
Deg... Penjara? Nyatanya memang ia pernah dipenjara selama setengah bulan. Dan mengenal beberapa wanita hebat di dalam sel tahanan sementara. Khaira beruntung ada pengalaman yang bisa dijadikannya pelajaran dalam menjalankan tugasnya sebagai manusia biasa yang memang selalu diuji.
Karenanya pengalaman adalah guru terbaik untuk menjalani kehidupan, agar selalu memikirkan terlebih dahulu tentang tindakan yang mungkin saja bisa membawa celaka.
Tindakan kejahatan apa pun itu jenisnya. Bahkan ditambah lagi pengangguran, atau terjadi pemecatan secara masal dari sebuah perusahaan. Dan sulitnya mencari pekerjaan, seolah menjadi momok bagi masyarakat.
Maka disitulah letak seseorang berbuat nekad, guna memenuhi kebutuhan hidup, jika dirasa memperoleh rezeki yang halal saja terasa tidak mencukupi karena kebutuhan pokok yang semakin mahal.
Namun, Khaira secara pribadi tidak membenarkan bahwa tekad seseorang untuk melakukan tindakan kejahatan, kendati berlandaskan memenuhi kebutuhan hidup atau kebutuhan keluarga.
Karena apapun yang namanya kejahatan, ujungnya selalu meresahkan masyarakat.
Lamanya ia terdiam, tidak menjawab pertanyaan Kevin. Khaira melepas bawahan mukenah dan memperlihatkan celana panjang piyama bermotif Donal bebek yang ia pakai untuk menutupi auratnya, tapi tidak melepas atasan mukenah. Karena pada saat ini, ia tidak memakai hijab, ia takut terhadap pria asing yang telah menjadi suami dadakannya.
Bahwa perbuatan Kevin disaat Khaira baru pertama kalinya masuk ke rumah ini, sudah cukup membuatnya resah.
“Aku kan cuma menghargai dan menghormati orang yang lebih tua dengan menyebut kamu Mas, tapi kalau kamu nggak suka ya pa-pa. Tinggal aku panggil aja Om, Om Kevin!” jawabnya mengalihkan pertanyaan Kevin yang membahas soal penjara, biar bagaimanapun ia tidak serta merta membuka masa lalunya yang bisa saja malah ditertawakan orang yang mendengarnya.
“Enak aja Om!” sergah Kevin ogah dengan sebutan itu, berkesan ia berusia 40 tahunan.
Kevin mengamati Khaira yang masih berdiri dan tidak melepas mukenah ataupun duduk, seolah gadis itu takut untuk memperlihatkan sehelai rambut.
“Kenapa lo nggak duduk sini, terus kenapa juga lo nggak lepas tuh mukenah, emang nggak gerah?” Kevin menepuk ranjang kosong disebelahnya.
Khaira menggeleng
“Enggak! Sama sekali nggak gerah!” Khaira melihat tangan Kevin yang menepuk ranjang, ia mengerutkan keningnya. Setelah di amat-amati bukan hanya wajah Kevin yang lebam, akan tetapi tangan pria itu juga ruam kemerahan.
“Para cowok itu memang sukanya adu otot. Nggak bisa apa diselesaikan dengan cara baik-baik, atau memang ingin terlihat sok jagoan!”gumamnya lirih, entah apa yang dilakukan Kevin. Tapi Khaira mengasumsikan bahwa memar itu karena hasil dari bertarung. Khaira menunjuk punggung tangan Kevin, “Kenapa tuh tangan?”
Kevin melirik tangannya sendiri yang memang terlihat ruam kemerahan, akibat melawan dua preman, “Oh ini?”
Khaira tidak mungkin diam saja, hatinya tergerak secara otomatis untuk mendekati pria yang kemarin sore sudah membuatnya takut, kali ini Khaira menyingkirkan rasa takutnya sejenak demi kemanusiaan, lalu duduk berjarak satu meter dari Kevin.
“Ini harus segera diobati, biar lukanya bisa segera sembuh, ini pasti sakit, kalau nggak di kompres bisa membengkak,” ujar Khaira hendak memegang wajah Kevin yang memar.
