
Mau tidak mau, dengan sangat terpaksa Khaira lantas mengikuti saran dari orang-orang yang mengharuskannya ikut bersama Kevin.
Entah nantinya setelah di tengah jalan ia di turunkan, atau bahkan di usir oleh Kevin pun Khaira tidak perduli, karena ia merasa terbiasa hidup mandiri. Di desa maupun di kota sekalipun tak membuat nyalinya menciut!
Setelahnya Khaira berpamitan, kepada Mita, Paman juga Bibi. Ia pun tidak lupa berpamitan kepada Pak Wahyu dan Umi Lasmi, biar bagaimanapun Beliau-beliau adalah orang baik yang sudah mencoba membela dan menolongnya.
Khaira lantas mengikuti Kevin dan juga Andi, ia melihat mobil Avanza berwarna hitam, keningnya berkerut; “Inikah mobilnya, apa mereka dari keluarga berada? Ataukah hanya mobil rental? Ah sudahlah, palingan setelah sampai di rumahnya aku langsung di depak pergi!” selorohnya dalam hati.
Kevin ngeluyur membuka pintu mobil samping kemudi, namun sebelum masuk kedalam mobil. Bang Andi sudah menarik kerah bagian belakang Kevin untuk menghentikan adiknya itu lebih dulu masuk kedalam mobil dengan cueknya tanpa memperdulikan gadis yang dinikahi Kevin satu jam lalu.
“Vin bukain pintu dong buat istrimu!” tegur Bang Andi, melirik adik iparnya.
Kevin terhenyak ia menatap Abang yang lebih tua tiga tahun darinya dengan tatapan malas, “Diakan punya kaki Bang!”
Bang Andi menggeleng tipis, “Meskipun begitu, dia sekarang adalah istrimu. Perlakukan dia dengan baik, Kevin!”
“Nggak pa-pa, benar apa katanya. Aku memang punya kaki, bahkan sangat lengkap dan sehat!” sergah Khaira tegas tanpa melirik sedikit pun kepada Kevin.
Bang Andi mengukir senyuman di kedua sudut bibirnya, “Dia suamimu, sudah sepatutnya suami memperlakukan istri dengan baik,” bijaknya Bang Andi, dalam memberikan arahan kepada pasangan yang baru saja menikah tapi sudah terjadi perdebatan yang sangat alot bin sengit.
Kevin tahu, jika Bang Andi selalu saja bisa menceramahinya, layaknya seorang pendakwah.
“Sudahlah Vin, jangan membantah. Ikuti saja apa yang gue bilang, toh nggak ada ruginya buat menyenangkan orang lain,” tegas Bang Andi lagi memberikan arahan yang baik kepada adiknya yang nampak masih sangat enggan.
Dengan sangat terpaksa Kevin lantas menurunkan kembali satu kakinya yang sudah berada di dalam mobil. Lalu berjalan menuju pintu tengah mobil lantas membukakan Khaira pintu, “Masuk!” ucapnya dingin.
Melihat Khaira bergeming membuat Bang Andi ikut meminta Khaira masuk kedalam mobil, “Adik ipar!”
Khaira menghela nafasnya kasar, lantas masuk kedalam mobil.
Di susul Kevin yang lantas membuka pintu bagian samping kemudi dan juga Andi yang mengemudikan mobilnya.
Mobil pun melaju pelan dijalan bebas hambatan.
Abang Andi lantas menanyakan beberapa pertanyaan kepada Khaira, seperti halnya. Dari manakah Khaira berasal, serta orang tuanya.
Dalam benaknya, Khaira merasa Bang Andi sendiri cukup ramah tidak seperti Kevin yang lebih arogan dengan cara bicaranya yang suka asal juga ketus. Khaira serasa seperti anak SMP yang ketahuan keluyuran oleh tim Jaguar.
“Siapa nama kamu, aku lupa tadi?” tanya Bang Andi, yang masih fokus mengemudi.
__ADS_1
"Kh.. Khaira Ningrum, Mas,” jawab Khaira tergagap, rasanya masih terasa sangat asing.
"Panggil aja Aku, Abang” ucap Bang Andi ramah.
"Hemm.. Ba-Bang,” jawab Khaira masih dengan detak jantung yang tidak beraturan. Bayangkan di dalam mobil bersama dua pria asing. Serasa mati kutu!
“Kamu berasal darimana? Dan umur kamu berapa? Kalau nggak salah dengar, kamu dari Jogja?” tanya Abang Andi sesekali melirik Khaira dari kaca mobil di atas kemudinya.
“Dari luar angkasa!” celetuk Kevin yang duduk di sebelah Andi.
“Enak aja!” sergah Khaira kesal.
“Jangan dengarkan ocehan dia yang nggak jelas,” jawab Abang Andi seraya menunjuk Kevin dengan dagunya.
“Dua puluh satu tahun lebih sebelas bulan. Iya aku memang dari Jogja.” jawab Khaira lengkap.
Abang Andi mendengar jawaban lengkap dari wanita yang di nikahi adiknya secara mendadak pun membuatnya terkekeh kecil, “Kamu lucu juga yah, ternyata.”
Khaira hanya membalas dengan senyuman sekilas, “Lucu darimana coba?” batinnya.
