Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Inilah sebuah perjalanan


__ADS_3

Asep menatap bus yang melaju kian meninggalkan pelataran parkiran terminal. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap bus yang membawa Khaira.


“Ra, hati-hati di jalan, jangan lupa makan, selalu jaga kesehatan. Semoga sampai tujuan dengan aman.”gumamnya lirih. Asep mengusap dadanya yang semakin serasa sesak saja. Mengapa begitu melow ia rasakan. mengapa gadis itu harus pergi, tanpa menjelaskan sesuatu yang pasti. Apa masalah dan apa yang sebenarnya terjadi.


Padahal, gadis itu tinggal bilang saja. Tanpa di minta bantuannya pun, Asep akan tetap mau membantu.“Khaira oh Khaira, namamu akan selalu terngiang-ngiang sampai pada waktunya tiba, kita bisa berjumpa.”


Asep menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Ia melihat jam tangan yang diberikan Khaira dua hari yang lalu. Tak terlihat mahal memang, sama seperti pengakuan Khaira. Bahwa gadis itu membelinya dengan harga yang murah.


Tapi tak mengapa, bagi Asep bukan soal harga. Tapi asal ada gunanya, yah seperti jam ini, kerap kali ia melihatnya, maka ia akan teringat waktu.


Toha dan Ucok sudah berhasil kabur dari amukan orang-orang di terminal bus yang akan menghakimi mereka.


Asep membalikkan badannya, melihat motornya yang terparkir lusuh, dikarenakan hujan kemarin sempat mengguyur, lantas berjalan menuju motornya,“Jadi ingat lagunya Chrisye, yang diaransemen sama band D'Masiv,” ucapnya sambil mengingat lagu yang pernah ia dengarkan. “Kerjarlah kasih segala keinginan mu, selagi masih ada waktu.”


Perjalan namun pasti, motor matic yang dikemudikan Asep pun melaju meninggalkan terminal.



Sementara itu Abah duduk termenung di ruang tengah, beliau tengah melihat foto Purwasih yang memakai pakaian daster sedang menggendong Khaira saat masih bayi, di balik foto ada sebuah kalimat yang membuat Abah teringat jelas di masa-masa itu.


[Anakku, kamu adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada kami.]


Kelu untuk berkata, Abah hanya bisa menangis tapi tak bersuara. Jika memang wanita itu benar menganggap anak yang dilahirkannya adalah anugerah, lalu mengapa Purwasih meninggalkan putrinya begitu saja. Tidak pernah merasa rindu kah? Tidak pernah merasa bersalah kah? Tidakkah Purwasih ingin melihat putrinya yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang tangguh? Ataukah Purwasih memang tidak memiliki hati seperti seorang Ibu.


Abah menyeka air matanya, tak ingin tumpah hanya untuk mengenang wanita yang telah tega. Tidak ingin lagi membuang air matanya percuma, rasa cintanya kepada Purwasih nyatanya tak selaras dengan yang Purwasih berikan.


Selembar surat lusuh di atas meja. Abah sengaja tidak pernah menunjukkan surat itu pada putrinya, karena surat yang berisi ditulis sang istri yang telah pergi lima belas tahun lamanya. Memanglah isi surat tersebut berkata tidak menginginkan putrinya, dan meminta Abah saja yang mengurusnya.


Bagaimana bisa, Abah membiarkan putrinya tahu tentang apa yang ditulis oleh Ibunya. Kepergian Purwasih pun sudah membuat putrinya dilematis dan menorehkan lara.

__ADS_1


“Suatu saat, kamu akan membayar mahal atas kepedihan yang kamu torehkan ini, Purwasih.” air mata kian luruh, Abah meremas surat yang ditinggalkan oleh istrinya.



Selama kurang lebih sembilan jam lamanya, bus yang membawa tiga puluh dua penumpang dan salah satunya adalah Khaira. Kini telah sampai di terminal Lebak bulus. Ya, tujuannya adalah metropolitan yang begitu banyaknya hingar-bingar kehidupan.


Menjadi tumpuan harapan bagi perantauan. Mencari rupiah guna memenuhi kebutuhan. Benar apa kata Bang Haji Roma irama, seribu satu macam cara orang cari makan. Dari yang halal cap MUI, sampai yang haram cap jempol kanan kiri. Asek!


