Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Terkejut


__ADS_3

"Apaa."


Bram tak menyangka luka yang di deritanya separah itu. Bahkan untuk saat ini, bergerak pun sangat sulit.


Bram yang beberapa kali mengeluh kesakitan di bagian kepala nya, hanya ditanggapi sederhana para dokter dan juga menenangkan pasien untuk lebih bersabar. Bahkan setelah di berikan obat pereda nyeri, sakit kepala nya tak berkurang sama sekali, hanya membuat nya tertidur pulas.Rupanya ini alasan dokter kenapa sakit kepala nya tak hilang sama sekali, bahkan semakin parah.


Tak berapa lama kemudian seorang perawat datang memeriksa kondisi bram secara bergantian dalam waktu beberapa jam. Semula setiap kali mengeluh sakit kepala perawat mau pun dokter akan memberikan obat pereda nyeri padanya, selang beberapa saat bram sudah tak ingat lagi.


Bahkan tangan mau pun kaki bram yang sangat sulit di gerak kan membuatnya berpikir keras tentang apa yang dikatakan ine pada nya.


"Suster..., apa luka saya bisa disembuhkan?"


Seorang perawat diam membisu menatap pada orang tua yang ada di depan nya tersebut.


"Kami sedang mengusahakan nya, pak. Beristirahatlah!"


Lagi- lagi pernyataan dan jawaban yang sama yang diberikan perawat pada nya.


"Apa tidak ada jawaban yang lain, suster?"


"Tidak, pak. Istirahatlah!"


"Baiklah, kalau begitu."


"Apa bapak memerlukan sesuatu?"


"Tidak.Tapi saya ingin bicara pada dokter yang menangani saya."


"Baiklah, pak. Petang nanti dokter akan datang memeriksa bapak."


"Saya permisi."


Bram hanya diam membisu tanpa menjawab suster yang pergi meninggalkan nya. Entah apa yang bram pikirkan hingga tak bersuara sedikit pun.


"Jadi..., benarkah yang dikatakan ine?"


Gumam bram dalam hati.


"Tidak mungkin. Apa aku akan segera mati?"


"Jika tidak ada pendonor, bagaimana nasib ku?"


"Tidak..., tidak."


"Jack..., yah jack bisa menolong ku."


"Aku akan menyuruh jack mendonorkan kerangka nya padaku, lagi pula untuk apa dia hidup kalau tak bisa melihat."


"Benar sekali itu."


Entah apa yang di pikirkan bram hingga bisa berpikir demikian.


Rupa nya semua ucapan ine hanya percuma saja tak bisa mengubah watak seorang bram, bahkan pikiran nya semakin kacau saja.


Di sisi lain ine terkejut melihat kedua putri dan putra nya yang sudah berada di ruang rawat inap nya, setelah sempat pergi ke taman dan juga mengunjungi bram.


"Ma."


"Kalian..., bikin kaget mama saja."


"Mama darimana? Kenapa tidak ada di kamar? Papa mana?"


"Mama habis dari taman, mama suntuk di kamar."


"Hah..., ke taman? Mama ini..., sembrono. Kalau mama jatuh bagaimana? Kenapa mama ndak minta di temani papa?"


Ine tercengang melihat kedewasaan sang putri yang memang luar biasa.


"Tidak, sayang. Jangan khawatir! Papa mu ke kantor sebentar, ada sedikit urusan."


"Hah..., ke kantor? Kenapa tidak menelepon silla sih kalau mau pergi?"


"Mama yang larang, kamu kurang tidur semalam karena menemani mama."


"Hah..., mama ini."


Silla sedikit kesal pada sang mama yang pergi tanpa pamit, bahkan seluruh suster jaga terkena omelan silla karena tak mengetahui dimana keberadaan ine.


"Sil, ane baik- baik saja? Ada perubahan?"


"Baik, ma. Kak ane sudah mulai merespon."


"Syukurlah."


"Bagaimana keadaan kak jack?"

__ADS_1


"Kakak mu dalam kondisi stabil, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut esok pagi. Setelah itu, bisa rawat jalan."


