Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Pria yang lucu


__ADS_3

Menjelang malam.


Kevin mengajak Khaira untuk menikmati nasi goreng langganannya. Bukan ditempat yang mewah dan bukan tempat makan yang menyediakan deretan stand kursi. Hanya pedagang nasi goreng yang saban malam mangkal di depan pertokoan yang telah tutup.


Ditatapnya wajah Khaira yang masih nampak sembab. Namun seolah lidahnya kelu untuk bertanya ada apakah gerangan yang sedang di alami istrinya. Kevin terus saja mengamati dengan seksama wajah Khaira dari samping kiri.


Sejak sampai di tempat pangkalan nasi goreng, dan telah duduk lesehan berhadapan dengan Kevin. Khaira membuang tatapannya menatap lalu lalang kendaraan yang melintas pada jam perkisaran 19:30 wib. Ya, Kevin mengajaknya untuk makan di luar pasca selesai sholat isya.


Tak ingin diam lebih lama, karena Kevin pun diam. Khaira lalu bertanya sebagai basa-basi untuk membuka obrolannya, "Mas Kevin.."


Melihat Khaira memanggilnya tanpa melihat kearahnya, Kevin diam saja. Netranya menatap punggung tangan Khaira yang berada di atas meja.


Khaira terperanjat kala merasakan punggung tangannya hangat, mengalihkan atensinya menatap tangan Kevin yang bertumpu ditangannya, sedetik kemudian ia melihat wajah Kevin yang menampilkan senyuman kecil.


"Kalau lagi bicara tuh lihat orangnya, jangan membuang tatapannya. Itu nggak sopan." Kevin bersuara kecil.


Khaira kembali menunduk, lantas menarik tangannya dari kukungan tangan Kevin, membuat jantungnya semakin berdegup kencang.


"Pasti saat ini ada yang menganggu pikiran mu kan?" Kevin dibuat penasaran akan diamnya Khaira.


Terpikir kembali pertemuannya tadi siang dengan seorang pria bernama Erik. Khaira mengangkat wajahnya bersitatap dengan manik mata Kevin yang nampak berkilau terkena lampu jalanan yang menyorot.


"Seandainya ada seseorang yang memintamu menjahui ku, apa yang akan kamu lakukan?" ucapnya lirih.


Kevin tertegun mendengar pertanyaan Khaira. "Aku akan menolaknya."


"Alasannya..?" masih Khaira tatap manik mata Kevin, mencoba menelisik silsilah kejujuran lewat mata lawan bicaranya.


"Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi." Kevin berkata penuh dengan sarat makna, bahwa memang tak bisa dipungkiri lagi, bahwa kini hal yang ia pikirkan adalah Khaira lagi, Khaira terus, dan Khaira.


Siapa yang tidak tersentuh dengan apa yang barusan saja diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya. Pria di depannya ini seolah sedang bersyair akan makna tentang cinta untuk menjeratnya lebih lama. Khaira tak mampu untuk berkata, bahwa lidahnya seperti bertulang.


Tak lama penjual nasi goreng yang Kevin kenal dengan nama Mang Sanif menyajikan dua porsi pesanannya di atas meja.


"Makasih Mang Sanif," kata Kevin, dilihatnya Mang Sanif yang menganggukki ucapannya.


Mang Sanif melihat seorang wanita muda yang duduk berhadapan dengan pelanggan setianya, lalu mengalihkan atensinya menatap Kevin, "Mamang baru melihatnya, A Kevin?"


Khaira tersenyum tipis, sedikit memaksakan diri memang untuk tersenyum ramah.


Melihat Mang Sanif lalu melihat Khaira sekilas, "Namanya Khaira, Mang Sanif. Dia istri saya,"


Mas Sanif terkejut, "Hahh.. istri?"


Khaira melihat pedagang nasi goreng yang nampak akrab dengan Kevin, sama halnya dengan Ibu-ibu kompleks perumahan yang terkejut mendengar Kevin menyebutnya istri.


"Iya Mang," Kevin tersenyum kecil, ditatapnya Khaira secara intens, "dia istri saya, dan bagaimana kita bisa bertemu lalu menikah..." Kevin kembali menatap Mang Sanif, "ceritanya panjang, Mang,"


Mang Sanif manggut-manggut, "Kalau begitu, Mamang doa'in lah supaya menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, A Kevin."


