
Khaira langsung terperanjat bangun dan langsung duduk, ia melihat Kevin sedang bersimpuh di lantai dengan memegangi wajahnya. “Astaghfirullah Mas Kevin!”
“Anjir! Tuh kaki apa besi!”seru Kevin, merasa pipinya memar.
Khaira dengan sigap mendekati Kevin, dan mengecek benarkah ia telah melayangkan tendangan! “Mas, Mas Kevin? Mas Kevin nggak pa-pa?”
Masih memegangi pipinya yang mendapat tendangan, Kevin melihat Khaira yang nampak khawatir sedangkan tangan gadis itu sedang menggerayangi wajahnya.
“Mas Kevin, mana yang sakit? Maaf Mas Maaf, sumpah aku nggak tau kalau Mas Kevin ada di situ!” Khaira panik dan memegangi pipi Kevin yang terlihat memerah.
Melihat Khaira seperti itu, masuklah setan jahil yang membuat Kevin ingin mengerjai gadis sedang memakai mukenah. Ia memegangi kedua pipinya, dan berpura-pura mengerang seolah-olah pipinya sangat sakit akibat ditendang Khaira.
“Aduh sakit! Sakitnya!” erang Kevin, sambil menahan senyum kala melihat raut wajah Khaira yang cemas.
“Hah, sakit ya Mas, sakit yah?” Khaira memegangi punggung tangan Kevin yang berada di pipi, “Habis ngapain sih Mas Kevin di sini? Kenapa setiap kali pulang nggak salam nggak bersuara?!”
“Aduh.. lo mimpi apa sih sampai bisa pencak silat macam itu, lo kagak tau, kalau tendangan lo sesakit ini! Wajah gue yang ganteng ini merasa mendapat penghargaan karena di cap ama jari-jari kaki lo nih!” nampaknya akting Kevin sebagai pemain pengganti masih berlaku, gadis itupun pun percaya dan terlihat sangat merasa bersalah. (bisa ae Lu bambang)
Kevin duduk di tepian ranjang masih mengusap pipinya yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
“Maaf Mas, Maaf. Aku kan nggak sengaja, beneran sumpah!” Khaira pun ikut duduk di samping Kevin tetapi masih ada jarak, ia lantas mengangkat tangannya lalu mengusap pipi Kevin yang mendapat tendangan dari kakinya dengan usapan lembut.
Kevin pun tertegun dengan sikap lembut dan perhatian Khaira. Ia terpana memandangi wajah gadis dihadapannya, gadis itu memang tidak secantik wanita-wanita yang ia temui di diskotik tapi gadis itu memancarkan aura kecantikan yang mungkin saja berasal dari hatinya.
Kevin merasa seluruh tubuhnya serasa menghangat dan lama kelamaan berubah menjadi sedikit lebih panas. Aliran darahnya pun mulai berdesir, bak sungai larva mengalir. “*Aaarhh perasaan apa sih ini? Kenapa irama jantung gue kagak beraturan*!” batinnya.
“Mas Kevin, biar aku ambilkan kompres,” Khaira hendak berdiri untuk mengambil kompres di dapur, namun ia dicegah oleh Kevin, membuat Khaira terduduk kembali.
“Nggak perlu, gue akan merasa lebih baik kalau lo tetap di sini.”
__ADS_1
Khaira heran, ia mengerutkan keningnya mendengar ucapan pria didepannya.
Kevin memandangi wajah Khaira, ia sedikit memiringkan tubuhnya dan lama-lama menjadi berbaring dengan menyandarkan kepalanya di paha Khaira yang tertutupi mukenah putih tulang.
Khaira kelabakan, merasakan berat di paha kanannya, “Mas Kev-” ucapannya mengambang, kala Kevin sudah lebih dulu berbicara.
“Lo harus bertanggung jawab untuk menyembuhkan pipi gue yang memar akibat tendangan lo, lagian gue kagak nyentuh lo, dan lo juga istri gue meskipun kita nikah terpaksa dan secara agama. Tapi sebenarnya gue berhak atas diri lo,” ujar Kevin, berbaring miring ke sisi kiri di pangkuan istri dadakannya.
Khaira tak berkutik mendengar apa yang baru saja dikatakan Kevin si suami dadakannya, ia melihat sisi kanan wajah Kevin yang berbaring miring di pangkuannya. Ia merasa gugup, gagap, gelisah dan tertekan dengan posisi seperti ini.
Inilah kali pertama bagi Khaira memangku kepala seorang pria. Inilah kali pertamanya juga Khaira sedekat ini melihat wajah seorang pria yang bukan muhrimnya. Ralat, jika bisa diartikan sekarang ini secara tidak langsung Kevin sudah menjadi muhrimnya.
Kevin menarik tangan Khaira yang sedang memerass mukenah, dan membawa tangan Khaira ke pucuk kepalanya. “Elus-elus.” ujarnya seperti anak kecil yang meminta dielus-elus kepalanya oleh sang Ibu.
Khaira menelan ludahnya yang serasa mengganjal, ia mengerjapkan matanya berulang kali. Dengan perasaan kikuk dan gerakan tangan yang kaku, ia mulai membelai rambut hitam legam Kevin.
Mengapa kali ini berbeda pada seorang wanita bernama Khaira. Apakah karena ia merasa kesepian selama ini? Hemm entahlah, saat ini ia hanya merasakan nyaman berbaring di pangkuan Khaira.
“Dulu, gue, Bang Andi, dan adik gue Kirana selalu bermain petak umpet, saat kami di ajak liburan ke puncak,” Kevin mengenang saat-saat masa kecilnya. Ketika kedua orangtuanya masih lengkap.
