
"Seperti yang saya takutkan, kondisi ini akan terjadi pada pak jack."
Ucap dokter tersebut.
"Saya akan mengadakan tes lanjutan untuk menempuh langkah selanjutnya."
"Baiklah, dokter. Terima kasih."
Baik mahendra maupun baskoro mengucapkan terina kasih pada dokter yang menangani jack.
"Ma..., jack tak bisa melihat lagi. Apa stela masih mau menerima jack?"
"Jack menerima semua keputusan yang di ambil stela."
Bagai tersambar petir hati ine mendengar sang putra mengatakan demikian.
"Kalau kak stela tak menerima kakak, silla akan membawa kakak ikut bersama silla."
Ucap silla.
"Ya sayang tante, kita akan pergi bersama papa. Tante akan merawat mu dan juga papa."
Ucapan silla membuat semua tercengang.
"Silla."
" Apa..., enak saja. Dia hanya miliku dan safa. Tidak ada yang boleh membawanya."
Ucap stela yang tiba- tiba muncul dari balik pintu.
"Kenapa tidak?"
"Tidak boleh."
"Aku adiknya."
"Aku istrinya."
Semua orang tercengang melihat perdebatan antara silla dan stela hampir tak percaya.
"Sini..., ini anak ku."
"Hahahaha..., tidak. Aku tante nya."
"Tapi aku mamanya dan yang telah melahirkan nya."
"Eh..., eh..., kenapa berebut? Kasihan safa nak."
Ucap ine yang melihat ketegangan antara kedua putrinya.
"Berikan padaku!"
Silla ternganga ketika melihat ke arah sang mama, dengan cepat stela menyambar baby safa dari gendongan silla.
"Lihat saja, aku akan membawa mereka tinggal di luar negeri!!"
"Apaa."
"Apaa."
"Apaa."
Sontak saja semua orang terkejut dengan pernyataan stela.
"Tinggal di luar negeri?"
Ine terkukai lemas di kursi rodanya, sementara ibunya stela tersenyum sumringah melihat putrinya menyetujui tinggal di luar negeri.
"Mama bisa kewalahan kalau kalian tinggal di luar negeri."
"Memang nya kenapa? Justru mama akan holiday setiap seminggu sekali."
Ucap silla yang seketika naik duduk di atas ranjang jack. Jack hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat ekspresi setiap orang yang ada dikamar nya.
"Kak..., ikut silla saja ya?"
"Tidak boleh."
"Kenapa tidak? Silla akan merawat kakak dengan baik."
"Dia suami ku, ayah dari anak ku, bagaimana kau bisa memisahkan mereka?"
"Kakak yakin?"
"Kenapa tidak? Kau ingin bukti kalau kami sudah menikah?"
"Tidak, tapi perlu bukti kalau kak stela menerima kakak silla dalam kondisi apa pun."
Entah apa yang direncanakan silla hingga berkata demikian, juga membuat semua orang terperanga melihat perdebatan mereka.
"Tentu saja. Sebaiknya kau turun, karena itu adalah tempat ku."
"Tidak."
" Turun!"
"Tidak."
"Kau..., awas kau!!"
"Ma...., titip safa sebentar."
Stela memberikan safa pada ine lalu menghampiri silla yang duduk disamping jack memeluk pinggang suami nya.
"Silla."
Ucap jack setelah mendengar stela menitipkan safa, istrinya itu mudah sekali merasa cemburu.
"Tidak, kak. Jangan khawatir! Silla akan merawatmu."
"Tidak, dia suami ku."
"Kakak masih menerimanya?"
"Apa maksudmu?"
Stela terdiam setelah berusaha menarik tangan silla ketika mendengar ucapan silla.
"Meskipun kak jack tidak bisa melihat?"
__ADS_1
"Tentu saja."
"Dan bukan kakak kandung silla?"
"Aku sudah tahu."
Deg....
Jawaban stela sangat mengejutkan jack dan juga orang tua stela yang menyembunyikan kebenaran itu.
" Dari mana kau tahu aku bukan kakak kandung silla?"
Ucap jack.
" Darimana itu tidak penting. Yang penting aku sudah tahu."
"Akan banyak hujatan, cacian jika identitas kakak terungkap. Sanggup menerima semua nya?"
"Heh..., gadis kecil , aku tidak peduli semua itu yang ku tahu jack hanya milik ku dan safa."
Ucap stela setengah berteriak membuat semua orang melongo mendengarnya, hampir tak percaya melihat nya. Stela yang selama ini lembut berubah garang seperti singa.
"Lalu...., kenapa kau tadi menangis?"
Entah rencana siapa dan apa yang membuat ibu stela ikut- ikutan bertanya pada stela dalam situasi seperti ini.
"Karena aku tak sanggup kehilangan nya."
Ucap stela yang lagi- lagi setengah berteriak.