__ADS_1
Namun karena melihat sorot mata Kevin yang sedang menatapnya, membuat Khaira mengurungkan niat untuk memegang wajah Kevin, ia mengepalkan tangannya sendiri dan kembali menaruh di pangkuannya sendiri.
Sakit? Jelas saja sakit. Kevin tersenyum, kali ini senyuman tulus yang berasal dari lubuk hatinya. Lara akibat dikhianati oleh Sonia, sejenak sirna. “Manis.” ucapnya lirih, melihat betapa menggemaskannya wajah Khaira yang menampilkan mimik wajah khawatir.
Khaira tercenung mendengar ucapan Kevin, ia mundur dan langsung berdiri. Kembali canggung dan gugup, Khaira hendak pergi keluar kamar. Namun tangannya sudah di genggam oleh tangan Kevin.
“Jangan canggung, jangan gugup, dan jangan takut sama gue. Gue nggak bakal nyentuh atau pun menakut-nakuti lo sama seperti kemarin. Tapi kalau lo yang ngizinin gue nyentuh lo, ya dengan senang hati, hehe,”ucap Kevin diakhiri dengan kekehan gajenya. Ia menadahkan wajah menatap Khaira dari samping yang sedang memalingkan wajah.
Khaira sontak saja menghempaskan tangan Kevin. Ia Curiga! Apakah ucapan yang Kevin lontarkan itu hanya akal-akalan Kevin saja. Ataukah memang pria itu bersungguh-sungguh tidak akan menyentuhnya. Khaira masih enggan mempercayai Kevin.
“Aku akan secepatnya mencari tempat tinggal, karena Mita bilang aku diterima untuk bekerja di restoran tempat Mita bekerja. Jadi kamu nggak perlu lagi melihatku lagi, dan anggap saja pernikahan kemarin hanya mimpi, jadi diantara kita nggak ada yang saling sentuh-menyentuh,” balas Khaira tanpa menatap Kevin.
Kevin memejamkan matanya dalam-dalam, ia memang sudah menyalahi aturan. Sudah bertindak kurang ajar telah lancang melecehkan Khaira saat pertama kali masuk kedalam rumah. Ia menundukkan kepalanya,“Lo pasti nyesel atas pernikahan yang nggak pernah kita inginkan ini?”
“Dia bahkan nggak berniat mengucapkan kata‘maaf!” monolognya dalam hati. Khaira masih berdiri tidak menoleh sedikit kearah Kevin.
Pandangannya lurus menatap bingkai foto seorang wanita yang di apit oleh remaja laki-laki dan remaja perempuan di atas meja rias, “Aku maupun kamu nggak salah. Dan benar apa yang kamu bilang, bahwa pernikahan kita dilandasi kesalahpahaman. Maka dari itu, aku sudah berpikir nggak perlu menunggu terlalu lama untuk membebaskan kita berdua dari pernikahan palsu ini,”
Kevin terhenyak atas spekulasi pernyataan yang dilontarkan Khaira, ia menadahkan wajahnya menatap gadis itu dari samping.
Entah terdengar seperti permintaan atau hanya ingin ada seseorang yang berada di rumah yang memang terlihat suram. Ataukah memang ia merasa membutuhkan seseorang saat-saat rapuh.
Kevin telah lama merasakan kebosanan serta kesepian setelah kepergian anggota keluarganya , ia membutuhkan seorang teman di rumah ini. Bahwa kebosanan itu kejam, tapi kesepian lebih biadab daripada kebosanan. Kesepian adalah salah satu penderitaan manusia yang lebih pedih.
Khaira menoleh kearah Kevin, ia melihat Kevin menunduk lusuh. Dari sudut pandangnya, Khaira melihat Kevin adalah pria urakan dan arogan. Namun bukan berarti yang urakan dan arogan tidak mempunyai sisik baik. Ia tidak ingin mengambil kesimpulan buruk terlalu dini.
Tatapannya beralih melihat tangan Kevin yang terluka, namun Khaira teringat bahwa Kevin mempunyai pacar. Apa kata pacar Kevin jikalau nantinya pacar Kevin berkunjung ke rumah.
“Tapi apa kata pacar kamu, jika suatu saat dia berkunjung ke rumah dan melihat ku. Dia pasti akan salah paham?”
