
Setelah dipaksa Brian untuk menceritakan apa yang membuat Kevin ingin melihat rekaman video cctv, Brian akhirnya paham.
“Gue kasihan sama cewek yang gue nikahin, Bin. Gue ngerasa bersalah banget sama dia, gara-gara gue dia terjebak pernikahan sama gue, mungkin aja dia tertekan menikah,”jelas Kevin, mengungkapkan isi hatinya.
Brian turut prihatin, ia menepuk pundak sahabatnya, “Lo menyesal nikah sama dia?”
Kevin menatap Brian, lalu kembali menatap sudut jalanan yang lengang, ia meminum bir kalengan non alkohol yang ia beli dari supermarket terdekat, “Gue kagak tau, gue nyesel apa kagak nikahin dia. Yang jelas dia terlihat gadis baik-baik, dan gue merasa diri gue yang kotor ini nggak pantas bersanding sama dia,”
Brian manggut-manggut, ia pun meminum bir kalengan, “Kalau menurut gue yang udah dari kecil jadi temen lo, lo bukan orang kotor. Meskipun lo bekerja di tempat hiburan malam, tapi gue salut ama lo, lo bisa menahan hasrat dan menjaga diri dari kupu-kupu malam yang bohai-bihai,”
Ada jeda dalam ucapannya, Brian menatap jalanan yang terlihat lengang. Lalu menoleh sekilas kearah Kevin, “tapi kalau lo ngerasa kasihan ama tu cewek, kenapa lo nggak talak aja. Gua yakin, kampung Rawa Dengklok kagak bakal nyari tau tentang pernikahan lo yang terpaksa itu," sambungnya lagi.
“Anjir lo!” dengus Kevin, melirik Brian dengan sorot mata tajam,
“Lo kok lo sewot, kan gue cuma kasih saran. Siapa tau lo menyesal nikahi tuh cewek,” tukas Brian.
“Kagak segampang itu! Memang dari awal gue ngajuin diri buat nikahin tu cewek cuma buat formalitas aja di kampung itu, tapi lama-lama gue lihat dia kasian karena nanti hidupnya terkatung-katung di kota ini, membuat hati gue kagak tega,” jelas Kevin, setelah beberapa hari melihat dan mengamati Khaira.
“Lo mungkin udah mulai ngerasa nyaman ama cewek yang lo nikahin. Makanya sekarang lo kagak tega buat pisah sama dia?” spekulasi Brian muncul, setelah mendengar cerita Kevin.
Kevin terdiam, kata (nyaman) kenapa seolah-olah ia sudah mulai terjebak di sana. Saat ia tidur di pangkuan Khaira, saat ia menceritakan kisah hidupnya. Padahal baru seminggu mengenal gadis itu. Dan ia juga bukan tipe orang yang mudah berkisah tentang hidupnya kepada orang yang baru ia kenal. Tapi kenapa dengan Khaira seolah berbeda?
“Gimana hubungan asmara lo sama Sonia? Masih berjalan mulus, setelah lo tau, lo udah menjalani hubungan toxic!” ujar Brian, yang telah lama tau, jikalau Sonia bukan hanya sekedar model majalah dewasa, akan tetapi juga Sonia merupakan wanita pemuas nafsuu bagi para pria yang bisa memberikan wanita itu uang dalam jumlah yang banyak.
Kevin sepintas melirik Brian, ia menghela nafas panjang melihat jalanan sepi di jam 03:45 wib.
“Gue emang naif dan bucin! Haha,” cetus Kevin setelah itu ia tertawa renyah.
“Pria memang berbeda dari wanita jika patah hati, pria lebih cepat move on karena dia mengandalkan logika bukan hati. Dan sekali lagi gue salut ama lo Vin, meskipun lo udah dikhianati, tapi lo masih bisa ketawa, gue ikut seneng lo kagak berlarut-larut dalam dilema karena patah hati,” ujar Brian, mengagumi cara yang Kevin lakukan, adalah lebih bijak menerima dari pada terus meratapi.
__ADS_1
Kevin beranjak dari duduknya dari atas batako, ia menunduk melihat Brian. “Yah mau bagaimana lagi, bukan gue yang seharusnya sedih. Tapi dia yang terlalu bodoh udah mencampakkan orang yang udah sayang sama dia. Dan gue paham satu hal, karena yang sudah lama pacaran, belum tentu akan ke pelaminan!”
“Asek! Gue seneng nih ama semangat lo!” seru Brian sependapat dengan ucapan Kevin, ia ikut beranjak dan menepuk pundak sahabatnya, “Kalau cewek yang lo nikahi secara mendadak adalah cewek baik-baik seperti yang lo jelasin tadi, coba aja lo nerima tu cewek buat jadiin istri lo yang sebenarnya, siapa tau tu cewek beneran jodoh lo. Kan kita kagak tau hidup di masa depan,”
Kevin terdiam mendengar penjabaran Brian, sahabat yang tiba-tiba saja beralih mengambil jurusan teknik menjadi ke hukum ini memang bijak seperti jurusan yang Brian ambil saat ini, dan Brian sudah lulus menjadi Jaksa.
“Dah sana pulang, siapa tau istri lo nungguin lo pulang, terus lagi tidur di sofa, ya kan? Kayak di drama-drama gitu, arhh kan romantis bat dah ah, hehe..” canda Brian diakhiri kekehan kecil.
