Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Memperbaiki


__ADS_3

Tiada obat paling mujarab untuk menyembuhkan rasa sakit hati dan kekecewaan pabila masih mengingat sesuatu yang telah membuat kecewa, dan menggaungkan rasa kekesalan yang tidak beraturan dalam hati tanpa melihat letak dari rasa toleransi mensyukuri.


Kevin berpikir, mungkinkah akibat kurangnya rasa syukur ia selalu di dera rasa kecewa? Seperti yang dialaminya saat ini. Berulang kali pun ia berpikir, mana mungkin Clara menjebaknya?


"Aarhhh... brengsek!”Kevin berseru emosi. Berharap ada sedikit kelonggaran di dadanya yang seakan terhimpit pagar beton.


Teriakan Kevin mengundang perhatian orang-orang yang lewat di sore hari ini. Tatapan mereka menyiratkan tatapan keanehan.


Semburat warna kuning keemasan melabur di langit senja petang ini. Warnanya meneduhkan mata. Warnanya di nanti bagi para menikmati waktu senja.


Tapi bagi Kevin, senja sore ini nampak muram. Senja sepertinya sedang tidak bersahabat. Senja tak membuatnya merasakan ketenangan.


Justru membuatnya semakin sesak, semakin bersalah. Semakin tak karuan rasanya. Kecewa, marah, dan emosi berbaur di relung hatinya. Otaknya serasa mendidih mengetahui akal licik Clara. Percaya tidak percaya semua itu masih dicerna.


Kilatan rasa takut menyeruak menusuki kepalanya.


Bagaimana jika Khaira sampai tahu akan hal ini? Akankah Khaira meminta haknya untuk bebas? Akankah Khaira benar-benar pergi dari kehidupannya? Akankah Khaira tak lagi ingin mengenalnya? Dan menganggapnya sebagai orang asing.


Kevin mengingat semua ucapannya, pada saat Khaira baru pertama kalinya datang ke rumah.


"Kacau!"


Sesal kian menjalari dan mengakar dalam hatinya, Kevin tak tahu, mengapa ia seolah takut untuk kehilangan Khaira. Ada apa dengan gadis itu? Seakan-akan ada aura ketenangan yang Kevin inginkan, seolah ada aura positif yang Khaira pancarkan.


Sehingga membuat Kevin kini tidak rela, berpisah dari gadis bernama lengkap Khaira Ningrum!


Pohon angsana yang tak bersalah pun menjadi saksi bahwa Kevin kini sedang sangat emosional. Beberapa kalinya Kevin meninju pohon yang tumbuh subur untuk penghijauan kota, hanya untuk meluapkan rasa sesal dan amarahnya.


Kulit jemarinya terkelupas, hingga menyebabkan darah segar keluar dari sana. Namun, Kevin tak menghiraukannya. Rasa Sakitnya pun seakan tak seberapa! Jika membayangkan kala orang-orang yang disayanginya telah tega berkhianat dan meremukkan kepercayaannya.


Saat seseorang memanggilnya pun, Kevin tak meresponnya.


“Vin, lo kenapa?”tanya Brian yang baru saja pulang dari kantor kejaksaan. Tak sengaja melihat Kevin, ia berinisiatif memarkirkan mobilnya dan menghampiri Kevin.

__ADS_1


Brian di buat penasaran, tak biasanya melihat Kevin dikawasan diskotek pada sore hari.


Kehadiran Brian nampaknya tak diindahkan oleh Kevin. Membuat Brian menepuk pundak sahabatnya yang nampak sedang bermuram durja. “Ada apa? Jangan pernah menghukum diri lo sendiri seperti ini Vin, ingat lo nggak sendiri, ada gue!”


Kevin melihat Brian, apapun tidak bisa Kevin tutup-tutupi dari Brian, Brian adalah sahabat yang paling peka, ketika Kevin ada apa-apa.


Kevin dan Brian sudah sahabatan dari kecil, Kevin bercerita kepada Brian, tentang masalahnya, setelah kejadian malam itu, yang mengakibatkannya harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang tidak pernah ia lakuin. Kevin bercerita semua apapun yang terjadi, kepada Brian. Termasuk jebakan Clara dan penyesalannya telah berlaku tidak adil pada Khaira.


“Udah nggak usah Lo sesali, semua udah takdir. Terima dia, atau kalau lo emang nggak menginginkan dia, maka talak saja bini lo dengan perkataan yang baik,” kata Brian memberikan Kevin nasehat. Brian memang seseorang yang bijak, tidak salah jika Brian kuliah di jurusan Jaksa.


“Mana bisa segampang itu, dia kemarin juga minta talak, gue kagak mau. Lo lagi nyarain buat gue talak dia, ya gue terus terang aja, ogah!" sergah Kevin menatap Brian tajam.


"Oke-oke santai aja brother, gue hanya terbawa suasana. Habis pertemuan lo dengan gadis desa yang baru datang ke kota termasuk ajaib. Seperti yang gue bilang tadi belajar ikhlas menjalani semua ini, ya siapa tau memang pertemuan lo sama si Khaira beneran jodoh, yah walaupun kagak sengaja bertemu dengan cara yang kurang baik juga," tukas Brian memberikan masukan kepada Kevin yang sekiranya pas.