"Mama kapan pulang?"


"Secepat nya, mama tak betah tinggal disini."


'Mama ingin sesuatu?"


"Tidak. Sil.., jangan berangkat dulu ya ke sidney nya! Tunggu mama sembuh dan kakak mu pulih."


"Iya. Tapi silla tidak janji ya, ma. Kalau visa dah turun terpaksa silla berangkat, hihihi."


"Yah..., sama aja dong."


"Kalau dah sembuh, mama kan bisa nengokin silla."


"Hem..., nggak sekalian mama di ajak?"


"Boleh..., kalau mama mau."


'' Bagaimana dengan papa mu, kakak mu, masa mama tega ninggalin mereka?"


"Hihihi."


Baik rafa mau pun silla terkekeh geli mendengar jawaban sang mama. Sedangkan ine tampak termenung seperti sedang memikirkan sesuatu, hingga tak menyadari kalau silla dan rafa tengah memperhatikan nya.


" Ada apa ma? Mama memikirkan sesuatu?"


" Tidak."


" Tidak?"


" Hem..., seandainya mama bisa merubah semua nya. Mama memilih menukar kesehatan mama dengan kakak- kakak mu."


" Maa...,sudahlah.Jangan terlalu bersedih! Kasihan kak jack dan kak ane yang tengah berjuang kembali normal."


" Kau benar, tapi hati mama terasa sesak."


" Dapat salam dalam mama della, dan juga minta maaf belum bisa menjenguk mama."


" Della pasti kerepotan menjaga ane."


" Makanya mama cepat sembuh."


" Iya."


Silla naik ke tempat tidur berbaring tepat di samping sang mama memeluk tubuh ine. Sementara rafa tampak sibuk dengan layar laptop nya, sesekali menoleh pada istri dan juga mama ine.


Dengan berganti nya hari ine di nyatakan boleh pulang oleh dokter, bisa berobat jalan dan sesekali kontrol memeriksakan luka nya. Begitu juga dengan jack yang boleh di bawa pulang menunggu hasil pemeriksaan yang selanjutnya.


Silla menginap beberapa hari setelah mama nya pulng dari rumah sakit, menjaga sang mama agar cepat pulih meskipun luka nya harus di jaga secara steril tak membuat silla kerepotan sama sekali.


" Sil, kangen dengan kakak mu. Kita ke rumah ian yuk."


Silla tercengang mendengar permintaan sang mama yang baru sehari pulang dari rumah sakit.


"Ma..., mama kan baru pulang dari rumah sakit. Besuk saja ya?"


"Masa kamu tega membiarkan mama menahan rindu dengan kedua kakak mu."


"Hah..., ya baiklah. Tapi tunggu kak rafa ya."


"Kenapa harus tunggu rafa? Suami mu kan kerja?"


"Iya...., sebentar lagi pulang. Kalau tidak bersama kak rafa silla nggak boleh pergi, pilih mana coba? Pergi atau tidak?"


"Ya, baiklah."


Ine tersenyum kecut mendengar jawaban silla menolak keinginan nya, tapi merasa senang putri nya sudah tumbuh dewasa.


Sebenarnya silla tak tega membiarkan mama nya kecewa, tetapi silla juga tak bisa menentang perkataan suami nya. Ine berjalan mondar mandir tak tentu arah, sesekali menoleh ke arah pintu utama.


"Ma..., duduk! Nanti mama capek."


"Suami mu lama sekali pulang nya? katanya sebentar lagi pulang?"


" Ma..., baru lima menit ma."


Jawab silla menggelengkan kepala nya. Merasa sedikit lelah, akhirnya ine merebahkan diri di sofa hingga tertidur.


"Sayang..., ja... ."


"Sstss..., mama baru saja tidur."


Belum sempat melanjutkan ucapan nya, silla menyuruh rafa diam memberitahu sang mama baru saja tidur. Lalu mengajak suami nya menyantap hidangan makan siang yang sudah disiapkan bi ijah. Silla tak sempat membantu bi ijah karena harus menjemput ine di rumah sakit, kemudian membantu mama membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah nya, silla menyuruh sang suami beristirahat di kamar nya, terlihat sekali wajah rafa yang tampak lelah sembari menunggu ine bangun dan mengantarnya ke rumah kakak nya.