Khaira menunggu para penumpang lain untuk turun, dan kini gilirannya. Tak lupa ia ucapkan sebuah kalimat pamungkas, menurutnya, yaitu. "Bismillahirrahmanirrahim.. semoga Allah meridhoi perjalanan ku ini. Amin.”


Ia pun melangkahkan kaki kanan di atas tanah yang beraspal, berdiri sesaat, untuk melihat apa yang kini ada di depan matanya. Seolah, ia terhipnotis oleh pemandangan yang sangat asing baginya. Tentu saja ini asing karena inilah kali pertama Khaira berada di kota metropolitan. Sebuah atmosfer bumi yang begitu banyaknya gedung tinggi menjulang.


"Inilah sebuah perjalanan,” monolognya dalam hati.


Suasana terlihat riuh dari penumpang bus yang baru turun maupun yang akan berangkat. Tak luput juga dari penglihatan Khaira, ada begitu banyak pedagang asongan yang lalu-lalang membawa berbagai macam barang dagangannya yang di gendong di depan dada.


Ada dari yang menjual minuman, ada pula yang menjual kacang-kacangan. Serta masih banyak lagi yang membuat Khaira terbengong-bengong memperhatikan semua orang yang berseliweran di depan matanya.


Khaira segera tersadar kala seorang pedagang menawarkan dagangannya.


“Kacang-kacang-kacang!”


“Aqua-aqua-aqua!”


Bukan hanya pedagang yang riuh. Para kondektur bus juga menyelaraskan suara para pedagang guna menyuarakan tujuan dari busnya.


“Ayo, ayo, Pekalongan, Semarang, Solo!”


“Mari Mbak! Mari Mas!”

__ADS_1


“Puwokerto, Banyumas, Ambarawa!”


Khaira bingung entah ia harus bertanya pada siapa untuk menunjukkan jalan ke alamat yang ia tuju. Lalu ia berjalan ke arah seorang laki-laki yang terlihat dia seorang kondektur bus, karena apa yang dilihatnya, laki-laki itu memakai seragam bertuliskan merek dari beberapa bus yang terparkir di pelataran terminal yang luas.


Khaira tak ingin merasa malu, karena katanya malu akan membuatmu tersesat dijalan. Ia lantas bertanya kepada kondektur bus, yang terlihat masih muda "Mas permisi, saya mau tanya? Kalau pangkalan ojek sebelah mana, ya Mas,”


“Lurus, terus belok kiri dan di situ ada warung-warung dan di sebelahnya ada...” jelas kondektur bus.


“Ada tukang ojeknya Mas?” tanya Khaira lagi, untuk memastikan.


Kondektur bus menggeleng, “Bukan!”


Khaira mengerutkan keningnya, “Terus kalau bukan pangkalan ojek, memang disebelah warung-warung ada apa Mas?”


“KUA!” celetuk kondektur bus yang memakai seragam baju hitam seret kuning sambil terkekeh kecil melihat gadis manis yang menanyakan pangkalan ojek.


Khaira jelas saja kesal ternyata ia kena prank, “Ye! Di tanya nggak jelas amat jawabnya Mas!”


“Iya-iya, di sebelahnya ada pangkalan ojek, Neng.” tukas kondektur bus.


“Ck. Dari tadi kek jawab!” kesal Khaira lantas pergi begitu saja dari hadapan kondektur bus yang masih saja terkekeh garing. Tapi sesaat kemudian, Khaira teringat belum mengucap kalimat terimakasih, “Terima kasih, Mas kondektur bus nyebelin!”


Sang kondektur bus pun kembali tertawa renyah. “Hahaha... Oke-oke. Sama-sama.” sambil melambaikan tangannya kearah Khaira. “Kita pasti bakal bertemu lagi adek manis!” seru si kondektur bus melihat punggung gadis manis yang tidak ia ketahui namanya semakin menjauh pergi.


Khaira mencibir,“Nggak bakal!” ucapnya lirih tanpa menoleh kearah kondektur bus.


Setelah mendapat arahan dari kondektur bus, Khaira langkahkan kaki dengan mantap, menuju tempat pangkalan ojek. Sebelumnya ia telah menghubungi Mita sepupunya dan mengingat-mengingat, instruksi dari Mita, karena sepupunya itu tidak bisa ambil cuti dan menjemputnya.


~~

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2