Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Terbongkarnya stevi


__ADS_3

"Baby..., sudah mandi ya? Yuk.., sama unty."


Silla melihat safa tersenyum di tempat tidur saat silla menghampiri nya.


"Sayang."


"Eh..., silla. Kakak kira kakak mu datang."


"Nggak ditelepon kak?"


"Sudah, sedang on the way."


"Okay, deh. Silla bawa safa ya kak?"


"He em."


Silla membawa safa dalam gendongan nya menuju kamar nya memperlihatkan pada suaminya.


"Kak."


" Hem."


"Ingin kayak gini nggak?"


Rafa menoleh pada silla yang tengah menggendong baby safa.


"Sudah siap?"


"Kalau kakak ingin, masa silla harus menolak."


"Kuliah mu?"


"Bisa setelah melahirkan."


"Terus baby sama siapa?"


"Sama kakak lah, silla kan kuliah. Masa harus bawa baby."


"Kalau begitu tunda saja."


"Lucu kali, kak. Lihatlah! Matanya, hidung nya, pipinya embem nya, dan ini yang suka nangis."


Kali terakhir silla menyentuh lembut bibir safa hingga tersenyum.


"Terus kamu ingin?"


"He em."


"Kalau kamu kuliah sama siapa?"


Satu pertanyaan yang sama di lontarkan rafa pada silla ingin mengetahui jawaban istrinya.


"Sama kakeknya dan juga baby sitter. Kalau sama papa nya harus kerja buat bayar baby sitter, kuliah dan keperluan yang lain nya, jadi ya sama mereka."


Rafa mengerutkan dahinya mendengar jawaban yang tak sama, tapi lebih ke arah dewasa dari silla.


"Baiklah, kakak harus berusaha keras."


"Hihihi..., turun kak."


"He em."


Setelah sedikit berbincang dengan baby safa, mereka memutuskan untuk turun ke lantai satu.


Ine terkejut melihat kedatangan stevi yang membawa banyak buah tangan. Meskipun tak menyuruh nya membawa apa- apa tapi gadis itu sepertinya mengerti etika.


"Stev..., kenapa banyak bawa barang sih? Mama sudah masak banyak."


"Hanya sekedarnya, ma."


Jawab stevi dengan senyum yang kini tengah mengembang di wajah nya.


"Bagus, setidaknya mama ine mengagumi kesopanan ku."


Gumam stevi dalam hati.


"Rencana yang mulus, tanpa bersusah payah mengejar datang sendiri."


"Kau akan lihat bryan, dimana kau bertekuk lutut dengan ku. Dan kau akan menjadi milik ku, hahahaha."


Rupanya stevi masih bergelayut manja dengan pikiran nya hingga tak mendengar ajakan ine.


"Stev..., ayo masuk."


"Eh..., i ya ma."


Ine mengajak stevi masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tengah sekedar mengobrol dan berbincang.


"Kamu cantik sekali malam ini."


"Terima kasih, ma."


"Kau lihat ian, kau akan terkejut mama sudah lebih dulu mengundang istri mu."


Gumam ine dalam hati.


"Kakak ipar mu, stela ada di atas. Juga adik mu silla, mau ke atas ke kamar ian?"


"Tidak, ma. Stev disini saja menunggu bryan."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu mama tinggal sebentar ya. Mama mandi dulu."


" Iya, ma."


Ine meninggalkan stevi sendirian di ruang tengah sementara ia harus membersihkan diri setelah bertarung di dapur.


"Aduh..., kenapa bisa begini? Kacau kalau adiknya bryan melihatku tapi tidak mengenaliku sebagai kakak ipar.''


Gumam stevi dalam hatinya.


"Bagaimana ini? Mana ada kakak ipar nya lagi. Siapa kakak nya bryan pun aku tak tahu? Dan tak mengetahui kalau bryan punya kakak."


"Aku harus buat alasan pergi secepatnya. Kalau tidak, bisa bahaya penyamaran ku dan sumber uang ku."


"Mbok, buatkan minuman untuk stev."


"Baik, nyah."


Tak berapa lama mbok ijah datang membawa minuman saat stevi yang perlahan berjalan ke ruang tamu.


"Non..., ini minumnya."


Langkah stevi terhenti saat mendengar panggilan mbok ijah.


"Eh..., iya bi."


"Mau kemana, non?"


"Tidak, bi. Hanya sekedar melihat- lihat saja."


"Non siapa ya? Tamu nya nyonya?"


Rasa kepo terhadap wanita cantik di depan nya membuat sedikit curiga. Berharap nyonya nya tak kembali menjodohkan den bryan.


"Oh..., saya stevi. Calon istrinya bryan."


"Calon istri? Den bryan kan sudah menikah."


"I..., iya. Hanya pura- pura saja, sebenarnya kami belum menikah hanya ingin mengelabuhi mama saja."


Ucap stevi.


"Mengelabuhi? Tidak mungkin hanya mengelabuhi, saya pernah melihat istri den bryan menginap di rumah nya. Dan itu bukan non."


Ucap mbok ijah yang mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban stevi.


Deg...


"Mati aku! Ini tak bisa di biarkan, bagaimana kalau mama ine percaya padanya? Bisa gawat dan aku akan kehilangan semua nya."


Gumam stevi dalam hati yang merasa degup jantung nya berdegup sangat kencang.


Titt....


Mbok ijah berlari ke arah dapur mendengar bunyi suara yang datang dari arah dapur, yang ternyata suara air yang sudah mendidih. Stevi bernafas lega tak melanjutkan percakapan nya dengan mbok ijah dan ketika sekali lagi stevi berjalan ke arah ruang tamu suara ine menghentikan langkahnya.


