan mata menatap Mita.
“Mita!” seru Khaira kesal atas apa yang dilontarkan sepupunya yang asal jeplak kalau bicara.
__ADS_1
“Apa? Memang gue salah ngomong? Lah dia kan memang suami lo, Ra!” Mita mengangkat bahunya, seraya menunjuk Kevin.
“Memangnya kenapa sama pakaian yang lo pakai, itu udah bagus. Walaupun sedikit berbeda sama yang kemarin-kemarin lo pakai, Ra.” Kevin menadahkan wajahnya menatap Khaira yang masih berdiri dengan memegang tas selempang di depan area sensitif.
“Tuh kan, selera suami lo aja sama kayak gue. Emang salah lo sendiri, selera style lo mirip-mirip Nasida ria di jaman gue masih SD!” ucap Mita seraya memoleskan bedak di wajahnya.
Kevin masih saja terus mengulum senyum melihat istrinya itu memang sangatlah berbeda dari segi penampilan dari kebanyakan wanita-wanita kota. Bukan kolot, tapi menurut aurat.
“Udah-udah, sini makan dulu. Perkara pakaian bisa di atasi, lagian ini udah waktunya kamu berangkat kerja Delf,”ujar Kevin ia berdiri mendekati Khaira yang masih berdiri enggan bergerak, seolah kalau bergerak maka pakaian yang di pakai istrinya itu akan sobek di bagian selangkangaan.
Mita heran atas panggilan (Delf), “Apa itu Delf?”
Tanpa menoleh kepada Mita, Kevin menjawab, “Delfi cokelat almond, dia merek favorit cokelat gue,”
Mita manggut-manggut, dan tidak menjawabnya lebih lanjut. Karena sedang sibuk memoles berbagai prosuk kosmetik ke wajahnya.
Kevin mendekati Khaira yang nampak ragu-ragu untuk menatapnya, “tapi memang pakaian ini sedikit lebih seksi.” ujarnya, membuat Khaira detik itu pula menatapnya dengan tatapan mata membulat.
“Dasar mesum!” cibir Khaira pedas.
Melihat wajah Mita yang memakai lipstik meleber membuat Kevin dan Khaira seketika melepaskan tawanya.
“Hahaha....”
"Nggak jauh beda kayak ondel-ondel." seru Kevin melihat wajah Mita yang agak sedikit menor.
"Mit, Mit. Kamu itu mau kerja apa mau fashion show?" Khaira geleng-geleng kepala melihat dandanan Mita.
Mita mengambil tisu lantas mengusap lipstiknya yang meleber, "Memangnya salah kalau gue pengen kelihatan cantik, pan semua wanita berhak untuk tampil modis dan seksi,"
"Ya ya ya," kata Khaira, ia ingin sekali duduk.
__ADS_1
"Ya itu udah pakaian yang paling longgar dan paling kalem yang gue punya, semua gamis gue tinggal di rumah. Yang ada di sini cuma pakaian gue yang pakai sehari-hari," tukas Mita kembali memoleskan lipstik ke bibirnya.
Khaira menghela nafas kasar, "Kamu tahu nggak ada wanita berpakaian tapi terlanjang?"
"Maksud lo, Ra?" tanya Mita tanpa melihat kepada Khaira.
"Lewat hadis yang bersumber dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ["Di antara yang termasuk ahli neraka ialah wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Yang berjalan dengan lenggak-lenggok untuk merayu dan untuk dikagumi. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya."] (HR Muslim). tukas Khaira, mengingat salah satu hadits bagi kehidupan sehari-hari yang pernah di katakan Abah.
"Iya iya, nanti pelan-pelan aku ubah penampilan ku," balas Mita pasrah jika sepupunya itu sudah mulai mengeluarkan ceramah, bak Ustadzah. Mungkin juga karena keseimbangan mendengarkan nasehat-nasehat Abah.
Kevin manggut-manggut mendengar hadits tentang kehidupan.
"Aku dengar hadist itu dari Abah, dan Abah juga selalu menerapkan pola berpakaian agar sekiranya menutup aurat, kata Abah supaya dijauhkan dari pria hidung belang, pria hidung mancung, pria mesum!" seloroh Khaira melirik tajam kepada Kevin.
Perihal soal wanita memang selalu saja riweh, heboh dan tak jarang mengundang gelak tawa. Kevin memandangi wajah polos Khaira, "Kenapa lo nggak make-up juga?"
"Buat apa aku makeup, memangnya aku mau menikah di pelaminan!" tukas Khaira menjawabnya seadanya.
Kening Kevin mengerut, "Pelaminan?" ia tersenyum tipis melihat Khaira, "Ungkapan itu kode apa cuma asal?"
"Terserah!" Khaira lantas duduk dengan sangat pelan-pelan, masih dengan tas selempangnya guna menutupi area sensitifnya.
Khaira menadahkan wajahnya menatap Kevin yang masih saja berdiri, "Kenapa cuma berdiri, dan ngelihatin aku? Jangan mikirin yang aneh-aneh."
Kevin menggidik pundaknya, lantas menyusul Khaira untuk duduk. Didekatkannya telinga Khaira lalu berbisik, "Gue nggak mikir yang aneh-aneh, cuma gue lagi mikir. Lo emang seksi pakai baju ini."
Khaira menjauhkan diri dari Kevin, "Seksi dari Hongkong!" jawabnya kesal.
Mita geleng-geleng melihat betapa galaknya Khaira pada Kevin. Bisakah ada cinta diantara keduanya? Jika Khaira selalu saja bersikap tak acuh, dingin dan sinis terhadap pria. Jangankan Kevin, pria manapun tidak akan pernah mau menjalin kasih dengan wanita ketus.
__ADS_1
Bersambung