
Kevin menggeplak jidatnya pelan, “Aih, dasar pikun! Gimana lo bisa lupa, kalau lo udah menikahi seorang gadis!” ia memaki dirinya sendiri dengan suara lirih, sampai pula ia melupakan hal yang satu ini. Galaunya terhadap pengkhianatan Sonia, telah melumpuhkan otaknya.
Dibukanya pintu kamar selebar-lebarnya, namun dengan gerakan perlahan agar tidak membuat bunyi yang ditimbulkan. Dari samping tempat tidur, Kevin melihat seorang gadis yang dinikahinya secara mendadak, sedang memakai mukenah putih tulang, duduk di atas sajadah panjang membentang dengan memegang Al-Qur'an.
Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang dilantunkan gadis itu sangat merdu, serasa mendamaikan hati yang sedang gundah gulana. Kevin terdiam, ia terpaku, mengamati gadis itu dari samping belakang kanan.
Di luar batas kesadarannya, Kevin seolah melihat gadis itu memancarkan cahaya ketenangan dan kedamaian yang selama ini ia dambakan.
“Shadaqallahul-'adzim'.\*”
\[\*artinya; Maha benarlah Allah yang Maha Agung\]
Gadis itu mengakhiri lantunan ayat suci Al-Qur'an, lantas mengusap lembut kitab Allah yang sempurna lalu menaruhnya di atas sajadah yang membentang. Kevin masih dengan teramat sangat mengamati, gadis itu tak lantas beranjak. Kevin melihatnya menadahkan tangan seperti sedang berdoa, namun tak dapat ia dengarkan doa apa yang istri dadakannya panjatkan.

Jiwanya ingin tahu, namun malu untuk mendekat. Kevin merasa dirinya kotor dan berantakan, hidup yang dijalaninya selama ini penuh dengan coretan dosa yang tak terhingga, pantaskah bila ia merindukan caranya untuk sholat sebagai umat muslim? Masih pantaskah ia untuk bersanding dengan wanita Solehah? Atau masih pantaskah ia merindukan surga?
Hahh... Kevin menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ada rasa sesak yang terpatri dalam rongga jiwanya yang telah lama kosong. Tiada tujuan dalam hidupnya, hanya ada coretan-coretan dusta dan hina.
Kevin tak menyukai wanita murahan, sebab itulah ia tidak gampang tergoda oleh kupu-kupu malam. Ia juga tak begitu menyukai gemerlapnya hingar-bingar dunia malam.
Tapi ia masih berkubang dalam jurang penuh dusta dunia fatamorgana. Kevin berdusta pada dirinya sendiri. Ia tak suka, tapi masih melakukan pekerjaan itu, pekerjaan yang menurutnya adalah hobi, lalu ajimumpungnya menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Tidak sedikit pun Kevin memalingkan wajah ataupun tatapannya dalam mengamati gadis yang nampak khusyuk. Ia begitu sangat terkesima.
Sampai pada saatnya gadis itu hendak berdiri dan hampir melepas mukenah, barulah gadis bernama lengkap Khaira Ningrum tersadar akan kehadiran Kevin. Khaira terkesiap dan tidak jadi melepas mukenah.
“Astaghfirullah!” seru Khaira terperanjat kala melihat Kevin yang seperti hantu tiba-tiba saja muncul dan sedang berdiri dengan mendekapkan kedua tangan di depan dada serta menyandarkan pundak dan kepala ke kusen pintu.
\*“Kok ngagetin ngono, koyok jelangkung, ora ono suworone jebulane ono wujud'e!” gerutu Khaira dalam pengucapan bahasa daerahnya tinggal, seraya mengusap dadanya yang seperti meluncur bebas dari ketinggian bukit gunung Merapi.
\*\[*Translate; Kok mengagetkan begitu, seperti jelangkung, nggak ada bunyinya tiba-tiba ada wujudnya*!\]
Bukan hanya Khaira, Kevin yang sekian lamanya terkesima juga ikut terhenyak, mendengar suara Khaira yang seperti toa Masjid, begitu mengagetkannya. Kevin celingusan dan berdehem guna menetralisir keadaan canggung serta gugup, dan kembali berdiri lurus. “Ehem!”
__ADS_1
Khaira masih mengelus dada, rasa terkejutnya membuat jantungnya berdegup kencang seperti genderang marawis di pengajian.
“Mas Kevin kapan pulang, kenapa nggak bersuara ataupun mengucap salam?” tanya Khaira menyebut Kevin bersamaan embel-embel nya yang menurutnya pas untuk memanggil seseorang yang lebih tua darinya. Mas, bisa diartikan sebagai Kakak, atau Abang.
Kevin celingukan ke kanan dan ke kiri serta belakangnya, lantas menunjuk dirinya sendiri. “Elo tanya sama gue?”
Khaira menghela nafas agak kasar, “Ya iyalah memang di sini siapa yang bernama Kevin?”
Kevin mengangkat alisnya, lantas dengan santainya nyelonong masuk kedalam kamar dan duduk di tepian ranjang, “Ya gue kira lo manggil siapa? Soalnya gue tadi baru denger lo pertama kalinya nyebut nama gue dengan paket lengkap embel-embel nya!”
Khaira melirik Kevin sinis, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Kevin, ia mengambil Al-Qur'an di atas sajadah serta melipat sajadah dan menaruhnya di atas meja kecil samping tempat tidur.
Mengamati Khaira secara seksama, dan tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, membuat Kevin kembali bersuara, “Oi, lo kagak denger gue ngomong?” ucapnya santai.