“Hahaha..” Kevin ikut tertawa kecil mendengar candaan sahabatnya, “Ngarang lo, dia mana mungkin begitu. Sikapnya aja dingin kayak es sama gue, lagian sekarang dia tidur di rumah sepupunya yang ada di kampung Rawa Dengklok.”
“Udah dah, apapun hasilnya. Gue yakin sedingin apa pun dia, mau kayak es balok, es krim, es serut, es doger, ataupun kayak es kutub Selatan pun. Kalau lo nunjukin perhatian lo ke dia, gue yakin dia bakalan luluh lantak dan bilang ke elo, (Mas-Mas Kevin aku cinta pada mu Mas),” ujar Brian memberikan nasehat pada Kevin, dan menirukan suara cewek yang menyatakan cintanya pada seorang Kevin Abimana.
Kevin tidak menjawab sahabatnya, ia hanya tertawa kecil. Lalu melenggang pergi, dan sesaat kemudian ia berbalik melambaikan tangan kepada Brian, “Thanks Bin, lo emang sahabat gue!” serunya.
Brian ikut senang melihat sahabatnya itu senang, ia balas melambaikan tangannya dan mengangguk sekilas.
“Gue bukan apa-apa nya di banding lo Vin, lo hebat. Lo bisa nerima kepergian Ibu dan adikmu, dan lo memaafkan ayah lo. Dan lo jugabisa hidup tanpa mengandalkan orang lain!” gumam Brian melihat Kevin sudah pergi melajukan motor di jalanan perkotaan yang cukup lengang.
Kevin tersenyum-senyum sepanjang jalan, mengingat ucapan Brian yang menggambarkan jika Khaira sedang terlelap di sofa karena menunggunya pulang.
“Anjir! Brian kenapa lo ngebuat gue jadi senyum kagak jelas kayak gini. Mana ada Khaira begitu ma gue, yang ada gue diomelin. Megang tangannya aja dia takutnya setengah mati.” gumamnya.
Tak ingin rasanya semakin tak karuan, Kevin berbalik arah. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, melewati gedung tinggi menjulang, berbagai pusat perbelanjaan, taman kota, dan tempat-tempat hiburan malam, dari mulai yang secara gamblang sampai yang terselubung.
Tak memerlukan sampai dua jam lamanya. Kevin sudah sampai di depan kosan yang memiliki lima petak kamar berwarna-warni seperti taman sekolah anak-anak.
Kevin memandangi pintu bercat biru laut. Masih jelas dalam ingatan ketika ia bangun di dalam kamar itu, padahal kepalanya masih berasa seperti ditimpa batu dari jurang, ia langsung di gelandang ke rumah yang dikatakan adalah pemilik kos-kosan.
Karena memasuki waktu subuh, ada beberapa warga yang memakai sarung dan baju koko hendak menuju ke mushola. Ada beberapa dari warga yang menyapa Kevin.
__ADS_1
“Kamu nak Kevin yang beberapa hari lalu di gerebek di kampung ini kan?” tanya Pak Ramli yang akan menuju ke mushola untuk mengumandangkan adzan.
Kevin mengangguk, kali ini ia tersenyum ramah, “Iya Pak, saya Kevin,”
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Pak Ramli pemasaran.
“Mau menjemput Kha-” Kevin meralat ucapannya, “Istri saya,” ujarnya kepada Pak Ramli, agar warga di daerah kampung Rawa Dengklok menganggap ia dan Khaira menjalani pernikahan yang harmonis.
Pak Ramli manggut-manggut, “Memangnya kamu berantem dengan istri mu, sampai istrimu menginap di kosan Mita?”
Kevin menggeleng, “Kami baik-baik saja Pak, saya hanya sedang lembur malam. Dan istri saya meminta izin untuk menginap di kosan sepupunya, katanya kangen,”
Pak Ramli pun paham, “Iya benar, istri yang baik itu kalau keluar rumah atau kemanapun seharusnya meminta izin kepada suaminya, bagaimana pun juga seorang istri adalah tanggung jawab si suami, dan kalau berantem jangan sampai melakukan KDRT, bisa bahaya!”
Kevin mengangguki ucapan pria setengah baya di hadapannya, “Siap Pak, makasih atas nasehatnya,”
“Kalau begitu saya ke mushola dulu, sudah saatnya mengumandangkan adzan subuh,” ujar Pak Ramli, namun sebelum Pak Ramli pergi dari hadapan Kevin, ia pun mengajak Kevin untuk sholat subuh berjamaah di mushola, “Ayo, nak Kevin juga sholat berjamaah di mushola, kan pahalanya jauh lebih besar,”
Kevin bingung, ia merasa pakaian yang dipakainya kotor. Karena berbaur dengan miras dan asap rokok di dalam diskotek, “Tapi saya takut pakaian saya kotor Pak,”
“Tenang, saya akan meminjamkan nak Kevin sarung dan baju koko,” Pak Wahyu mendengar obrolan Pak Ramli dan Kevin, ia lantas mendekati keduanya.
Kevin tersenyum ramah, “Dengan senang hati Pak, jika Bapak mau meminjamkannya untuk saya.”
Bersambung
__ADS_1
Mohon dukungannya 🙏🏼