Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Silla pingsan


__ADS_3

Ine menelan ludahnya tak petcaya apa yang dikatakan silla.


"Kapan?"


"Minggu depan. Daa..., mama papa ibu ayah." Ucap silla menolehkan kepalanya ke arah sang mama lalu melambaikan tangan nya.


"Daaa...., hati- hati ya nak!" Ucap prayogo.


"Iya, yah." Silla menghilang dibalik pintu setelah berpamitan, namun kesedihan seakan melanda pikiran ine setelah kabar baik dikatakan padanya.


"Hah..., bagaimana ini? Sebulan aku harus pergi ketiga tempat." Gumam ine menyesalkan dengan apa yang sudah terjadi.


" Sudahlah, ma. Ini yang terbaik untuk mereka. Lagi pula kalau keadaan sudah seperti semula mereka bisa kembali kesini kan." Ucap mahendra.


" Benar itu, ma." Ucap stela menimpali mahendra. Sementara ratna hanya mengusap pelan bahu ine menenangkan besan nya yang terlihat sangat bersedih dengan keadaan ini.


"Yang harus kita pikirkan secepatnya mencari tempat baru untuk jack dan stela." Ucap mahendra.


"Papa tidak mau terjadi sesuatu dengan mereka, bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan nya pada melaty?"


"Ya..., papa benar. Mama akan merasa bersalah dengan melaty." Akhirnya ine mau mengalah dengan keadaan dan keputusan yang harus mereka buat.


Mereka sedang bermusyawarah untuk menentukan dimana jack dan stela akan tinggal, begitu juga negara tujuan mana yang akan mereka jadikan acuan untuk mengecoh para penculik yang belum jelas siapa dalang dibalik peristiwa ini.


Sementara silla yang sedang dalam perjalanan pulang diam diri tak merasa bersalah pada suaminya hingga sampai ke apartemen mereka, silla masih terdiam memandangi ponselnya bahkan cenderung mengacuhkan suaminya.


" Sayang, kau tak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya rafa yang merasa ada perubahan pada sikap silla yang cenderung menjadi pendiam hari ini.


" Tidak, apa yang harus ku katakan? Masalah penculikan kakak? Bukankah kakak sudah mendengar penjelasan dari pihak yang berwajib juga keterangan security?" Ucap silla.


" Eh..., menurut kakak siapa yang melakukan ini? Apa mungkin ayahnya kak jack?" Gumam silla yang duduk disofa mendekati sang suami yang terlihat melepas jas kerjanya juga dasinya.


" Mungkin."


" Tapi ..., kenapa?" Silla masih tak mengerti apa yang dilakukan ayah jack hingga melakukan penculikan tersebut.


" Entahlah? Kakak juga tidak tahu." Jawab rafa mengangkat bahunya.


" Kakak rasa berhubungan dengan tulang tengkorak kak jack."


" Jadi maksud kakak, orang itu masih mengincar kak jack karena itu?"


" Bisa jadi."


" Tapi silla dengar dari papa sudah ada pendonor."


" Kalau tidak sama bukan berarti gagal?"


" Eh..., benar juga kata kakak." Ucap silla yang menyandakan kepalanya di bahu rafa.

__ADS_1


" Kenapa? Tidak enak badan? Atau ingin sesuatu?"


" Tidak, hanya ingin memeluk kakak." Rafa mengeryitkan dahinya merasa sedikit heran.


"Kenapa? Bukankah setiap hari memelukku?"


"Iya, tapi silla sedang berpikir apa kakak akan terus memanjakan ku? Menyayangiku? Dan tidak tergoda pada wanita lain?"


"Apa yang kau katakan?" Rafa semakin tak mengerti apa yang dikatakan istrinya.


"Ya...., beberapa bulan ke depan perut silla akan membuncit. Bukan tidak mungkin silla akan tambah gemuk dan juga jelek." Ucap silla menyembunyikan wajahnya.


"Membuncit?" Rafa terbengong mendengar kata itu dan hampir tak percaya apa yang dikatakan istrinya.


" Apa maksudmu membuncit? Jadi kau benar hamil?" Sadar dari keluguan nya, rafa mengalihkan pandangan nya pada silla menggenggam tangan kecil istrinya.


"Hem." Jawab silla menganggukkan kepalanya.


"Jadi kau tidak sedang menghibur mama? Tak membohongi mama?"


"Tidak, ini lihatlah!" Silla menggelengkan kepalanya lalu memberikan ponselnya pada rafa dimana pagi tadi silla sempat ke klinik memeriksakan diri saat melihat bentuk tubuhnya yang sedikit menonjol atau sedikit berisi.


" Hah...., hahaha. Aku akan menjadi seorang ayah?" Rafa terkejut melihat ponsel silla yang menunjukkan gambar kantong rahim pada layar tersebut.


" Hem...,kakak tidak marah?"


" Marah? Memangnya kenapa kakak harus marah? Bukankah ini kabar bahagia? Papa pasti menyukainya." Ucap rafa menatap heran sang istri yang terlihat sangat panik.


" Silla tak tahu bagaimana memberitahu kakak, silla takut."


"Hei..., justru kakak yang takut kau belum siap. Jika memang begitu kita... ." Silla menutup mulut rafa yang entah apa yang akan di ucapkan nya, namun firasat silla tak begitu baik dengan ucapan tersebut.


" Ini bayi kita, silla bukan orang yang kejam hingga harus membuang anak silla sendiri."


" Kakak takut kamu belum siap."


