
"Lelah sekali. Badan ku serasa ingin copot, semua gara- gara kak rafa."
Gumam silla menyalakan ac lalu menarik selimutnya.
Silla juga kesal karena mama dan kakak iparnya yang terus menerus menggodanya, membuatnya berpikir ke kamar saja. Tak berapa lama silla terlelap bahkan tertidur sangat pulas.
Ine menyuruh stela beristirahat sementara ia menjaga baby safa. Wanita paruh baya itu merasa kasihan dengan menantunya, semenjak kehadiran baby safa pasti kurang cukup tidur.
Ine juga sempat melihat putrinya silla yang tidur sangat pulas.
"Kau sudah dewasa, nak. Sudah menjadi seorang istri."
"Dan sebentar lagi menjadi seorang ibu."
"Mama tak menyangka gadis kecil mama, menikah dengan sangat cepat."
"Mama selalu berdoa agar putra- putri mana bahagia dengan pasangan kalian."
Setelahnya ine keluar dari kamar silla menuju kamarnya membawa baby safa yang kembali tidur.
"Sayang, bagaimana baju ini? Apa aku terlihat cantik?"
Ane yang berdiri di depan cermin menghampiri bryan yang berada di rusng kerja nya.
"Cantik, simpel, elegan, dan cocok."
"Hem..., jawaban yang sama. Tak ada koreksi sedikit pun."
Ane memanyunkan bibir nya duduk di pangkuan bryan. Entah sejak kapan ane lebih senang bermanja- manja dengan suaminya.
"Harus koreksi apa? Kalau semua memang cocok untuk mu."
"Tapi aku ingin kau bilang tak cocok."
"Hahahaha..., menurut ku? Tidak, apa pun yang dipakai istriku sangat menawan untuk ku."
"Lagi pula kenapa harus sibuk memilih baju? Bukan acara formal, kita hanya mengunjungi orang tua."
Ucap bryan.
" Tapi aku ingin terlihat menawan, ini kali pertama baby bertemu oma nya."
Ane lagi- lagi bermanja di dada bryan menginginkan perhatian yang lebih dari suaminya.
"Apa pun cocok, aku tak ingin kau kecapekan momdar- mandir memilih baju."
Bryan mencium pelan kening ane, menyentuh lembut perut yang semakin terlihat membuncit.
"Hem..., baiklah. Tapi biarkan aku tidur sebentar."
"Baiklah, tapi tidak disini."
Ane mengerutkan dahinya menatap manik mata sang suami yang seketika menggendong nya menuju tempat tidur.
Perlahan membaringkan sang istri dan juga membenarkan posisi tidur ane agar nyaman ditempat tidur.
"Bisakah kau menemaniku sampai mata ini terpejam?"
Bryan mengangguk pelan tersenyum berbaring disamping ane.
"Sayang, apa kau sudah siap?"
"Ya, tentu saja."
"Good wife."
Tak berapa lama ane terpejam terlelap terbang ke alam mimpi. Sementara bryan tampak menghubungi seseorang yang mungkin sangat penting hingga bryan pindah ke tempat yang lebih jauh dari tempat tidur. Bryan tak ingin mengganggu ketenangan dan kenyamanan tidur istrinya.
"Apa semuanya sudah siap?"
" Bagus."
"Lakukan sesuai rencana!"
"Hubungi segera dokter radit!"
"Lakukan dengan sempurna! Jangan sampai ada jejak sedikit pun."
"Good job."
Bryan tersenyum menyeringai saat mendengar semua oersiapan telah matang dan juga mengakhiri panggilan nya.
Namun kedua bola mata bryan tercengang menatap sang istri yang dikira sudah tertidur pulas ternyata berada di ambang pintu menyilangkan kedua tangan nya.
"Sayang, kenapa bangun? Apa suaraku terlalu keras hingga membuatmu terjaga?"
"Tidak, hanya aku tidak akan melewatkan hari ini. Tubuh macho mu, senyum manismu, kelembutan mu harus tetap menjadi milik ku."
Entah sejak kapan ane bersikap menjadi protektif dan juga penguasa.
"Hahaha..., tentu sayang."
Bryan tertawa lepas menyukai sikap cemburu ane dan juga protektif yang ditunjukkan.
"Aku sudah mengurus beberapa dokumen untuk tinggal di amerika."
Ane tercengang mendengar beberapa kata yang baru saja terdengar dari bibir suaminya.