"Safa..., ayo kita pulang! Tante akan mengantarmu."
Ucap silla yang seketika melompat turun dari tempat tidur nenghampiri safa.
"Hei..., mau dibawa kemana anak ku?"
"Kakak..., udara rumah sakit tidak baik untuk bayi, jadi silla akan mengantar ibu pulang."
"Tidak! Jangan sekarang! Aku masih harus pumping susu untuk nya."
Ucap stela dengan nada memelas.
"Baiklah. Silla..., ayah yang akan mengantar pulang sekaligus ke kantor."
Ucap ibunya stela.
"Baiklah, bu. Princes..., tante pulang dulu ya."
Ucap silla mencium pipi gembul safa.
"Ma...., pa..., silla pulang ya. Kak..., istri mu sangat sensitif sekali. Jangan- jangan safa mau punya adik."
Ucap silla dan rafa yang menghilang di balik pintu. Tetapi sebelum pergi, ibunya stela sempat tersenyum dan mengacungkan jempol pada silla dan silla tersenyum membalasnya.
Stela yang memulai pumping asi mendadak berhenti,lalu berlari keluar ruangan. Satu- satu nya tempat yang ingin dituju stela adalah apotik. Stela teringat ucapan silla kalau sikapnya berubah sensitif.
Setelah membeli tes pack yakni alat tes kehamilan, stela pergi ke toilet umum mencoba memeriksa dengan alat tersebut.
"Hah..., lega rasanya."
"Dasar bocil, kau telah mengerjaiku. Awas kau!!"
Stela kembali ke ruang rawat jack dimana masih ada kedua orang tua jack maupun orang tua nya disana.
"Darimana?"
Tanya ibu stela.
"Ke apotik."
Jawab stela.
"Jangan bilang kau membeli tes pack ya?"
Ine mengerti maksud stela yang tiba- tiba keluar dari ruangan. Stela mengangguk pelan dengan wajah lusuh melanjutkan pumping asi untuk baby safa.
"Hasilnya?"
"Negatif."
"Hahahaha...., stela..., stela. Adikmu sangat suka mengerjai mu, kenapa kau percaya pada nya?"
Ucapan mama ine ada benarnya juga, memang dari pertama mengenal silla adalah sosok paling usil dalam keluarga mahendra.
"Entahlah, ma? Kenapa stela mendadak percaya sama bocil?"
Ucap stela.
"Tak seperti biasa nya kalian seperti tom and jerry."
"Entahlah? Stela tiba- tiba terpancing omongan bocil, sejak kapan silla berubah seperti itu?"
"Entahlah? Mama juga tidak tahu, setelah menikah silla jadi lebih dewasa bahkan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Belum menjaga adik mu."
Ucap ine.
"Jangan seperti itu! Siapa tahu kau benar- benar hamil?"
"Ih..., ibu. Tidak bu, stela sudah memastikan dengan tiga alat yang berbeda. Lama- lama ibu ketularan silla."
"Hahahaha."
" Hahahaha."
Mereka tertawa melihat reaksi stela bukan tanpa alasan, lebih menghibur stela agar tidak terlalu bersedih.
"Sayang, kau mau tidur?"
"Iya..., rasanya aku ingin tidur terus meskipun baru bangun."
Stela terdiam mengerti apa yang dirasakan suami nya lalu tersenyum membantu jack berbaring.
Kedua orang tua stela maupun jack bernafas lega, ketika stela hanya menanggapi semua perkataan jack dengan senyuman.
"Ayah mau mengantar ibumu dan safa pulang. Kau bisa istirahat."
"Iya, benar. Mama juga akan pulang."
Ucap ine.
__ADS_1
"Loh..., kok pulang ma? Dokter udah.. ."
"Ssts."
Ine meletakkan jarinya ke bibirmya menyuruh stela diam tak melanjutkan perkataan nya.
"Dokter? Mama..., mama baik- baik saja kan?"
Jack yang semula berbaring beranjak bangun khawatir terjadi sesuatu pada mama nya.
" Mama baik- baik saja, hanya lecet sedikit."
Jack memang tidak memastikan dimana luka tembak ine, saat itu tersulut emosi melihat bram menodongkan senjata tajam ke arah stela berlari mencoba menghentikan bram.
"Mama tidak bohong kan?"
"Tidak, nak. Tidurlah! Mama akan menengok adik mu sebentar."
"Baiklah."
Ine bernafas lega bisa menenangkan jack, lalu tersenyum pada stela melambaikan tangan nya setelah mahendra mendorong kursi roda nya.
Begitu pula dengan ayah dan ibu stela yang mengikuti mereka dari belakang.
"Kalian tidak bilang pada jack kalau ine terluka parah?"
"Tidak, aku tak bisa mematahkan hati dan membuatnya merasa bersalah."
Ucap ine.
"Stela beruntung mendapatkan mertua seperti mu."