Khaira melirik Kevin tajam, “Dengar, aku nggak tuli!” jawab singkat Khaira, ia sangat kesal terhadap pria yang sedang duduk di tepian ranjang.
“Oh gue kira lo nggak ngeh akan keberadaan gue, soalnya tadi pas lo lihat gue, kayak ngelihat hantu,” balas Kevin masih melihat Khaira.
“Yo memang koyok hantu, ora ono suworo krusak-krusuk babarblas'o!” gerutu Khaira menahan kesal yang teramat sangat dalam tanpa melihat Kevin.
Kevin merasa telinganya terganggu atas gerutu Khaira yang seperti nyamuk mengaung-ngaung disekitar telinga, “Apa, apa, lo bicara apa? Kalau bicara tuh lihat lawan bicara lo, itu baru sopan. Terus jangan gunakan bahasa daerah lo tinggal buat menyindir atau gosipin orang lain. Lagian gue juga kagak ngerti artinya!”
Khaira mendengus kesal, ia berseloroh dalam hati dongkol, “*Dasar cowok egois! Sukanya mengkritik, tapi nggak lihat kesalahannya sendiri*!”
Melihat Khaira hanya memanyunkan bibir, membuat Kevin berspekulasi bahwa Khaira sedang menggerutu dalam hati, “Ngapa tuh bibir di manyunin? Lo pasti ngedumel dalam hati kan?”sangkanya.
Khaira langsung menatap Kevin sinis, ia mengamati wajah Kevin ada rasa terkejutnya kala melihat wajah Kevin yang memar merah kebiruan, dan mengeluarkan bercak darah dari sudut bibir pria itu.
“Kenapa tuh muka? Habis berantem?” sinisnya bertanya.
Kevin baru saja menyadari bahwa wajahnya mungkin terlihat lebam, “Bukan urusan lo!” hardiknya. Sekilas mengusap bekas darah di ujung bibirnya.
\*“Dasar wong edan, ditekoi malah misuh-misuh!” gerutu Khaira mencebikkan bibirnya. \*\[*Translate; Dasar orang gila, di tanya malah jawabnya marah-marah*\]
“Aku kan cuma tanya Mas Kevin, itu wajahnya kenapa? Kalau nggak mau jawab ya santai aja jawabnya, nggak usah ngegas gitu! Wong aku yang udah dikurung selama tiga hari aja masih sabar,” kata Khaira kesal membalas jawaban Kevin.
__ADS_1
“Ya memang bukan urusan lo? Lagian kenapa lo kagak nelpon gue?” balas Kevin masih belum melunakkan suaranya.
Khaira menatap Kevin malas, “Mana ada yah nomer telponmu, terus tuh telpon rumah juga rusak!”
Kevin terdiam, semua yang dikatakan Khaira benar. Mana ada ia sempat bertukar nomor telepon. Bahkan memang telepon rumah rusak sejak empat hari lalu.
\*“Wes keluyuran telung dino, aku dikurung neng jero omah, muleh-muleh raine bonyok! Angel-angel orepmu!” ucap Khaira kesal, mendengar jawaban Kevin yang tidak bersahabat.
\*\[*Translate; Sudah keluyuran tiga hari, aku dikurung didalam rumah, pulang-pulang wajahnya pada lebam. Susah-susah hidup mu*!\]
Lagi-lagi Kevin melihat Khaira menggerutu, “Kalau ngomong tuh yang bener, jangan sampai gue terjemahkan ke google!”
Sejenak Khaira menundukkan pandangan, dan kembali melihat Kevin.
\*“Wes rono gari diterjemahkan neng google, palingan google jawabbe (Saya tidak paham!)” kali ini suara Khaira sengaja lebih kencang, dan secara terus terang menatap Kevin.
\*\[*Translate; Sudah sana tinggal diterjemahkan di google, palingan google menjawabnya. (Saya tidak paham*!)
Kevin mengibaskan tangannya.
“Udahlah, anggap aja gue kagak denger lo ngoceh apaan! Dasar aneh!” telak Kevin, enggan memberikan tanggapan mengenai gerutu Khaira yang tidak dapat ia pahami.
Mendengar semua jawaban Kevin yang nyolot, membuat Khaira enggan menunjukkan simpatinya, “Tiga hari kemana aja?” tanyanya kesal.
Kevin menatap Khaira, namun tak sempat menjawab pertanyaan Khaira. Karena Khaira sudah kembali berbicara.
Sebelum Kevin menjawab, Khaira kembali menyambungkan ucapannya yang belum usai, “Mau jadi petinju, ataupun keluyuran kemana aja pun kamu mau ya boleh-boleh aja, nggak ada orang yang akan melarang kamu Mas Kevin,”
Khaira menjeda ucapannya, lalu menarik nafas panjang menahan emosi berbaur dengan amarahnya yang bergelora.
“Kamu nggak ingat ada aku di rumah mu ya itu juga terserah kamu, tapi tolong jangan kunci aku dari luar. Tiga hari aku serasa hidup di penjara. Bahkan penjara lebih baik dari rumahmu yang suram ini!” tak dapat lagi ia pendam rasa kesalnya. Khaira ingin Kevin melihat kesalahan yang sudah Kevin berbuat entah sengaja ataupun tidak di sengaja.
Kevin menangkap ada kemarahan yang berkobar-kobar dalam diri Khaira yang hanya berdiri di depan meja kecil samping tempat tidur dan masih juga memakai mukenah. Ia sedikit memiringkan kepalanya, “Memang lo pernah di penjara?”
Bersambung..
__ADS_1