
Jack bergegas mempercepat laju mobilnya berharap tak terlambat menemukan kertas itu. Stela sangat tidak menyukai benda- benda yang berantakan, apalagi ruang kerjanya.
Jack tersulut emosi melupakan istri dan anaknya, pergi begitu saja tanpa pamit pada stela.
Ceklek...
Langkah gusar jack terburu- buru menuju ruang kerjanya tanpa menyadari stela berada di ruang tengah menggendong baby safa. Stela hanya menggelengkan kepalanya mengerti keadaan suaminya yang mungkin sedang terburu- buru dengan pekerjaan kantor.
"Dimana? Kalau tidak salah aku membuangnya ke lantai."
"Jangan- jangan sudah dibersihkan stela? Atau pembantu?"
Rasa gelisah dan khawatir jack menjadi satu bahkan bayangan ketakutan kehilangan stela berada di depan matanya. Mata jack tertuju pada remasan kertas yang berada disamping tong sampah, bergegas jack menghampiri kertas itu.
"Ini dia. Aku harus ke rumah sakit mengecek kebenaran nya. Jangan sampai pria itu menipuku?"
Gumam jack dalam hati.
Jack keluar dari ruang kerjanya setelah mengantongi kertas tersebut. Berjalan terburu- buru hingga melupakan kembali istri dan anaknya. Mungkin karena gelisah dan kebimbangan yang tengah dirasakan nya.
"Sayang..., mau kemana? Kau baru saja pulang."
Ucap stela.
"E... eh, sayang. Aku ada urusan sebentar."
"Urusan? Sampai tak melihat istri disini?"
Melihat tatapan stela yang penuh curiga, jack tersenyum menghampiri stela yang duduk di sofa menggendong putri mereka.
"Sayang, maafkan aku. Aku sedang gusar, terjadi sedikit masalah dikantor."
"Hah..., kau tidak berbohong?"
"Tidak, sayang."
"Jangan- jangan kau punya wanita lain di luar karena bodyku yang belum kembali sepenuhnya? Tak sexy seperti dulu."
Ucap stela dengan nada sedikit sewot dan juga wajah yang terlihat ditekuk.
"Tidak, sayang. Percayalah!! Aku sedang mengurus beberapa masalah kantor."
"Aku janji akan menemanimu setelah selesai nanti."
Jack meyakinkan stela untuk membiarkan dia pergi meskipun hanya sebentar.
"Baiklah, kau janji."
"Iya."
Stela tersenyum menganggukkan kepalanya menandakan mengijikan jack keluar rumah.
"Baby..., jangan nakal sama mama ya! Papa hanya sebentar."
Ucap jack mencium pipi gembul baby safa.
__ADS_1
"Oh ...ya, jangan bilang aku cari wanita lain diluar!! Bahkan aku sangat takut kehilanganmu."
Ucapan jack membuat hati wanita luluh seketika bahkan pipi stela merah merona menahan sedikit malu.
"Sayang, aku pergi dulu."
"Em..., hati- hati."
Jack bernafas lega mengusap dadanya setelah keluar dari rumah. Meskipun sedikit berbohong dengan istrinya, tapi semua demi mengecek kebenarannya.
Laju kemudi jack yang tidak terlalu cepat masih saja tergaanggu dengan beberapa pernyataan yang di dengar dari bram. Jack merasa tak percaya bahkan tidak mungkin kedua orang tua yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang membohonginya.
Bagaimana mungkin papa dan mama yang memanjakan nya selama ini bukan orang tua kandungnya? Dan juga bagaimana mungkin mereka merebut perusahaan dan harta kekayaan orang lain sementara mereka punya perusahaan nomor satu di kota itu? Rasa bimbang dan keraguan muncul di benak jack.
Tak lama kemudian jack sampai ke sebuah rumah sakit dimana alamat tersebut tertera dalam kertas hasil test dna miliknya dan juga bram.
Jack berjalan menuju laboratorium mencari petugas yang ada disana, menanyakan kejelasan yang ada di kertas tersebut dan juga keaslian nya. Petugas tersebut lalu menjelaskan kebenaran dari data tersebut dan juga secara tidak sengaja bertemu dengab dokter jaga yang memeriksa dibagian laboratorium.
Bagai tersambar petir saat mendengar langsung dari dokter bahwasanya hasil tersebut akurat setelah dicek melalui file yang tersimpan di rumah sakit.