"Amin, amin. Makasih Mang Sanif doanya." jawab Kevin semangat mengaminkan doa, dilihatnya Khaira yang nampak manggut-manggut dan tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Sama-sama." Mang Sanif kembali mengolah nasi goreng yang dipesan oleh pelanggan lain.


"Lihat kamu manggut-manggut begitu, aku mengasumsikan kalau kamu sedang mengamini doa Mang Sanif dalam hati," Kevin tersenyum ja'im, seraya mengedipkan matanya melihat Khaira.


Khaira menatap Kevin tanpa berkedip, sampai orang yang ditatapnya nampak salah tingkah lalu senyuman di bibir Kevin merekah. Melihat senyuman Kevin, menular padanya. Khaira pun tersenyum lebar.


Khaira merasa mood-nya telah kembali, tak ingin pusing atas peringatan dari pria bernama Erik. Toh jalani saja apa yang ada, benar apa kata Kevin. Semakin memberontak akan semakin terasa kejam.


"Kamu tahu Mas Kevin."


"Tahu soal apa?" Kevin menjawab sembari mengaduk nasi goreng seperti mau memakan mie ayam.


"Pandangan ku sekarang tentang mu berbeda."


"Lalu, apa aku bisa dikategorikan suami idaman?"


Khaira tak lagi mengelak. Ia mengangguk. "Iya, bisa jadi. Aku merasa mood ku sekarang lebih baik."


"Bagus lah, itu tandanya aku memang pria yang lucu. Atau bila perlu, aku ikut stand up komedi yah?" Kevin menatap Khaira yang sedang menyuap nasi goreng. "bagaimana menurutmu?"


Khaira mengangguk. "Ide yang bagus, tapi palingan aku yang paling banyak kasih votenya, hehe.."


Kevin ikut terkekeh kecil, lalu menyantap nasi goreng seafood nya.


Selepas menikmati sajian nasi goreng, Khaira berjalan keluar dari tenda trepal sebagai atap. Ia menunggu di motor Kevin yang terparkir tepat disebelah lapak Mang Sanif berjualan. Menunggu Kevin yang sedang membayar dua porsi nasi goreng.


Tanpa sengaja saat mengedarkan pandangannya, Khaira melihat dua orang anak yang duduk di gerobak seperti gerobak sampah sedangkan seorang Ibu berdiri di samping gerobak berpakaian lusuh. Ia mendengar pembicaraan dari ketiga orang tersebut cukup menyayat sanubari hatinya.


"Kamu tunggu di sini, Ibu akan beli nasi goreng untuk makan kalian, Neng kamu jaga adikmu, supaya nggak turun ke jalan, bisa bahaya kalau sampai adikmu tiba-tiba nyebrang." kata si Ibu kepada anaknya yang lebih besar.


"Buat Ibu juga kan?" kata anak yang lebih besar.


Sejenak Ibu terdiam, dilihatnya uang dua ribuan yang berjumlah sepuluh ribu di tangan. "Hemm bahkan untuk membeli nasi goreng yang paling murah saja tidak cukup."


Ibu kembali melihat kedua anak-anaknya yang berusia 8 tahun dan 5 tahun. Beliau mengusap pucuk kepala kedua putrinya.


Khaira merasa tersentuh melihat hal semacam itu, ia berniat menghampiri seorang Ibu yang sedang melihat uang di tangan, namun sebelum melangkahkan kakinya. Ia melihat Kevin yang baru saja keluar dari dalam tenda trepal. Khaira juga melihat Kevin sedang melihat seorang Ibu lalu melihat dua orang anak berkisar 8 tahun dan 5 tahun yang sedang berada di dalam gerobak.


Kevin berjalan melewati seorang Ibu yang sedang berbicara kepada kedua anak yang berada di dalam gerobak.


Hal yang tidak pernah diduga oleh Khaira dalam bayangannya mengenai Kevin adalah. Kevin menjatuhkan uang seratus ribuan tepat di sebelah kaki Ibu yang sedang berbicara kepada kedua anak-anaknya.


"Bu, itu uang Ibu jatuh," kata Kevin sembari menunjuk kearah sebelah kaki si Ibu.


Ibu tersentak, netranya langsung menatap uang di sebelah kakinya. Alih-alih langsung mengambilnya, si Ibu bingung lalu berkata, "I-itu bukan uang saya, Mas."


Kevin tersenyum lalu membungkukkan punggung, diambilnya uang yang semula dijatuhkannya.