" Silla banyak belajar dari kak ane, kakak jangan khawatir." Ucap silla menyandarkan kepalanya ke bahu rafa lalu menggenggam erat tangan sang suami.


"Hem..., baiklah. Apa pun keputusan mu kakak akan selalu mendukungmu." Begitu sabar dan pengertian nya rafa membuat silla sadar untuk tidak mengambil keputusan secara sepihak dan egois. Hanya dengan kasih sayang itulah silla mampu bertahan menjalani kehidupan pernikahan nya meskipun sangat muda.


Rafa memang memanjakan silla, gadis kecil yang merebut hatinya dengan tingkah laku polosnya juga yang sesekali berbuat ekstream itu. Sikap silla yang berubah- ubah sesuai tempatnya sangat menggemaskan rafa hingga terpesona padanya.


Rafa tak sengaja menikahi gadis itu karena paksaan papanya sendiri, meskipun bryan sudah menawarinya untuk mendekati adiknya tetapi rafa menolaknya. Rafa tak ingin silla terpaksa menerima nya hanya karena keinginan nya semata. Namun nasib baik berpihak padanya saat sang papadengan sengaja meminta silla menikahinya.


Awalnya rafa khawatir silla akan tertekan dengan pernikahan ini, tapi rupanya gadis itu sangat luar biasa bahkan menjadi seorang istri yang baik saat usianya masih muda. Bahkan sekarang mau menerima calon buah hati mereka.


Senja hari menjelang, dengan kebersamaan mereka seperti dunia milik mereka melihat kemesraan dan keromantisan mereka. Hingga tengah malam yang biasanya tidur dengan nyenyak, entah kenapa silla merasa mual berkepanjangan hingga membuatnya harus bolak balik ke kamar mandi.


"Oek...., oek."

__ADS_1


"Oek...., oek." Suara silla membangunkan rfa yang tertidur pulas dikasur tempat tidur mereka. Rafa menyalakan lampu lalu pergi ke dapur membuat teh hangat untuk istrinya.


" Oek..., oek."


"Oek..., oek." Rafa mengikuti silla menepuk pelan punggung sang istri agar lebih baik.


"Kenapa kakak kesini?"


"Memangnya kenapa? Apa kakak harus diam diri melihatmu seperti ini?"


"Tidak, tapi... Kakak tidak jijik?"


"Hah..., ada- ada saja kamu ini. Justru kakak merasa khawatir dengan keadaan mu." Silla tersenyum dengan jawaban rafa, merasa bangga mendapat suami yang perhatian dengan nya seperti ini.


" Minunlah teh hangatnya! Barangkali bisa meredakan muntahnya."


" Em."


"Berbaringlah! kakak akan bikin susu untukmu." Silla mengangguk pelan, namun rafa menghentikan langkahnya berbalik menoleh silla.


"Eh..., apa kau sudah beli susu hamil? Kenapa kita tidak beli sore tadi?"


"Sudah, kak. Silla sudah beli ada di laci dapur."


"Baiklah, tunggu sebentar!" Rafa merasa lega dengan jawaban silla karena baru pertama kali merasakan perubahan ini, rafa tidak mengerti apapun. Dan mungkin ia harus membeli sebuah buku tentang pregnancy agar pengetahuan nya bertambah. Setidaknya bisa mengetahu nutrisi yang tepat untuk ibu hamil.


"Dimana susunya?" Gumam rafa yang mencari dimana silla meletakkan susu tersebut. Rafa mengerutkan dahinya ketika melihat beberapa box susu hamil dwngan varian rasa yang berbeda. Ia pun bingung rasa apa yang harus dibuat untuk istrinya.


Rafa memutuskan membuat rasa yang paling disukai silla yakni vanilla. Rafa terkejut melihat sang istri tak berada di tempat melainkan di kamar mandi.


"Sayang, muntah lagi?"


" Hem."


"Minumlah susunya? Kau akan lemas jika muntah terus. Kita ke rumah sakit saja."


" Tidak..., silla tidak apa- apa." Belum selesai menjawab silla berlari ke kamar mandi, di ikuti sang suami dari belakang yang khawatir melihat silla semakin pucat.


"Sayang, kita ke rumah sakit saja."


"Tidak, kak. Silla.. ." Silla hampir saja terjatuh ke lantai kalau saja rafa tak sigap menopangnya. Tanpa pikir panjang rafa menggendong silla ke tempat tidur, menhganti baju nya lalu menggendong silla turun ke lantai bawah dimana rafa menarkir mobilnya.


"Sayang bertahanlah!" Rafa gusar menyetir dengan tangan satu, yang satu tangan menggenggam tangan istrinya.


Apartemen mereka memang tak berapa jauh dari fasilitas umum, rumah sakit supermarket atau pun restoran atau mall sangat terjangkau hanya dalam hitungan menit.


Rafa berhenti di depan rumah sakit tepatnya di depan instalasi gawat darurat. Dan meminta security memarkir mobilnya sedangkan rafa menggendong istrinya ke depan instalasi tersebut. Beberapa dokter jaga sigap menangani pasien berhambur le arah rafa mendorong bangsal untuk istrinya.


Rafa mondar- mandir tak tenang dengan kondisi silla yang tiba- tiba pingsan, ditambah wajahnya yang terlihat pucat. Rafa tak berpikir panjang meskipun dini hari menelepon mamanya.

__ADS_1


"Ma..., silla di rumah sakit."


Bersambung🙃🙏


__ADS_2