Sementara Kevin diam seribu bahasa, sesekali ia melihat ponselnya, seperti sedang menunggu seseorang mengirim pesan. Terkadang juga ia mengetik lalu menghapusnya, dan ia lakukan itu secara berulang-ulang.
“Tempat tinggal ku masih di daerah pedesaan, dan bisa di tempuh sekitar satu setengah jam bahkan bisa lebih tergantung dari kecepatan berkendara atau naik angkutan umum dari pusat candi Prambanan, aku hanya tinggal berdua sama Abah,” jelas Khaira.
Abang Andi yang sudah mengerti alasan orang tua Khaira mengapa tidak menjadi wali nikah pun, memilih tidak menanyakan lebih, mungkin hanya antara Khaira dan orangtuanya yang tahu. Itulah pikir Bang Andi.
Khaira cukup merasa lega, karena Bang Andi tidak menanyainya lebih.
"Lalu Ibu kamu?”
Beberapa saat Khaira terdiam, selalu ada Abah dan tidak jauh dari sana, pasti orang-orang akan menanyakan hal tentang Ibu.
Khaira menggeleng, “Nggak tau!” itulah jawaban monoton Khaira.
Hening
Bang Andi kembali terpikir oleh ucapan Bibi Khaira yang mengatakan Ibunya telah pergi.
Satu kata patah pun tak keluar dari mulut Kevin, ia diam seribu bahasa.
__ADS_1
Setelah melewati hampir dua jam perjalanan mobil yang dikemudikan Bang Andi pun telah sampai di depan sebuah rumah bergaya minimalis sederhana tapi terbilang modern.
Kevin pun turun, di susul Bang Andi dan Khaira yang membawa tas ranselnya.
Bang Andi lantas berpamitan karena akan kembali bekerja, “Gue balik sekarang!”
“Lo kagak masuk dulu Bang?” tawar Kevin.
Bang Andi yang akan membuka pintu kemudi diurungkannya, lantas menoleh kearah Kevin, “Tumben Lo nawarin gue masuk, tapi thanks, gue harus balik kerja.” pria berpostur tinggi ini lalu membuka pintu mobil, tak lama mobilnya pun benar-benar pergi dari depan rumah yang ditinggali adiknya.
Kevin sepintas melirik Khaira, lalu membuka pintu gerbang hitam yang hanya setinggi dadanya, “Masuk,” titahnya dingin.
Khaira nampak ragu untuk mengikuti langkah Kevin memasuki halaman rumah yang tidak terlalu luas.
Kevin melihat Khaira yang hanya diam saja, kembali bersuara, “Helo Nona muda, kalau lo nggak mau masuk, lo bakalan tidur di luar sama tikus-tikus!”
Khaira menatap Kevin sinis serta mendengus kesal! Ia pun akhirnya mengikuti Kevin yang sudah berada di halaman rumah, terlihat beberapa pot tanaman hias yang tak terurus.
Kevin lantas membuka pintu utama rumah, dan menyuruh Khaira masuk. “Masuklah!”
Berdiri di depan pintu yang terbuka lebar, hal yang Khaira lihat dari depan pintu, ia melihat ruang tamu yang terlihat berantakan, mungkin bila dijabarkan seperti terjadi peperangan. Tapi Khaira teringat ucapan Bang Andi, bahwa Kevin tinggal sendirian. ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah bagian ruang tamu sambil mengucap salam, “Assalamualaikum.”
Kevin lantas menyusul Khaira yang sudah terlebih dulu memasuki ruang tamu. Ia mengamati Khaira, dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Ramah dan terlihat kalem!” pikirnya.
Tatapan Kevin masih terus memperhatikan gadis bernama Khaira yang nampak kalem dengan pakaian abaya pink kalem dipadukan hijab warna senada.
“Tapi, yang nampak kalem belum tentu sekalem tampilannya. Siapa tau dia ternyata beringas, alias gadis cabe-cabean yang biasa bercocok tanam!” seloroh Kevin dalam hati, menerka-nerka. Bahwasanya ia menganggap penampilan belum tentu menjadi patokan untuk menggambarkan isi hati dan sifat seseorang.
Khaira begitu sangat mengamati ruang tamu. Namun, tiba-tiba saja ia tercengang tubuhnya terhempas ke dinding dengan wajah Kevin yang sangat dekat dengan wajahnya. Khaira membelalakkan mata bersitatap dengan sorot mata Kevin.
Kevin mendorong tubuh Khaira hingga terpojok ke dinding dan menghimpit paha Khaira dengan kedua kaki jenjangnya, lalu menahan kedua tangan Khaira keatas kepala menggunakan kepalan tangan kekarnya.
Khaira terkejut atas tindakan Kevin yang tiba-tiba saja menyerang. Ia takut, benar-benar dalam posisi takut. Di tambah lagi melihat seringai senyuman nakal Kevin yang seolah menelanjanginya bulat-bulat. Seketika rasa gelisah menghinggapi relung hati dan pikirannya.
“Ka-kamu mau ngapain?!” hardik Khaira tergagap, seraya mencoba memberontak, namun tenaga Kevin tak sebanding dengan tenaganya. Apalagi tinggi tubuh Khaira hanya setinggi leher Kevin. Meskipun ia pernah belajar silat tapi juga tidak mampu ia gunakan dalam posisi Kevin yang mengungkunginya.
~~
Bersambung
__ADS_1