Kevin menadahkan wajahnya tatapannya bertemu pandang dengan manik mata hitam Khaira, “Dia nggak akan datang ke sini!”
Khaira tercenung mendengar jawaban Kevin, “Kenapa?”
“Sudah berakhir!” Kevin kembali menunduk, diusapnya jemarinya yang terluka lebam ruam kemerahan.
__ADS_1
Khaira tercengang dan langsung menghampiri Kevin, lantas duduk di semula ia duduk berjarak satu meter dari Kevin, “Kok bisa? Apa Mas Kevin menceritakan masalah kita kemarin? Dan membuat pacar Mas Kevin salah paham? Kalau dia nggak percaya sama apa yang Mas Kevin jelaskan, biar aku aja yang coba jelasin ke pacar Mas Kevin, biar dia percaya kalau pernikahan kita hanya salah paham dan akan segera berakhir!”
Kevin menggeleng sesaat, dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, tatapannya masih menunduk,“Nggak ada sangkut pautnya sama kesalahpahaman kita, dia yang sudah bosan,”
Khaira seperti orang dungu, ia tidak maksud dengan apa yang dijelaskan Kevin, “Maksud kamu apa? Bosan!”
Kevin menatap Khaira dengan tatapan malas.
Dibacanya sorot mata Kevin yang seolah sedang mengatakan (dasar bodoh), Khaira mengalihkan tatapannya ke lampu tidur berwarna kuning, “Kalau soal rumus matematika aku mudah saja untuk mengurainya, tapi kalau soal asmara otakku ngebleng!”
Kevin tersenyum, dan senyuman itu berubah menjadi kekehan kecil, “Hehe.. jangan bilang kalau gadis seusia lo belum pernah pacaran, ataupun ciuman apalagi nggak pernah juga jatuh cinta? Itu bohong!” tuduh Kevin.
Kevin melihat keseriusan Khaira, dan menjelaskan apa itu hubungan tentang hubungannya yang kandas, “Bosan adalah kata pengakhiran dari sebuah hubungan yang toxic,”
Khaira dleming, ia menghela nafasnya, “Memang lucu kalau usia 22 tahun belum pernah pacaran? Apa terlihat cupu, nggak gaul? Memang wajahku terlihat pembohong!”
Dilihatnya dengan seksama wajah yang tidak terlalu cantik, namun terlihat manis. Kevin tidak melihat gadis di sebelahnya adalah seorang pembohong, ia lantas menggeleng, “Nggak lucu juga sih, cuma jarang aja di zaman sekarang usia hampir 22 tahun tapi nggak pernah pacaran. Padahal anak SMP aja udah pada pacaran,”
Kevin merasa Khaira cukup asik dan nyambung diajak ngobrol. Ia melihat gadis dihadapannya juga masih lugu. Mungkinkah perbuatannya kemarin membuat Khaira takut?
“Belum pernah pacaran, tapi bukan berarti nggak pernah jatuh cinta,” jawab Khaira mengingat tentang Asep, si pria letoy berwajah mirip Iko Uwais.
Kevin terkejut, ia mengangkat alisnya, “Oh... jadi lo pernah jatuh cinta? Namanya siapa? Terus gantengan siapa sama gue?”
Khaira langsung menoleh kearah Kevin, “Iih.. kepo, ih!”
“Tinggal bilang aja gantengan gue! Ya kan?” sebut Kevin membanggakan diri.
Khaira menatap Kevin dengan seksama, wajah pria dihadapannya memang tampan, dan berhidung mancung. Sorot mata Kevin juga tajam. Tak ingin berlama-lama menatap Kevin, Khaira memalingkan wajah lalu beranjak dari duduknya, seraya mengangkat kedua tangannya, “Entahlah. Fisik yang rupawan memang membuat mata terlena, tapi yang membuat hati nyaman berasal dari hati yang berakhlak mulia, karena baik saja nggak cukup harus disandingkan dengan akhlak dan adab,”
Untuk kedua kalinya Kevin dibuat terlena oleh jawaban bijak gadis yang enggan menanggalkan mukenanya, “Benarkah?”
__ADS_1
Bersambung