"Maksudmu?"
"Kita akan tinggal di america setelah rencana kita berhasil."
Ucap bryan.
"Kau akan menjauhkan baby dengan para nenek dan kakeknya?"
"Mungkin. Aku hanya ingin suasana yang tenang menjaga mu dan baby sampai tiba hari persalinan."
__ADS_1
"Baiklah, suami ku."
"Kau tidak keberatan?"
"Tidak, karena kau akan menjaga ku. Mana mungkin
Bryan mendekap ane dari belakang melihat ke arah luar yang berisi sebuah taman bunga dan juga kolam renang.
"Berenang bisa membuat otot- otot yang tegang menjadi rileks."
Ucap ane tersenyum mendongakkan kepalanya menatap wajah suami nya.
"As your wish my wife."
Bryan menyetujui ide ane meregangkan otot- otot dengan berenang. Kedua pasangan itu tampak bahagia, dan entah apa yang mereka rencanakan.
Kediaman mahendra.
Ine tampak sibuk menyiapkan beberapa menu masakan dibantu mbok ijah dan juga beberapa snack maupun makanan penutup. Setelah menyerahkan baby safa pada stela, ine mulai memasak menu makanan untuk ketiga putra dan putrinya.
"Hari yang sangat membahagiakan."
"Lihat saja! Semua pasti menyukai kejutan ku."
"Mereka pikir aku tidak berhasil menemukan menantuku."
Gumam ine dalam hati.
"Ma..., perlu bantuan?"
Ucap stela yang turun menggendong baby safa.
"Tidak. Pergilah istirahat mumpung baby safa masih ingin tidur!"
Ucap ine tersenyum melihat safa yang masih memejamkan matanya.
"Tapi ma..., masa stela nggak bantu- bantu."
"Bantuin nya nanti saja."
"Nanti?"
"Iya..., bantuin makan makanan kesukaan mu."
"Ih..., namanya nggak bantuin ma."
"Tidak apa, sayang. Kau sudah lelah mengurus cucu mama, sana naik ke atas tidur lagi."
"Baiklah, oma."
Stela tak berhasil membujuk mama ine untuk membantunya. Mama ine memang menyayanginya sekaligus sangat memanjakan nya.
Stela kembali ke lantai atas dimana kamar jack berada dan menjadi miliknya setelah mereka menikah. Rupanya stela ikut terlelap bersama baby safa setelah kenyang menyusu.
Sore menjelang petang, stela terbangun melihat ponselnya tampak beberapa kali panggilan tak terjawab dari jack. Stela berniat menghubungi jack, namun pucuk dicinta ulam pun tiba rupanya jack kembali menelepon nya.
"Aku di rumah mama."
"Ngapain? Papa menelepon ingin membicarakan sesuatu yang penting, menyuruh kita datang kesini."
"ponselmu tidak bisa dihubungi jadi aku berangkat duluan."
"Ya, baiklah. Aku menunggumu."
Stela tampak sedikit curiga dengan sikap jack yang terlihat berbeda.
"Tidak biasanya dia bersikap datar."
"Kenapa dia tanya kenapa aku dirumah mama?"
"Apa jack ada masalah dengan papa?"
"Beberapa hari yang lalu baik- baik saja."
"Ini aneh. Aku harus segera mencari tahu semuanya."
Gumam stela yang kemudian membersihkan diri melihat baby safa masih tertidur pulas.
Ine tampak kewalahan dengan persiapan dinner yang direncanakan nya dan juga suaminya, namun sangat bahagia karena pada akhirnya keluarga mahendra bertemu satu sama lain apalagi menantu kedua nya.
Rafa tampak datang dari pintu utama setelah memencet bel tetapi tidak ada yang membuka nya. Meskipun bukan orang lain, tetap saja rafa hanta bertamu di rumah mertua nya itu.
"Ma...., sibuk? Perlu rafa bantuin?"
"Rafa...? Kapan datang?"
"Baru saja, ma. Pencet bel tak ada yang buka."
"Ih..., seperti dirumah orang lain saja. Kenapa nggak langsung masuk?"
"Rafa kan tidak tinggal disini, ma."
"Iya, tapi kamu kan mantu mama. Juga anak mama juga kan?"
"Hihihi."
Rafa hanya terkekeh geli mendengar pernyataan mama ine.
"Mau makan?"
"Tidak, ma. Masih kenyang."
