
"Ma."
Ine pingsan setelah mengetahui kalau ian dan ane telah pergi ke luar negeri. Rafa dan beberapa security menggendong ine masuk ke dalam rumah.
Della mau pun silla sedikit cemas, pasal nya ine mempunyai luka yang belum sepenuhnya sembuh. Silla mengusap- usap tangan ine membantu memulihkan kesadaran nya, sedangkan della menciumkan minyak angin di sekitar indera penciuman ine.
Tak berapa lama tampak ine menggerakan bagian tubuh nya yang menandakan kesadaran nya telah kembali.
" Ma..., mama nggak apa- apa?"
" Kamu bikin orang khawatir saja, ne."
Beberapa saat kemudian tampak ine menggeliat mencoba untuk bangun, meskipun rasa sesak dalam dada bergemuruh disana hingga buliran air mata menetes di ujung sudut mata nya.
" Del..., kenapa nasib ku seperti ini?"
" Seperti apa?"
Della terkejut mendengar pertanyaan ine.
" Berat sekali hukuman yang harus aku terima?"
Della mengerutkan kening nya tak mengerti apa yang dikatakan ine, seketika melihat ke arah silla yang juga mengangkat kedua bahu nya.
" Hukuman? Apa maksud mu? Aku tidak mengerti."
"Ya..., aku yang menyebabkan ane seperti itu. Jadi..., sudah sepantasnya nya aku di hukum."
"Ah..., kau ini bicara apa ne? Semua sudah takdir ane seperti itu, tak perlu menyalahkan diri terus menerus."
Ucap della menenangkan ine.
"Lagi pula mereka pergi kan untuk kesembuhan ane."
" Tapi..., kenapa tidak mengabari aku del?"
" Anak- anak kita sudah dewasa, ne. Mereka tahu mama nya tidak sedang baik- baik saja, jadi mungkin saja menunda memberitahu mu."
"Tapi kalau seperti ini sama saja membunuh ku, dell."
"Jadi..., sekarang kau mati?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Hahahaha."
Silla tertawa dengan reaksi mana nya yang terlihat lucu saat menjawab pertanyaan della.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak ada, lucu saja melihat ekspresi mama."
"Kau senang melihat mama bersedih?"
"Ih..., mama. Pikiran nya selalu negatif. Mama kan bisa nengokin kakak sekaligus liburan."
"Nah..., betul kata silla."
Ucap della.
"Ne..., aku pulang dulu ya."
Della beranjak bangun dan berjalan ke kamar yang di tempati nya mengambil beberapa barang miliknya.
"Kenapa buru- buru?"
"Sudah sore, ne. Lagipula cucu ku ada di rumah, pasti nyariin oma nya tak ada di rumah."
"Hah..., baiklah. Aku juga mau pulang."
"Kok?"
"Anak- anak tidak ada di rumah, tinggal disini hanya untuk mengingat mereka."
"Yasudah, terserah kau saja. Pulang dulu ya sil, fa, jaga mama mu baik- baik!"
__ADS_1
"Iya, ma."
Jawab silla.
"Ma...? Sejak kapan kau memanggilnya mama?"
Ine sedikit terkejut dengan perubahan panggilan silla pada della.
"Mama...., mama della kan mama nya kak ian. Masa silla harus panggil tante?"
"Hem..., benar juga."
Gumam ine.
"Kau harus banyak bersabar menghadapi mama mu, dia akan berubah seperti anak kecil ketika sedang merajuk."
Bisik della pada silla, dan silla hanya tersenyum mengangguk pelan.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Pasti membicarakan ku?"
Ine merasa sedikit curiga dengan tatapan della maupun tatapan silla padanya, dengan gerak reflek menunjuk dengan jari telunjuknya pada mereka berdua.
"Tidak..., hanya sedikit saja. Daaah."
Della tersenyum melambaikan tangan nya pada sahabat sekaligus besan nya tersebut.
"Hati- hati ma!"
"Terima kasih, sayang."
Della menghilang di balik pintu mobil yang membawanya meninggalkan halaman rumah ian. Sementara rafa mendorong kursi roda milik ine saat sang mama mertua memberinya aba- aba ke arah mobil yang berarti mereka juga akan meninggalkan rumah ian.
Saat perjalanan baik silla maupun rafa saling melirik mengangkat bahu mereka saat melihat sang mama yang tampak diam membisu tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ma..., kenapa? Masih kepikiran kakak?"
" Kakakmu tega sekali tak memberitahu mama."
" Ma..., jangan berpikir seperti itu! Mungkin kakak tak ingin membuat mama sedih dan akan berpengaruh pada masa pasca operasi mama."
"Ma..., kita kan tidak tahu kesempatan itu datang? Bisa saja kak ian mengambil langkah cepat untuk kesembuhan kak ane setelah mendapat beberapa informasi."
"Kau ini..., selalu membela kakak mu. Bahkan ketika kakak mu memutuskan pindah dari rumah dan juga menikah. Tak pernah sekali pun membela mama."
"Ma... ."
Ketika perdebatan akan di mulai dan saat silla melihat sang suami tengah menatapnya dan juga menggelengkan kepala, silla menghela nafas panjang nya.
"Tapi mama suka dengan menantu mama kan?"