"Gue menyesali semua ucapan kasar gue ke dia, dan sekarang gue merasa bersalah. Gue pengen memperbaiki kesalahan gue, terlebih kesalahan gue yang kemarin udah maksa dia, tapi yang gue takutkan, dia bersikeras buat keluar dari rumah, Bin,” ucap Kevin merunduk lusuh.


"Maksa? Maksa apa maksud lo?" tanya Brian penasaran dengan istilah ungkap paksa yang dilontarkan Kevin.


"Ah udahlah kagak penting maksa apaan, kaum jomblo susah buat di ajak sepaham," jawab Kevin dengan santainya.


Kevin menyaring semua yang Brian katakan. Benar apa kata Brian, meskipun kata maaf saja tidak cukup, maka ia akan menunjukkan ketulusannya pada Khaira.


Tunggu? Ketulusan apa? Apa sekarang ini perasaannya sudah terbesit rasa cinta? Kevin terdiam sembari memilah dan memilih dalam lubuk hatinya dari yang paling dangkal sampai yang terdalam. Benarkah cinta kepada Khaira terjadi secepat ini? Hanya sebulan? Atau hanya sekedar penghibur kesepiannya?


Brian menepuk pundak Kevin, sebagai ungkapan semangat.


Kevin mengangguk dengan penuh kemantapan. Yang penting mantap aja dulu, soal cinta mburi keri! pikirnya.


Clara melihat Kevin dan Brian sedang berbincang di stand kursi yang berada di depan cafe Belaroma, persisnya di sebelah area diskotik. Ia ingin menghampiri Kevin, dan meminta maaf.


“Kevin!” seru Clara berdiri di pelataran parkir.


Kevin dan Brian melihat Clara yang berdiri dari jarak sepuluh meter tanpa alas kaki.

__ADS_1


"Dasar cewek cacing kremi! Kurang minum obat cacing kali ya tu bocah?" geram Brian, melihat Clara. Ia kembali melihat Kevin yang sudah berdiri.


Kevin jengah untuk mendengarkan alasan apapun yang akan diucapkan oleh Clara, ia segera berdiri dan berjalan menuju motornya yang terparkir, tak ia indahkan ketika melewati Clara.


Clara membuntuti Kevin, ia ingin sekali meminta maaf pada pria yang dicintainya, “Vin, gue mohon Vin dengerin gue dulu, Vin!”


Kevin diam seribu bahasa, ia menyalakan mesin motornya dan mulai menarik kopling serta gas lalu memasukkan gigi, dan melajukan motornya tanpa sedikitpun melihat Clara yang sedang berusaha menghentikannya.


“Kevin!” teriak Clara.


Brian melihat Clara kasihan. Ia tahu Clara memang telah jatuh cinta kepada Kevin sejak lama. Ia berjalan menghampiri Clara yang nampak sangat terpuruk, “Memang menyakitkan untuk melepaskan, tetapi sering kali lebih menyakitkan untuk bertahan. Maka lepaskan saja rasa cinta lo terhadap Kevin, dia bukan milikmu Clara. Dia sudah milik orang lain, Clara!”


Clara membalas tatapan Brian sengit, "Tau apa lo tentang diri gue hah? Urus aja hidup lo sendiri!"


Clara termangu memandangi lalu lalang kendaraan yang melintas di depan jalanan diskotek, tak ingin menghiraukan perkataan Brian. Bahkan saat Brian pergi dari hadapannya, sedikit pun ia tak memalingkan wajah. Ia justru harus tahu, asal-usul dan siapa gerangan wanita yang bernama Khaira.


Wanita kampungan yang telah terjebak dan menikah dengan Kevin. Siapa wanita itu? Sudah berulang kali bahkan Clara meneror, akan tetapi wanita kampungan itu masih bertahan.


Clara beberapa kali pernah melihat Khaira pada saat masa-masanya ia mengintai rumah Kevin dan melayangkan teror. Ia berpikir dengan cara apalagi yang akan digunakannya untuk menjauhkan Khaira dari Kevin.


Beberapa ajudan berhamburan keluar dari dalam dikotek, tentu saja karena diperintahkan oleh Erik, untuk mengawal dan menjaga Clara.


Clara sama sekali tidak senang dengan perlakuan ini. Ia mengharapkan kebebasan dalam hidup. Tidak ingin ada seorang ajudan pun yang mengikuti kemana perginya.


"Minggir!" bentak Clara kepada ajudannya.


"Tidak Nona, tuan ingin kami mengawal dan mengawasi Nona." jawab salah satu ajudan yang berdiri di sebelah Nona'nya.


"Terserah kalian mau ngomong apa, gua kagak peduli!" bentak Clara, ia berjalan melewati beberapa ajudan tanpa alas kaki dan mobil berwarna merah adalah tujuannya, namun seruan Papa Erik menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.


"Clara!" seru Papa Erik berdiri di depan gedung bertingkat empat lantai, netranya melihat gelagat putrinya yang mirip seperti kerasnya wanita yang telah melahirkan anak satu-satunya itu.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2