Beberapa jam berlalu ine bangun dari tidur nya, melihat silla yang tidur di sofa menemani nya tapi tak melihat ada nya tanda- tanda rafs telah kembali. Tak ingin membangunkan silla, ine meminta tolong pada bi ijah untuk membantunya melepas pakaian dan menggantinya dengan yang baru setelah mandi.


Silla tampak gelapan ketika kedua matanya terbuka, tetapi tak melihat mama nya di sofa tempat ine tertidur pulas.


"Ma..., mama."


"Ma..., mama. Bibi..., bi."


"Ada apa sayang? Jadi ke tempat ian?"


"Mama tidak ada."


"Tidak ada gimana?"


"Ada di kamar, non. Nyonya sedang mandi, katanya gerah."


" Hah..., mama ini bikin orang bingung saja. Kenapa tak membangunkan silla?"


Silla mengerucutkan bibir nya lalu pergi ke lantai atas sekedar mencuci muka.


" Sudah..., jangan marah! Nanti hilang cantik nya."


Namun berhenti saat rafa mengucapkan kata romantis nya. Tak pernah sekali pun mendengar kata mesra dari suami nya


"Ciye..., pengantin baru."


Tak sadar sedang di perhatikan bi ijah, pipi silla merah merona menahan malu saat menoleh ke arah bi ijah. Silla yang tersipu malu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar nya.


"Fa..., silla mana?"


"Di atas ma."


"Yah..., mama harus nunggu lagi."


"Hihihi."


Rafa terkekeh geli melihat sang mama. Tak berapa lama silla yang turun dari lantai dua melihat sang mama yang sekali lagi berjalan mondar- mandir.


"Udah siap, ma?"


"Ayo cepat! Mama merasa tidak enak."


"Kangen kak ane?"


"He em."


Ine menarik tangan silla yang baru saja turun dari lantai atas, entah mengapa ine merasa sedikit gelisah pada menantu kedua nya itu.


Rafa hanya menggeleng pelan menghela nafas panjang, mengantar kedua wanita itu ke rumah bryan.


Ine memang menyayangi ane sejak masih dalam kandungan, berharap saat della mengandung akan lahir anak perempuan. Kedua nya sepakat akan menjodohkan anak- anak mereka saat dewasa nanti.


Namun hayalan ine tak semulus yang di rencanakan, meskipun mereka pada akhirnya menikah tetapi melalui sedikit drama yang berjalan sedikit rumit. Ine menyayangkan semua kejadian yang menimpa mereka, juga karena sedikit kesalahan nya.


Di depan pintu gerbang rumah bryan, seperti biasa nya security yang berjaga memeriksa mobil tersebut. Bukan tanpa alasan kenapa harus dilakukan pemeriksaan karena sudah beberapa kali seseorang menyusup hampir membayakan keselamatan nyonya rumah.


Della yang juga baru sampai menoleh ke arah belakang, sengaja menunggu pemilik mobil ketika mengetahui mobil yang baru saja masuk kehalaman rumah itu.


"Del..., baru datang juga?"


Tanya ine.


"Iya, habis dari bandara. Sorry ya ne, belum sempat menjenguk mu."


" Tidak apa- apa, lagipula kau pasti sibuk mengurus ane sendirian. Ke bandara ngapain? Nganterin wijaya?"


"Nganterin wijaya? Tidak. Nganterin ane dan ian."


"Nganterin ane dan ian? Apa maksud mu?"


"Loh..., memang nya kamu nggak tahu kalau bereka bertolak ke america untuk menjalani pengobatan ane?"


"Ha."


"Ha."


Baik silla mau pun ine terkejut mendengar penjelasan della. Hampir tak menyangka sama sekali mereka akan meninggalkan kota ini tanpa berpamitan dengan nya.


Brukk.....


"Ma."


Bersambung😊🙏

__ADS_1


__ADS_2