Jack duduk terkulai lemas tak berdaya mendengar kenyataan pahit tersebut. Rasanya dunia runtuh seketika meskipun baik- baik saja.
"Bagaimana mungkin aku bukan anak papa? Lalu mama..., apa dia berselingkuh dengan pak bram?"
" Tidak..., tidak..., tidak. Tidak mungkin mama melakukan itu."
"Tapi jika tidak, siapa mama kandungku?"
"Dan kenapa mereka menyembunyikan kenyataan ini?"
"Aku harus mencari tahu sebenarnya."
" Tidak..., tidak..., tidak."
"Perusahaan papa sangat maju bahkan nomor satu dikota ini, bagaimana mungkin papa menggunakan cara licik seperti itu?"
"Papa juga punya bisnis property lain nya bahkan punya beberapa saham di hotel berbintang, tak mungkin semua itu hasil mencuri."
" Tidak. Aku kenal papa dengan baik."
" Tidak, jack. Kau tidak boleh petcaya begitu saja."
" Meskipun kau bukan anak kandung papa, tapi papa memperlakukanmu dengan baik."
" Kau harus mencari tahu kebenaran nya, jack."
Jack menghela nafas panjang setelah sempat syok mendengar kenyataan yang ada, jack kembali bersikap normal dengan satu harapan menemukan kebenaran nya. Jack kembali melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya, mengingat janji yang diberikan pada istrinya.
Sejenak jack mengingat stela dan safa, juga sempat berpikir akan menerima penolakan dari stela setelah mengetahui kalau ia bukan putra kandung mahendra.
Lagi- lagi jack dalam dilema, bagaimana mengetahui kebenaran yang ada? Akankah stela menerimanya apa adanya? Jack merasa ragu dan sedikit bimbang memberitahu stela. Rasa takut kehilangan stela dan baby safa melekat dalam hatinya juga menghantui pikiran nya.
Tak berapalama jack sampai di apartemen nya, dengan sangat hati- hati jack membuka pintu lalu mencari keberadaan istrinya.
"Sayang..., sayang..., stela..., stela sayang."
__ADS_1
Jack sedikit emosi bahkan sedikit berteriak setelah mencari stela yang tak ditemukannya di kamarnya maupun kamar baby safa. Bayangan kehilangan kembali menghantui benaknya.
"Ssttss..., baby safa sedang tidur."
Stela yang berada di balkon kamarnya, sanar- samar mendengar teriakan jack secara perlahan menyuruh jack diam dengan meletakkan telunjuk ke bibirnya.
Jack bernafas lega kedua orang yang sangat disayanginya masih berada di depan nya. Entah mengapa jack merasa gusar dan gelisah setelah datang dari rumah sakit.
"Sayang..., ada apa? Kenapa kau berteriak- teriak seperti itu?"
Ucap stela pada jack yang saat ini tengah duduk di sofa seperti sedang melamun hingga tak menghiraukan stela.
"Sayang..., sayang."
" Eh..., iya, ada apa sayang?"
Jack gugup setelah menyadari panggilan stela.
"Ada apa? Kamu yang ada apa hingga tak menghiraukan panggilan ku."
Ucap stela duduk disamping jack.
"Tidak. Tidak terjadi sesuatu hanya sedikit lelah."
Ucap jack sedikit berbohong padanya.
"Apa terjadi masalah di kantor?"
"Tidak, sayang. Hanya ada beberapa kendala saja."
"Sungguh? Kau sedang tidak berbohong?"
" Tidak."
Jack meraih punggung stela lalu menariknya ke dalam pelukan nya.
"Maafkan aku sayang. Aku tak mungkin memberitahu hal yang sebenarnya."
Gumam jack dalam hati.
"Sayang, hentikan!"
"Kenapa? Kau tidak menginginkanku?"
"Bukan, tapi ini diruang tengah. Malu sama bibi."
Jack mengerti apa yang dikatakan stela, menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.
"Aaa..., sayang mau ngapain?"
"Buat adik untuk safa."
" Hah..., bilabg saja kau merindukanku."
"Iya, aku sangat merindukan mu."
__ADS_1
Jack tak melepaskan istrinya begitu saja, karena kesempatan berdua sangat langka semenjak kehadiran baby safa.
Bersambung🙏😊