"Stev..., mau kemana?"


"Aduh..., kenapa selalu gagal sih?"


Gumam stevi lirih.


"Nggak, ma. Ingin melihat photo keluarga di ruang tamu."


Jawab stevi sekena nya tak ingin membuat ine curiga kalau dia berniat meninggalkan tempat itu.


"Oh..., itu. Disini juga ada. Lihatlah!"


"Hah..., Bagaimana ini? Aku harus secepatnya pergi dari sini, jika tidak penyamaran ku bisa terbongkar."


Akhirnya stevi kembali lagi berjalan ke arah ine yang menunjukkan photo keluarga besar mereka. Dengan sedikit senyum menghampiri ine, tapi juga berpikir memutar otak menemukan cara yang tepat meninggalkan tempat itu.


Dert... dert...


"Tunggu sebentar, stev. Papa menelepon."


"Iya, pa."


"Kenapa papa belum pulang?"


"Belum."


"Silla dan suaminya yang sudah di rumah. Juga stela dan baby safa yang datang sejak siang."


"Memang nya kenapa?"


"Tidak jadi?"


"Oh..., begitu. Baiklah."


"Mama tunggu ya."


Ine menutup layar ponselnya setelah sang penelepon yang tak lain adalah mahendra suaminya memutus sambungan percakapan mereka.


"Stev, mama lupa memberitahu kalau hari ini memang acara khusus yang di minta papa mu untuk membicarakan hal penting."


"Aduh..., gawat. Pasti semua keluarga berkumpul, hancurlah aku."


Gumam stevi dalam hati.

__ADS_1


"Stev..., kamu tidak apa- apa kan."


"Tidak, ma. Stev hanya sedikit pusing saja."


"Pusing? Kamu belum makan? Oh..., kalau tidak istirahat di kamar bryan saja menghilangkan rasa pusing nya."


"Tidak, ma. Mungkin stev lupa minum vitamin karena kondisi stev yang kecapekan sempat drop."


Ucap stela.


"Ayo duduk!"


Ine menatap sendu pada stevi menarik kedua tangan nya menyuruhnya untuk duduk agar lebih tenang.


"Atau stev pulang saja ya, ma."


"Eh..., jangan! Papa mu sudah menelepon ian kalau dia sudah dijalan."


Ucap ine menenangkan stevi.


"Hah..., bagaimana ini? Stevi..., stevi..., kau terlalu gegabah. Bagaimana mungkin preman sepertimu bisa terjebak dalam situasi seperti ini?"


Gumam stevi dalam hati.


Tanpa di duga dan disangka ine melihat samar- samar bayangan yang sangat dikenalnya berdiri di depan mereka.


"Ma."


"Ane...? kamu datang nak? Papa yang menyuruh mu datang? Suami mu mana?"


Ucapan ine membuat stevi sedikit terkejut dan juga sedikit gugup. Bukan karena wanita yang di depan nya tetapi anggota keluarga pasti sebentar lagi akan datang.


"Iya, ma."


"Kenapa wanita itu ada disini?"


Gumam ane dalam hati.


"Sini..., kebetulan kamu kesini. Kenalin calon istri ian."


Senyum merekah mengembang di wajah stevi merasa menang dengan keberhasilan nya tetapi tidak diwajah ane yang bahkan ane berdiri diam membisu tak bergerak ditempat saat ine menyebutkan wanita disamping ine calon istri bryan.


"Kak..., loh..., loh kak."


Silla yang tengah mengendong baby safa terkejut melihat ane yang diam membisu lalu berlari ke luar rumah.


Widya yang sengaja datang atas undangan mahendra terkejut melihat ane keluar mengusap airmata di sudut matanya dan berlari ke luar rumah.


"Den..., mau kemana?"


Ucap widya yang tak mengetahui apa yang sebenarmya terjadi.


"Ada apa dengan gadis itu?"


Widya tak menghiraukan dena berangsur masuk ke dalam rumah.


"Ma..., mama ngomong apa sama kak ane?"


Ucap silla dengan nada setengah meninggi.


"Tidak ada. Hanya mengenalkan calon istri kakak mu, ian."


Ucap ine.


"Mbak, dena kenapa? Kok lari sambil nangis."


Ucap widya.


"Calon istri? Siapa?"


"Ini..., stevi."


"Ma..., istri kak ian itu kak ane. Gadis yang mama jodohin sejak kecil dengan kak ian."


Silla semakin meradang dengan pernyataan mama nya. Bahkan akan berlari mengejar ane namun hampir melupakan sesuatu yakni tengah menggendong baby safa.


"Tante, pegang."


Silla berlari mengejar ane yang berlari ke arah jalan. Sedangkan ine terkejut mendengar penjelasan silla terkulai lemas duduk di sofa.


" Kak..., kejar kak ane!"


Teriak silla pada ian, kakaknya yang kebetulan berada di halaman. Sedangkan ian ysng mendengar teriakan adiknya mengejar istrinya yang tengah berlari ke jalan.


"Ma..., bagaimana mama bisa bicara seperti itu pada istri sah kakak? Lagipula mama dapat dari mana wanita ini?"


Teriak silla yang berlari kembali masuk ke dalam rumah.


"Dan kau..., cepat tinggalkan rumah ini! Atau aku akan melaporkan mu pada polisi."


Ucap silla sebelum pergi dari ruang tengah disusul dengan rafa.


"Ma... stev."


"Stop! Jangan bicara lagi! Pergilah dari sini!"


Ucap ine.


Widya tak mengerti apa yang sedang terjadi hanya terbengong menatap sati persatu orang di ruang tengah. Setelah kepergian stevi, widya duduk mendekati ine yang terlihat sangat syok.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2