
Kevin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk bisa sampai ke tempat kerja Khaira tepat waktu. Sebelumnya ia sudah mengabarkan kepada Khaira, bahwa ia akan sedikit terlambat dikarenakan ada sebuah pertemuan dengan pihak terkait dari tempat kerjanya yang baru.
Pikirannya juga sedang oleng, dikarenakan kepindahan Khaira dari rumahnya. Seolah bersorak-sorai mengatakan dengan sangat lantang ditelinganya.
Pindah! Pindah! Pindah. Itulah kata yang kini mengisi pikiran Kevin.
Hah... Kevin menghela nafasnya. Mengapa sangat sulit membujuk gadis itu untuk tetap tinggal.
Mengapa demikian hati Khaira ibarat sekeras batu.
Tapi apakah mungkin inilah rasa yang sesungguhnya. Bahwa cinta sejati tak selalu hadir dengan cara yang indah. Terkadang cara yang memang tidak mudah ditebak.
"Apa cinta sejati? Memangnya ada?"
Kevin kini hanya bisa mengikuti alur perasaannya kepada Khaira yang ia biarkan seperti sungai yang mengalir sampai ke hilir.
Jebakan yang Clara lakukan juga membuat Kevin merasa bersalah. Kevin rasa mempunyai tanggungjawab guna menjaga istrinya.
Sepanjang jalan Kevin mengingat kembali pada saat ia terjebak bersama dengan Khaira.
Mendadak ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, dengan sengaja mencegat laju motornya. Kevin tergelak membulatkan matanya, ia menarik rem depan dan menginjak rem belakang secara bersamaan.
Empat orang turun dari dalam mobil Xenia. Secara mendadak menyerang Kevin yang masih berada di atas motornya.
Kevin menghindari pukulan yang dilayangkan dua orang dari keempat yang tiba-tiba saja menyerangnya. Ia lantas turun dari motor yang belum sempat ia parkirkan. membuat motornya terhempas menghantam aspal.
Perkelahian empat lawan satu tak terelakkan.
Kevin melayangkan pukulan serta tinjunya guna menghalau pukulan serta tinju dari ke empat orang yang dialamatkan padanya.
BUGH
Satu, dua orang dapat Kevin kalahkan. Namun ia masih harus melawan dua orang yang memiliki badan kekar bertubuh besar dan cukup membuat tenaganya kewalahan.
BUGH
Kevin jatuh terpelanting ke jalanan beraspal. Rasa sakit di punggungnya akibat terjatuh bersama dengan Khaira kembali ia rasakan sangatlah menyakitkan.
__ADS_1
“Aaarrhh..” erang Kevin menahan sakit di pergelangan tangannya kala diinjak oleh seorang bertubuh kekar.
Kevin tak ingin diam saja, ia menggunakan tangan kanannya guna memplintir kaki seorang pria kekar yang menginjaknya.
Seorang pria yang sebelumnya menginjak pergelangan tangan Kevin, kini jatuh ke aspal.
Seperti menari tarian hip hop, Kevin segera beranjak dan berdiri tegak. Kendati punggungnya sangatlah sakit ia rasakan. Tiga orang yang sedang memasang kuda-kuda hendak kembali menyerangnya.
Dilihatnya dengan seksama, Kevin rasa tiga orang dihadapannya tidaklah asing. Benarkah argumenya benar bahwa orang yang telah menyerangnya secara tiba-tiba ini adalah anak buah Erik?
Kali ini, Kevin mengeluarkan jurus silatnya yang pernah ia pelajari, Kevin memasang kuda-kuda kedua tangannya menyilang di depan dada. Tangan untuk memukul, dan mengepalkan jari-jarinya.
Telapak kaki kanan juga harus sejajar dengan telapak kaki kiri. Dan mulailah ia melayangkan pukulannya menggunakan punggung tangan dari arah samping ke depan.
Kevin melakukan gerakan pukulan tersebut secara bergantian, satu, dua orang tersungkur ke jalanan.
Dilihatnya dua orang lagi yang sedang memasang kuda-kuda hendak menyerang.
Pukulan depan adalah pukulan yang dilakukan dengan lintasan lurus ke depan. Sasaran dari pukulan depan adalah bagian dada dari lawan. Kevin menggunakan metode jurus yang satu ini.