"Bilang saja ingin disuapin istri. Istri mu masih tidur di atas."
Ucap ine mencebirkan bibirnya yang disambut tawa kecil rafa.
"Rafa ke atas ma."
__ADS_1
"Iya..., sekalian mandi bareng."
Rafa mengerutkan dahinya mendengar jawaban mama nya seolah mengetahui kegiatan nya bersama istrinya.
"Sayang, bangun! Sudah sore. Kau tak bantuin mama?"
Silla tampak beberapa kali mengerjapkan matanya.
"Kakak..., sudah pulang?"
Sikap manja silla yang membuatnya semakin tidak sabar memangsanya.
"Sudah sayang."
Rafa menyerang musuh dengan membabi buta,mendapat serangan dari rafa silla mendorong pelan tubuh kekar suaminya.
"Kakak..., ini dirumah mama."
"Memangnya kenapa?"
"Kakak tidak tahu mama dan kakak ipar menggodaku pagi tadi setelah kakak pergi. Rupanya mereka mendengar percakapan kita karena mereka berada di samping rumah."
"Oh ..., pantas saja."
"Pantas saja apanya?"
"Tidak, sayang. Lanjut tidur? Atau mau bangun?"
Ucap rafa yang sebenarnya mengingat ucapan mama ine.
"Silla masih ngantuk."
"Baiklah."
Alih- alih membersihkan diri rupanya rafa justru ikut berbaring memeluk tubuh kecil istrinya.
"Kakak..., bagaimana silla bisa tidur kalau kakak disini?"
Silla menoleh pada suaminya yang tengah memejamkan matanya berbaring disamping nya.
"Memang nya kenapa? Kakak juga ingin tidur sejenak."
"Kenapa? Tangan kakak bergerilya menyusuri gunung dan lautan."
Rafa tersenyum geli mendengar jawaban istri kecilnya yang sekarang mulai pandai mengolah kata- kata.
"Sedikit."
"Hah..., sedikit?"
Silla akhirnya bangun dari tempat tidur berjalan ke arah pintu. Rafa dengan seksama mengikuti kemana arah gadis itu berjalan. Rafa mengira silla akan turun membantu mama di lantai bawah, tapi pada kenyataan nya tidak. Silla justru kembali lagi setelah mengunci pintu, setidaknya membuat senyum rafa mengembang. Namun rupanya rafa salah mengira kalau gadis itu akan tidur kembali disamping nya tapi justru berbelok ke arah kamar mandi.
"Yah..., hanya angan- angan."
Gumam rafa meraih guling dan memeluknya. Sedikit gusar terbayang perkataan silla, rafa justru menyusul istrinya yang tengah berendam di kamar mandi.
"Kakak..., mengagetkan saja."
Silla membuka matanya ketika merasa ada yang ganjal di pundaknya.
"Kakak mau ngapain?"
" Mandi bareng."
"No!"
"No? Mama yang nyuruh kok."
"Mama lagi..., hanya alasan kakak saja."
Silla paham maksud mandi bareng pasti bukan hanya sekedar mandi tapi lebih dari itu.
"Tidak. Sumpah, serius."
Silla menghela nafas panjang, nyatanya menolak pun tak ada gunanya. Rafa sudah masuk ke dalam bath up berpindah posisi berada di bawah memangku silla.
Silla yang sudah selesai memakai baju meninggalkan rafa yang masih berada di kamar mandi dibawah guyuran air shower.
"Ma..., safa mana?"
"Ada sama mama nya."
"Rafa mana? Nggak turun?"
"Masih mandi, ma."
"Kenapa nggak mandi bareng?"
"Iya, karena mandi bareng jadi lama mandinya."
Ine terkekeh geli mendengar jawaban absurd putrinya yang sudah tak malu lagi padanya.
"Oo..., jangan- jangan mama yang memprovokasi kak rafa?"
Ucap silla berbalik mengerutkan dahinya dengan jari menunjuk pada mama nya.
"Tidak. Mama hanya menawari makan, tapi rafa masih kenyang katanya. Yah..., terus kenapa nggak mandi bareng?"
"Tuh..., kan. Mama ini."
"Hihihi..., biar cepat dapat cucu."
"Idih sudah punya cucu masih pingin cucu."
Silla berbalik berjalan meninggalkan mama nya ke lantai atas menuju kamar kakak pertama nya, jack.
Bersambung🙏😊
__ADS_1