
"Jack?"
"Benar, pak."
Ucap rani.
" Terima kasih rani, kau boleh kembali kerja."
" Baik, pak."
Rani menutup pintu ruang kerja direktur kembali ke ruangan nya setelah menyampaikan informasi yang di inginkan mahendra.
" Jack? Pagi- pagi begini untuk apa dia datang ke kantor?"
" Sepertinya mencari sesuatu?"
" Brangkas ini tak ada yang mengetahui nomor pin nya kecuali keluarga."
" Apa jangan- jangan bram sudah mulai mengacaukan pikiran nya?"
" Aku harus mencegah semuanya, jika tidak jack akan hancur ditangan bram."
Mahendra tampak menyentuh tombol panggilan di layar ponselnya setelah mengetahui jack datang ke kantornya saat kantor masih belum buka.
"Halo, mbok."
"Apa jack pernah datang ke rumah sewaktu saya atau nyonya tidak ada"
"Pernah? Kapan?"
"Kemarin saat saya dan nyonya kondangan?''
"Ya, baiklah. Terima kasih, mbok."
"Tidak. Hanya bertanya saja."
Mahendra tampak sedikit diam setelah nengakhiri percakapan nya dengan mbok ijah.
"Tidak salah lagi."
"Laki- laki bedebah itu telah meracuni pikiran jack."
"Jack..., maafin papa nak."
Tak berapa lama mahendra juga menghubungi seseorang memastikan hal yang sama dan jawaban nya adalah sama.
"Tidak salah lagi."
"Sepertinya aku harus segera menghentikan langkah bram."
"Aku harus memberitahu kenyataan yang ada."
Mahendra sedikit risau dan sangat khawatir dengan kehidupan putra sulungnya itu setelah bertemu dengan bram. Mahendra sangat menyayangkan laki- laki egois itu akan menghancurkan kehidupan jack dengan ambisinya.
"Halo, ian."
"Datanglah ke rumah papa, sore ini!"
"Ada hal penting yang harus papa bicarakan."
"Jangan lupa ajak pula istrimu!"
"Iya, papa tunggu kedatangan kalian."
Mahendra mengakhiri percakapan nya dengan putra keduanya. Meminra mereka datang ke rumah untuk membicarakan hal penting.
Beberapa kali menelepon jack tetapi tak ada jawaban bahkan ponselnya tidak aktif, mahendra memutuskan menghubungi stela.
"Stela."
"Papa menghubungi suamimu tapi ponselnya tidak aktif."
"Apa kalian sedang bertengkar?"
"Oh..., Syukurlah. Tidak, papa hanya sedikit khawatir."
"Katakan padanya untuk datang malam ini ke rumah! Ada hal penting yang harus papa sampaikan."
"Baiklah. Papa tunggu, jangan lupa bawa baby safa. Papa merindukan nya."
__ADS_1
"Papa tunggu ya."
Setelahnya mahendra bernafas lega telah menghubungi semua putra dan putrinya, tapi sebaliknya mahendra melupakan hal yang sangat penting di benaknya.
"Hah..., kenapa aku jadi lupa? Jack pasti berpikiran ke rumah papa setelah gagal menemukan sesuatu."
Mahendra bergegas menghubungi penjaga rumah yang selama ini menjaga rumah peninggalan ayahnya bahkan rumah warisan itu masih terawat dengan rapi.
"Halo, bibi."
"Apa jack datang kesana?"
"Apaa..., iya? Lalu...?"
"Ya, baiklah. Aku mengerti, terima kasih telah memberitahu."
Mahendra sedikit kecewa, rupanya dia terlambat mencegah jack datang kesana dan berharap jack tak menemukan apapun disana.
"Bram..., jika terjadi sesuatu pada jack aku tidak akan memaafkan mu meskipun kau ayah biologis nya akan ku buat perhitungan dengan mu."
"Akan ku tunjukkan mahendra yang sebenarnya."
"Karena dulu aku diam karena permintaan melati dan juga paman anggoro, aku sudah tentu membalas setiap perbuatan mu."
" Sepertinya aku harus segera memberi tahu ine tentang masalah ini."
" Aku tahu dia pasti akan sangat sedih dan kecewa jika bram benar mengambil jack darinya."
Mahendra sedikit khawatir dengan kesehatan ine. Wanita yang menemaninya itu memang memiliki sedikit riwayat penyakit akut. Keterkejutan, syok atau depresi mempengaruhi kondisi jantungnya.
Mahendra tak lagi fokus dengan pekerjaan nya namun urusan kantor yang tidak dapat diwakilkan membuat mahendra mau tidak mau harus melupakan sejenak masalah itu.
Stela yang tak melihat suaminya saat membuka matanya merasa sedikit heran. Jack menjadi penghilang semenjak beberapa hari yang lalu, entah apa yang menjadi penyebab utama perubahan sikap jack tersebut.
Stela berniat mengajak baby safa setelah mendapat telepon dari mahendra, juga karena ingin makan siang atau memastikan keadaan jack baik- baik saja.
"Sayang, kita ke kantor papa ya. Papa lupa sarapan bersama kita, jadi kita yang harus pergi makan siang disana."
"Baby sama bibi dulu ya, mama mau mandi sebentar."
Stela menggendong baby setelah selesai memandikan baby dan juga merapikan tempat tidurnya.
"Bi..., tolong gendong safa sebentar. Saya mau mandi dulu."
"Uluh.., uluh..., tantiknya, mau kemana? Main ya? Sama bibi ya?"