"Benar ini uang Ibu, tadi saya melihat Ibu tidak sengaja menjatuhkannya," Kevin menyodorkan uang yang dilipat berwarna merah kehadapan si ibu yang masih nampak bingung, "ambilah Bu," lanjut Kevin dengan mengangguk sedikit, guna meyakinkan Ibu yang masih nampak ragu.


Meskipun ragu, si Ibu lantas mengambil uang yang disodorkan oleh seorang pemuda dihadapannya, "Te-terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu Bu." Kevin lantas berlalu dari hadapan Ibu dan sekilas melihat kearah dua anak yang nampak berbinar-binar.


"Asik, ibu banyak uang, aku bisa beli mainan... yeee..." anak berusia lima tahun berseru senang.


"Alhamdulillah, Ibu bisa beli nasi buat Ibu sendiri. Selama ini kan ibu rela menahan lapar demi kita." anak berusia 8 tahun merangkul sang Ibu. Usianya sudah cukup mengerti tentang kondisi kehidupan adik juga Ibunya sebagai tunawisma akibat tempat tinggalnya di gusur tanpa adanya ganti rugi.


"Alhamdulillah nak." Ibu mengharu biru berucap syukur, diusapnya kepala dua anak-anaknya. Setelah meninggalnya sang suami yang tertabrak truk saat mulung di Bantar gebang, membuat Bu Sulis harus menjadi tulang punggung untuk menghidupi kedua anak-anaknya yang masih kecil.


Khaira terkesima melihat Kevin yang berjalan kearahnya. Bahkan matanya tak berkedip.


"Ada apa?" Kevin mengambil helm di spion, merasa grogi ditatap sedemikian intens oleh Khaira.


Khaira menggeleng, dilihatnya Kevin yang sudah standby di atas motor. Kemudian di susul olehnya yang membonceng.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, namun berbeda dari jalanan menuju pulang. Khaira bingung, akan kemanakah Kevin pergi selanjutnya, "Ini bukan jalan pulang ya Mas?"


Tanpa menjawab pertanyaan Khaira, Kevin melihat raut wajah istrinya dari pantulan spion. Ia melajukan motornya sampai pada sebuah taman kota.


Khaira masih bingung mengapa Kevin membawanya sampai ke sini, "Mas Kevin?" ia menuntut kejelasan.


"Sebelum gue berangkat kerja, gue pengen jalan-jalan dan menghirup udara malam bareng lo, kayak pasangan lainnya." Kevin menggandeng tangan Khaira, lalu mengajaknya menyusuri taman kota, terdapat juga lampu-lampu guna penerangan taman.


"Tadi berapa Mas?"


Kevin melihat Khaira sekilas, lalu kembali mengedarkan pandangannya. "Berapa apanya?"


"Berapa yang Mas kasih buat Ibu-ibu tadi?"


"Kamu memperhatikan ku?"


Khaira menghentikan langkahnya. Kevin pun ikut berhenti. "Tentu, kamu suamiku. Bagaimana aku nggak memperhatikan mu."


Kevin tersenyum lebar. Lalu mencolek dagu Khaira. "Cieee udah ngaku suami? Seneng aku."


Khaira tersenyum, namun pikirannya kalut. Tentang memberitahu perihal pertemuannya tadi siang dengan pria bernama Erik atau tidak perlu memberitahu tentang rencana Kevin yang akan dinikahkan dengan Clara. Akan tetapi ia kemudian berpikir, hal seperti itu tidak mungkin Kevin tidak tahu.


Tiada percakapan sepanjang perjalanan, Kevin juga diam. Namun sangat menikmati suasana malam tangannya juga tidak melepaskan tangan Khaira. Namun mendadak perasaannya tidak enak, Kevin menghentikan langkahnya dan melihat keadaan sekitar. Dilihatnya beberapa orang-orang pengunjung taman yang berlalu lalang ada juga yang sedang duduk di bangku.


Khaira terhenyak, Kevin menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajah Kevin dari samping, "Ada apa Mas?" selangkah kemudian ia berhadapan dengan Kevin yang sedang mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan taman.


Grep...


Tanpa menjawab pertanyaan Khaira. Mendadak Kevin menarik Khaira masuk dalam dekapannya, sedikit memutar balikkan badannya untuk melindungi sang istri.


PRANG!!!


Lampu kaca sebagai penerang jalanan taman pecah diakibatkan lemparan batu yang datang entah darimana asalnya.


Khaira terkesiap tarikan tangan Kevin dan memeluknya erat. Beberapa detik kemudian terdengar kaca pecah, dalam sekejap mata lampu padam.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2