Ucap ibu nya stela.
"Hahaha..., kau ini bisa saja. Tidak mampir dulu?"
"Tidak, safa tidur. Aku tak ingin membuatnya kecapekan."
"Kau benar, cucu oma jangan nakal ya!"
Baskoro berpamitan pada mahendra lalu pergi meninggalkan mereka setelah sampai di depan ruang rawat ine.
"Mau kemana?"
Ucap ine setelah suaminya berbaring, tampak mahendra berjalan ke arah pintu.
"Mau ke kantor sebentar, ma.Tidak apa- apa kan? Papa akan menyuruh silla kesini menemani mama."
"Tidak apa- apa. Jangan! Kasihan silla kurang tidur dan juga rafa. Lagi pula mama baik- baik saja."
"Baiklah, kalau begitu."
Mahendra memghilang di balik pintu setelah berpamitan pada istri nya. Ine kembali tidur saat lelah melanda sekujur tubuhnya.
Siang hari saat kedua mata ine tiba- tiba terbuka karena sebuah mimpi yang mengusik tidur nya, ine tampak sedikit khawatir dan gelisah. Ine memutuskan ke luar ruangan, berjalan menuju taman tak jauh dari kamar nya.
Tampak beberapa perawat sedang berbincang saat ine akan duduk di sebuah bangku taman.
"Kasihan sekali bapak itu, tak ada satu pun keluarga yang menjenguk atau menemani nya.
"Benar, padahal luka nya sangat parah."
"Jika dalam beberapa hari tak mendapatkan donor, maja harapan sembuh sangat tipis."
"Eh..., tapi sewaktu datang bersamaan dengan keluarga mahendra lo? Apa ada hubungan nya dengan mereka ya?"
Ine yang tak jauh dari tempat itu sontak saja mendengar apa yang mereka perbincangkan,menoleh ke arah beberapa perawat tersebut.
" Bicara apa sih? Mungkin hanya kebetulan saja."
"Iya juga sih."
Salah seorang dari mereka berjalan melewati ine, dihentikan oleh ine. Ine bertanya tentang sosok pria yang mereka bicarakan tentang luka parah yang di deritanya juga dimana pria itu di rawat.
Pikiran ine tergelitik berniat menghampiri ruang rawat sosok pria yang dibicarakan perawat tersebut. Bukan tidak mungkin pria tersebut adalah bram, ayah kandung jack.
Secara perlahan ine masuk ke ruang tersebut dan ine terkejut melihat sosok yang dipikiran nya ternyata benar, bram.
"Bagaimana kabar mu? Apa kau baik- baik saja?"
Ucap ine duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.
" Apa kau sedang mengejek ku?"
" Mengejek mu? Bagaimana mungkin aku mengejek mu sedangkan aku sendiri mengalami luka tembak yang cukup parah?"
" Cih..., apa kau sedang mengadu padaku? Semua terjadi akibat kesalahan kalian."
" Bram..., bram..., dalam keadaan seperti ini kau masih tidak berubah."
" Justru aku yang harus bertanya pada mu. Apa sekarang kau sudah puas? Setelah om anggoro, melaty dan juga orang- orang yang tidak bersalah itu menjadi korban. Rupanya belum cukup pengembaraan mu, hingga jack harus menjadi korban selanjut nya."
" Apa maksud mu? Justru dia yang menyebabkan aku jadi seperti ini."
"Hahahaha..., patutlah melaty menitipkan nya pada ku dan menutup informasi apa pun tentang orang tua kandung nya."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau mengira melaty membiarkan mu mengetahui perihal jack atau perusahaan nya?"
"Kau tidak akan tahu kalau melaty mempunyai persiapan yang matang lebih dari yang kau kira."
"Bahkan bukti kejahatan mu yang di simpan secara elok yang diberikan pada jack sejak dia lahir prematur akibat ulah mu."
"Bahkan kau sengaja memotomg rem mobil yang akan ku kendarai namun sayang nya justru melaty yang mengendarai mobil tersebut. Apa kau kira melaty tidak tahu?"
" Yah..., sudahlah. Orang seperti mu tak kan mengerti pengorbanan orang lain karena di otak mu hanya berisi ambisi. Bahkan kau tak kan peduli jika kehilangan putra kandung mu sendiri."
" Selamat, bram. Kau telah berhasil menyingkirkan penghalang mu. Tapi percayalah niat mu tidak akan sepenuh nya berhasil meskipun jack tidak bisa melihat, aku orang pertama yang akan melindungi nya."
" Apaa...., jack tidak bisa melihat."
Gumam bram dalam hati.
"Oh ya...,aku dengar tulang rangka kepala mu retak dan segera memerlukan pendonor. Jika kau ingin menebus semua dosa- dosa yang kau lakukan,mungkin masih ada kesempatan."
"Apaa."
Bersambung🙏😊
__ADS_1