Silla mendadak mengingat apa yang di katakan mama della, lalu mengubah suasana itu menjadi bahan candaan memghibur sang mama.
"Apalagi ada dua baby di dalam perut menantu mama, ha..., ha?"
Ucap silla mengedipkan kedua matanya pada sang mama. Seketika ine menatap dalam sang putri, mencoba mengingat apa yang telah di ucapkan pada nya.
Beberapa menit kemudian ine tersadar dari lamunan nya, setelah terbang melayang memikirkan putra kedua dan juga menantunya kalau kata- kata yang di ucapkannya menyinggung putrinya sendiri.
"Sil..., maafin mama ya."
Silla mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang di maksud mama nya, namun setelah melihat ke arah spion dimana rafa mengangguk pelan silla pun tersenyum pada mama nya.
Meskipun menelan kekecewaan, ine tetap harus semangat demi dua orang anak yang lain apalagi jack yang sangat membutuhkan perhatian nya.
Mobil yang dikemudikan rafa dan juga mahendra tiba secara bersamaan, mahendra menunggu sang istri yang ada dalam mobil menantu nya.
"Loh..., ma. Sudah pulang? Nggak jadi ke rumah ian?"
Ine yang tak bersemangat tak menjawab pertanyaan suaminya, cenderung mengabaikan sang suami yang twngah menyapa nya. Entah ada angin apa ine bersikap demikian? Mahendra tampak sedikit khawatir dengan kemurungan istrinya.
"Sil."
Lalu mahendra hendak bertanya pada silla putrinya, namun sebuah reaksi yang diberikan silla lantas mengurungkan niatnya saat silla meletakkan jari telunjuk nya pada bibirnya.
Silla yang memapah sang mama, membawa ine berjalan langsung ke kamar nya tak ingin sang mama terlalu banyak pikiran memikirkan kakak nya.
"Ada yang terjadi dengan kakakmu?"
__ADS_1
Ucap mahendra ketika hendak duduk di sofa bersama rafa yang tengah menemani nya.
"Tidak ada, pa. Ian membawa ane pindah ke amerika."
Ucap rafa.
nn
"Apaa..., america?"
Tak hanya ine yang terkejut hingga pingsan, rupanya mahendra pun juga tak mengetahui perihal kepindahan putra dan menantu nya ke negeri orang.
"Iya, pa. Dan hari ini pun mereka berangkat, makanya mama agak sedikit syok juga sempat pingsan."
" Ha...., pingsan? Lalu...,mama tidak apa- apa?"
" Tidak, pa. Mama baik- baik saja."
" Mama mu pasti syok, kasihan dia. Kenapa ian tak memberitahu sebelum nya?"
" Entahlah, pa? Rafa juga tak mengetahui rencana ini. Meskipun rafa asisten pribadi nya, tapi ian sama sekali tak mengetahui rencana ini."
" Apaa...., jadi kakak tak mengetahui kepindahan kak ian?"
Suara silla dari kejauhan membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. Rafa hanya menggelengkan kepala nya saat sang istri menghampirinya.
"Bisa jadi ada informasi yang didapatkan nya secara tiba- tiba untuk kesembuhan, ane."
"Tapi kak, bukankah kak ane harus membuat paspor?"
Ucapan silla membuat kedua nya saling pandang, baik mahendra mau pun rafa karena kepolosan nya hampir saja membuat rafa sedikit tertawa. Beruntung mahendra mengalihkan pembicaraan hingga tak terlihat seperti sedang menertawakan kepolosan nya.
"Bagaimana dengan mama mu?"
"Mama tidur setelah minum obat, pa. Kasihan mama, sepertinya terlalu memikirkan kakak."
"Benar, mama mu sangat menyayangi ane sejak masih bayi jadi wajar kalau memikirkan mereka."
"Wah..., hebat kak ane. Sejak bayi sudah mendapat kasih sayang mama. Bagaimana dengan silla?"
"Tentu saja nana juga menyayangi mu, kau ini putrinya."
Ucap mahendra yang sedikit kesal dengan putrinya yang berubah kembali bawel seperti semula.
"Sejak kapan kau berubah menjadi lebih cerewet?"
Ucap mahendra yang membalikkan badan nya menatap sang putri, setelah itu meninggalkan mereka yang saling pandang.
"Cerewet?"
Gumam silla.
" Masa sih silla cerewet?"
Tanya silla pada rafa, dan rafa pun harus menyadari kalau istrinya masih terlalu muda untuk mengerti masalah orang dewasa.
"Tidak, sayang. Menginap atau pulang?"
"Pulang."
"Kok? Nggak kasihan mama?"
"Besuk kita kesini lagi, silla kangen rumah."
"Yah..., baiklah."
Rafa beranjak dari sofa meninggalkan sofa menuju dapur di ikuti silla.
"Kok ke dapur?"
"Kita pamit dulu pada bi ijah, sayang. Mama dan papa sedang istirahat."
"Hihihi..., baiklah."
Mereka mencari keberadaan sosok bi ijah yang memang bekerja sejak lama. Entah mengapa silla yang semula mengajak menginap tiba- tiba mengajak suami nya pulang ke rumah meskipun bi ijah melarang mereka. Namun silla tetap bersikeras mengajak pulang ke apartemen mereka.
Bersambung🙏😊
__ADS_1