Untuk mendapat hasil yang optimal dapat dilakukan dengan dibantu oleh pergerakan bahu dan putaran pinggang, sekaligus mendukung pemindahan berat badan ke bagian depan tangan yang digunakan menyerang.
Tiga beranjak dari atas jalanan beraspal, langsung segera menuju ke mobil yang terparkir.
Kevin segera menghampiri seorang yang nampak sulit untuk berdiri tengah tersungkur di jalanan, Kevin menarik tangan pria yang ditinggal pergi oleh ketiga sekawanya dan memplintirnya ke belakang punggung yang diduga anak buah Erik.
Dengan tangan yang satu lagi dipergunakannya untuk menempelkan wajah seorang pria berbadan kekar ke aspal.
“Apa lo anak buah Erik, hah?” berangnya bertanya kepada seorang yang ditahannya.
Pria berbadan besar bergeming, tidak ingin rencananya yang semula untuk membawa Kevin kehadapan tuannya terbongkar.
Tak sabaran karena sudah merasa lelah, Kevin kembali memplintir tangan pria yang sedang disanderanya. “Oke kalau lo kagak mau ngaku, biar gue sendiri yang datangi Erik!”
Kevin berlalu begitu saja dan meninggalkan pria yang sedang terluka akibat pukulannya dipinggiran jalan raya.
Ia kembali mengambil motornya, dengan gerakan cepat Kevin kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Tak perlu mengulur waktu lebih lama, Kevin melaju secepat angin. Dan sampailah di depan rumah yang nampak sangat megah.
Ia menekan klakson kepada satpam penjaga. Satpam penjaga keamanan rumah mewah yang sudah mengenal Kevin, sontak saja membukakan pintu gerbang.
Beberapa kali, Kevin menyambangi rumah Erik. Jadi bisa saja banyak orang pekerja di rumah mewah ini yang sudah mengenalnya.
Kevin memasuki pelataran rumah mewah, ia segera turun dari motornya. Dan langsung menuju pintu besar masuk rumah mewah.
“Clara!” teriaknya lantang di depan rumah mewah Erik.
“Om Erik!” teriaknya lagi, nafasnya serasa memburu menahan emosinya.
Rumah berpintu besar pun terbuka oleh seorang gadis muda yang nampak sangat lesuh.
“Kevin.” ucap Clara yang telah membuka pintu besar rumah orangtuanya.
Kevin menatap Clara sini, ia langsung kepada intinya datang ke rumah ini. "Dimana Om Erik?" tanyanya tegas pada Clara.
Meskipun merasa bahagia dapat melihat Kevin, walaupun kedatangan Kevin bukan untuk mencarinya. Ia mendekati Kevin yang sedang menatap ke objek lain, ia segera saja menghamburkan diri untuk memeluk pria idamannya.
Kevin terkejut melihat reaksi Clara, ia segera saja menepis tangan Clara. "Kedatangan gue ke sini bukan ketemu sama lo, dimana Om Erik?"
"Vin gue minta maaf, sumpah gue nggak bermaksud menjebak lo. Gue hanya merasa putus asa, atas rasa cinta gue yang lo abaikan," ucap Clara menderu dera rasa kecewanya ia utarakan kepada Kevin.
Kevin mengangkat tangannya, jari telunjuknya ia ancungkan ke atas, "Cukup Clara! Cukup! Apapun alasannya, sebagai seorang Abang gue udah memaafkan kesalahan adik gue, tapi yang perlu lo ingat. Gua kagak pernah lupa dengan apa yang udah lo lakuin ke gue. Dan jangan harap gue bisa ngebales perasaan lo, jangan pernah lo bujuk orang tua lo lagi, buat maksa perasaan gue ke lo. Karena apa?"
Ada jeda dalam ucapannya, Kevin menatap Clara yang telah berderai air mata. Ia memang merasa kasihan, namun ia juga tak bisa berdusta dan tak bisa memaksakan rasa cinta. "karena gue nggak bisa membalas perasaan lo ke gue, nggak cukupkah gue nggak benci sama perbuatan lo?"
Clara menggeleng, deras air matanya mengalir.
"Sekarang dimana Om Erik?" tanya Kevin lagi kepada Clara, ia ingin tahu mengapa anak buah dari mantan bos sekaligus teman dari Papa Basuki menghadang serta menyerangnya.
"Saya di sini Kevin!" seru Erik tepat dibelakang Kevin berdiri dengan jarak lima meter.
__ADS_1
Bersambung