Khaira tercenung mendadak mendengarkan Kevin sedang berkisah. Namun ia tak menjawab dan mendengarkannya Kevin dengan seksama.
“Saat itu usia gue baru menginjak sepuluh tahun, Kirana tujuh tahun dan Bang Andi dua belas tahun. Mamah gue adalah Mamah yang sangat menyayangi anak-anaknya, beliau nggak membedakan kami bertiga, meskipun Bang Andi anak adopsi. Tapi Mamah maupun Papah sangat menyayangi Bang Andi,”Kevin melanjutkan kisahnya dan entah mengapa kali ini ia ingin bercerita.
Khaira masih terdiam namun dengan telinga yang ia pasang untuk mendengarkan kisah yang sedang Kevin ceritakan. “*Jadi Abang Andi bukan Abang kandungnya*?” monolognya dalam hati.
Kevin mengalihkan posisi berbaring menghadap wajah Khaira. Ia melihat wajah Khaira dari bawah, dagu gadis itu terlihat bagus, “Keluarga kami memang bukan keluarga yang sangat kaya raya, kami masih terbilang sederhana dari kalangan konglomerat. Tapi keluarga kami sangatlah harmonis pada saat itu, setiap kali Mamah dan Papah mengajak anak-anaknya ke vila kami yang ada di puncak. Gue, Bang Andi, dan Kirana akan sangat senang,”
Kevin kembali memejamkan matanya, membayangkan masa-masa keluarganya masih berkumpul, “Dan lo tau siapa yang paling heboh di antara gue, Bang Andi, dan Kirana?”
__ADS_1
Khaira melihat wajah Kevin yang menghadapnya sedang memejamkan matan, ia menjawab pertanyaan Kevin, “Kirana?”
Kevin tersenyum dan mengangguk pelan.
“100!” serunya lirih. “Yap Kirana. Ya gue tau karena dia cewek, dan cewek biasanya paling ribet kalau mau bepergian, hehe,”Kevin tertawa kecil kala mengenang Almarhumah adiknya, namun berubah menjadi tawa sendu.
Khaira menerawangkan pandangannya melihat bingkai foto yang terpajang di meja rias. “*Enggak juga, nggak semua cewek kalau pergi ribet ini dan itu, contohnya aku*.” lagi-lagi Khaira hanya bermonolog dalam hati.
“Tapi keharmonisan keluarga kami berubah menjadi naas, pada saat itu usia gue 21 tahun dan gue baru saja lulus kuliah S1. Tapi-” Kevin menghentikan ucapannya, ada jeda yang membuat hatinya sesak. Kevin menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Entah mengapa Khaira merasa nafasnya terhenti di tenggorokan mendengar kisah yang Kevin lontarkan. Seperti ada rasa pedih dan perih di sana, di mana kisah yang sedang coba di utarakan. Kata (naas) seolah sudah menjabarkan bahwa keluarga Kevin tidak baik-baik saja. Secara refleks Khaira mengusap pucuk kepala Kevin.
Kevin merasakan kehangatan dan perhatian yang ditujukan Khaira, ia tak melihat seperti orang yang hanya sekedar kasihan ataupun berempati, tapi lebih dari itu. Ya, Kevin melihatnya bukan seperti itu. Khaira adalah gadis yang bisa saja mempunyai kasih sayang yang berasal dari hati.
“Tapi- bukan hadiah yang gue dapet di hari kelulusan gue, melainkan berita buruk yang gue dengar dari salah satu costumer servis Bandara, pesawat yang membawa 172 penumpang termasuk didalamnya ada Mamah dan adik gue yang sedang bertolak ke ke Singapura mengalami kerusakan dan akhirnya terjun bebas ke samudera Hindia,” Kevin masih memejamkan matanya, ia merasa semakin sedih jika mengingat kecelakaan maut yang merenggut kedua orang yang sangat disayanginya.
Deg... Benar saja, kata (naas) memang berkaitan dengan suatu hal yang tidak mengenakkan hati. Khaira melihat wajah Kevin, tergambar jelas di sana ada rasa sedih yang mendalam.
“Dan yang bikin gue lebih pedih, setelah berita itu. Nggak pernah sekalipun Papa gue pulang, meskipun hanya untuk menjenguk gue dan Bang Andi, gue merasa seolah-olah gue di buang begitu aja!” Kevin tersenyum hambar mengingat sang Ayah yang tidak pernah pulang ke Indonesia hanya dengan alasan trauma menaiki pesawat.
Semenyedihkan itukah hidup Kevin? Khaira merasa sedikit lebih beruntung. Di tinggal oleh Ibunya tapi masih ada Abah yang selalu menyayanginya.
“Lebih parahnya lagi, gue mendengar info kalau papa gue udah nikah lagi hanya berselang satu bulan dari kecelakaan pesawat yang gue saja masih mengharap kalau Mamah dan adik gue bisa ditemukan, meskipun itu sangat nihil,” lanjut Kevin masih dengan mata terpejam dan sedetik kemudian matanya bersitatap dengan manik mata hitam Khaira.
Entah mengapa ada kelegaan di hatinya. Ia tersenyum tipis kepada Khaira dan kembali memejamkan matanya seraya berucap, “Bolehkah gue tidur sebentar di pangkuan lo?”tanpa menunggu jawaban karena mata sudah sangat mengantuk, alam bawah sadar Kevin di tarik oleh mimpi.
Khaira melihat wajah Kevin yang menunjukkan ada kesedihan di sana, namun seolah tak pernah di tunjukkan pada orang lain. Mungkin kah semua pria seperti Abahnya, enggan menunjukkan kesedihannya. Bukankah semua hati itu sama, entah wanita atau pria. Sama-sama merasakan sedih dan bahagia.
Bersambung
__ADS_1