Stela tersenyum menggelengkan kepalanya melihat interaksi bibi dengan baby safa. Stela tak langsung menuju kamar mandi, tetapi ke ruang kerja suaminya. Stela merasa sedikit curiga dengan perubahan sikap jack akhir- akhir ini.
"Ada apa dengan jack? Kenapa sepertinya ada yang disembunyikan?"
"Aku harus mencari sesuatu di ruang kerja nya."
Setelah mencari beberapa saat, stela tak menemukan sesuatu bahkan satu lembar kertas pun tak ada yang berserakan di meja maupun laci- laci yang ada.
"Tidak ada sesuatu pun. Tapi kenapa sikap jack berubah?"
"Ah..., sudahlah. Mungkin karena pekerjaan kantornya."
"Lebih baik aku mandi dan pergi ke kantor nya. Mungkin dengan aku memberinya semangat akan membuatnya tenang."
Gumam stela yang pergi meninggalkan ruang kerja jack menuju kamar mandi.
Stela memang sengaja menyuruh bibi memasak lebih pagi karena akan dibawanya ke kantor jack, setelah selesai mwmbersihkan diri dan saat baby safa tertidur.
"Bi..., makanan nya sudah siap?"
"Sudah, non. Tinggal jus kesukaan non saja."
"Baiklah."
Setelah bertanya pada bibi, stela kembali ke kamarnya mengamvil oerlwngkapan baby safa dan juga beberapa keperluan nya.
"Stela pergi dulu ya, bi. Terima kasih sudah membantu stela memasak."
"Sama- sama, non. Sudah sepantasnya begitu. Bibi antar ke bawah ya non, barang bawaan nya banyak."
"Tidak, bi. Stela bisa kok, lagi pula stela harus mandiri saat di luar. Bibi istirahat saja."
"Tapi non."
__ADS_1
"Tidak apa- apa, bi. Lagi pula taksi sudah menunggu dibawah."
"Yasudah kalau begitu. Hati- hati dijalan ya non!"
" Iya, bi."
Stela pergi membawa baby safa ke kantor jack namun tak terlihat kerepotan meskipun membawa sedikit banyak perlengkapan baby safa.
Taksi online yang sudah dipesan stela sudah menunggu dibawah, satu layanan yang digunakan stela untuk bepergian. Semenjak melahirkan, steka memang belum berani membawa mobil sendiri, menunggu sedikit waktu baby safa besar sedikit.
Jarak antara apartemen stela dan juga kantor jk group tidak begitu jauh, hanya beberapa menit saja samoai di lobby gedung kantor jack.
Senyum senang karena sudah sampai di kantor jack mengembang diwajah srela yang berniat memberi kejutan untuk suaminya. Para karyawan yang jebetukan kewat menyambut hangat kedatangan istri pemilik jk group tersebut.
"Nyonya stela..., anda datang ke kantor?"
Ucap tari yang terkejut melihat kedatangan stela, begitu juga dengan stela yang mengerutkan dahinya saat srkertaris suaminya itu bertanya demikian.
"Apa jack sedang sibuk?"
"Tidak, nyonya. Sebaliknya, pak jack tidak datang ke kantor atau belum datang sana sekali."
Ucap tari.
Bagai disambar petir, dwtak jantung dtela gelisah tak menentu mendengar pwnjekasan tari. Jack tak ada dirumah sebelum ua bangun dan berpamitan pada bibi pergi ke kantor.
"Apaa..., belum datang ke kantor? Dia pergi pagi- pagi sekali dan bilang ke kantor. Bagaimana mungkin tidak ada?"
Ucap stela dengan nada meninggi.
"Benar, nyonya. Pak jack belum datang, padahal ada rapat hari ini."
Ucap tari.
"Dan ponselnya sulit dihubungi."
"Hah...? Bagaimana mungkin?"
Stela sedikit heran dengan sikap jack yang akhirnya kecurigaan itu terjawab.
"Baiklah, tari. Aku akan menunggu sebentar."
"Silahkan, nyonya."
Tari membantu stela membuka pintu yang kebetulan baby safa dudah terbangun.
"Kemans jack pergi? Ponselnya tidak aktif lagi."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Stela memutuskan menunggu kedatangan jack yang mungkin ada urusan di luar kantor. Tapi mengapa tari tidak mengetahuinya? Beberapa pertanyaan memenuhi isi kepala stela, bahkan steka sedikit gelisah dan juga khawatir.
Satu jam berlalu jack tak juga menampakkan diri, rasa bosan menyelimuti diri stela hingga memutuskan untuk pulang.
"Tari, aku pulang saja. Kasihan baby menunggu lama."
"Baik, nyonya."
"Apa aku boleh tanya sedikit?"
Ucap stela yang sedikit ragu.
'Tentu, nyonya. Silahkan."
"Apa kantor dalam masalah?"
"Tidak, nyonya. Perusahaan baik- baik saja."
"Oh begitu, ya sudah. Oh ya..., apa aku bolwh meminta bantuanmu?"
"Tentu, nyonya. Semampu saya bisa melakukan nya."
"Jangan katakan pada jack kalau aku datang ke kantor!"
"Baik, nyonya. Sesuai permintaan nyonya."
"Terima kasih, tari."
"Sama- sama, nyonya"
__ADS_1
Stela meninggalkan kantor jack namun tak langsung pulang, tetapi gadis itu pergi ke rumah mahendra.
"Bersambung😊🙆